Luc, Frey beserta rombongan sudah kembali ke kerajaan werewolf. Sejak terbukanya mata Frey, pria itu tampak tak membiarkan sang mate sendirian lagi. Luc akan memulai membuat momen bahagianya bersama dengan Frey mulai sekarang. Kedua orang ini sudah sampai di dalam kamar mereka. Frey mengamati keadaan kamar yang sedikit ada perubahan. Melihat ekspresi sang mate membuat Luc menjadi sadar dengan keadaan mereka.
“Sudah lama sekali, jadi aku mengubah dekorasi kamar kita. Apakah ini sedikit mengganggumu, Sayang?” tanya Luc kepada wanita yang berdiri di sebelahnya.
Frey menggeleng, dia berjalan pelan menuju ke tempat tidur mereka. Seketika raut wajahnya berubah menjadi sedih sekarang, dan itu membuat Luc sedikit khawatir. “Ada apa?” tanya pria itu sembari mengambil duduk tepat di sebelah Frey.
Frey mengembuskan napas berat. Dia menatap Luc dengan penuh. “Kalau saja kejadian itu tidak terjadi, pasti kita sudah bahagia bersama anak kita, Luc.”
Jadi ini alasan Frey terlihat sedih. Luc sebenarnya juga merasakan itu, dia hanya mencoba terlihat lebih tegar di depan mate nya saja. Semua dilakukan agar Frey tak terus sedih.
Dengan lembut, Luc menggenggam tangan Frey di sana. “Hei. Kita bisa memulai semuanya dari awal lagi. Aku, kamu, dan anak-anak kita.”
Frey menatap Luc. Luc langsung membawa sang mate ke dalam pelukannya saat itu juga. “Lima puluh tahun sudah berlalu, Frey. Aku bahagia pada akhirnya kamu bangun. Meskipun aku sudah kehilangan anak kita, tetapi aku tetap bersyukur karena masih memiliki dirimu. Dan meskipun itu harus menunggu berpuluh tahun, aku akan tetap setiap di sini.”
“Maafkan aku, Luc. Pasti kamu sangat sedih dan tersiksa. Maafkan aku,” ucap Frey yang benar-benar merasa bersalah pada hubungan mereka.
Luc menggeleng dengan posisi yang masih setia mendekap sang mate. “Ini bukan salahmu. Takdir sedang mengujiku. Dan pada akhirnya aku mampu untuk melewati itu. Semua berkat kebaikan Bella.”
Frey melepas pelukannya. Dia mengusap pipinya yang sedikit basah di sana. “Mengenai wanita bernama Bella itu, dia benar-benar mate dari Axele?” Luc mengangguk. “Jadi … Celesse benar-benar pergi?” tanya Frey lebih lanjut dengan raut sedihnya karena mengingat dia telah kehilangan teman baiknya.
“Ya. Itu sudah lima puluh tahun lalu, Frey. Dia sudah tenang di sana. Axele sudah mendapatkan mate barunya. Kamu sudah bangun. Semua orang sudah mendapatkan bahagia mereka masing-masing.”
Frey mengangguk setuju. Dia kembali memeluk Luc, menyalurkan kerinduannya. “Aku merindukanmu. Grace juga merindukan Ben. Kita sama-sama saling merindukan. Bukankah lima puluh tahun itu sudah terlalu lama?”
Luc mengangguk setuju. “Ya, kamu benar.”
Ada keheningan menyelimuti mereka dalam beberapa saat hingga pada akhirnya Luc memiliki ide cemerlang untuk membangun hubungannya dengan Frey lagi. “Sayang … apakah kamu mau ikut berlibur bersamaku?” tanya Luc.
Frey mendongak, menatap wajah sang mate dari bawah. “Ke mana?”
“Ke dunia manusia.”
Frey menjauhkan dirinya sedikit dari Luc. “Apakah tidak apa-apa?”
Luc mengangguk. “Aku rasa kita harus pergi ke tempat baru. Kak Kennard dan Kak Alice pasti setuju. Biar aku yang bicara dengan mereka nanti,” kata Luc.
“Emm, baiklah,” jawab Frey.
***
“Dunia manusia?” pekik Kennard ketika Luc meminta ijin kepada sang kakak untuk pergi beberapa waktu bersama Frey. Luc menemui Kennard di ruang kerjanya yang hanya ada mereka berdua di sana.
“Iya, Kak. Setelah sekian lama pada akhirnya Frey terbangun. Dia masih terpukul dengan kehilangan anak kami. Aku rasa kami berdua butuh suasana baru. Aku juga ingin mengalihkan perhatian Frey agar tidak terlalu bersedih,” jelas Luc.
Kennard terdiam. “Apakah di sana kalian akan aman? Kenapa tidak mencari tempat di negeri immortal saja? Ada banyak tempat yang bisa kalian kunjungi,” usul Kennard.
Luc menggeleng tak setuju. “Di dunia manusia aku tidak terlalu khawatir karena manusia berbeda dengan kita, Kak. Di sana kami nampak bisa bebas melakukan segala hal tanpa perlu menggunakan kekuatan.”
Kenard mengembuskan napas beratnya, rasanya percuma saja dia melarang karena Luc akan terus mendesak dirinya. “Jika itu memang keputusan yang baik, maka pergilah. Jaga Frey baik-baik di sana. Dan jangan meletakkan diri kalian ke tempat berbahaya. Jika memerlukan pengawasan, bawalah beberapa prajurit untuk ikut.”
Luc tersenyum. Dia tau meskipun Kennard terlihat dingin, tetapi pria itu sangat sayang terhadap Luc karena memang hanya Luc adik satu-satunya yang ia miliki. “Terima kasih, Kak. Untuk prajurit, aku tidak memerlukan mereka. Aku akan benar-benar hanya berdua bersama Frey. Aku ingin menghabiskan waktu bersama dengan dia, dan membangun hubungan kami lagi,” kata Luc. Kennard mengangguk setuju.
“Baiklah. Habiskan waktu kalian, tapi ingatlah untuk kembali karena kita harus menghadiri pernikahan Axele dan Bella nanti.”
“Baik, Kak. Aku akan mengingatnya,” balas Luc. “Oh iya, bagaimana dengan si kembar? Apakah Kak Kennard akan terus memasukkan mereka ke dalam sekolah itu?”
Pembahasan ini menarik sisi sensitif Kennard. Perlu diketahui bila Kennard dan Alice memiliki anak kembar berbeda jenis kelamin yakni peremuan dan laki-laki. Sayangnya keponakan Luc itu sekarang sedang berada di sekolah ternama yang berisi anak-anak luar biasa. Itu sudah terjadi bertahun-tahun lamanya, bahkan Alice tidak bisa menemui anak mereka.
Itu semua perintah mutlak dari Kennard. Terdengar jahat memang memisahkan anak dari ibu mereka, tetapi itu adalah keputusan tepat yang Kennard ambil. Kedua anak mereka memiliki kepintaran dan kekuatan di atas rata-rata. Bahkan keduanya hampir mencelakai prajurit serta Alice sendiri. Karena geram dan lelah, Kennard pun membawa anak mereka ke sekolah itu. Sekolah yang tidak bisa dimasuki sembarang orang. Dan tentu saja di sana berisi anak-anak yang berasal dari segala golongan.
“Itu tempat yang paling tepat untuk mereka, Luc,” tutur Kennard dengan sedikit emosi di dalam hatinya.
“Kak Kennard terlalu menganggap perilaku mereka berlebihan. Ini normal untuk anak-anak, Kak. Kejadian lalu tidak mungkin akan terulang lagi,” sahut Luc. Dia juga kasihan melihat sang kakak ipar yang selalu teringat dengan anak-anaknya. Dan tak jarang juga Alice bercerita kepada Luc.
“Mereka berbahaya, dan aku—”
“Tidak, Kak,” potong Luc cepat. “bagaimana bisa Kak Kennard mengatakan mereka berbahaya? Mereka anak-anak Kak Kennard. Bukankah seharusnya Kak Kennard membimbing mereka? Jujur sejak awal aku tidak setuju mereka masuk ke sekolah itu yang bahkan orang tua saja tidak diperkenankan berkunjung. Ini sungguh tidak adil,” kata Luc.
“Kau tidak mengerti, Luc. Aku sedang mengajarkan mereka untuk lebih bisa mengendalikan diri. Aku adalah ayah mereka. Aku tau keputusan terbaik untuk mereka,” kata Kennard di sana.
Luc tau bila Kennard adalah seorang ayah. “Tapi, Kak. Aku jadi berpikiran buruk tentang masa depan nanti. Bagaimana jika mereka membenci Kak Kennard? Bagaimana jika mereka tak mengenali orang tua mereka sendiri bahkan keluarga sendiri? Bukankah ini akan sangat menyakitkan? Terutama untuk Kak Alice.”
Kennard terdiam. Dia teringat bagaimana Alice selalu merengek untuk bisa dipertemukan dengan anak-anak mereka. Dan tentu saja dia sekeras mungkin menolak.
“Mari kita sudahi pembicaran ini, Luc. Sebaiknya kau temui Frey. Bukankah kalian harus bersiap untuk pergi?” ujar Kennard membuat Luc berdecak kesal. Dia memang tidak pernah menanyakan perihal keponakannya karena pikirannya hanya berfokus pada Frey saja selama ini. Tetapi sekarang keadaannya berbeda. Luc memikirkan bagaimana tangis Alice memenuhi pikirannya.
Frey yang melihat Luc baru saja kembali namun dengan ekspresi anehnya pun mengernyit bingung. “Ada apa?” tanya Frey langsung. Luc menatap Frey, dia mengembuskan napas lelahnya dan semakin membuat wanita itu bingung.
“Aku sudah berbicara kepada Kak Kennard mengenai kepergian kita ke dunia manusia nanti,” ungkap Luc.
“Lalu? Kak Kennard tidak mengijinkan?” tanya Frey.
Luc menggeleng. “Dia mengijinkan kita.”
“Itu bagus. Tapi, kenapa wajahmu muram?”
“Aku tadi membahas perihal si kembar kepadanya.”
“Si kembar?” tanya Frey bingung. Memang Frey tidak tahu bila dia sudah memiliki keponakan karena memang anak-anak itu lahir di saat Frey tertidur panjang.
“Anak Kak Kennard dan Kak Alice.”
“APA?!” pekik Frey. “Mereka sudah memiliki anak? Tapi, kenapa aku tidak melihatnya?” tanyanya lebih lanjut.
“Mereka tidak ada di sini, Frey. Mereka Kak Kennard kirimkan ke sekolah luar biasa. Itu adalah tempat bagi anak-anak dengan kekuatan berbeda.”
Frey cukup tak paham dengan maksud Luc karena dia juga baru mendengar ada sekolah seperti itu. “Sekolah ini tidak familiar bagi orang pada umumnya karena memang tidak sembarangan orang bisa masuk. Ketika seorang anak di masukkan ke sana, maka anak itu tidak akan mengenal dunia luar. Mereka akan benar-benar berada di sana untuk mengendalikan kekuatan mereka serta belajar untuk tahu mana hal yang benar dan salah.”
“Terdengar seperti penjara,” celetuk Frey.
“Kurang lebih mungkin demikian, Frey. Bahkan orang tua pun tidak diperkenankan untuk berkunjung.”
Frey terkejut jika ada sekolah yang demikian. “Bukankah itu berlebihan, Luc? Kasihan anak-anak itu. Kasihan juga orang tua mereka.”
“Untuk itulah, Frey. Ketika orang tua memasukkan anak mereka ke sana, maka merek sudah siap akan peraturan yang telah dibuat sejak lama.”
“Jadi, Kak Kennard dan Kak Alice belum bisa bertemu denga anak mereka?” tanya Frey yang diangguki oleh Luc. “Kasihan Kak Alice. Dia seorang ibu. Aku tau perasaan dia sekarang. Pasti dia sangat sedih.”
“Rasa-rasanya Kak Alice setiap saat selalu menangis sedih ketika mengingat anak-anaknya,” ungkap Luc. “Aku sudah berbicara dengan Kak Kennard, tetapi dia tetap pada pendiriannya. Sedikit susah untuk membujuk Kak Kennard, Frey,” terang Luc.
“Kasihan Kak Alice.”
“Untuk sekarang mari kita jangan pikirkan itu lebih dulu. Nanti setelah kita selesai berlibur, aku akan mencoba membujuk Kak Kennard lagi,” usul Luc. Frey pun mengangguk setuju. “Apakah kamu sudah berkemas?” tanya Luc mengalihkan pembicaraan.
“Aku sedang melakukannya,” jawab Frey sembari memperlihatkan baju-baju yang ia lipat.
***
Kennard baru saja memasuki kamarnya di mana terlihat Alice sedang melamun di pinggiran tempat tidur mereka. Pria itu menghampiri istrinya. Merasakan ada yang datang, Alice pun menoleh.
“Ada apa?” tanya Kennard.
Alice mengembuskan napas berat. “Aku merindukan mereka lagi,” ungkap Alice saat itu juga. Kennard menutup matanya sejenak. Dia tau apa maksud sang istri.
“Luc dan Frey berencana akan pergi liburan ke dunia manusia. Itu dilakukan untuk membangun hubungan mereka kembali dan—”
“Aku merindukan mereka, Kennard,” ucap Alice sekali lagi. “Bisakah kamu sekali saja mendengarkan perasaan seorang ibu? Bisakah kamu sekali saja tidak mengalihkan pembicaraan kita. Aku lelah, Ken. Aku lelah,” lirih Alice sembari menutupi wajahnya. Terlihat bahu wanita itu sedikit bergetar, dan Kennard mendengar tangisan sang mate.
Serigala dalam diri Kennard pun meronta dan memaki Kennard yang sudah menyakiti mate mereka. Kennard menghampiri Alice, duduk tepat di sebelah sang istri. Dia menarik tubuh Alice dan membawanya ke dalam dekapan hangat pria ini.
“Aku hanya ingin membuatmu terbiasa dan tidak terus mengingat mereka,” ucap Kennard dengan sadis dan terdengar jahat di telinga Alice. Wanita itu pun langsung menarik tubuhnya hingga membuat jarak di antara dua orang ini.
“Berapa lama lagi kamu sejahat ini kepadaku? Berpuluh-puluh tahun telah berlalu. Seberapa lama lagi aku harus menunggu?” tanya Alice dengan emosi di hatinya. Bahkan matanya sudah memerah di sana.
Kennard menutup matanya dalam beberapa detik, dan kembali menatap sang mate. “Aku tetap pada keputusanku,” sahutnya penuh ketegasan.
“Jika pada akhirnya begini, lebih baik dulu aku yang membawa mereka pergi, Ken. Lebih baik aku hanya tinggal bersama dua anakku dari pada terus tersiksa seperti ini. Kenapa tidak kamu bun*h saja aku?” kata Alice dengan eskpresi kesal dan marahnya.
“Mari kita bicara lagi setelah semua keadaan tenang,” kata Kennard yang berdiri dari duduknya dan melangkah pergi.
“Beginilah cara kerjamu, Ken. Kamu selalu pergi. Setiap saat kamu selalu pergi menjauh ketika aku membahas mereka. Apakah kamu meragukan jika mereka adalah anakmu? Seharusnya jika kamu tidak menginginkan mereka, katakan sejak awal dan aku bisa pergi dari sini hidup bersama anak-anakku.”
Kennard tak menanggapi perkataan Alice. Pria itu langsung meninggal sang istri begitu saja. sekali lagi melihat sikap acuh Kennard membuat Alice menjadi sedih dan marah. Dia jadi yakin jika Kennard pasti meragukan anaknya sendiri.