“Pesta?”
Alice mengangguk kepada suaminya. “Iya, Ken. Anggap saja ini sebagai pesta penyambutan juga. Dan mungkin saja di pesta nanti mereka bisa menemukan mate masing-masing.”
Kennard melangkah menuju ke lemari besar miliknya guna mencari baju yang pas untuk ia gunakan tidur nanti. “Sebelum kita mengadakan pesta, apakah yang bersangkutan sudah menyetujui hal tersebut? Tanyakan dulu kepada mereka, Alice,” ucap Kennard. Dia tak ingin segalanya menjadi sia-sia jika pada akhirnya kedua anak itu tidak hadir di pesta.
“Untuk Agata sudah setuju, aku sudah berbicara mengenai ini. Akan tetapi, untuk Owen, aku belum memberitahunya,” jawab Alice.
Kennard mendekati istrinya itu sembari membawa baju ganti miliknya. “Kamu tanyakan dulu kepada dia. Jika dia setuju, maka akan aku buatkan pesta. Jika tidak, maka tidak akan aku lakukan.”
Alice mengangguk. Wanita ini pun segera keluar kamar menuju ke kamar sang anak. Kennard yang melihat Alice tampak bersemangat pun hanya bisa memaklumi hal tersebut. Pria ini pun berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Owen yang tadinya sibuk membaca buku pelajarannya pun dikejutkan dengan kedatangan Alice yang tiba-tiba. “Bolehkah Ibu masuk?” pinta Alice. Meskipun ragu, Owen tetap membiarkan sang ibu masuk ke dalam kamarnya.
Keduanya sama-sama duduk di tempat mereka masing-masing. “Apakah kamu sedang sibuk sekarang, Nak?”
Owen menggeleng dengan pandangan penuh kepada Alice. Wanita itu pun tersenyum hangat. Ini adalah kali pertama mereka bisa mengobrol berdua setelah bertahun-tahun lamanya.
“Apakah ada hal yang kamu butuhkan saat ini? Jika iya, jangan sungkan untuk mengatakan kepada Ibu dan Ayah,” kata Alice kemudian.
Owen mengembuskan napas lelahnya. “Ada apa Ibu ke sini? Owen sedang belajar,” ucapnya. Meskipun terdengar sedikit kasar, akan tetapi Alice tak memasukkannya ke dalam hati.
“Ibu hanya ingin bertanya. Sebentar lagi adalah hari kelahiranmu dan Agata. Kami berencana mengadakan pesta untuk kalian. Selain untuk hari kelahiran, ini juga dilakukan sebagai penyambutan. Ibu sudah berbicara kepada Agata, dia tampak setuju saja. Sekarang Ibu bertanya kepadamu, apakah kamu setuju?”
Owen tampak kurang suka dengan pesta karena hidupnya di dalam sekolah tersebut hanya di isi dengan belajar. “Jika aku tidak setuju bagaimana?”
Alice tertegun beberapa detik, kemudian dia menormalkan ekspresinya lagi. “Itu tidak apa-apa. Ibu akan bicara kepada Agata jika tidak jadi ada pesta.”
Mendengar nama sang adik membuat Owen menjadi tak tega. Kebahagiaan Agata terletak kepada Alice. Berbeda dengan Owen, tidak ada yang bisa membuat pemuda ini bahagia di sini. Hanya sang adik yang menjadi penyemangat hidupnya. “Baiklah. Aku setuju dengan adanya pesta,” putus Owen yang berubah pikiran. Alice pun senang.
“Itu bagus, Nak. Kalau begitu kamu lanjut belajar, Ibu akan kembali ke kamar.”
Owen mengangguk. Alice pun keluar dari kamar sang anak dengan senyum lebar di wajahnya. Sedangkan Owen tampak tak berekspresi sama sekali dan kembali membuka buku tebal miliknya.
“Frey,” panggil Luc yang baru saja masuk ke dalam kamarnya dan menemukan sang istri sedang duduk bersantai di dalam kamar.
“Ya?”
Luc menghampiri istrinya itu. Setelah berbicara panjang lebar dengan Reynart, Luc sekarang menjadi semakin khawatir. Melihat ada yang tidak beres dengan sang mate membuat dahi Frey berkerut. “Ada apa?” tanyanya kemudian.
Luc tampak tertekan. “Aku tadi ke tempat Reynart,” ungkapnya. Frey mengangguk, pantas saja dia tak menemukan Luc tadi siang. “Aku hendak meminta bantuan kepadanya untuk masalah Agata dan Owen,” lanjutnya yang didengar baik oleh Frey.
“Fokus kita sebenarnya kepada Owen, Luc. Karena hanya dia yang aku curigai saat ini,” kata Frey kemudian.
Luc menggeleng. “Agata juga, Frey. Kamu tidak tau bila ada perubahan besar dalam diri Agata. Dulu saat masih kecil, dia sangat hiperaktif sekali. Dan sekarang dia berubah menjadi pendiam.”
Frey pikir memang karakter Agata pendiam, ternyata dulunya bukan. “Bukankah itu perubahan yang bagus?” sahut Frey lagi.
“Tidak juga,” balas Luc. “begini. Aku sudah ceritakan semuanya kepada Reynart. Dia memberitahuku mengenai kejanggalan dalam diri Owen ini. Di dunia wizard, seseorang yang memiliki rambut putih dianggap sebagai orang yang memiliki pengaruh besar. Itu bisa jadi baik, atau jadi buruk.”
“Aku tidak mengerti, Luc. Hanya perihal rambut saja itu menjadi hal besar?” tanya Frey.
“Ya. Itu yang dikatakan oleh Reynart tadi. Dia memintaku untuk terus mengawasi Owen selagi dirinya mencari tahu mengenai ini. Mungkin nanti dia akan berbicara kepada wizard tua lainnya.”
Frey pun mengangguk paham. “Lalu, apa yang bisa aku bantu sekarang?”
Luc terdiam. “Kamu bisa mendekati Agata. Sebenarnya aku tidak terlalu khawatir dengan Agata, tetapi tidak salahnya berjaga-jaga. Dari Agata, mungkin kita mendapat informasi penting mengenai Owen. Mungkin saja Owen bercerita kepadanya mengenai keluarga kerajaan atau hal penting lainnya.”
Frey mengangguk, dia tau apa yang harus ia lakukan sekarang. “Kamu sudah bekerja dengan begitu baik, Luc. Hari sudah malam, istirahatlah. Kita pikirkan lagi masalah ini besok.”
“Baiklah, Frey. Kamu pun juga istirahatlah.”
***
Karena sudah diputuskan akan ada pesta, maka orang-orang di kerajaan werewolf tampak sibuk mempersiapkan pesta itu. Frey bertugas untuk memilihkan baju untuk kedua keponakannya, sedangkan Alice nampak sibuk berdiskusi mengenai makanan. Alice tak ingin menjamu tamunya dengan buruk apalagi di pesta sang anak.
Hal ini dimanfaatkan oleh Frey untuk mendekati kedua anak Kennard ini. “Kamu cobalah dulu baju ini, Agata,” perintah wanita tersebut. Agata mengangguk dan langsung menuju ke ruang ganti.
Kemudian atensi Frey beralih kepada Owen yang sejak tadi sibuk dengan bukunya. Frey bisa menyimpulkan jika pemuda ini tipe yang suka sekali dengan buku dan belajar. Sedikit mengingatkan dirinya tentang sosok Reynart.
“Owen,” panggil Frey yang berhasil mengubah atensi pemuda itu tertuju kepadanya. “Kamu suka baju warna apa?”
“Terserah, Bibi. Semuanya akan aku pakai,” jawab pemuda ini yang tak ambil pusing.
Frey mengangguk. Dia langsung memilih baju yang menurutnya pas untuk digunakan oleh sang keponakan. Karena baju yang Agata coba tadi berwarna biru muda dengan detail berwarna silver, maka Frey pun mengambil baju yang senada di sana.
“Kamu cobalah baju ini,” ucap Frey. Owen tak banyak berkomentar. Dia langsung mengambil baju pilihan Frey itu dan bergerak menuju ke tempat ganti.
Owen meninggalkan bukunya di sana. Frey pun jadi tertarik buku apa yang sedang dibaca oleh keponakannya itu. Frey pun membuka dan mengamati beberapa lembar di sana. Ternyata hanya buku biasa. Tak ada hal aneh terlihat.
“Bibi.” Sebuah panggilan membuat Frey reflek menoleh, itu Agata. “Aku susah menggapai punggungku. Bolehkah aku meminta bantuanmu?”
Frey mengangguk, dia segera membantu Frey mengaitkan kancing yang ada di bagian belakang. “Sudah. Sini, biar Bibi lihat dulu,” kata Frey yang bergerak ke depan agar mudah untuk mengamati penampilan Agata di sana. “Bagaimana? Apakah ada hal yang tidak mengenakkan dari baju ini? Bibi kira ini baju yang bagus untukmu.”
Agata menggeleng. “Tidak, Bibi. Semuanya sudah pas. Jika ini baik, maka Agata akan memakainya di pesta nanti.”
Menurut Frey, keponakan perempuannya ini tipe gadis yang penurut. Meskipun memang sedikit pendiam, tetapi Agata masih memiliki sisi perhatian kepada Alice, sedikit berbeda dengan Owen yang benar-benar tertutup.
“Baiklah, kamu boleh berganti. Bibi masih menunggu Owen,” perintah Frey. Agata pun mengangguk dan langsung kembali ke tempat ganti.
Tak beberapa lama Owen pun keluar dengan baju setelannya yang pas. Warna baju ini sangat pas dengan warna rambut Owen di sana. Pemuda itu terlihat sangat tampan. Frey sempat ragu dengan penjelasan Luc semalam.
“Bagaimana? Apakah kamu suka?”
Owen mengangguk. “Ini sudah pas di tubuhku,” jawabnya.
“Baiklah. Tadi Agata juga setuju dengan baju miliknya. Ya sudah kita pakai baju ini nanti di pesta. Kamu bisa berganti baju lagi.”
Sama seperti Agata, pemuda itu pun kembali masuk ke ruang ganti.
Kemudian Agata lah yang keluar pertama kali dengan baju awal yang dipakainya tadi. “Bibi. Apakah Bibi tidak ingin memilih baju juga?” tanya Agata yang tampak lebih leluasa mengobrol dengan wanita ini.
Frey menggeleng. “Bibi sudah punya baju banyak di lemari. Lagi pula, tokoh utama di pesta nanti adalah kalian berdua. Jadi yang harus lebih dipersiapkan adalah kalian,” jelas Frey.
Agata mengangguk dan tersenyum manis. “Kamu benar-benar gadis yang baik, Sayang. Doakan Bibi biar nanti memiliki anak secantik dan sebaik kamu ya,” kata Frey yang malah membuat gadis ini malu.
“Bibi dan Paman juga baik. Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Obrolan kecil mereka terhenti ketika Owen sudah kembali dari berganti baju. “Apakah ada hal lain yang harus dilakukan, Bibi?” tanya Owen di sana.
Frey terdiam, dia menggeleng. “Bagaimana jika kita mengobrol sambil minum teh?” usul Frey. Agata mengangguk setuju, berbeda dengan Owen yang malah menolak ajakan bibinya itu.
“Tidak, Bibi. Sepertinya aku tidak bisa. Ada hal yang harus aku urus,” ungkap Owen. Penolakan Owen kesekian kalinya membuat Frey menjadi sedih.
“Kak,” panggil Agata. “Kak Owen tidak harus memforsir diri.”
Owen tersenyum kepada sang adik. “Kamu pergilah bersama Bibi. Kakak benar-benar ada yang harus diurus,” ucapnya. Agata pun diam dan tak ingin mendesak kakaknya lagi. “Bibi. Aku pamit pergi dulu.” Frey mengangguk dan membiarkan sang keponakan pergi.
“Bi … kita kembali, yuk. Bagaimana jika kita mengobrol di taman saja?” usul Agata memecah suasana dan mengalihkan perhatian Frey agar tak terlalu memikirkan penolakan Owen tadi. Frey mengangguk setuju. Wanita ini bersyukur, setidaknya Agata masih mau menerimanya.