Seperti kata Axele jika hari ini mereka akan menyambut keluarga Kerajaan Werewolf, maka para maid menyiapkan beberapa kamar dan memasak untuk porsi yang sedikit lebih banyak. Bella sudah akan membantu di dapur, tetapi Axele melarangnya. Dan jadilah gadis ini menemani Ratu Felis.
"Kamu berhasil merubahnya, Nak. Terima kasih. Banyak hal yang berubah terjadi di sini terutama pada diri Axele. Hal besarnya adalah dia untuk pertama kalinya berbicara kepada ketiga orang yang ia benci sejak dulu."
Bella tahu yang sang ibu maksud adalah Wizard Berta, Raja Baz, dan Mr. Martin.
"Semua hanya butuh waktu, Ibu. Axele hanya butuh diberi pengertian dan kelembutan. Lagi pula ini sudah bertahun-tahun, tak baik menyimpan dendam."
"Kamu benar. Semoga upacara nanti bisa berjalan dengan lancar. Frey bangun dari tidur panjangnya. Kamu dan Axele menikah. Semuanya kembali bahagia."
"Semoga. Ibu, apakah Ibu sudah menemui Ayah?" tanya Bella. Dia lupa jika Felis belum bertemu Baz. Sepasang mate yang terpisah sejak lama.
"Ibu takut Axele marah," jawabnya.
"Biarkan Bella yang berbicara kepadanya."
Ratu Felis pun tersenyum. "Oh iya, sepertinya kita harus bersiap. Mereka sebentar lagi pasti sampai," seru wanita paruh baya ini. Bella mengangguk. Keduanya pun langsung menuju ke arah pintu utama.
"Bagaimana? Kalian sudah persiapkan semuanya?" tanya Axele kepada bawahannya.
"Sudah, Raja. Kita sudah menempatkan satu tabib berjaga dekat kamar Tuan Luc," jawab seorang pria yang selalu bersamanya. Axele mengangguk, dia memiliki prajurit yang bekerja dengan baik.
Kemudian, pintu pun dibuka lebar. Tepat ketika itu Bella dan Ratu Felis pun datang dan langsung berdiri di sebelah Axele.
"Kapan mereka sampai?" bisik Bella dengan wajah yang semangat.
"Beberapa saat lagi," jawab pria ini.
Dan benar kata Axele. Segerombol werewolf pun telah datang. Dan mereka langsung mengubah diri ke bentuk tubuh manusia masing-masing. Luc nampak membawa Frey dalam gendongannya.
Luc nampak gugup masuk kembali ke kerajaan vampir karena dia turut serta membawa seluruh keluarganya dan Frey yang belum bangun.
"Ayo, langsung bawa ke kamar saja. Aku akan menunjukkan kamar kalian," kata Bella yang ia tujukan kepada Luc. Tidak mungkin ia membiarkan Frey dalam keadaan seperti ini. Luc pun cukup berterima kasih kepada Bella yang nampak begitu baik padanya.
"Ibu, bisakah Ibu menemani Ratu Alice ke kamar? Sepertinya dia butuh istirahat. Dan, aku ingin berbicara dengan Raja," pinta Axele. Ratu Felis pun mengangguk. Dia dan Alice menuju ke lorong istana.
Axele dan Kennard nampak menuju ke ruang kerjanya. Sepertinya Axele tak ingin menunda untuk bicara. Dia ingin bicara lebih dulu kepada raja werewolf itu.
"Aku tidak ingin basa-basi. Sebenarnya ada yang aku khawatirkan tentang upacara ini, Kak. Pasti Luc sudah cerita kepadamu tentang solusinya bukan? Yang aku khawatirkan adalah Bella. Jika terjadi sesuatu lagi kepada mate ku, bukan tidak mungkin aku akan menghukum seluruh orang di negeri ini," ucap Axele. Terdengar berlebihan dan mengerikan juga.
Kennard mengangguk. Luc sudah bercerita semalam. "Bagaimana dengan kata wizard?" tanyanya.
"Dia mengatakan keadaan akan baik-baik saja."
"Itu bagus, Axele."
"Apakah dia bisa aku percayai setelah semua yang terjadi di masa lalu? Tidak, Kak. Aku masih mengingat kejadian itu."
Kennard berdiri dari tempatnya mendekati tempat Axele duduk. Kemudian dia menepuk pundak pria ini dengan pelan. "Entah ini akan berguna atau tidak, yang jelas aku percaya dengan perkataan wizard sekarang dan aku tau Bella adalah gadis yang kuat."
Hanya itu yang bisa Kennard katakan sekarang. Haruskah Axele lega dengan perkataan pria ini? "Jika tidak keberatan, aku akan menyusul mate ku. Dan kau sepertinya harus menyusul mate mu juga. Dia pasti sedang di kamar Luc dan Frey," imbuh Kennard.
Axele mengangguk. Kedua pria ini berjalan keluar saling bersisian.
"Jika kamu membutuhkan bantuan untuk merawatnya sampai upacara itu dimulai, aku bisa membantu, Luc," tawar Bella yang sudah sampai di kamar yang akan ditempati Luc dan Frey. Luc sudah meletakkan Frey dengan nyaman di atas ranjang.
"Terima kasih untuk kebaikanmu, Bella. Padahal dulu aku sempat menyakitimu. Aku benar-benar bodoh saat itu. Maafkan aku karena sudah melukaimu."
"Tidak juga, Luc. Kamu hanya ingin melindungi mate mu. Mungkin semua orang akan melakukan hal yang sama seperti dirimu. Andai saat itu kamu menjelaskan kepadaku dengan baik-baik, maka aku bisa mempertimbangkannya."
"Tapi ... sehari sebelumnya aku sudah menemui orang tuamu dan membicarakan perihal Frey. Tetapi mereka menolak dan tak mengijinkanku membawamu. Dan aku seakan gelap mata karena melihat kondisi Frey memburuk, dan jadilah seperti saat itu."
"Beruntung sekali Frey memiliki mate yang mau berjuang untuknya. Ketika dia bangun nanti, aku akan menceritakan betapa berusahanya kamu untuk membuatnya dia bangun," kata Bella penuh percaya diri.
"Kamu juga beruntung Bella memiliki mate seperti Axele. Meski dia terlihat dingin, kaku, dan pemarah, tetapi sebenarnya dia menyayangi orang sekitarnya."
"Aku tau. Seperti pada hubungan kalian bertiga. Dia sebenarnya tak benar-benar membenci kalian. Dia hanya tak ingin terlihat buruk di mata Celesse. Ya, dia hanya tak ingin Celesse merasa tersakiti," kata Bella.
Luc mengangguk paham. "Setelah semua kejadian ini berakhir, kalian akan segera menikah. Aku doakan untuk kalian berdua agar selalu bahagia."
"Terima kasih, Luc. Doa terbaik juga untukmu dan Frey."
Obrolan mereka terhenti ketika mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Keduanya berbalik, dan Axele muncul dari balik pintu. "Tamu kita butuh istirahat, Bella," ucapnya langsung yang secara halus menginginkan Bella pergi dari kamar Luc dan Frey.
Bella yang baru tersadar pun langsung berlari kecil menuju ke pintu. Tapi, sebelum itu dia sudah berpamitan kepada Luc dan Frey.
"Bagaimana dengan Ratu Alice?" tanya gadis yang berjalan bersisian bersama Axele ini.
"Ibu sudah mengantarnya dan Kak Kennard juga sudah menyusul. Sekarang kamu juga harus istirahat karena hari untuk upacara semakin dekat."
Bella memberhentikan langkah Axele. Pria itu menatap sang gadis secara penuh. "Axel, aku baru mengingat sesuatu. Ini mengenai Ibu," ungkap Bella. "Apakah boleh sekali saja Ibu bertemu dengan Ayah?" tanyanya. Sial, dia baru mengingat untuk meminta ijin kepada Axele.
"Untuk?"
"Tentu saja untuk saling melepas rindu. Boleh, kan?" kata Bella yang harap-harap cemas karena ia tak ingin mengecewakan sang ibu.
"Besok semuanya akan berkumpul di sini. Bukan hanya Wizard Berta saja, tetapi Raja Baz dan Mr. Martin juga bahkan Reynart akan ada. Ini seperti mengulang masa lalu, dan aku tidak ingin kejadian dulu terulang kembali. Dan juga kabar baiknya adalah, jika semuanya berjalan lancar, aku akan membebaskan mereka bertiga."
"Benarkah?" tanya Bella dengan mata berbinar. Jika iya, maka ini akan menjadi berita bahagia untuk Ratu Felis. Axele mengangguk, Bella memekik senang. Dan Axele sangat suka melihat Bella yang bahagia.
Keesokan harinya. Suasana sarapan pagi terasa berbeda dari biasanya. Semua orang satu sama lain saling mengobrol. Axele benar-benar membuktikan perkataannya di mana mungkin ini akan menjadi momen pertama kalinya bagi mereka semua berkumpul kembali.
"Puding buatanmu masih yang terbaik, Bibi," ucap Luc seperti biasanya. Sudah lama sekali ia tak memakan puding buatan Felis. Wanita paruh baya itu tersenyum kecil. Dan Luc mengingat jika Frey juga sama sukanya dengan puding ini. Andai saja mate nya itu terbangun.
Senyum di wajah Felis tak bisa luntur hari ini pasalnya setelah sekian lama, sang suami akhirnya bisa berada di sampingnya. Dalam keadaan utuh tanpa kurang apa pun. Bella senang melihat senyum di wajah wanita itu. Dan dia semakin memuji kebaikan Axele sekarang.
"Suasananya benar-benar ramai. Aku bahagia. Mungkin jika Frey ada di sini, semua kebahagiaan menjadi utuh," lirih Bella. Axele mengangguk paham. Upacara itu semakin dekat yakni besok pagi. Axele tak ingin menunda dan dia ingin melihat hasilnya.
"Sisakan untukku juga, Luc. Kau selalu menghabiskan puding buatan Bibi."
Sebuah suara dari arah pintu membuat penghuni meja makan refleks menoleh. Itu Reynart, pria ini baru datang dan dia langsung mengambil tempat di sebelah Luc saat itu.
"Kau sudah bosan dengan puding Bibi, kan? Kesukaanmu itu hanya buku-buku," cibir Luc.
Axele merasakan seperti kembali ke masa lalu di mana hubungan mereka penuh dengan perdebatan kecil. Tapi, apakah sekarang Axele benar-benar memaafkan semua orang dan memulai segalanya dengan baru? Bagaimana dengan Celesse?
"Sarapanlah juga, Rey. Setelah ini kita bicara di kantorku," kata Axele. Reynart mengangguk dan langsung mengambil segala makanan yang ia rasa bisa menghilangkan rasa laparnya.
“Oh iya, di mana Mr. Martin?” tanya Luc kepada Reynart. Hal yang sama juga berada di dalam kepala Axele tadi.
“Ayah dan Ibu tidak bisa ikut karena mereka harus mengantar Vera dan mate nya. Mereka menitipkan salam untuk semua orang di sini dan berharap upacaranya bisa berjalan lancar.”
Semua orang pun mengangguk paham. Setelah sarapan, seperti kata Axele jika para pria dan Wizard Berta akan ke kantornya untuk berbicara mengenai upacara besok. Sedang Felis, Bella, dan Alice memilih untuk pergi ke taman.
"Ibu, lihatlah. Makam Celesse tumbuh bunga," pekik Bella kala itu. Felis dan Alice pun langsung melihatnya, dan mereka senang karena ini pertanda baik. "Apa ini artinya, Ibu?" tanya Bella.
Felis tersenyum menatap putrinya. "Ini pertanda baik. Ini pertanda jika Celesse sudah tenang sekarang. Kita harus memberitahukan hal ini kepada Axele nanti. Pasti dia juga senang," jelas Felis. Bella mengangguk paham.
"Angin berhembus tak begitu kencang, cuaca juga sangat bagus akhir-akhir ini. Burung beterbangan ke arah barat. Ini benar-benar hari yang baik," cetus Alice yang seperti bisa membaca keadaan. "Semoga ritual besok bisa berjalan dengan lancar," lanjutnya yang disetujui oleh Bella dan Felis.
Di dalam ruangan Axele sendiri sudah ada Reynart, Luc, Wizard Berta, Raja Baz, dan Mr. Martin. Orang-orang ini duduk di kursinya masing-masing.
"Bagaimana, Wizard. Apakah semua persiapan sudah selesai?" tanya Axele yang memimpin obrolan ini.
"Sudah, Raja. Saya sudah pastikan semuanya akan berjalan dengan lancar."
"Bagus, memang itu yang harus kau lakukan. Jika semuanya lancar dan tak terjadi hal buruk, maka aku akan membebaskan kalian dari hukuman. Bukan itu saja, aku juga akan mengembalikan kekuatan kalian," kata Axele yang mampu membuat ketiga orang yang sudah lama mendapat hukuman darinya nampak lega dan senang.
"Tapi, ingat. Jangan ada korban lagi. Entah itu mate ku, Frey, atau orang lain. Karena jika itu terjadi, maka aku tidak akan berpikir dua kali untuk menghabisi kalian saat itu juga," sambungnya yang mampu mengubah senyum semua orang.
Tentu ini begitu riskan dan berisiko. Jika salah sedikit, mereka hanya tinggal nama. Namun, Berta akan bekerja sebaik mungkin. Dia tidak ingin semua orang menanggung akibat dari apa yang dia lakukan. Dan Berta juga tak ingin membuang kesempatan yang Axele berikan.