"Apakah kau yakin ingin menemuinya, Rey?" tanya Luc.
Reynart mengangguk. Keduanya memasuki area istana setelah diijinkan masuk. Mereka benar-benar akan meminta ijin langsung kepada Axele. "Ini permintaan Vera. Di pernikahannya, ia ingin bertemu dengan ayah," ungkap Reynart sekali lagi.
Setelah lima puluh tahun lamanya akhirnya kedua pria ini kembali menginjakkan kaki di kerajaan Axele. Langkah kedua pria ini sangat tegas dan Reynart tanpa ragu menyanggupi permintaan sang adik. Luc hanya menemaninya saja dan ingin bertanya juga kepada teman lamanya itu apakah sudah menemukan solusi untuk Frey.
"Raja sudah menunggu di ruangannya," ucap salah satu pria yang tadi Axele tugaskan. Reynart dan Luc pun mengangguk. Kemudian, mereka mengikuti langkah kaki pria yang menyambutnya. Istana Axele sudah berbeda, di sini lebih gelap nuansanya. Tapi mengingat jika Axele telah menemukan sang mate, mungkin cepat atau lambat semuanya akan berubah lagi. Reynart pastikan itu akan terjadi.
Setelah berjalan beberapa menit, mereka pun sampai di pintu besar. Pintu itu dibuka oleh dua prajurit, keduanya kemudian masuk ke sana. Pemandangan pertama yang mereka lihat adalah Axele yang duduk di kursinya sembari menatap kedua orang ini. Pria itu seperti sudah menunggu mereka. Reynart dan Luc pun duduk di kursi. Reynart adalah orang yang paling tenang dalam ruangan ini. Setelah lima puluh tahun lamanya, akhirnya ketiga orang ini bisa berada dalam satu ruangan lagi.
"Langsung saja bicara," kata Axele yang enggan untuk basa-basi. Bukankah harusnya mereka saling sapa dan menanyakan kabar lebih dulu?
Reynart mengangguk. "Di sini aku berbicara antara teman, Axele. Aku sangat butuh bantuanmu sekarang. Kamu pasti mengingat Vera, bukan? Adikku itu sudah menemukan pasangannya sejak empat bulan lalu. Dan mereka sedang mempersiapkan pernikahan. Tetapi, Vera menginginkan kehadiran ayah di pernikahannya. Bisakah kamu—”
"Tidak bisa," potong Axele cepat.
"Hanya sebentar. Setelah pernikahannya selesai, kau bisa membawanya kembali," tutur Reynart.
"Sekali saja cobalah untuk tak egois, Axele. Dulu kau menganggap Vera seperti adikmu sendiri, bukan? Jadi, apa salahnya jika kamu berbaik hati sekali saja kepada Vera? Anggap ini hadiah pernikahan untuknya," sela Luc yang ikut membantu Reynart berbicara.
Axele tak suka dengan perkataan yang Luc ajukan kepadanya. Egois? Dia hanya mencoba menghukum orang yang bersalah. Pria ini memutuskan pandangan mereka. Dia tak ingin jadi lemah. "Aku akan memikirkannya lagi. Jika keputusan sudah aku buat, aku akan mengabari kalian," ucap pria ini. Reynart dan Luc mengangguk. Setidaknya mereka memiliki harapan.
Reynart dan Luc pun memutuskan untuk pergi saat itu juga. Namun, kedua pria ini tak langsung pulang ke rumah mereka. Luc memutuskan mengajak Reynart untuk pergi ke danau yang ada di dekat sana. Reynart tentu menaiki punggung Ben saat itu.
“Sudah lama sekali kita tidak ke sini,” celetuk Luc yang diangguki oleh sang sahabat. Keduanya menatap danau yang sekitarnya masih sama seperti dulu ketika ketiga orang ini bermain di sana. Sayangnya semua keadaan telah berbeda. Bahkan hanya ada mereka berdua di sana, sedangkan Axele tentu masih dalam keadaan marah.
“Bukankah dia berlebihan?” celetuk Luc sekali lagi yang membicarakan perihal sikap egois sang sahabat. “Persahabatan kita sejak kecil sepertinya tak berarti apa pun di mata dia, Rey. Bahkan dia begitu tega kepada Vera yang dulunya ia sayang,” imbuh Luc.
Reynart tahu apa yang Luc katakan adalah sebuah kebenaran. Tapi sekal lagi dia tak mau menyalahkan teman-temannya karena ada alasan yang Axele miliki bersikap seperti ini.
Reynart menepuk pundak Luc dengan pelan dan membuat pria itu menoleh padanya. “Kau tidak mau pulang? Mungkin merindukan Frey,” tanyanya. Luc mengangguk, dia bersama dengan Reynart pun pada akhirnya pulang saat itu juga.
***
Axele langsung memasuki kamar setelah menyelesaikan segala pekerjaan sehari penuh dan pertemuannya dengan kedua mantan sahabatnya. Aroma Bella menyeruak dalam indra penciuman pria ini ketika ia baru saja memasuki kamar. Bella yang sedang santai sembari membaca buku di atas tempat tidur pun tersenyum hangat.
Axele menuju ke tempat tidur besar miliknya. Kini dia tak akan sendirian lagi ketika tidur. Bahkan ketika bangun nanti, wajah sang mate akan menjadi pemandangan pertama untuknya.
"Kamu belum tidur?" tanya Axele.
Bella menggeleng, dia sengaja menunggu Axele kembali. Bella ingin menghabiskan waktu bersama. "Aku menunggumu. Sebelum tidur, aku ingin kita mengobrol, berbagi cerita satu sama lain," jawabnya.
Axele mengangguk. Dia langsung masuk ke dalam selimut. Dan ia dekatkan tubuh Bella pada dirinya. "Ini nyaman," ucap Axele. Inilah yang ia inginkan, bisa memeluk belahan jiwanya dalam tidur.
Bella mengangguk setuju. "Pekerjaanmu banyak sekali, ya? Sampai kamu tidak ikut makan malam di meja makan," tanya Bella yang memulai sesi tanya jawabnya.
"Ya, ada beberapa hal yang harus segera aku selesaikan," jawab Axele yang mengusap pelan kepala Bella.
"Apakah kamu tidak memiliki wakil, Axel? Jika semua pekerjaan kamu yang urus, maka kamu akan lelah. Pilihlah salah satu bawahan yang bisa kamu beri tugas ini. Atau mungkin kamu butuh bantuanku?"
Axele terkekeh. "Aku tidak akan lelah, Bella. Aku adalah vampire, bangsa kita terkenal tak pernah lelah. Bahkan kami tanpa tidur pun juga tak akan lelah. Sejak dulu aku selalu menyelesaikan pekerjaanku sendiri. Dan, tentu aku tidak ingin melibatkan dirimu yang mana pasti kamu yang akan kelelahan nantinya."
Apa yang pria ini katakan memang benar. Berbeda dengan Axele, si gadis yang berasal dari bangsa wizard juga bisa merasakan lelah.
"Apakah kamu tidak akan tidur?" tanya Axele.
Bella mengembuskan napas lelahnya. Entah ini waktu yang tepat untuk mereka berbicara hal serius atau tidak. Yang pasti Bella ingin semuanya cepat selesai.
"Aku masih teringat dengan wanita itu, Axel. Frey," paparnya. Axele tahu ke mana arah pembicaraan mereka. Pria ini telah mengendalikan emosinya ketika berada di dekat Bella.
"Frey adalah wanita yang kuat."
"Jika iya, kenapa dia tak kunjung bangun? Aku jadi bermimpi jika aku berada di posisinya. Entah apa yang akan kamu lakukan jika aku seperti itu. Pasti kamu akan sama bingungnya seperti Luc, bukan?"
Axele mengeratkan dekapannya. Tentu dia tak akan membiarkan sang mate pergi untuk kedua kalinya. "Aku akan berusaha agar kamu tidak pernah berada di posisi seperti itu, Bella. Aku akan menjagamu dengan nyawaku. Aku tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya."
"Aku hanya sedih. Aku dan Frey sama-sama perempuan. Kami seperti tahu perasaan masing-masing apalagi dia adalah werewolf, jadi wolf yang ada pada dirinya pasti juga ikut tertidur dan bukan hanya Luc saja yang menderita, pasti wolf nya juga. Kamu dan Luc sama-sama pria, apakah kamu tidak merasakan apa yang dia rasakan? Apalagi kalian dulunya berteman."
"Aku tau arah pembicaraan ini, Bella. Jujur, pembicaraan ini tak begitu bagus dibicarakan sebelum tidur."
"Tapi, aku ingin membicarakannya denganmu, Axel. Hanya ketika kita akan pergi tidur bisa membicarakan hal penting. Dari pagi kamu akan sibuk dengan pekerjaan, dan aku tidak ingin membuat konsentrasimu pecah."
"Setelah pembicaraan panjang ini, bisakah kamu katakan apa yang kamu inginkan dariku sekarang?" tanya Axele mencoba mengalah.
Bella mengangguk. "Bicaralah kepada Wizard Berta. Hanya bicara tidak apa-apa, Axel. Kamu tidak perlu mengeluarkannya dari penjara jika tidak perlu."
"Hanya itu?"
Bella mengangguk lagi dengan cepat. "Baiklah, besok aku akan berbicara kepadanya," putus pria itu.
"Benarkah?" seru gadis ini dengan senang. Axele mengangguk. Dia tak menyangka jika pria ini bisa berubah pikiran. Dan Bella pun semakin mengeratkan pelukannya. "Terima kasih."
"Sama-sama."
Hanya demi Bella akhirnya Axele menekan egonya. Lagi pula Axele juga perlu bicara dengan Mr. Martin mengenai pernikahan Vera. Selama bekerja tadi, Axele sudah memilih keputusannya untuk membiarkan Mr. Martin hadir di pernikahan sang putri. Toh, mereka bertiga yang ada di dalam sel sudah ia ambil kekuatannya.
"Setelah semua permintaanmu aku kabulkan, hal apa yang aku dapat darimu?" kata Axele. Gadis itu mengernyit.
"Maksudnya?"
"Tentu aku melakukan ini semua tidak gratis, Bella. Kamu mendapatkan apa yang kamu mau. Lantas, apa yang aku dapatkan setelahnya? Kita harus menjadi simbiosis mutualisme bukan?"
Bella kira Axele tidak perhitungan. "A-aku tidak memiliki uang untuk membelikanmu sesuatu, Axel. Begini, bagaimana nanti aku akan pinjam uang ke ayah dan ibu, setelahnya akan aku kembalikan jika memiliki uang."
"Aku tidak butuh barang, Bella."
"Terus apa? Aku tidak punya apa-apa. Atau kamu mau aku belikan buah-buahan?" tawar gadis ini.
Axele menggeleng. "Bagaimana jika pernikahan?"
Mata gadis itu membulat. Ini terlalu tiba-tiba. "Aku tau kamu pasti terkejut. Tapi, aku rasa kita harus segera menikah, Bella. Itu semua agar aku bisa mengklaimmu dan kita bisa saling berbagi perasaan. Dan tentunya aku bisa melindungimu dari bahaya."
Gadis ini terdiam, Axele sudah menginginkan pernikahan sejak lama, tetapi dia menunggu kesiapan Bella saja.
"Baiklah, aku rasa kamu benar, kita harus segera menikah," putus Bella. Dan Axele tak bisa menyembunyikan kebahagiannya. Pria ini benar-benar senang sekali.
"Ini pengantar tidur yang terbaik dalam hidupku," ucap Axele. "Ayo, kamu harus tidur sekarang," perintahnya.
Kedua orang ini pun tidur dengan posisi saling memeluk satu sama lain. Berbagi kehangatan dan rasa cinta.
***
"Kita mau ke mana?" tanya Bella. Setelah sarapan, pria ini segera membawanya ke suatu tempat yang tak ia ketahui. Namun, pikiran Bella langsung mengarah ke penjara bawah tanah itu.
"Bukankah katamu kita harus bicara dengan Wizard Berta?"
Ya, Bella tau itu. Tetapi, mengapa Axele mengajaknya?
"Aku sengaja mengajakmu agar jika nanti aku kehilangan kendali, kamu bisa mencegah segala tindakanku," imbuh pria tersebut.
Perkataan Axele sungguh aneh, tetapi Bella tetap menurut saja. Bella kembali melewati lorong gelap itu lagi. Tetapi, sudah ada Axele di sampingnya, tak ada yang perlu ia khawatirkan di sini. Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk sampai di tempat tiga orang itu. Ketiga orang yang melihat kedatangan Axele langsung berdiri.
"Aku ingin berbicara kepada Wizard Berta," kata Axele.
Wanita tua itu maju lebih dekat. Bella memperhatikan penampilan wanita ini yang sudah memburuk. Pastinya Berta mendapat hukuman dari Axele kemarin.
"Saya, Raja," lirih Berta.
"Jika kau bisa menjawab pertanyaanku, maka aku akan memberimu obat penyembuh untuk luka-luka di tubuhmu," kata Axele. Bella sedikit lega karena setidaknya Axele masih memiliki hati nurani.
"Kau pasti tau mate dari Luc, bukan? Frey. Aku membutuhkan jawaban untuk masalah ini. Lima puluh tahun lalu tanpa sengaja aku memberikan kutukan yang menyebabkan wanita itu tertidur hingga sekarang. Dan entah bagaimana Luc mendapat info jika Frey bisa bangun hanya jika meminum darah mate ku. Tentu aku tidak ingin hal itu terjadi. Di sini aku ingin kau mencari solusi lain yang tak membahayakan mate ku."
Wizard Berta mengangguk paham. "Bisakah saya melihatnya, Raja? Tapi, saya butuh kalung itu," kata Berta. Axele memang mengambil kalung yang bisa memberi penerangan kepada wizard ini.
Axele menutup kedua matanya sembari menggenggam tangan kanannya. Dan beberapa detik, kalung itu ada di dalam genggamannya. Bella terkejut dengan segala kekuatan yang mate nya miliki.
Berta menerima kalungnya kembali dan langsung memakainya. Kemudian, sang wizard duduk bersila di lantai. Semua orang terlihat memperhatikan, tetapi pandangan Axele beralih kepada Mr. Martin.
"Mr. Martin," panggil Axele. Ayah dari Reynart ini pun langsung menghadap kepada sang raja. "Aku memberimu kebebasan dalam beberapa hari. Vera, putrimu akan segera menikah. Keinginan kecilnya yakni bisa menghadiri pernikahan bersama seluruh keluarga lengkapnya. Aku ingin kau ada di sana, menemani putrimu selama proses pernikahan dilakukan. Tetapi, kau tetap dalam pengawasan anak buahku," kata Axele.
Dan betapa senangnya Mr. Martin mendengar kabar Vera akan menikah dan dia diijinkan untuk hadir. Bella yang mendengar perkataan Axele terlihat terkejut. Ya, dia tahu jika vampire kejam ini yang merupakan mate nya masih memiliki hati nurani.
Setelah menunggu beberapa saat, kedua mata Berta pun terbuka. Wanita ini bergantian menatap Axele dan Bella. Bella sedikit tidak nyaman dengan tatapan wanita tua itu, dan Axele tahu ada yang tak beres di sini.
"Ada apa?" tanya Axele kepada Berta.
"Begini, Raja. Mate baru Anda ini memiliki darah suci yang bisa saja membangunkan Frey."
"Darah suci lagi? Dulu Celesse, dan sekarang Bella. Kenapa sebuah kebetulan ini benar-benar membuatku tak tenang?" sergah pria ini. Axele masih mengingat kata bibi dari mate nya dulu jika Celesse memiliki darah suci dan dia banyak diincar.
"Sesungguhnya Tuhan menciptakan satu takdir bagi setiap makhluk. Kehadiran Bella bukan tanpa alasan, Raja. Sepertinya dia adalah reinkarnasi dari Ratu Celesse."
"Apa?!" pekik Axele nyaring.
"Itu mungkin saja benar, Raja. Tidak ada mate kedua, itu mustahil. Dan menurut saya reinkarnasi adalah benar adanya."
Bella tak yakin jika dirinya adalah reinkarnasi dari Celesse. "Untuk hal itu tak perlu kita pikirkan lagi. Yang jelas sekarang aku butuh solusi untuk membangunkan Frey tanpa menyakiti mate ku."
Berta mengangguk paham. "Sepertinya Anda bisa membangunkan wanita itu, Raja. Karena Anda lah yang memberikan kutukan itu, maka Anda juga yang bisa membangunkannya. Mate Anda juga bisa."
"Bagaimana caranya agar aku bisa membantu?" tanya Axele.
"Dengan darah."
"Itu tidak mungkin, Berta. Terlalu berisiko. Frey adalah seorang werewolf. Jika aku memberikan darahku kepadanya, ini akan menjadi bencana," kata Axele lagi.
"Itu benar. Akan ada dua darah yang mengalir di tubuh wanita itu," sambung Raja Baz yang ikut dalam pembicaraan ini.
"Kalau aku memberikan darahku kepadanya, apakah akan berisiko juga?" sela Bella. Semuanya beralih kepada gadis yang setia di sebelah Axele itu.
"Itu tidak akan pernah terjadi, Bella."
"Kalaupun terjadi, Raja, risikonya lebih kecil. Jika Anda memberikan darah Anda sendiri itu akan berisiko besar karena Anda adalah penguasa sekaligus vampire terkuat di dunia immortal. Jika mate Anda yang memberikan darahnya, tidak akan ada resiko besar. Tapi, tunggu dulu. Apakah Anda sudah mengklaim mate Anda?"
"Belum. Kita akan menikah dulu," ungkap Axele.
"Itu bagus. Jadi, mate Anda masihlah mengalir darah wizard murni dan darahnya benar-benar suci."
Bella menyentuh lengan Axele yang mana pria itu langsung menoleh kepadanya. "Axel, biar aku saja yang menyelamatkan Frey," kata Bella penuh dengan tekad.
"Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, Bella," balas Axele.
"Aku janji akan baik-baik saja, Axel. Percayalah padaku. Jika aku merasa ada yang tidak beres, maka aku akan segera mengatakan padamu. Biarkan sekali saja aku berguna bagi orang lain," pinta gadis ini.
Pria itu bimbang sekarang. Dia takut untuk kehilangan lagi.
"Maaf menyela, Raja. Di sini saya akan menjamin jika tidak ada hal buruk yang menimpa mate Anda."
"Bagaimana bisa aku percaya denganmu setelah apa yang sudah terjadi?"
Berta menunduk. Dia sudah bertobat dan tak ingin mengambil jalan yang salah lagi. "Begini, jika kau sekali lagi mencoba mengkhianatiku dan menempatkan mate ku dalam bahaya, maka taruhannya adalah nyawa kalian bertiga. Ketika aku kehilangan mate ku sekali lagi, maka bersiaplah kehilangan nyawa kalian," kata Axele dengan arua penguasanya.
Ketiga orang itu nampak gugup. Berta menunduk, "Saya berjanji tidak akan mengkhianati Anda lagi, Raja."
Axele tak menjawab, dia langsung berbalik dan membawa Bella pergi dari tempat itu. Sedangkan tiga orang yang ada di dalam sel itu terlihat gelisah. Nyawa mereka benar-benar ada di tangan Axele sekarang.