Bagian 7

1818 Words
Bella nekat menemui Axele yang katanya sedang bekerja di ruangannya. Seperti biasa, dua orang prajurit berjaga di depan pintu. Ketika Bella akan masuk, mereka membukakan pintu tersebut. Axele yang tahu jika Bella berkunjung tak perlu repot-repot menoleh karena dia bisa mencium bau mate nya itu dari jarak jauh. Bella menghampiri Axele yang sibuk dengan hal-hal di depannya. "Aku perlu bicara," tutur Bella langsung tanpa basa-basi. Axele mengalah, dia mengabaikan pekerjaannya dan fokus kepada gadis ini. Bella berdiri tegak di depan sana seakan ia tak ingin terintimidasi. Cukup menarik bagi Axele sendiri. "Bicaralah," perintah Axele. "Ini mengenai Luc. Tidak bisakah kamu membantunya? Kamu bicara saja dengan wizard yang katanya memiliki jawaban itu. Hanya bicara saja bukan hal sulit, bukan?" Axele menggeleng. Dia tak ingin membuka luka lama dan mengingat pengkhianatan itu. Lagi pula bukan tidak mungkin mereka akan kembali mengkhianatinya. "Aku tidak akan menemui wizard itu lagi, Bella," katanya. Bella mendengkus kesal. "Kalau begitu, biar aku saja yang mengorbankan diri." Tatapan pria ini menajam. Ia tak suka dengan kalimat yang barusan Bella keluarkan, seakan hal yang dia katakan terasa baik-baik saja. "Jangan coba-coba," peringat Axele. "Kenapa? Aku kasihan melihat Frey. Wanita itu terlihat kurus, Axel. Jika kamu berada di posisi Luc, apa yang akan kamu lakukan? Apa yang akan kamu lakukan ketika aku seperti Frey?" tanya Bella. Dia tak memiliki pilihan lain. Axele harus merasakan apa yang Luc rasakan. Axele menutup kedua matanya. Bella pintar sekali mendesak dirinya. Kemudian, mata pria ini terbuka lagi. Bella menjadi gugup karena nekat mendesak sang penguasa dunia ini. "Wizard Berta, Ayah, dan Mr. Martin adalah orang-orang yang aku hukum karena sudah berkhianat dan mengorbankan Celesse saat itu. Aku memenjarakan mereka dan tak ingin melihat wajah mereka lagi," cerita Axele. Tentu bagian ini baru ia ceritakan. Dan Bella terkejut saat itu. Tapi, dia harus menyadarkan Axele sekarang. "Kamu percaya dengan kesempatan kedua?" katanya. Axele tak memberikan respon apa pun. "Aku adalah salah satu kesempatan kedua itu. Aku adalah mate kedua mu, Axel. Jadi, bagaimana jika kamu memberi mereka kesempatan untuk memperbaiki segalanya? Dengan catatan jika mereka berulah lagi, kamu bisa langsung menghukum mereka dengan berat," tutur Bella. Axele terdiam, terlihat mempertimbangkan usulan mate nya. "Jika kamu masih tetap pada pendirianmu, aku tidak memiliki pilihan lain. Aku akan mengorbankan diriku agar Frey cepat bangun." "Jangan sekali-kali kamu melakukan itu, Bella. Ini bukan hanya sekedar meminum darah, ada ritual yang harus kamu lakukan. Aku tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya. Jika kamu pergi, maka mungkin aku akan pergi juga dari dunia ini." "Maka dari itu, lebih baik kamu bi—” "Aku akan memikirkannya," potong Axele cepat. "Jika tak keberatan, bisakah kamu memberiku waktu untuk berpikir?" Bella mengangguk. Gadis ini berbalik dan langsung menuju ke pintu keluar. Axele mengembuskan napas kasar berkali-kali. Berbicara dengan Wizard Berta? Setelah 50 tahun lamanya ia di penjara? Seharusnya Axele tak perlu gegabah saat itu sehingga dia tak akan menyerang Frey yang mana wanita itu tertidur dalam jangka waktu yang panjang. Luc kembali menjalani aktivitasnya lagi. Kali ini dia mendapat tugas dari Kennard untuk berkunjung ke kerajaan wizard. Di sana dia akan melakukan kunjungan untuk menghadiri pertemuan sebagai perwakilan dari kerajaan werewolf. Dua kerajaan ini sejak lama membangun hubungan kerja sama dalam bidang pertanian seperti buah dan bahan pokok lainnya. Itu sudah dilakukan sejak lama, yakni ketika orang tua Luc berkuasa. Sekarang dilanjutkan oleh anak-anak mereka. Luc datang bersama dengan satu orang. Dia disambut baik oleh raja, ratu dan putri dari kerajaan ini. “Selamat datang. Kami sudah menunggu Anda, Pangeran,” kata raja wizard. “mari kami antar,” imbuhnya. Luc mengangguk dan langsung mengikuti langkah kaki pria paruh baya itu. “Kami berencana akan mengirimkan beberapa alat baru ke kerajaan werewolf. Alat-alat ini baru kita buat dan sangat membantu pekerjaan dalam bidang pertanian,” jelas sang raja. Luc sekali lagi mengangguk. “Saya lihat buah-buahan kalian begitu bagus, ini terbukti dengan banyaknya pedagang buah di pasar.” “Benar, Pangeran. Kami baru saja mencoba hal baru seperti pupuk baru yang sepertinya jauh lebih berkualitas. Nanti saya akan tunjukkan cara membuatnya,” kata sang raja. “Nah, sudah sampai. Sebelum melihat alat baru dan pembuatan pupuk, mari kita makan hidangan lebih dulu. Ini dibuat dari sayuran yang kami tanam,” ucap sang raja lagi. Luc mengangguk, dia dan orang yang bersamanya pun langsung mengambil kursi kosong di sana. Makan pun dimulai, Luc nampak memuji kehidupan bangsa wizard yang begitu mandiri apalagi perihal bahan makanan. Mereka semua tampak sejahtera dan terhindar dari yang namanya pertikaian. Setelah menyantap makanan dan berbincang sedikit, Luc langsung diajak ke kebun kerajaan yang memang begitu luas. Luc pernah ke sini juga, jadi dia tak kaget. “Ini salah satu alat yang digunakan untuk menyiram. Kita melakukan percobaan, meskipun sempat gagal, tetapi akhirnya berhasil. Alat penyiram ini terhubung dengan yang ada di dalam kerajaan, di mana air akan keluar dengan sendirinya ketika di jam tertentu seperti pagi dan sore hari. Ini memudahkan petani dalam bercocok tanam.” Luc semakin takjub. Kenapa kakaknya tak pernah berpikiran untuk membuat alat seperti ini. Lebih mudah dan praktis. Kemudian obrolan mereka sedikit terhenti karena ada satu orang pria yang menghampiri raja. Mereka berbincang sedikit, sedangkan Luc nampak mengamat para petani di sana. “Ah, maafkan saya, Pangeran. Tiba-tiba saja ada hal mendesak yang harus segera saya selesaikan. Jika tidak keberatan, Anda bisa meneruskan berkeliling dengan di dampingi oleh Putri Iris.” “Baiklah, Raja.” Raja pun pergi bersama pria yang tadi menghampirinya. Luc beserta orang yang ikut bersamanya pun nampak masih berada di tempat untuk menunggu kedatangan Putri Iris. Tak beberapa lama datanglah wanita cantik dengan pakaian kerajaan. Luc mengenal Putri Iris sebagai satu-satunya anak yang dimiliki oleh raja dan ratu. “Mari saya antar berkeliling, Pangeran,” kata Iris. Luc mengangguk, dia berjalan bersama ke area sayuran. “Sayurannya begitu bagus. Tanah di sini juga bagus. Kalian bekerja dengan begitu baik,” puji Luc sekali lagi. “Iya, Pangeran. Kami menggunakan semua bahan yang terbaik. Di sini juga dilakukan pembuatan pupuk manual. Ini adalah cara yang baik untuk tetap menjaga kualitas sayur dan buah serta membuka pekerjaan baru bagi para warga,” terang wanita ini. “Aku merasaa kagum dengan kerajaan Anda ini, Putri. Semuanya tampak damai. Tidak salah jika kerajaan ini dijadikan contoh oleh kakak saya,” sahut Luc. Iris pun tersenyum hangat. Sekitar setengah jam Luc berkeliling di kebun itu. Setelah puas, Luc dan Iris kembali masuk ke dalam istana sedangkan orang yang bersama Luc tadi memilih untuk tetap tinggal di kebun untuk meninjau tanaman di sana. Luc dan Iris nampak menikmati hidangan teh mereka. “Sudah lama sekali sepertinya tak berkunjung ke sini,” celetuk Luc. Iris mengangguk. “Ya, Pangeran. Sepertinya Anda sangat sibuk sekali,” balas Iris. “Ya, Anda benar, Putri. Saya sibuk menemani mate saya.” “Ah, itu. Saya sudah mendengarnya sejak lama. Jadi, mate Anda belum bangun?” tanya wanita ini. Luc mengangguk, Iris tampak bersimpati dengan pria ini. “Semoga dia lekas bangun secepatnya, Pangeran. Kehilangan mate bagi seseorang memang akan menyiksa batin. Saya pernah merasakan di posisi itu. Tapi, Anda masih beruntung karena masih memiliki mate, dibandingkan dengan saya yang tak memiliki pasangan lagi.” Luc sudah tau bila mate Iris telah tiada. Dia berharap tak memiliki nasib sama seperti demikian. “Anda jangan berkecil hati, Putri. Ada kesempatan kedua. Mari tetap berdoa agar mate kedua Anda cepat datang,” balas Luc yang menyemangati Iris. “Terima kasih.” Keduanya pun saling tersenyum satu sama lain. Setelah mengunjungi kerajaan, Luc kembali memikirkan tentang sosok Bella. Ia berpikir mungkin harus melihat keadaan gadis itu dulu dan memastikan semuanya baik-baik saja. Tetapi Luc sedikit tak yakin Bella ada di pasar karena seingatnya gadis itu datang bersama dengan Axele di mana Luc berpikir jika Bella sudah ada di tangan pria itu. “Kita mampir ke pasar dulu,” putus Luc. Orang yang menemaninya saat itu pun mengangguk. Keduanya berjalan menyusuri pasar. Luc beralasan ingin membeli sesuatu sebagai oleh-oleh. Dan mata Luc berhenti tepat di kedai biasa tempat Bella berjualan. Di sana terlihat begitu sepi. Mungkin Axele tidak ingin Luc kembali mengusi kehidupan Bella lagi. Dengan langkah gontai, Luc berjalan menuju ke luar pasar. Namun, di tengah pasar dia bertemu Reynart yang entah kenapa berada di tempat itu. “Kenapa kau ada di sini?” tanya Reynart. Luc meminta orang yang pergi bersamanya untuk berkeliling sebentar dan membiarkan Luc berbicara sebentar dengan Reynart. Kedua pria ini mencari tempat yang pas untuk mengobrol. “Aku mendapat tugas dari Kak Kennard untuk ke kerajaan wizard. Kau sendiri kenapa ada di sini?” tanya Luc balik. Reynart nampak diam. Luc yang sudah paham akan sifat sang sahabat pun mengerti pasti ada yang tak beres. “Ada apa, Rey? Ceritakan padaku, mungkin aku bisa membantumu,” ucap Luc dengan berani. Reynart tersenyum kecil, dia tau bila Luc akan selalu mendukungnya. “Vera. Dia akan segera menikah,” ungkap Reynart membuat Luc terkejut bukan main. “Dia sudah bertemu dengan mate nya?” tanya Luc. Reynart mengangguk. “Itu bagus. Tetapi kenapa wajahmu menjadi tidak mengenakkan seperti ini?” Reynart mengembuskan napas beratnya. “Vera akan sangat sedih jika di hari pernikahan tidak ada ayah di sisinya,” ungkap Reynart. Luc mengangguk paham, itu pasti akan membuat hari pernikahan menjadi sedikit dipenuhi kesedihan di sana. “Bagaimana jika kau meminta ijin kepada Axele agar Mr. Martin bisa diijinkan hadir?” usul Luc. Reynart tertawa kecil. “Axele tak mungkin mengijinkannya, Luc. Aku tau dia pasti membenci ayahku.” “Itu hanyalah masa lalu. Sudah 50 tahun berlalu, apakah dia tidak bisa berpikir jernih? Bahkan dia sudah memiliki mate pengganti, sedangkan aku masih harus berjuang bersama dengan Frey. Dia benar-benar egois. Aku menjadi meragukan apakah dia sahabat kita atau tidak,” cibir Luc dengan sedikit emosi di sana. Reynart mengernyit ketika mendengar perkataan Luc barusan. “Mate pengganti? Axele memiliki mate pengganti?” tanya Reynart. Luc mengangguk lesu. “Sungguh beruntung dia, bahkan aku hingga sekarang belum tau di mana mate ku. Dunia terasa kurang adil bagi kita,” keluh Reynart. Luc mengernyit, tumben sekali Reynart yang minim bicara bisa berkeluh kesah seperti sekarang. “Dan yang lebih menyesakkannya untukku adalah, mate Axele adalah gadis yang aku cari, Rey. Aku tidak berhasil membawanya karena Axele muncul saat itu dan mengancamku keras. Bahkan dia mengunjungi istana di mana pada akhirnya Kak Kennard marah besar padaku.” Reynart yang tahu mengenai fakta ini pun tak bisa berbicara banyak. “Aku juga berpikir jika mungkin tidak seharusnya kau menemui penyihir hitam. Mungkin Kak Kennard marah karena kau nekat pergi dan hampir membahayakan orang lain.” “Apa yang bisa aku lakukan untuk Frey maka akan aku lakukan, Rey. Meskipun aku akan menerima resiko besar,” sahut Luc. Reynart jadi tak tega melihat sang sahabat menderita seperti ini. “Luc … besok bisakah kau menemaniku ke kerajaan vampir. Sepertinya benar katamu, aku harus meminta ijin pada Axele agar ayah bisa hadir di pernikahan.” Luc mengangguk. “Aku akan ikut.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD