Luc membantu Frey mengeluarkan barang-barang mereka di tempat baru yang mereka sebut rumah ini. Rumah berlantai satu tersebut dekat sekali dengan hutan di mana Luc bisa membuka portal kapan saja. Luc sudah mempelajari sejak lama cara membuka portal.
Luc dan Frey berencana akan berada di sini selama seminggu. Tetapi, jika tiba-tiba Kennard menghubunginya karena ada suatu hal mendesak, maka mau tidak mau mereka harus segera pulang saat itu juga. Walau bagaimanapun Kennard adalah raja mereka, dan mereka juga harus patuh kepadanya.
“Sudah biar aku saja yang melakukan ini,” kata Luc mengambil alih barang bawaan Frey. Frey pun tak keberatan, dia tersenyum kecil ketika mengingat jika ini adalah hari pertama memulai hubungan di antara mereka. Grace pun juga sama senangnya bisa menghabiskan waktu berdua bersama mate.
“Kalau begitu biar aku masak untuk kita makan,” putus Frey.
“Apakah ada persediaan makanan? Aku rasa belum ada. Sebaiknya kita ke supermarket dulu untuk membeli kebutuhan dapur,” sahut Luc membuat Frey mengurungkan langkah kakinya untuk pergi.
Wanita tersebut memilih membuka jendela besar yang ada di kamar mereka. “Ini mengarah langsung ke hutan di belakang rumah ini, Luc. Dari mana kamu mendapatkan tempat ini?” tanya Frey tanpa perlu menoleh kepada sang mate karena dia tau bila Luc sibuk menata baju mereka.
“Seorang teman,” jawab Luc singkat. “Sudah selesai,” ucapnya lagi, “ayo. Kita beli kebutuhan dapur,” ajaknya. Frey mengangguk dan langsung menyusul Luc yang keluar kamar dulu.
Keduanya berjalan kaki di jalanan setapak yang ada di sana. Tempat ini benar-benar sepi dan memang hanya ada satu rumah yakni tempat Luc dan Frey tinggal. Tetapi tempat itu dekat dengan jalanan besar di mana terdapat toko-toko yang buka di sana. Jadi, Luc dan Frey tidak perlu bersusah payah mencari kebutuhan setiap harinya.
Luc membawa keranjang belanjaan sedangkan Frey tampak mengambil kebutuhan apa saja yang mereka perlukan selama seminggu.
“Jangan lupa beli puding dan roti,” ucap Luc. “Aku selalu teringat dengan puding Bibi Felis,” lanjutnya. Frey terkekeh dengan kebiasaan yang tak pernah Luc tinggalkan. Wanita ini mengambil beberapa puding dan roti yang ada.
Baru saja keduanya sampai di rak sus*, seorang anak kecil menyerobot dan mengenai tangan Frey tanpa sengaja. Frey pun terkejut dan langsung mengecek keadaan anak kecil itu.
“Hei, maafkan aku,” ucapnya merasa bersalah. Anak kecil itu mengusap matanya sebentar menandakan jika tangan Frey tadi mungkin mengenai mata gadis kecil ini. “Apakah sakit?” tanya Frey memastikan.
“Kristal,” panggil ibu-ibu muda yang langsung menghampiri tempat Frey dan Luc berada. Kedua werewolf ini menatap ibu itu dengan seksama.
“Mama. Kristal pengen sus* itu,” tunjuk gadis kecil bernama Kristal tersebut. Sang ibu pun langsung mengambilkan beberapa sus* untuk anaknya.
“Mama kan sudah bilang, tunggu Mama dulu,” omel sang ibu sebentar. “Maafkan putri saya. Apakah dia mengganggu kalian?” tanya wanita muda itu kepada Frey dan Luc.
Frey menggeleng sembari tersenyum. “Tidak sama sekali. Seharusnya saya yang meminta maaf karena tadi tanpa sengaja tangan saya mengenai mata anak ibu. Apakah dia baik-baik saja?” balas Frey.
Sang ibu pun mengecek keadaan anaknya. “Dia baik-baik saja.”
“Syukurlah,” sahut Frey.
“Mama. Ayo kita pulang. Ben sudah menunggu kita,” ucap gadis kecil itu membuat Luc refleks menoleh. Frey pun tertawa kecil melihat perubahan ekspresi di wajah sang mate.”
“Tunggu sebentar, Kristal,” ucap wanita tersebut. Kemudian atensinya kembali kepada Frey dan Luc. “Perkenalkan nama saya Sasha,” ucapnya sembari mengulurkan tangan.
Frey menerima uluran tangan itu dengan baik. “Frey. Dan ini suami saya Luc,” jelas Frey singkat. Luc hanya mengangguk sebagai perkenalannya.
“Baiklah. Senang bisa bertemu dengan kalian.”
“Mama. Ayo pulang,” ucap gadis bernama Kristal itu lagi.
Sang ibu pun tampak kewalahan sepertinya. “Dia memang selalu merengek dan tak ingin jauh dari Ben. Ben itu anjing peliharaannya,” ungkap wanita tersebut. “Kalau begitu saya permisi dulu.”
Frey mengangguk dan membiarkan ibu dan anak itu pergi. Kedua orang ini pun kembali melanjutkan acara belanja mereka. “Namanya Ben,” celetuk Frey.
Luc memutar bola matanya malas, dia tahu bila sang mate sedang mode menggodanya. “Ben wolf ku lebih baik di bandingkan anjing milik gadis itu,” sahut Luc yang disetujui oleh Ben di dalam pikirannya.
Frey terkekeh karena merasakan jika Luc tak ingin terlihat kalah. “Gadis itu lucu dan cantik. Di masa depan nanti aku juga ingin memiliki anak perempuan yang cantik seperti dia,” ungkap Frey.
Luc mengangguk. “Kita pasti akan memilikinya,” ujarnya percaya diri.
“Aku rasa ini sudah cukup. Kalau kurang nanti kapan-kapan kita bisa beli lagi,” kata Frey yang disetujui oleh Luc. Keduanya pun berjalan menuju ke kasir. Luc meminta Frey untuk menunggu di kursi depan supermarket yang tersedia di sana.
Frey memperhatikan kawasan sekitarnya. Tidak terlalu banyak mobil berlalu lalang. Dan udaranya juga sejuk, ini benar-benar bagus untuk menjadi tempat liburan. Kemudian tanpa sengaja mata Frey berhenti di sebuah titik di seberang jalan. Seekor anjing kecil berwarna putih tampak kebingungan. Merasa ada yang tidak beres, Frey pun akhirnya mencoba menghampiri anjing itu dan melupakan peringatan Luc untuk tidak pergi ke mana-mana saat itu.
“Hei anjing kecil, sedang apa kamu di sini?” ucap Frey seakan dia bisa berbicara kepada anjing itu. Frey nampak terpana dengan bulu anjing yang halus serta warnanya yang putih bersih. Ini benar-benar menggemaskan baginya. Di lehernya terdapat kalung, jadi Frey perkirakan jika pasti anjing ini ada pemiliknya.
“Siapa tuanmu? Kenapa dia membiarkan kamu pergi?” tanyanya sembari mengamati sekitar. Frey pun memutuskan membawa anjing kecil itu ke kursi di depan supermarket tadi. Dia akan menunggu di sana, barangkali ada seseorang yang mencari anjingnya.
Luc keluar dari toko sembari menenteng dua kresek besar. Dia mengernyit ketika di pangkuan Frey terdapat anjing kecil. “Kenapa kamu membawa dia?” tanyanya membuat Frey tersadar jika Luc sudah keluar.
Frey berdiri dari duduknya sembari menggendong anjing temuannya itu. “Aku menemukannya kebingungan di seberang jalan. Dia memakai kalung, Luc. Aku rasa dia memiliki tuan,” ungkap Frey.
“Ya sudah letakkan saja di kursi ini,” kata Luc enteng.
“Dan meninggalkan dia sendirian? Aku tidak mau,” tolak Frey mentah-mentah sembari menguap bulu anjing itu.
Luc memutar bola matanya malas. “Kamu sendiri yang bilang jika dia memiliki tuan. Pasti tuannya akan datang ke mari. Sudahlah, ini bukan urusan kita, Sayang,” kata Luc lagi.
Frey menggeleng, menolak mentah-mentah pernyataan Luc itu. “Kamu mau menunggu di sana dan tidak pulang sebelum pemiliknya datang?” tanya Luc. Frey terdiam karena tak memiliki jawaban. “Bagaimana jika tuannya tidak datang sama sekali? Apa kamu sepanjang hari akan diam di sini?” desak Luc lagi.
“Tidakkah kamu lihat? Anjing ini begitu lucu. Jika aku meninggalkannya sendirian di sini, pasti dia akan dibawa oleh orang lain yang bukan pemiliknya. Bagaimana jika anjing ini disakiti?”
Luc tak habis pikir dengan mate nya yang malah mengkhawatirkan seekor anjing. “bagaimana jika kita bawa dia saja ke rumah?” usul Frey dengan cepat.
“Bagaimana dengan pemiliknya?” tanya Luc.
“Kita tinggalkan pesan untuk pemilik toko jika ada seseorang mencari anjing untuk segera datang ke rumah kita,” seloroh Frey saat itu.
Luc pun akhirnya mengangguk setuju. Frey tampak senang membelai anjing itu. “Kalau begitu kamu tunggu sebentar, aku akan bicara dengan pemilik toko,” kata Luc. Frey mengangguk dan kembali duduk di tempatnya sedangkan Luc nampak berbicara di dalam toko.
***
“Ini tehnya Ibu,” ucap Alice yang menghidangkan teh hangat di depan mertuanya. Hari ini dia kedatangan mertuanya. Kennard sendiri sedang berbicara bersama ayahnya di ruangan pria itu, sedangkan Alice menemani ibu mertuanya ini.
“Terima kasih, Nak,” ucap ibu dari Kennard dan Luc itu. Sang ibu pun menenggak teh buatan Alice itu sedikit. Atensinya tertuju kepada Alice. Ada sedikit kernyitan terlihat jelas di dahi wanita paruh baya yang sempat menjadi ratu kerajaan werewolf ini.
“Kamu habis menangis, Nak?”
Alice langsung panik dan menggeleng cepat. “Tidak, Ibu,” elak Alice. Padahal jelas-jelas semalam dia kembali menangisi putra putrinya.
Wanita itu pun tersenyum, tau jika putrinya berbohong. “Ada apa? Kamu bisa cerita kepada Ibu. Kamu tau kan kalau kamu sudah menjadi putri kesayangan Ibu. Frey pun juga sama. Jadi, jangan sungkan kepada ibumu sendiri.”
Alice mengembuskan napas lelahnya. Dia memang tidak pernah bercerita mengenai kesedihannya kepada mertuanya ini. Karena dia tak ingin mertuanya jadi berpikir kerasa mengenai kesedihannya ini.
“Aku baik-baik saja, Ibu,” jawab Alice yang bersikeras menyembunyikan segalanya.
“Ibu tau. Kamu pasti merindukan anak-anakmu, kan?”
Mungkin akan percuma jika Alice berbohong, toh namanya wanita yang memiliki anak pasti kegelisahannya seputar anak-anak mereka.
“Pasti anak ibu itu masih keras kepala bukan?” kata wanita tersebut. Yang ia maksud adalah Kennard. Alice tak bisa berbicara banyak di mana mungkin ini terdengar dia malah mengadu kepada mertuanya sendiri. “Kamu harus banyak bersabar. Sifatnya persis sekali dengan ayahmu. Kebanyakan seorang raja memang keras kepala, Nak. Adanya kita adalah untuk mengubah keras kepala itu.”
“Aku tidak bisa, Bu. Aku sudah mencobanya. Rasanya aku ingin matii saja ketika tidak bisa melihat anak-anakku, Bu,” ucap Alice yang matanya sudah memerah menahan tangis.
Sang ibu pun langsung memeluk menantunya itu. “Kennard memang benar-benar keterlaluan. Harus seberapa lama lagi dia menyiksamu dan dirinya sendiri? Aku benar-benar tidak habis pikir dengan sikap kerasa kepalanya ini.”
Dan pada akhirnya runtuhlah tangisan Alice di pelukan mertuanya itu. Sang ibu pun mencoba untuk menenangkan Alice sekarang.
“A-aku merindukan mereka, Ibu. Aku … aku benar-benar sudah tidak bisa hidup seperti ini, Ibu.” Dan pada akhrinya Alice menumpahkan rasa rindu dan sedihnya ini.
“Ya, Nak. Ibu tau. Ibu akan berbicara dengan ayah agar dia bisa membujuk putranya itu,” janji sang ibu.
“Terima kasih, Bu.”