Bagian 9

1227 Words
Luc menghadiri pernikahan Vera bersama dengan Kennard dan Alice. Nampak pria ini hanya berdiri sendirian sembari menatap sekitarnya di mana semua terlihat membawa pasangan masing-masing. Luc tersenyum miris melihat nasibnya sekarang yang seorang diri. Tepukan di bahu Luc membuatnya refleks menoleh. Ternyata Reynart menghampirinya. Pria ini tak tega melihat Luc dan menganggap jika nasib mereka sama di acara ini, tanpa pasangan. “Dua pria yang tak memiliki pasangan akan jauh lebih baik terlihat bersama jika berada di pesta,” celetuk Reynart yang tak Luc tanggapi lebih. Kemudian tatapan Reynart tepat terhenti pada sosok Axele yang pada akhirnya ikut menghadiri pernikahan adiknya. Reynart tersenyum ketika sekali lagi memuji kebaikan Axele yang mengijinkan sang ayah untuk ikut turut hadir di pernikahan ini. “Itu Axele. Sebaiknya kita menyambutnya,” usul Reynart kala itu. Luc pun mengangguk setuju. Dua orang pria ini akhirnya menghampiri Axele dan Bella. Dari sekian banyaknya tamu yang datang, hanya dua orang ini yang berani mendekati sang penguasa negeri. Ya, semua yang hadir seperti takut untuk sekedar basa-basi kepada Axele mengingat perangai pria itu memang malas untuk berbicara yang tak penting. "Aku ucapkan terima kasih untuk semuanya, Axele," kata Reynart dengan tulus. Berkat kebaikan Axele, dia bisa melihat senyum di wajah sang adik dan ibunya lagi setelah sekian lama. Axele hanya menanggapinya dengan anggukan saja. Kemudian, dia berfokus kepada Luc karena terlihat menyedihkan ketika datang sendirian. "Aku sudah berbicara dengan Wizard Berta," ungkapnya. Luc memasang telinganya baik-baik. "Ada solusi lain untuk itu yakni aku memberikan darahku kepada Frey. Tapi, aku tidak bisa melakukan itu karena sangat berisiko. Dan bisa jadi Frey akan menjadi seorang vampire. Apakah wolf mu siap untuk kehilangan wolf Frey?” Luc menggeleng, tentu wolf nya akan merasa sendirian. "Tapi, kau berhutang terima kasih kepada mate ku. Dia yang meyakinkanku bahwa dirinya yang akan melakukan pertukaran darah karena jika Bella yang melakukannya, maka resikonya kecil dan mungkin tak ada resiko sama sekali," jelas Axele. Luc beralih kepada Bella. Seketika ia merasa bersalah karena pernah menyakiti gadis ini. "Maafkan aku, Bella. Dan terima kasih banyak karena sudah mau membantu Frey," ujarnya dengan tulus. Bella tersenyum hangat. "Sama-sama. Aku tidak sabar untuk mengobrol bersama mate mu, Luc. Karena aku tidak punya teman dari golongan werewolf." Gadis yang baik pikir Luc saat itu. "Wizard Berta akan memimpin upacaranya dan keputusanku adalah upacara akan dilakukan di kerajaanku. Apakah kau keberatan?" tanya Axele. "Tidak sama sekali, Axele. Aku akan mengikuti semua prosedur jika akhirnya aku bisa kembali bersama Frey lagi," jawab Luc. Akhirnya dia memiliki harapan penuh sekarang. "Aku senang semuanya bisa menemukan jalan keluar di sini," sahut Reynart. Akhirnya kedua temannya bisa berbaikan. Inilah momen yang sangat ia tunggu sejak lama. Dan Reynart berharap di upacara nanti tidak terjadi hal buruk sama seperti 50 tahun yang lalu. Setelah dari acara pernikahan itu, Axele dan Bella pulang. Bella begitu lelah sekali karena dia tak duduk saat di pesta. Dia terlalu asyik mengobrol bersama Luc, Reynart, dan keluarganya. Axele baru selesai dari kamar mandi dengan keadaan yang sudah segar. Pria itu terlihat tampan sekali, dan Bella mengaguminya. "Kalian bertiga terlihat akrab sekali tadi. Pastinya sangat menyenangkan memiliki teman dekat yang saling mengerti," celetuk Bella yang membahas perihal Axele, Luc, dan Reynart. Tentu Axele tak mengerti kenapa amarahnya kepada kedua pria itu menguap dan hilang. Ini aneh. "Tidak juga. Ada beberapa waktu di mana Luc terlihat menyebalkan dan Reynart yang selalu asyik dengan buku-buku sehingga mengabaikan sekitar," balas Axele yang mulai masuk ke dalam selimut mengikuti Bella. "Luc yang cerewet, Reynart yang pendiam, dan kamu yang pemarah. Ini benar-benar penuh warna, Axel," kata Bella yang diakhiri dengan sebuah kekehan. Axele tahu jika gadis ini sedang mentertawakannya. Tapi, Axele senang ketika mendengar dan melihat tawa Bella. "Kamu nanti pasti akan punya teman juga. Memang di tempatmu dulu kamu tidak punya teman?" Gadis itu menggeleng. Sungguh aneh. "Ibu dan Ayah tidak mengijinkanku berteman. Katanya tidak semua orang bisa kita percayai," jelasnya. Axele tahu jika kedua orang tua mate nya selalu ingin menjaga sang putri. "Mereka benar. Karena hari sudah malam, lebih baik kita tidur. Kita juga harus menyambut kedatangan Luc, Frey, beserta raja dan ratu dari Kerajaan Werewolf." "Baiklah." Bella mulai merapatkan tubuhnya pada Axele. Dan dengan senang hati pria ini memeluk sang mate dalam tidurnya. Mungkin ini akan jadi rutinitas keduanya ketika sedang tidur. Cele, entah kamu sudah ber-reinkarnasi dalam bentuk Bella atau tidak, yang jelas aku senang akhirnya kamu kembali. Kalaupun dia bukan dirimu, aku tetap senang bisa kenal dan hidup bersamamu dulu. Kamu akan tetap menjadi wanita yang aku cintai. Terima kasih dan maaf. Sedangkan Luc nampak bercerita banyak kepada Alice. “Benarkah?” pekik wanita itu dengan raut wajah bahagia di wajahnya. Kennard yang baru saja tiba nampak mengernyit ketika menyadari sang istri dalam mode penuh bahagia. Atensi Alice beralih kepada Kennard dan langsung menghampiri suaminya itu. “Ken. Ini kabar baik. Axele setuju untuk melakukan pertukaran darah antara Frey dan Bella. Ini artinya Frey akan segera bangun setelah sekian lama.” Tatapan Kennard beralih pada Luc, seperti meminta penjelasan lebih. “Di pesta tadi Axele mengatakannya padaku. Dia sudah berbicara dengan Wizard Berta dan dia setuju untuk melakukan pertukaran. Tetapi dengan satu syarat di mana tak akan terjadi hal buruk untuk yang kedua kalinya,” ungkap Luc tanpa jeda. “Bagaimana jika hal buruk terjadi?” sahut Kennard membuat ekspresi bahagia seketika lenyap di wajah sang istri. “Mungkin Axele akan sangat marah besar …” “Dan menghancurkan seluruh negeri ini,” imbuh Kennard yang mengundang pelototan Alice namun membuat Luc tak bisa berkata-kata. “Pikirkan baik-baik, Luc. Kita tidak mungkin mengorbankan semua orang. Cukup kejadian 50 tahun saja, jangan sampai terulang lagi,” lanjut Kennard. Luc mengangguk, dia tau resikonya. “Kamu terlalu khawatir, Ken. Mari kita berdoa agar semuanya baik-baik saja. Kita berdoa agar upacara berjalan dengan lancar tanpa kendala.” Kennard tersenyum. “Apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah kamu harus istirahat?” ucap Kennard mengalihkan pembicaraan. Melihat kedua kakaknya yang sedang mode mesra, Luc memilih untuk pergi dari sana dan menemani Frey tidur. Luc memeluk Frey di malam itu, dan tak lupa mengecup pipi dan dahi sang mate. “Tunggu sebentar lagi, Sayang. Semuanya akan segera berakhir. Sedangkan di kediaman Reynart sendiri nampak suasana kebahagiaan masih terhias di sana. Semua tamu sudah pulang dan hanya tinggal keluarga kecil ini saja. Vera dengan pasangan diijinkan untuk beristirahat lebih dulu, sedangkan Reynart bersama kedua orang tuanya tengah berbicara di ruang tamu. “Ayah … apakah Ayah sudah tahu bila pertukaran darah akan dilakukan di kerajaan vampir?” tanya Reynart yang diangguki oleh Mr. Martin. “Tahu, Nak. Raja menyetujui pertukaran itu, tetapi ada nyawa yang menjadi taruhannya. Kalau sampai gadis bernama Bella terluka, maka Ayah, Raja Baz, dan Wizard Berta akan menanggup akibat. Raja akan benar-benar melenyapkan kami,” ungkap Mr. Martin yang berhasil membuat Reynart dan ibunya terkejut bukan main. “Apakah sangat beresiko?” tanya Mrs. Martin dengan raut wajah penuh kekhawatiran. Tentu saja dia khwatir akan berpisah selamanya dengan sang suami. “Mr. Martin. Mungkin tidak. Karena Wizard Berta memberikan jaminan terbaik untuk ini. Aku percaya dengannya,” jawab Mr. Martin membuat sang istri lega, akan tetapi tidak bagi Reynart. “Besok kau datanglah ke sana, Rey. Hadiri upacara itu. Ayah dan Ibu mungkin tidak bisa datang karena harus mengantar Vera ke tempat mate nya,” perintah Mr. Martin. “Baik, Ayah. Aku akan datang,” jawab pria ini akhirnya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD