Bagian 24

2134 Words
Ternyata urusan yang Owen katakan adalah dia sedang melakukan latihan di hutan dekat istana. Owen berlatih bersama dengan wolf miliknya. Wolf nya akan berlatih setiap seminggu sekali. Itu sudah rutin pemuda ini lakukan sejak lama. “Kau harus berlari lebih cepat, Crush.” Crush yang merupakan serigala Owen pun menaikkan kecepatan larinya. Beginilah cara Owen melatih sang serigala. Owen yang ambisius ingin menjadi yang terbaik dari semua. Setelah berlatih sekitar satu jam lamanya, Owen pun mengambil alih tubuhnya kembali. “Ini jauh lebih dari terakhir kita berlatih,” kata pemuda ini. “Aku lelah.” Crush nampak kelelahan, bahkan dia langsung tertidur dan tak mau menanggapi perkataan Owen lagi. Owen yang tahu sang serigala dalam mode merajuk pun memilih untuk pulang saja saat itu dengan berjalan kaki tentu saja. Owen mengamati sekeliling hutan ini. Banyak perubahan yang terjadi di sana. Tentu saja, itu sudah bertahun-tahun lalu Owen bermain di hutan tersebut. Owen melangkahkan kakinya tidak menuju ke kerajaan. Dia malah menuju ke bagian perbatasan wilayah werewolf dengan wizard. Ini sudah cukup jauh Owen berkeliling di sana. Kemudian, atensi pemuda tersebut berhenti di depan palang yang memberitahukan jika dia sedang berada di wilayah wizard. “Hei. Kau. Apa yang kau lakukan di sini?” tegur seorang pria dengan jubah seperti para wizard lainnya. Owen hanya memakai pakaian kerajaan, jadi tentu saja orang yang melihatnya tahu bila pemuda ini bukan berasal dari bangsa wizard. “Bukankah seharusnya kau tanya berasal dari mana aku datang?” sahut Owen. Wizard di depannya menatap Owen dengan penuh. Owen ikut menatapnya juga, sama sekali tak terintimidasi. “Kau … seorang werewolf?” tebak pria tersebut. Owen pun mengangguk. “Ada keperluan apa ke wilayah kami?” Owen pun tertawa seketika saat mendapat pertanyaan demikian. “Apakah aku butuh alasan untuk ke sini? Bukankah setiap orang bebas untuk keluar masuk?” jawab Owen. “Jawab saja. Akhir-akhir ini ada banyak mencurigakan keluar masuk wilayah kami. Jadi, sekarang penjagaan sedikit ketat,” ungkap pria tersebut. “Aku memang tidak memiliki alasan untuk datang ke sini. Aku hanya sekedar ini berkeliling. Untuk diriku, kau bisa memastikan bila aku bukan penyusup. Apakah kau tau Raja Kennard?” pria itu mengangguk, “dia adalah ayahku,” lanjut Owen yang berhasil membuat ekspresi terkejut tertera di wajah pria ini. “Benarkah?” tanyanya. Dan tentu saja pria itu salah fokus dengan warna rambut Owen yang putih. “Ya. Kau bisa mencatat namaku jika perlu,” jawab Owen. Terlihat pria di depannya pun langsung mencatat nama Owen di buku yang ia bawa. “Apakah aku sudah boleh masuk?” “Ya. Silakan masuk, Pangeran.” Ini adalah kali pertama ada orang lain memanggilnya dengan sebutan itu. Owen pun mulai memasuki wilayah wizard. Memang antara wizard dan werewolf memiliki perbedaan yang signifikan. Semua orang-orang berlalu lalang tampak terlihat normal. Asyik mengamati sekitar, Owen ditabrak oleh segerombolan anak kecil yang berlari ke sana ke mari. Pemuda ini tampak bersabar. Dia kembali melanjutkan berjalan-jalan di wilayah itu. Semua orang tampak sibuk sekali. Pemuda ini pun tak mengerti kenapa demikian. “Hei, boleh aku bertanya?” ucap Owen kepada salah satu pemuda yang melewatinya. “Ya?” “Kenapa semuanya tampak sibuk? Apa sedang ada perayaan?” tanyanya lebih lanjut. Terlihat pemuda yang ia tegur itu memperhatikan penampilan Owen dari atas hingga bawah. “Kamu … bukan wizard, ya?” Owen pun mengangguk sebagai jawaban. “Kita sedang mempersiapkan untuk perayaan pernikahan raja dan ratu yang sebentar lagi akan dilaksanakan.” Owen pun mengangguk paham. Setelah tahu hal tersebut, Owen kembali melanjutkan perjalannnya. “Hei, apakah kamu sudah mendengar mengenai Putri?” Samar-samar tanpa sengaja Owen mendengar beberapa orang sedang membicarakan keluarga kerajaan. “Ada apa dengan Putri?” tanya si lawan bicara. “Katanya, di perayaan nanti akan diumumnkan calon pengantin putri.” “Sungguh malang nasibnya. Bukankah dia sudah kehilangan mate? Sekarang pasti dia terpaksa mengikuti perjodohan yang sudah diatur bukan?” “Ya, kamu benar. Mari berdoa agar raja yang baru nanti bisa memimpin kerajaan dengan baik.” “Ya, semoga saja.” Setelah mendengar itu, Owen baru tahu bila keluarga kerajaan ada yang kehilangan mate. Sejauh yang Owen tahu, kerajaan wizard hanya memiliki satu penerus, itu pun seorang putri. Owen mendapat info ini dari teman di tempat ia bersekolah. Dirasa sudah cukup untuk jalan-jalan kali ini, Owen pun memutuskan untuk pulang saat itu juga. “Ke mana Owen?” tanya Alice. “Entah, Kak. Katanya tadi dia ada urusan,” ungkap Frey. “Bagaimana dengan Agata?” tanya Alice yang tak melihat sang putri bersama dengan Frey sekarang. “Dia baru saja kembali ke kamarnya. Tadi setelah memilih pakaian, kami menghabiskan waktu di taman. Setelah itu dia pamit untuk ke kamar,” jelas Frey. Alice pun mengangguk. “Bagaimana dengan persiapan untuk makanannya, Kak?” “Semuanya sudah aku urus.” “Baguslah.” “Oh iya, apa kamu tidak melihat Kennard?” tanya Alice mencari sosok sang suami. Frey menggeleng. Dia juga tidak melihat Luc sejak tadi. “Mungkin dia ada di ruangan. Kalau begitu aku akan menyusulnya saja.” Frey mengangguk dan membiarkan Alice pergi. Frey sendiri memilih untuk kembali ke kamar karena tidak ada hal lagi yang akan dia lakukan. Kennard yang saat itu sedang sibuk dengan pekerjaannya pun sedikit teralihkan karena merasakan kehadiran Alice di sekitarnya. Dan benar saja, pintu terbuka dan menampilkan sosok sang istri. Alice tersenyum hangat dan menghampiri suaminya itu. “Kamu tidak mau bertanya apakah persiapan untuk pesta sudah selesai?” kata Alice mengambil tempat di salah kursi yang ada di sana. “Aku tau kamu pasti melakukan yang terbaik,” jawab Kennard tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas di tangannya. Melihat respon sang mate membuat Alice mendengkus kesal. “Kamu terlalu cuek, Ken. Cobalah untuk melunak kepada anak-anakmu sendiri,” kata Alice. Kennard menatap sang istri. Entah pandangan apa yang pria itu berikan, yang jelas Alice tidak bisa membaca ekspresinya. “Aku sibuk, Alice. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan sebelum pesta terjadi,” ujar Kennard membuat Alice sedikit sedih di sana. “Ini juga demi kebaikan kita semua. Lagi pula aku juga sibuk membuat daftar orang-orang penting yang harus kita undang,” lanjut pria ini. Alice pun mengangguk paham. “Aku ingin memberitahumu juga. Setelah pesta perayaan anak-anak, kita diundang ke kerajaan wizard. Di sana sedang ada perayaan pernikahan raja dan ratu. Kita harus hadir memenuhi undangan.” Alice pun menatap Kennard dengan pikiran yang berkelana. “Bagaimana jika kita suruh Owen dan Agata saja yang datang? Anggap saja kita memperkenalkan mereka pada semua orang,” usul Alice. Kennard terlihat mempertimbangkan usul sang istri. “Tidak. Biar kita saja yang menghadiri undangan itu,” putus Kennard. “Ajak mereka juga tidak apa-apa, kan?” Terlihat Alice yang masih bersikeras membawa Agata dan Owen. Kennard mengembuskan napas berat ketika melihat Alice yang selalu bersemangat jika menyangkut sang anak. “Lebih baik kamu tanya mereka dulu. Apa mereka mau untuk ikut atau tidak,” putus Kennard. Terpaksa dia tidak bisa menolak keinginan sang mate. “Itu artinya kamu mengijinkan mereka ikut, kan?” tanya Alice memastikan sekali lagi. Kennard mengangguk, Alice terlihat senang di sana. “Alice. Tidakkah kamu sadar jika akhir-akhir ini kamu lebih perhatian kepada mereka dan mengabaikanku?” seloroh Kennard membuat ekspresi Alice seketika berubah. “Ha? Apakah iya? Menurutku sikapku tampak seperti biasanya, Ken.” Kennard tersenyum kecut. “Itu karena kamu saja yang merasakan hal tersebut,” balas pria itu. Merasa jika dirinya bersalah, Alice langsung mendekati Kennard saat itu. “Ini sudah berpuluh tahun, Ken. Aku ingin membuat momen bersama mereka. Rasa-rasanya kita semua kurang memiliki momen penting. Kamu harus lebih perhatian kepada mereka juga. Kita harus membangun hubungan yang lebih baik lagi,” kata Alice. “Sebenarnya aku ingin membuat perjalanan bersama dengan Owen. Akan tetapi, sepertinya dia selalu membatasi diri dengan kita.” Alice sebenarnya merasakan hal tersebut. Tetapi wanita ini tetap berpikir positif. Mungkin saja sang putra masih butuh penyesuaian. “Aku akan bicara dengan Owen nanti,” sahut Alice menyudahi obrolan mereka. *** Beberapa hari kemudian, kerajaan werewolf benar-benar ramai. Itu adalah hari perayaan. Semua rakyat tampak menunggu-nunggu untuk bisa melihat pangeran dan putri kerajaan. Sudah bertahun lamanya mereka tidak melihat kedua orang yang tak kalah penting ini. Di dalam kamar, terlihat Agata sedang bersiap. Dia benar-benar memakai baju yang menjadi pilihan Frey dan dirinya tentunya. Di sana juga dia dibantu oleh Frey untuk bersiap. Sedangkan Alice harus mengurus Kennard, dia tidak bisa meninggalkan suaminya. “Kamu sangat cantik, Sayang,” puji Frey kala itu. Agata pun tersenyum hangat. Dia sudah selesai bersiap, kini tinggal untuk keluar. “Bibi juga cantik. Terima kasih karena sudah membantu Agata mempersiapkan diri,” ucap gadis ini. Sebenarnya dia menyayangkan karena Alice tidak menemaninya. Dan kalau dipikir-pikir, Agata merasa jika dia memiliki waktu lebih banyak dengan Frey sekarang. “Kalau sudah selesai, sebaiknya kita keluar. Ini hari ulang tahun kalian, kamu tidak boleh terlambat, bukan?” Agata mengangguk, menyetujui usul sang bibi. Dari sini Frey dan Agata pun keluar kamar untuk menuju ke aula besar tempat perayaan dilakukan. Terlihat jika Kennard dan Alice sibuk menyapa tamu undangan penting mereka. Di sana juga turut hadir Axele dan Bella. “Terima kasih sudah datang, Raja,” sapa Kennard lebih dulu. “Aku harus datang. Aku juga perlu bertemu calon raja kerajaan werewolf di masa depan nanti. Di mana dia?” tanya Axele. “Sepertinya mereka masih bersiap, Raja,” jawab Alice. “Karena acara belum dimulai, silakan nikmati hidangan yang ada. Kami sudah menyiapkan makanan terbaik di sini,” tawar Alice. Axele dan Bella mengangguk. Keduanya pun menjauhkan diri dari sang tuan rumah. “Coba kamu cek mereka. Apakah belum selesai bersiap?” bisik Kennard pada Alice. Wanita ini pun mengangguk. Baru saja dia berbalik, dirinya melihat sosok Agata yang sudah cantik dengan pakaian kerajaan. Di sana juga ada Frey yang bersamanya. “Aku tidak menyangka akan melihat putriku secantik ini, Ken,” ujar Alice kepada sang suami. Kennard juga melihat Agata. Putrinya memang cantik, tapi Kennard yang memiliki ego tinggi hanya bisa diam di tempat. “Bagaimana, Kak?” tanya Frey kepada keduanya setelah berhenti tepat di depan Kennard dan Alice. “Ini bagus, Frey. Terima kasih banyak,” sahut Alice. “tapi, di mana Owen? Dia tidak bersama kalian?” imbuhnya. Frey menggeleng. “Dia belum datang? Padahal tamu sudah banyak yang datang,” kata Frey yang melihat banyak tamu telah datang. “Biar aku yang panggil dia,” kata Alice. “Eh? Jangan, Kak. Kak Alice adalah tuan rumah, jadi harus tetap di sini. Biar Frey saja yang mencari Owen,” putus Frey. Alice mengangguk dan membiarkan Frey pergi saat itu juga. Frey pun langsung menuju ke kamar Owen. Akan tetapi penjaga yang menjaga kamar pemuda itu mengatakan bila Owen telah pergi sekitar lima belas menit yang lalu. Frey mengernyit, pasalnya Owen tidak berada di pesta tadi. “Luc,” panggil Frey lewat pikirannya. Luc yang saat itu sedang mengobrol dengan Reynart pun mendengar panggilan sang mate. “Ya, Frey?” “Apa kamu melihat Owen?” tanya Frey dengan langkah kaki yang menelusuri tempat di dalam istana, berharap menemukan pemuda itu. “Tidak. Aku sejak tadi ada di pesta,” ungkap Luc di sana. “Oh baiklah. Kalau kamu melihatnya, kabari aku.” “Oke.” Frey pun langsung menuju ke taman belakang. Dan benar saja dugaannya. Terlihat Owen yang sedang duduk santai di kursi taman. Frey pun bernapas lega. “Owen,” panggil Frey kala itu. Owen menoleh, kemudian pemuda itu mengembuskan napas berat yang membuat Frey tampak bingung. Frey pun mengambil duduk tepat di samping sang keponakan. “Acara akan dimulai. Semuanya sedang menunggu kamu,” tutur Frey. Frey tampak puas dengan pakaian yang Owen kenakan sekarang. “Bibi … apakah tidak apa-apa jika aku keluar dengan rambut seperti ini?” tanya pemuda ini tiba-tiba. Frey pun mengernyit. “Bibi … aku tau jika ada yang berbeda dalam diriku. Aku tau rumor mengenai perihal rambut putih.” Oh, jadi ini alasan pemuda itu tak kunjung ke pesta. Jika begini, Frey jadi yakin bila mungkin ini menjurus ke apa yang Luc ceritakan kepadanya waktu itu. “Jadi karena ini kamu tidak segera ke aula?” Owen menunduk. Ada yang berbeda dari Owen saat ini yang Frey lihat. Pemuda ini tampak seperti pemuda pada umumnya. Dan yang pasti Owen mau bicara dengan Frey lebih banyak. “Yang menentukan rumor itu benar atau tidak adalah kamu sendiri. Kamu harus yakin pada dirimu kalau rambut ini tak berarti apa-apa. Kalaupun kamu memiliki hal itu, Bibi yakin kamu pasti tau mana yang benar atau tidak, Owen.” “Kamu bisa percaya pada keluarga ini. Kami akan terus bersamamu.” Owen tampak bimbang. Frey berdiri dari tempat duduknya, dia mengulurkan tangan kepada Owen saat itu. “Ayo, Bibi akan mendampingimu,” ucap Frey dengan senyum hangat. Meskipun ragu, Owen pada akhirnya menggapai tangan Frey saat itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD