Luc mencari keberadaan Owen yang katanya sedang melakukan latihan mandiri. Benar kata Frey, pagi ini keponakan mereka benar-benar tidak ke meja makan. Hal itu malah membuat Luc percaya jika apa yang Frey katakan semalam adalah benar.
Luc berada di tempat latihan prajurit. Ini adalah hari libur prajurit latihan, jadi tempat itu pasti sepi. Dan benar saja, di sana ia melihat Owen seorang diri berlatih sendirian. Lantas, Luc pun langsung menghampiri keponakannya. Owen yang merasakan bila ada seseorang mendekat ke arahnya pun langsung berhenti.
Dari tempatnya berjalan, Luc bisa melihat minimnya ekspresi Owen kala itu. Sekarang ada satu hal yang ia takutkan. Dia takut bila perkataannya dan kekhawatirannya dulu adalah benar, di mana Owen membenci keluarganya sendiri terutama Kennard.
“Ternyata kamu di sini,” ucap Luc sebagai sapaan pagi mereka. “Kenapa kamu berlatih sendirian?” tanya Luc.
“Hanya ingin,” jawab Owen singkat. Benar, Owen lebih dingin di bandingkan Kennard. “Di mana Agata?” tanya pemuda itu.
“Dia sedang bersama Frey dan Kak Alice. Ah, dari pada kamu berlatih sendirian, bagaimana jika aku temani? Sudah lama sekali aku tidak memiliki teman berlatih,” usul Luc. Owen mengangguk setuju sebagai jawaban jika dia menerima.
Luc pun mengambil pedangnya. Memang tadi Owen sedang berlatih menggunakan pedang, jadi Luc pun akhirnya mengambil pedang juga.
Owen dalam mode serius, begitu juga dengan Luc. Keduanya sama-sama menyerang dan berhasil mempertahankan diri satu sama lain. Luc cukup takjub dengan keahlian keponakannya ini. Di tambah lagi gerakan Owen yang lincah membuat Luc yakin bila pembelajaran di sekolah itu memang terbaik.
“Aku dengar kamu mendapat banyak penghargaan di sekolah itu. Apa itu benar?” tanya Luc sembari terus menggerakkan pedangnya. Dia mendengar kehebatan Owen ini dari Kennard.
“Ya,” jawab Owen yang sama sekali tak kehilangan fokus.
“Apakah kamu sudah menemukan mate?” tanya Luc kemudian.
“Tidak,” jawab Owen yang terus saja menjawab pertanyaan Luc dengan singkat.
Mendengar jawaban sang ponakan membuat Luc menghentikan latihan mereka. “Belum. Seharusnya kamu menjawab belum,” sahut Luc.
Owen meletakkan pedangnya di tempat awal. “Tidak. Jawabanku adalah tidak,” katanya penuh keyakinan. Tentu Luc kurang suka dengan jawaban ini.
“Jangan bilang jika kamu tidak ingin bertemu dengan mate?” tebak Luc. Jangan sampai itu benar. Karena di masa depan nanti Owen akan menjadi raja. Dan sudah seharusnya raja di dampingi oleh seorang ratu. Kerajaan tak akan lengkap jika tidak ada raja dan ratu mereka.
“Aku tidak mengatakan demikian. Aku menerima mate. Tetapi jika memang aku tidak memiliki, maka itu bukan masalah untukku.”
Kesaksian Owen ini mengingatkan Luc akan diri Reynart. Sahabatnya itu juga belum menemukan mate. Kasihan juga sebenarnya.
“Kamu harus mencarinya, Owen. Raja harus bersanding dengan sang ratu,” ungkap Luc.
Owen tersenyum tipis. “Aku tidak akan menjadi raja,” selorohnya.
“Kamu akan menjadi raja di masa depan nanti. Dan ini pasti,” jelas Luc.
“Jika aku menolak?”
Luc tahu bila Owen ini ternyata lebih menyebalkan di bandingkan Kennard. Bahkan gaya bicaranya lebih parah dari kakaknya itu. Benar-benar buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
“Kamu tidak bisa menolak. Itu sudah jadi tanggung jawabmu,” terang Luc.
“Bagaimana dengan Paman? Paman dulu juga menolak menjadi raja,” sahut Owen.
“Ini berbeda, Owen. Kak Kennard adalah anak pertama, jadi dia memiliki peluang lebih banyak untuk menjadi raja. Aku juga tidak ingin menjadi raja, maka dari itu aku mundur. Dalam kasus ini, kamu adalah anak laki-laki satu-satunya, jadi kamu nanti yang akan meneruskan kerajaan.”
“Peraturan kerajaan memang aneh,” kata Owen. “Bagaimana jika aku memberikan tahta raja ke orang lain?”
Bola mata Luc pun membulat sempurna. “Apa yang kamu katakan ini, Owen? Kamu tidak boleh menjatuhkan kerajaan dan malah memberikan kepada orang lain. Itu jangan sampai kamu lakukan.”
“Maksudku, bagaimana jika aku memberikannya kepada Agata atau anak dari Paman Luc?”
“Wanita tidak bisa memimpin kerajaan. Semua harus diteruskan oleh keturunan laki-laki. Dan juga Paman tidak tahu nanti akan memiliki seorang putra atau putri, jadi kamu tidak bisa memprediksi sekarang.”
Owen rasa pembicaraan ini sama sekali tidak menguntungkan baginya. “Paman, bolehkah aku pergi sekarang? Aku harus melanjutkan pembelajaranku,” ucap Owen yang menghindari pembicaraan lebih melebar lagi. Tahu bila sang keponakan menghindarinya, Luc pun membiarkan pemuda itu pergi.
Luc mengembuskan napas berat ketika menatap punggung tegap Owen yang perlahan menghilang dari pandangan. “Pemuda yang menakjubkan tapi sedikit kerasa kepala. Ah, benar-benar persis seperti Kak Kennard,” kata Luc pada dirinya sendiri.
Owen ternyata pergi ke sisi barat istana. Dulu dia sering bermain di bagian ini. Di sana dia dan Agata melakukan berbagai hal. Bisa dilihat perbedaan Owen dan Agata benar-benar jelas. Owen masih mengingat betul mengenai masa kecilnya dulu, sedangkan Agata lebih kepada lupa akan masa lalunya.
Kali ini Owen memilih untuk berlatih panahan saja. Untung saja di sana sudah tersedia anak panah serta panahannya juga. Jadi, Owen bisa berlatih sesuka hati.
Owen baru saja melepaskan anak panahnya, dan itu tepat mengenai terget jauh di depan sana. Memang Owen sangat ahli di bidang persenjataan. Inilah yang menjadikan dia selalu menjadi pemenang di sekolah.
Di salah satu sudut atas istana terlihat Frey, Alice, dan Agata mengobrol kecil. “Kita sepertinya harus sering-sering berkumpul seperti ini,” celetuk Alice. Dia menyukai ketika dirinya lebih banyak memiliki waktu bersama dengan keluarganya.
“Iya, Kak. Adanya Agata dan Owen membuat suasana kerajaan menjadi berbeda. Bagaimana denganmu, Agata? Apakah kamu senang akhirnya bisa kembali ke sini?” ujar Frey.
Agata mengangguk, dia masih dalam mode canggungnya. “Di sekolah itu, apa saja yang kamu pelajari? Apakah di sana sangat menyenangkan?” tanya Frey lebih lanjut.
“Ada banyak, Bibi. Kita diajarkan mempertahankan diri, bela diri, sosialisasi, mempertahankan emosi masing-masing dan banyak hal lainnya.”
Frey mengangguk paham. “Jadi, memang itu adalah sekolah terbaik ya. Oh iya, apakah kamu sudah menemukan mate?”
Sama seperti Luc, ternyata Frey juga menanyakan hal demikian. Itu wajar, mengingat umur mereka yang sudah dewasa dan sudah memiliki wolf masing-masing.
“Belum, Bibi.”
“Mereka berada di sekolah, jadi mungkin akan sulit menemukan mate,” ungkap Alice yang tampak dipahami oleh Frey. “Sebentar lagi adalah ulang tahun kalian, kan? Ibu akan bicara kepada Ayah untuk mengadakan pesta. Mungkin saja di sana kalian akan menemukan mate,” usul Alice.
“Itu bagus, Kak,” sahut Frey yang setuju sedangkan Agata tak berkomentar banyak. Jujur, gadis ini tampak tak terlalu memikirkan perihal mate, ya meskipun sang wolf selalu merengek untuk Agata mencari mate mereka.
Karena tak memiliki pekerjaan, Luc pun memutuskan untuk menemui Reynart. Sebenarnya dia ingin berdiskusi dengan teman-temannya untuk meminta bantuan. Akan tetapi mengingat Axele dan Bella baru saja menikah, jadi Luc tak ingin mengganggu mereka.
Reynart yang kebetulan saat itu berada di rumahnya pun menyambut sahabatnya ini. “Ke mana Mr dan Mrs. Martin?” tanya Luc karena tak melihat kedua orang tua Reynart.
Reynart yang tadinya membaca buku pun langsung menutup bukunya kembali. Luc tampak mengabaikan buku-buku yang bertumpukan itu karena dia sudah hapal dengan hobi temannya ini.
“Mereka sedang mengunjungi Vera. Ada apa kau ke mari?”
Luc bersandar di kursi. “Aku ingin meminta bantuanmu,” ungkap pria ini. Reynart hanya menyimak di sana. “Jadi, kedua anak Kak Kennard dan Kak Alice baru saja kembali.”
“Si kembar itu?” sela Reynart yang mengingat akan sosok dua anak kecil yang dulu pernah ia temui di kerajaan werewolf.
Luc mengangguk. “Mereka baru saja di jemput. Akan tetapi, ada perubahan besar yang ada pada diri mereka. Agata, dia lebih pendiam di bandingkan dulu. Kamu tau kan kalau dulu saat masih kecil Agata hiperaktif sekali. Karena terlalu hiperaktif itu, dia sering membahayakan orang lain, jadi Kak Kennard tak memiliki pilihan lain selain memasukkannya ke sekolah.”
“Kemudian Owen. Rambutnya sudah berubah menjadi putih sekarang. Dan dia terlihat lebih dingin dan sangat acuh kepada keluarganya sendiri. Entahlah, Rey. Aku merasa jika mungkin mereka sedang melakuka penolakan diri.”
Mendengar penjelasan Luc membuat Reynart mengangguk paham. “Apa mungkin ini karena mereka sudah lama tidak kembali ke kerajaan? Mungkin saja ada rasa sedikit canggung di sana,” katanya.
Luc menggeleng. “Owen dua kali tidak hadir di meja makan. Semalam Frey mengatakan kepadaku jika dia merasakan hal aneh pada diri Owen ini. Kamu tau kan jika dalam diri Frey masih ada darah Bella, jadi dia masih memiliki insting seorang wizard meskipun tidak sepenuhnya.”
Reynart mengangguk paham. “Tunggu dulu. Kau bilang rambut Owen berubah menjadi putih?” tanya Reynart yang baru sadar akan sederet kalimat yang Luc katakan tadi.
Luc pun mengangguk. “Itu benar. Dulu rambutnya hitam, kan? Tiba-tiba setelah kembali sudah menjadi putih. Itu aneh. Tapi dia terlihat keren dan tampan,” kata Luc.
“Apakah kau tau arti seseorang jika memiliki rambut putih?” ucap Reynart. Lantas Luc pun menggeleng.
“Apakah memiliki rambut putih itu berbahaya?”
“Tidak sepenuhnya benar. Hanya saja di dalam dunia wizard, orang yang memiliki rambut putih disinyalir akan berpengaruh besar dalam suatu wilayah.”
Luc tentu tak mengerti dengan penjelasan dari Reynart ini. “Itu artinya Owen akan sangat berpengaruh di kerajaanmu mungkin. Atau malah di seluruh dunia ini,” ungkap Reynart.
“Itu terdengar menakjubkan,” sahut Luc.
“Tapi, jika dia tidak menahan diri, hal itu akan menjadi keburukan. Jika yang ada di dalam hatinya hanya ketamakan, kesombongan, dan segala hal yang menjurus negatif, ini akan membuat seluruh dunia menjadi berantakan.”
Luc menganga. Apa bisa sampai sepengaruh itu? Aneh sebenarnya, akan tetapi dia baru menemukan orang yang memiliki rambut putih seperti itu. Jadi, mungkin saja yang dikatakan Reynart ada benarnya.