Bagian 20

1778 Words
Keesokan harinya Bella sudah bangun dengan keadaan yang tak begitu lelah. Tidur semalam benar-benar membuatnya nyaman sekali. Gadis itu menoleh ke samping, dilihatnya tak ada sosok Axele di sana. Pasti pria itu sudah bangun lebih dulu. Bella pun turun dari ranjang sembari mengusap matanya dan tak ketinggalan gadis ini masih menguap saja. Apakah dia perlu tidur lagi? Tidak, ini hari pertamanya menjadi seorang ratu, jadi tak baik tidur sepanjang hari.  "AKKHHHH."  Teriakan Bella yang memekikkan telinga membuat Axele meringis. Bagaimana tidak berteriak, ketika Bella membuka pintu kamar mandi malah melihat perut kotak-kotak milik suaminya itu. Ya, meskipun tak terlihat seluruhnya, tapi tetap saja Bella terkejut.  Axele mengernyit ketika melihat Bella yang menutupi kedua matanya. Masih saja malu-malu, padahal mereka sudah menjadi suami istri.  "Kamu kenapa nggak kunci pintunya, sih?!" seru Bella yang mempertahankan kedua tangannya di wajahnya.  Axele terkekeh, apakah mengunci pintu itu perlu dia lakukan? Axele memang tak pernah mengunci pintu kamar mandi sejak dulu.  "Aku tidak pernah kunci pintu kamar mandi dari dulu, Bella. Lagi pula kenapa kamu teriak? Malu?"  "Tentu saja aku terkejut!" jawabnya. Axele terkekeh, dia menggeser tubuhnya untuk bisa keluar dari kamar mandi.  "Masih saja malu-malu, padahal kemarin kita sudah mengucapkan janji pernikahan."  Seketika kepala gadis ini blank. Benar juga, kenapa dia jadi akan lupa statusnya. "Sudahlah, buka matamu itu," perintah pria ini yang langsung menarik pelan kedua tangan gadis ini.  Bella membuka kedua matanya, dan kedua matanya bertubrukan langsung dengan kedua mata Axele. Pria itu tersenyum hangat. "Selamat pagi, istriku. Sepertinya tidurmu begitu nyenyak semalam," kata Axele.  "Mm, ya. Karena aku kelelahan makanya tidurku nyenyak," jelas Bella.  Axele mengangguk paham. "Kamu mau mandi?" Bella mengangguk. "Ya sudah mandilah, aku sudah selesai," lanjut Axele.  Pria itu pun berjalan menuju ke lemari besar miliknya. Sebelum masuk ke kamar mandi, Bella diam-diam memperhatikan pergerakan suaminya itu. Axele hanya menggunakan handuk sebagai penutup bagian bawahnya, sedangkan bagian atas dibiarkan terbuka. Ini benar-benar membuat jantung Bella berdetak lebih cepat.  "Cepatlah mandi, Bella. Atau aku akan mengacaukan acara mandimu," peringat Axele seakan tahu jika gadis itu tengah memperhatikannya. Bella pun buru-buru menutup pintu, sial dia ketahuan. Kenapa Axele sangat sexy. Aish, sepertinya Bella sudah hilang akal.  Axele pun terkekeh melihat tingkah lucu mate nya itu. Setelah upacara pernikahan dilakukan, Axele memang lebih peka terhadap Bella. Apalagi jika dia sudah mengklaim gadis itu, maka akan sangat mudah bagi dirinya mengetahui isi kepala Bella. Sebenarnya Axele berniat mengklaim Bella semalam, tetapi dia kasihan melihat wajah lelah istrinya itu, maka ia urungkan.  Karena ini masih pada momen pernikahan, maka Axele masih libur dari pekerjaan. Untuk sementara Baz akan mengambil alih. Ya, Axele sudah berbaikan dengan ayahnya itu dan mencoba memaafkan semuanya. Baz pun juga berkali-kali meminta maaf kepada sang putra.  "Ibu, aku dan Bella kan berjalan-jalan sebentar keluar istana," kata Axele yang lebih dulu menuju ke meja makan. Di sana juga sudah ada Baz dan kedua orang tua Bella yang memang menginap semalam. Rencananya mereka akan pulang besok. Hanya menunggu Bella yang masih bersiap.  "Pergilah. Ibu dan Ayah akan menjaga istana. Buatlah istrimu nyaman dan bahagia. Kamu bawa saja ke salah satu air terjun di wilayah werewolf. Bukankah di sana ada air terjun yang bagus?"  Axele mengangguk. Ia pernah ke sana bersama Vera. Sepertinya ide sang ibu tidaklah buruk. Toh meskipun wilayah werewolf membutuhkan waktu, tetapi ia bisa berlari cepat dan hanya beberapa menit sudah sampai.  Bella pun datang dengan menggunakan dress selutut miliknya. Gadis itu meringis karena sudah membuat semuanya menunggu. Dan Bella mengambil tempat di sebelah Axele.  "Maaf sudah membuat kalian menunggu," ucap Bella merasa bersalah.  "Tidak apa-apa, Nak. Kita tahu kamu pasti lelah karena kegiatan kemarin," sahut Felis dengan senyum anehnya. Axele tahu ke mana maksud sang ibu, tetapi Bella malah mengira yang dimaksud adalah mengenai pernikahannya.  "Lebih baik kita segera sarapan," potong Axele langsung. Semuanya pun makan dengan nyaman. Bella mengisi perutnya lebih, semalam dia tidak makan, dan sekarang dia malah lapar. Melihat cara makan istrinya membuat Axele tersenyum kecil.  Setelah sarapan berlangsung, Axele langsung membawa Bella ke luar. "Kita mau ke mana?" tanya Bella. Sepertinya Axele hendak membawanya pergi.  "Jalan-jalan. Aku akan ajak kamu ke tempat yang bagus. Aku juga sudah ijin ke ibu dan ayah. Sementara mereka yang akan mengurus istana," jawab Axele. Bella mengangguk paham.  Keduanya pun sampai di gerbang istana yang mana dijaga oleh prajurit. Axele berbicara kepada mereka sebentar dan pamit jika ia akan pergi bersama Bella hanya berdua. Tak ketinggalan ia meminta semuanya untuk waspada dengan sekitar. Setelah itu, Axele kembali ke tempat Bella menunggunya. Tanpa berlama-lama, Axele langsung menggendong istrinya di depan tubuhnya. Bella terkejut karena Axele selalu bertindak tiba-tiba. "Pegangan yang erat agar tidak jatuh. Aku akan berlari dengan cepat agar kita cepat sampai dan pulang tidak terlalu sore," kata pria ini. Bella mengangguk. Ia mengeratkan pegangannya di bahu dan leher suaminya itu.  Dan Axele pun mulai berlari. Melesat seperti angin. Kekuatan vampirnya sangat memudahkan dirinya berlari ke sana ke mari.  Dalam beberapa menit saja mereka sudah sampai di wilayah werewolf. Dan Axele berlari kembali menuju ke area hutan di sana. Setelahnya, terdengar suara gemericik air yang semakin lama terdengar semakin keras. Air terjunnya sudah dekat.  "Woah!" pekik Bella ketika Axele menurunkannya di sebuah batu besar. Di depan mereka air terjun yang besar dan luas itu terlihat sangat bagus. Bella nampak takjub melihatnya. Axele yang sudah pernah ke sini pun terlihat biasa saja.  "Ini bagus," kata Bella dengan senyum lebar di wajahnya. Bella mulai bermain-main dengan air, tetapi hanya semata kaki saja.  Axele sendiri terlihat waspada dengan sekitar. Dia tak ingin ada pengunjung gelap yang tiba-tiba datang ke sini dan menghancurkan momen bahagia mereka. "Kamu tunggulah di sini sebentar, aku akan pergi sebentar," titah Axele.  Bella mengangguk. Axele langsung melesat kembali mengelilingi wilayah itu dan memantau apakah ada yang mencurigakan. Bella masih terus bermain air menggunakan kaki dan tangannya. Airnya terasa dingin dan segar.  Axele pun sudah kembali, keadaan di sini sangat aman. Dan sepertinya hanya ada mereka berdua di tempat itu.  "Kamu mau turun ke air?" tawar Axele kepada istrinya.  Bella menoleh, "tidak. Aku tidak bisa berenang. Aku takut nanti tenggelam," jawabnya.  Axele terkekeh. Dia baru tahu sang mate tak bisa berenang. "Aku bisa mengajarimu cara berenang. Mau coba?" tawarnya.  Bella terdiam, seperti sedang berpikir dan mencoba mempertimbangkan sesuatu. "Tapi, kita nggak bawa baju ganti."  "Tak ada siapa pun di sini, Bella. Aku sudah mengeceknya barusan. Hanya ada kita berdua di sekitar sini," jelas Axele. Bella pun paham ke mana barusan pria ini pergi.  "Tapi ... kalau nanti aku tenggelam bagaimana?" tanyanya masih tak yakin.  "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Tetaplah berada di dekatku dan pegang tanganku," tutur Axele. Bella pun mengangguk setuju. Toh, ada Axele di sini jadi dia aman.  Axele pun turun ke air pertama kali, kemudian dia membantu Bella turun juga. Keduanya saling berhadapan dengan  Axele yang memegangi kedua tangan istrinya itu.  "Gerakkan kakimu ke atas dan ke bawah," perintahnya. Bella melakukan instruksi yang Axele katakan. Kemudian dengan pelan Axele membawa Bella ke tengah-tengah di mana keadaannya air juga semakin dalam.  "Axel, apakah aku benar melakukannya?" tanya Bella yang mana terus menggerakkan kedua kakinya.  "Kamu sudah benar. Lihatlah, kita sudah sampai di tengah-tengah."  Bella pun memperhatikan sekitar dan menoleh ke belakang. Axele benar, batu tadi tempat mereka duduk sudah ada jauh di sana. "Woah, ini bagus! Aku bisa berenang, Axel!" pekik Bella bahagia. Axele pun juga ikut senang.  "Eh, eh, eh. AXEL!"  Karena terlalu bersemangat dan excited, Bella tak bisa menjaga keseimbangannya. Untung saja Axele dengan cepat menarik tubuh Bella agar tak tenggelam. Bella sendiri sangat syok. Dia berpegangan pada kedua bahu Axele dan takut tenggelam. Tapi, tubuh Axele lah yang harus menahannya agar mereka berdua tak tenggelam bersama.  "Axel, lebih baik kita kembali ke batu tadi. Aku takut," pinta Bella. Pegangan yang bisa ia lakukan hanya pada kedua bahu pria itu. Dan juga posisinya sedikit tak nyaman di mana kulit keduanya saling berhimpitan. Sial.  "Aku ingin lebih dekat ke air terjunnya," seloroh pria itu. Bella terdiam, mencoba mempertimbangkan pilihan yang baik.  "Bagaimana jika kamu antar aku ke batu tadi lebih dulu, setelahnya kamu kembali lagi ke sini," idenya.  Axele menggeleng. Itu akan membuang-buang waktu. Axele bisa berlari dan melesat di darat, tetapi jika di dalam air dia sama seperti orang lain.  "Airnya juga dingin. Nanti kita bisa kedinginan jika lama-lama di dalam air." Bella terus mencari alasan agar Axele mau mengantarnya ke pinggir. Seharusnya tadi ia tak perlu menyetujui tawaran pria ini.  "Aku akan memelukmu jika kedinginan," jawab Axele yang langsung menarik pinggang Bella agar lebih dekat dengan dirinya. Posisi Bella benar-benar tak beruntung sekarang.  Axele sendiri malah tak berpikir dulu akibat dari apa yang dia lakukan. Tubuh mereka yang saling berhimpitan dan sangat dekat itu membuatnya hampir hilang kendali. Bella sendiri merasa sesuatu di menusuk perutnya. Refleks dia menjauhkan dirinya sedikit meskipun itu percuma.  "Axel ... itu ... apa?" lirih Bella dengan wajah memerah karena malu. Axele tahu maksud dari istrinya itu, dan dia tak malu.  "Maafkan aku, Bella. Tetapi aku sudah menahannya sejak semalam dan tadi," jelas Axele dengan wajah putus asa. Bella tertegun dengan ekspresi tak biasa pria ini. Putus asa?  "Ayo, lebih baik kita ke batu tadi saja," putus Axele yang tak ingin terpengaruh dengan perasaannya yang ingin segera mengklaim Bella.  "Axel," panggil Bella yang mencegah mereka kembali ke tepian. "Apakah aku sangat jahat kepadamu? Semalam. Semalam adalah malam pertama kita, tetapi aku tidur lebih dulu dan mengabaikanmu. Pasti kamu sangat frustasi," ucap Bella dengan perasaan yang benar-benar bersalah.  "Hei, aku tidak apa-apa, Bella. Aku tidak akan pernah memaksamu dan menyakitimu, ok," ucap Axele agar istrinya itu tak terus menyalahkan diri sendiri.  Bella masih berpegangan pada kedua bahu Axele. Kemudian, dia pun semakin mendekatkan diri kepada pria itu. Axele hanya diam, menunggu apa yang akan dilakukan oleh istrinya.  Hal yang tak Axele sangka pun terjadi. Kedua bibir mereka saling bertabrakan. Bella lah yang memulainya. Ciuman panjang namun dalam itu sebenarnya tak dikuasi oleh Bella. Dia hanya menuruti nalurinya. Axele pun menarik pinggang istrinya agar tak tenggelem dan memperdalam ciuman mereka. Mencoba memimpin kegiatan mereka.  Kedua pasangan baru itu saling mencecap dan mengungkapkan perasaan masing-masing. Setelah ciuman panjang itu, keduanya saling mengatur napas masing-masing. Wajah Bella terlihat memerah karena saking malunya.  "Sebaiknya kita pulang dan meneruskannya di kamar," bisik Axele dengan rendah. Tubuh Bella pun dengan mudah dibawa ke area pinggiran air terjun. Dan Axele langsung melesat kembali ke istana dengan Bella digendongannya. Baju mereka basah, tetapi Axele menyembunyikan bagian tubuh depan istrinya di dadanya. Ia tak ingin para prajurit melihat tubuh istrinya yang basah itu. Bella pun hanya pasrah saja. -- Btw, beberapa part ada yang aku ambil dari cerita The Cursed Vampire ya karena memang beberapa adegan ada yang masuk ke sana. Jangan lupa untuk komen dan tap love. Dan yang pasti tetap patuhi protokol kesehatan ya ^^
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD