Bagian 11

1686 Words
Hari berlalu begitu cepat. Hal yang mereka tunggu pun akan tiba. Semua orang berkumpul di lapangan yang ada di kerajaan milik Axele. Pria ini sengaja tak memakai tempat ritual yang dulunya dipakai oleh Celesse karena dia tak ingin luka lama kembali terbuka. Dan juga dia tidak ingin terjadi hal buruk lagi. Di sana ada dua batu memanjang, di mana salah satunya sudah ada Frey yang berbaring. Frey dan Bella sama-sama menggunakan baju panjang berwarna putih. Luc tengah mempersiapkan Frey untuk ritual ini. Dan sama seperti Axele, pria itu tak ingi jauh dari sang mate. “Mari kita lakukan semuanya bersama, Frey,” bisik Luc pada sang mate. Mencoba menguatkan sang mate dan dirinya sendiri. Setelah itu Luc kembali ke pinggiran untuk memantau jalannya upacara. "Bagaimana? Apakah sekarang ada perasaan aneh yang menganggumu?" tanya Axele sebelum ritual dilakukan. Gadis ini tersenyum. "Perasaan untuk melihat Frey bangun semakin kuat, Axel. Kamu boleh percaya kepadaku atau tidak, yang jelas aku tidak takut sama sekali saat ini," jawab Bella yang percaya diri. Axele tersenyum, pernyataan ini sedikit membuat hatinya tenang. Axele memeluk sebentar gadis itu, dan beberapa kali mendaratkan kecupan di kepalanya. "Kamu adalah gadis yang baik. Tuhan sangat baik memberikan dirimu untukku," katanya. Hal ini tak luput dari pandangan Luc yang nampak iri melihat kebersamaan sang sahabat. Luc akan bersabar karena semuanya akan berakhir di hari ini. Dan Frey akan kembali padanya.   Kemudian Axele melepaskan pelukannya, dia menemani Bella menuju ke tempat pembaringan. Dua batu itu saling berhimpitan karena nantinya kedua tangan mereka akan disatukan. "Sepertinya Luc terlihat sangat khawatir," kata Bella yang melirik pria itu. Axele pun juga sama. "Axel, temanilah dia. Ini mungkin akan menjadi pertama kalinya untuk dia. Dia pasti sangat takut. Katakan padanya jika Frey akan bangun sebentar lagi," pinta Bella. Axele mengangguk. "Raja, ritualnya akan segera saya mulai," ucap Wizard Berta. Axele mengangguk dan menatap Bella sekali lagi di mana gadis ini terus menampilkan senyumannya. "Aku akan menunggumu," katanya. "Aku tau," jawab Bella. Axele pun bergerak menuju ke sisi Luc yang terlihat khawatir juga. "Ini pertama kalinya untukmu, pasti kau sangat khawatir. Itu wajar. Semoga kau tidak merasakan apa yang aku rasakan dulu, Luc," tutur Axele. Tentu Luc tak ingin dipisahkan dari sang mate. Ritual pun dilakukan. Wizard Berta memercikkan air mengelilingi dua batu tempat Bella dan Frey terbaring. Dan tak lupa juga wanita tua itu mengucapkan mantra-mantra. Tidak seperti ritual Celesse dulu, Bella sama sekali tidak diminta untuk memejamkan mata. Dia bahkan bisa melihat cerahnya langit biru di atas sana. Fokus Luc benar-benar tertuju pada sang mate. Tak ketinggalan pula dia terus berdoa agar semuanya berjalan dengan baik-baik saja.   Wizard berhenti di sebelah kanan Bella, ia meminta gadis itu menjukurkan tangan kanannya. Bella dengan ragu memberikan tangannya itu. "Maafkan aku," kata wizard seiring dengan dirinya melukai sedikit kulit tangan Bella yang mana langsung mengeluarkan darah. Itu tidak sakit, tetapi cukup membuat gadis ini terkejut. Wizard Berta mengumpulkan tetesan-tetesan darah itu pada sebuah daun yang entah apa namanya. Kemudian dia beralih kepada tangan Frey. Selanjutnya tangan wanita itu yang ia lukai. Bau darah Frey memasuki indra penciuman Luc dan wolf nya. "Tolong letakkan tangan Anda di atas tangan Frey," perintah sang wizard kepada Bella. Gadis itu melakukannya. Kedua tangan yang berdarah itu saling bertautan sekarang. Langkah terakhir adalah Wizard Berta memasukkan daun yang tadi ia beri tetesan darah milik Bella pada mulut Frey. Ia buat daun itu sekecil mungkin agar mudah untuk wanita itu telan. Kemudian, Wizard Berta kembali mengucapkan mantra. Dari sini Bella sudah merasakan sesuatu. Tangannya yang bertautan dengan milik Frey terasa hangat. Kemudian lama-lama semakin hangat. Kemudian tautan tangan itu sangat kuat Bella rasakan dan kedua mata Frey terbuka untuk pertama kalinya. Luc yang melihat itu langsung menghampiri sang mate, begitu juga dengan Axele yang langsung membantu Bella berdiri. Semua orang yang melihat keajaiban ini nampak senang dan lega. Axele memeluk Bella karena gadis itu benar-benar membuktikan perkataannya jika semuanya akan baik-baik saja. Luc pun juga sama memeluk Frey dengan erat. Penantian 50 tahun lamanya terbayarkan sudah. "Sudah aku katakan jika semuanya akan baik-baik saja, kan?" Axele mengangguk. Dia sangat lega tak ada lagi yang harus berkorban setelah ini. "Frey. Sayang. Akhirnya kamu sadar juga. Astaga. Bahkan wolfku berteriak gembira setelah mendengar Grace," kata Luc yang berkali-kali mencium puncak kepala mate nya. "Luc, apa yang terjadi?" tanya Frey yang tak mengerti kenapa tangannya berdarah dan kenapa semua orang menatap dirinya. Tentu saja wanita ini bingung. "Lebih baik kita masuk. Tidak baik membiarkan mereka di tempat terbuka seperti ini," sela Wizard Berta. Semua orang pun setuju. Mereka pun satu persatu mulai masuk kembali ke dalam istana. Wizard Berta membantu menutup luka milik Bella. Sedangkan Frey tidak perlu karena wolf nya bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Setelah keadaan benar-benar tenang, terlihat semua orang berkumpul di tempat biasa mereka melakukan pertemuan. Tentu suasana bahagia sangat terasa di sini. Dan Luc tak hentinya menatap mata sang mate yang kini telah terbuka sepenuhnya. "Seperti janjiku kepada kalian bertiga. Aku akan membebaskan hukuman kalian dan mengembalikan kekuatan kalian lagi," ucap Axele dengan lantang kepada semuanya. Di sini yang dia maksud adalah Berta, Baz dan Martin. "Raja, bolehkah saya kembali ke wilayah wizard setelah kekuatan saya kembali?" tanya Wizard Berta. "Boleh. Aku telah membebaskan kalian, dan kalian bisa memilih ke mana hidup kalian berjalan." "Terima kasih, Raja.” "Sebagai perayaan kembalinya Frey, aku menjamu kalian dengan berbagai makanan. Silakan ke meja makan dan makanlah sepuasnya," ucap Axele lagi. Semuanya nampak kegirangan tak terkecuali Luc yang selalu mengincar puding buatan Felis. Frey tertawa kembali ketika melihat tingkah konyol sang mate. Axele senang semua orang telah mendapat kebahagiaannya. "Aku bangga melihatmu hari ini. Untuk pertama kalinya kamu beribu-ribu kali terlihat lebih tampan," puji Bella. Semua orang terlihat tak peduli dengan pasangan ini dan memilih untuk menuju ke meja makan di mana para maid berlalu lalang menyiapkan berbagai makanan dan manisan. "Setiap hari aku terlihat tampan, Bella. Kamu saja yang tak menyadarinya. Oh iya, jangan lupakan janjimu. Kita harus menyiapkan pernikahan setelah ini." "Tentu saja. Aku akan berbicara dengan Ibu untuk membicarakan gaunnya." "Pilihlah gaun yang menurutmu bagus dan nyaman. Jangan terlalu terbuka juga karena aku tak suka berbagi," kata Axele. Bella terkekeh mendengar perintah pria ini. "Ayo, kita harus menemani mereka. Tuan rumah sudah seharusnya menemani para tamu. Dan juga, aku ingin lebih dengan Frey. Sepertinya dia bisa menjadi teman pertamaku," kata Bella. Axele mengangguk. Dia dan Bella berjalan bersisian dengan sesekali gadis itu mengeluarkan candaannya kepada Axele. “Makanlah yang banyak, Sayang. Sudah 50 tahun kamu tertidur dan badanmu nampak kurus,” kata Luc. Frey mengangguk. Dengan dibantu Luc, wanita ini mulai menikmati makanan yang terhidang di sana. Reynart yang melihat kebahagiaan kedua sahabatnya pun turut bahagia. Entah kapan kebahagiaan yang sama itu akan beralih padanya. “Hei, Nak. Bagaimana denganmu? 50 tahun berlalu, apakah kau belum menemukan dia?” tanya Wizard Berta memecah keheningan dan membuat atensi seluruh orang yang ada di ruangan tersebut tertuju pada Reynart. Memang yang tidak memiliki pasangan di sana adalah Reynart dan Wizard Berta. “Masih dalam pencarian, Wizard,” jawab Reynart seadanya. Wizard Berta pun tak bertanya lebih dan semua orang melanjutkan makan mereka. Setelah selesai menikmati hidangan, nampak semua orang menikmati waktu mereka. Bella mencoba membangun hubungan baik dengan Frey dan Alice. Dan di taman kerajaan vampir terlihat Axele, Reynart dan Luc nampak berkumpul kembali setelah sekian lama. Keduanya duduk di rerumputan. Tempat ini dulunya biasa Axele jadikan untuk berlatih. “Dulu kau sering membaca di pohon itu, Rey. Apakah kau tidak membawa buku-bukumu itu?” canda Luc membuat suasana di sekitar mereka menjadi lebih santai seperti dulu. Reynart dan Axele terkekeh. “Dan Axele selalu berlatih begitu keras, bahkan dia berani menantang pangeran tampan dari kerajaan werewolf,” lanjut Luc. Yang dia maksud adalah dirinya sendiri kala itu yang selalu menjadi pelampiasan Axele. “Pangeran werewolf yang tidak bisa mengendalikan emosinya dan mau dibodohi oleh lawan,” sindir Reynart. Axele semakin tertawa mengingat jika apa yang Reynart katakan adalah benar. Axele selalu bisa membuat Luc kesal dan berakhir dengan pria itu yang tak bisa fokus. “Hei, itu dulu. Sekarang aku sudah lebih baik,” sahut Luc membela diri dan malah membuat dua sahabatnya semakin tertawa. Setelah tawa itu telah hilang, terjadi keheningan di antara ketiganya. “Aku senang kita bisa berkumpul seperti ini lagi,” ungkap Reynart. Inilah saat yang ia tunggu sejak lama. “Aku juga,” sahut Luc. Melihat Axele tak mengeluarkan pendapatnya, Luc dan Reynart pun menatap pria itu. “Emm, aku juga. Maafkan untuk masa lalu yang sudah membuat hubungan persahabatan kita menjadi renggang. Terutama kepadamu, Luc. Maafkan aku soal Frey. Mungkin ini adalah kali pertama aku mengatakan maaf padamu,” ujar Axele yang berhasil membuat keduanya tampak memaklumi sahabat mereka ini. “Sekarang semuanya sudah kembali normal. Mari kita kembali seperti dulu. Dan semoga anak-anak kita nanti bisa melanjutkan persahabatan kita ini,” ucap Luc. Axele dan Reynart pun mengangguk setuju. “Axele sudah ada Bella. Dan Frey juga sudah bangun. Bagaimana dengan dirimu, Rey? Apa perlu kita ikut membantu mencari mate mu?” ujar Luc lagi. Atensi Luc dan Axele tertuju pada satu-satunya orang di sana yang belum menemukan mate. Reynart menggeleng. “Tidak perlu. Fokuslah pada keluarga kalian. Aku akan mencarinya dengan pelan-pelan.” “Hei, kenapa kau naif sekali, Rey,” ejek Luc yang selalu berani mengeluarkan apa yang ada di kepalanya. “Jika butuh bantuan katakan saja. Apakah kau lupa jika dulu Axele bisa bertemu Celesse juga karena bantuan dari kita?” ingatkan Luc akan masa lalu mereka. “Benar kata Luc, Rey. Jangan terlalu sungkan untuk meminta bantuan. Meskipun Celesse sudah tiada, tetapi aku tidak akan melupakan bagaimana proses aku bisa bertemu dengannya. Itu semua juga berkat bantuan dari kalian terutama dirimu,” sahut Axele. Reynart terdiam. Pria ini mengembuskan napas beratnya. “Jika aku butuh bantuan, aku pasti akan mengatakan pada kalian,” putusnya. Luc dan Axele pun mengangguk. Mereka akan benar-benar menunggu kapan Reynart akan meminta bantuan. Jujur, Reynart benar-benar sedikit tertutup. Bahkan pria itu hanya sesekali meminta bantuan kepada kedua sahabatnya. Ini membuat Luc dan Axele merasa mereka jika kurang memperhatikan Reynart. Padahal jelas-jelas Reynart adalah tipe orang yang tak ingin membuat semua orang repot dan khawatir. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD