Bagian 21

1563 Words
Nampak semuanya harap-harap cemas menunggu di depan pintu besar utama istana. Kennard dengan wajah datar dan tenangnya terlihat sedang sibuk berbicara bersama prajurit. Alice nampak berada di sana juga bersama dengan Luc serta Frey. “Jadi, Owen akan datang hari ini, Kak?” tanya Luc, itu adalah hal yang ia dengar tadi. Alice pun mengangguk. Wajah bahagianya tampak jelas di sana. Tak berapa lama terdengar suara langkah kecil mendekat, itu adalah Agata yang baru saja muncul setelah dari kamar mandi. Agata langsung mengambil tempat di sebelah sang ibu. “Ini benar-benar menyenangkan. Istana akan terasa ramai jika anak-anak sudah datang,” seloroh Frey yang disetujui oleh semuanya. “Mereka bukan anak-anak lagi, Frey. Mereka sudah dewasa,” komentar Luc. Agata yang mendengarnya tampak setuju dalam diam. “Nah, itu adalah tugas kita untuk meramaikan kerajaan. Mari buat anak-anak lucu yang bisa menambah warna kerajaan ini,” lanjutnya yang berhasil membuat wajah Frey memerah menahan malu. Alice hanya tersenyum melihat interaksi mereka. Kemudian terdengar nama sang pangeran yang dielu-elu kan oleh prajurit. Ini artinya Owen telah pulang. Semua orang tampak memusatkan pandangan mereka ke gerbang istana. Terlihat pemuda tampan baru saja masuk dengan langkah tegas nan tenangnya. Luc menganga. Aura keponakannya tampak sama seperti Kennard. Benar-benar memiliki jiwa seorang raja. “Dia tampan,” komentar Frey spontan. Alice tak berkomentar banyak, ibu dari dua anak ini tampak terharu karena pada akhirnya segala penantian selama ini telah usai. Seluruh keluarganya telah kembali berkumpul. Owen yang melihat dirinya disambut pun nampak tak berekspresi banyak. Dia berhenti tepat di depan Alice. Mengetahui jika putranya telah datang, Alice tersenyum dan langsung memeluk erat putra semata wayangnya itu. Owen yang mendapat pelukan pertama dari sang ibu setelah sekian lama pun terlihat ragu untuk membalasnya. “Ibu merindukanmu, Nak,” bisik Alice dengan rasa haru di dalam hatinya. Owen yang tadinya berdiam kaku perlahan mengulurkan tangannya untuk membalas pelukan sang ibu, hanya dalam beberapa detik sebelum Alice mendengar geraman dari Kennard. Ingat, werewolf sangat posesif pada pasangan mereka meskipun skinship yang dilakukan bersama dengan keluarga sendiri. “Selamat datang kembali.” Kata sambutan kecil dari Kennard ini hanya diangguki oleh Owen. Kemudian atensi Owen beralih kepada Agata. Gadis itu menyambut kecil sang kakak dengan sebuah pelukan hangat. “Terima kasih sudah memenuhi janji,” bisik Agata di sana. Owen membalas pelukan hangat sang adik dengan tulus. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan meninggalkan sang adik. Keduanya telah lama hidup bersama dan selamanya akan selalu bersama. Ini adalah sebuah janji saudara. “Wah, aku tidak menyangka kamu semakin tampan dan hampir mengalahkan ketampanan Paman,” seloroh Luc yang tampak kagum dengan rambut putih yang dimiliki oleh keponakannya ini. Owen yang melihat Luc pun terlihat masih mengenali pamannya itu. Melihat tingkah Luc membuat Frey harus turun tangan saat itu juga. “Jangan dengarkan dia, Owen.” Atensi pemuda itu berada pada Frey. Owen ingat jika wanita ini sama seperti bibinya yang sudah tertidur sangat lama. “Perkenalkan namaku Frey,” kata wanita itu. Owen pun mengangguk paham. “Sebaiknya kita masuk. Owen butuh istirahat setelah melakukan perjalanan panjang,” usul Alice. Semua orang masuk ke dalam istana saat itu juga. Malam menjelang dengan cepat. Tampak semua orang menikmati makan malam mereka di meja makan. Seperti biasa Alice akan memasak makanan kesukaan anak-anaknya sebagai bentuk kasih sayang mereka. Namun, di meja makan itu belum terlihat sosok Owen, si pemeran utama hari ini. “Di mana kakakmu, Agata?” tanya Alice kepada putrinya yang selalu duduk tenang di kursinya. Agata menggeleng kecil. “Biar aku panggilkan dia, Kak,” usul Frey yang menawarkan diri. Alice pun setuju karena dia harus membantu menyiapkan makanan di sana. Frey pada akhirnya berjalan pergi menuju ke kamar keponakannya itu. Frey tahu di mana kamar keponakannya karena kata Alice, kamar itu berada tepat di samping kamar Agata. Langkah Frey pun berhenti di depan pintu besar sebuah kamar. Dua orang penjaga nampak berjaga di sana dengan wajah datar mereka. Frey pun mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali. Tak berapa lama pintu terbuka menampilkan visual Owen. “Semua orang menunggumu di meja makan,” ungkap Frey dengan senyum hangatnya. Owen yang setia dengan wajah nan datarnya pun nampak tak tertarik sama sekali. “Kalian makanlah dulu. Aku tidak sedang lapar sekarang,” balas Owen. “Eh? Datanglah, Owen. Kamu pasti lapar. Kak Alice membuatkan makananan kesukaanmu dan Agata, loh,” ucap Frey kembali. “Tidak, Bibi. Terima kasih banyak untuk tawarannya. Aku lelah, aku ingin istirahat lagi. Jika tidak keberatan, kalian bisa makan malam tanpa diriku,” ujar Owen. Frey nampak tak bisa berkata-kata. “Baiklah. Kalau begitu istirahatlah yang cukup. Jika lapar, kamu bisa langsung ke meja makan.” Setelah itu Frey pun pamit kembali. Sepanjang jalan wanita ini nampak memikirkan sikap Owen dari awal sampai hingga sekarang. Pemuda itu terlihat lebih dingin dan hampir tak tersentuh, bahkan minim ekspresi juga. “Loh? Di mana Owen?” tanya Alice yang tak melihat keberadaan sang putra ketika Frey sudah kembali. Semua mata tertuju kepada Frey kala itu, dia tampak tersenyum canggung. “Owen berkata untuk kita memulai makan tanpa dirinya. Katanya dia sedang lelah dan ingin istirahat,” ungkap Frey sesuai keadaan. “Dan meninggalkan makan malam? Perutnya akan kosong sepanjang malam,” komentar Alice dengan wajah khawatir. “Luc. Sepertinya ada yang tidak beres dengan Owen.” Frey menggunakan komunikasi dalam pikirannya. Dia menghubungi Luc yang berada tepat di sebelahnya sekarang. “Ada apa?” “Entahlah. Nanti kita bicarakan di kamar. Aku tidak ingin Kak Alice dan Kak Kennard mendengar.” Luc hanya mengangguk di sana. “Perjalanan yang Owen tempuh cukup jauh, Kak. Mungkin dia benar-benar lelah. Lebih baik Kak Alice bawakan saja makan malam ke kamarnya agar ketika dia sudah lapar, dia bisa memakan makanan itu,” usul Luc yang tak ingin mematahkan semangat sang kakak. Kasihan juga Alice sudah sejak pagi merasa semangat menyambut putranya. “Iya, Kak. Luc benar,” imbuh Frey. Alice pun nampak setuju juga. Ibu dari dua anak ini terlihat langsung menyiapkan makan malam untuk Owen. Dan pada akhirnya makan malam itu diisi tanpa sosok Owen. Sepertinya pemuda ini sedang berada di dalam mode menutup diri dari keluarga. Setelah makan malam, Luc dan Frey pun pamit ke kamar lebih dulu. Luc sudah tak bisa menahan pikirannya perihal sang keponakan. Apalagi Frey mengatakan bila ada hal aneh yang ada pada diri pemuda itu. “Ada apa, Frey?” tanya Luc langsung. Frey duduk di ranjang tempat tidur mereka. Terlihat wanita itu mengembuskan napas kasarnya dalam beberapa saat. “Sepertinya Owen dalam kondisi yang tidak bagus. Entahlah, aku merasa dia seperti tidak ingin berhubungan dengan keluarganya sendiri,” ungkap Frey dengan nada kesedihan tentu saja. Luc mengernyit, kurang memahami perkataan sang istri. “Bisa kamu perjelas lagi, Sayang? Jujur, aku belum mengerti hingga sekarang,” ujar Luc kemudian. Frey tau, semua pasti sulit memahami ini semua. “Begini. Ketika kedatangan dia tadi pagi, apakah kamu tidak merasakan jika auranya sedikit berbeda? Bahkan ketika Kak Alice menyambutnya, ekspresi Owen hanya diam dan terlihat dia sedikit ragu untuk membalas pelukan hangat dari ibunya sendiri.” Luc terdiam sejenak seperti mencerna perkataan sang mate. “Mungkin itu hanya perasaanmu saja, Sayang. Owen dan Agata sudah berpuluh tahun tidak kembali ke sini. Jadi, mungkin masih ada sedikit rasa canggung di sana,” kata Luc seperti memberi penjelasan sedikit. Frey berdecak. Instingnya mengatakan ada yang tidak beres di sini. “Hei, kamu terlalu berpikir keras, Sayang. Aku yakin semuanya akan baik-baik saja,” tutur Luc yang tak ingin sang mate berpikir berlebihan tentang ini. “Kamu tidak mengerti, Luc. Tadi ketika aku mengajaknya untuk makan, dia benar-benar menolak ajakan itu. Seperti dia tak ingin berkumpul bersama kita. Jika perkataanku ini adalah benar, mungkin besok pagi dia juga tidak akan turun ke meja makan,” ungkap Frey seperti meyakini opininya tersebut. Luc terdiam, tidak berpikir jika Owen akan setega itu kepada keluarganya sendiri. Tapi, apabila keyakinan Frey adalah benar, sepertinya Luc harus segera menyelesaikan dan lebih-lebih mencari tahu penyebab sikap Owen seperti itu. “Dan Luc. Apakah kamu lupa jika di dalam diriku mengalir darah Bella? Bella adalah seorang wizard, aku bisa merasakan ada suatu hal yang tidak benar di sini,” imbuh Frey yang kembali meyakinkan Luc jika perasaannya mungkin benar. Luc mengingat fakta itu. Kemudian tatapannya benar-benar berubah menjadi serius. “Frey. Jika keyakinanmu ini benar, sebaiknya kita tidak memberitahu Kak Kennard dan Kak Alice. Kita cari tahu dulu penyebab Owen bersikap demikian. Setelah kita menemukan jawaban, baru kita ceritakan pada mereka dan mencari solusi sekaligus. “Aku setuju, Luc. Memang itu yang aku pikirkan sejak tadi. Melihat betapa bahagianya Kak Alice menyambut kedatangan mereka membuat aku tak tega menghilangkan senyum di wajahnya. Mari kita buat hawa kebahagiaan tetap berada di sekitar istana.” Luc mengangguk setuju. “Tapi, kamu harus ingat bahwa kita juga butuh privasi. Kita harus memikirkan masa depan kita nanti, terlebih lagi kita sudah harus memulai merencakan memiliki anak.” Frey mengangguk. Meskipun masih sedih atas kehilangan sang anak, tetapi Frey tidak ingin mematahkan kebahagiaan di dalam pernikahan mereka, terutama kebahagiaan Luc. Luc pun mendekati sang istri dengan lembut. “Bagaimana jika malam ini kita coba lagi?” ucap pria itu dengan hangat. Frey pun mengangguk setuju. Dan di malam itu di isi oleh kisah cinta kedua insan ini. Di kamar bernuansa laki-laki, terlihat Owen sedang menatap pantulan wajahnya di cermin. “Apakah kau bahagia di sini?” tanyanya pada dirinya sendiri.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD