Pagi hari Luc malah menemukan Frey yang sudah bermain dengan anjing temuan mereka kemarin. Dilihatnya di meja makan sudah tersedia makanan. Sepertinya Frey bangun pagi-pagi sekali tadi. Luc pun memilih menghampiri mate nya itu.
Frey yang merasakan kehadiran Luc pun reflek menoleh. “Kamu sudah bangun?” tanyanya yang diangguki oleh Luc. “Ayo kita makan,” ajak Frey. Keduanya berjalan bersisian dengan Frey yang menggendong anjing kecil itu.
“Kapan kamu akan mengembalikan anjing itu?” tanya Luc. Anjing itu Frey letakkan di kursi. Dan ajaibnya anjing tersebut malah diam.
“Belum ada orang yang ke sini, Luc. Kalau pemiliknya ke sini, nanti akan aku berikan,” jawab Frey. Keduanya pun memulai ritual sarapan mereka. “Hari ini kita mau ke mana?” tanya Frey. Dia sudah tak sabar untuk mulai jalan-jalan. “Tapi bawa anjing ini juga boleh, kan?”
Luc yang awalnya mulai menikmati makanannya pun langsung memusatkan perhatiannya pada Frey saat itu. “Tidak usah, Sayang. Biarkan dia di rumah saja,” kata Luc.
“Kasihan tau. Masa dia ditinggal sendirian? Kita ajak saja,” kata Frey yang masih bersikeras. Luc pun pada akhirnya tidak bisa menolak. Toh apa yang membuat Frey akan selalu dia dukung selama itu bukan hal buruk tentunya.
Keduanya pun bersiap-siap untuk memulai hari baru ini. Namun, baru saja keduanya keluar dari pintu rumah, di depan sana sudah ada sosok yang mereka kenal yakni Kristal dan ibunya. Gadis kecil itu langsung berlari menghampiri Frey. Frey kira dia akan menyapanya, ternyata gadis itu tertarik dengan anjing yang Frey gendong.
“Ben!”
Frey menganga, mungkin anjing yang ia bawa adalah anjing Kristal yang kemarin dia bicarakan. Frey pun membiarkan Kristal mengambil alih anjing tersebut.
“Frey. Luc. Ternyata kalian. Syukurlah. Ben kemarin hilang, dan tadi kami ke toko untuk bertanya dan pemilik toko mengatakan jika kami harus ke sini.”
Frey mengangguk paham. “Kami kemarin menemukan dia di seberang toko. Dan aku melihat ada kalung, jadi aku pikir dia milik seseorang.”
Wanita itu mengangguk. “Kamu bisa membuka kalungnya, di sana tertulis nama si anjing,” ungkap. Frey baru tahu.
“Tante. Terima kasih karena sudah menemukan Ben,” ucap gadis kecil bernama Kristal tersebut.
Frey pun tersenyum hangat, dia sedikit berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan gadis ini. “Sama-sama, Kristal. Ben terlihat sangat lucu, sama seperti dirimu,” kata Frey.
“Ah, sepertinya kedatangan kami mengganggu kalian. Kalian ingin pergi keluar?” tanya ibu dari Kristal itu.
Frey mengangguk. “Ya. Kami ingin jalan-jalan. Awalnya kami berniat mengajak Ben juga, tetapi karena kalian sudah ke mari, jadi kami tidak akan membawanya.”
“Baiklah. Kalau begitu kami akan pergi sekarang. Nikmati waktu kalian. Dan terima kasih banyak sudah menjaga Ben.”
“Sama-sama.”
Kristal dan ibunya pun melangkah pergi menjauhi rumah ini. Frey yang awalnya melambaikan tangan sembari tersenyum pun perlahan senyumnya menjadi pudar.
“Ada apa?” tanya Luc memastikan. Sejak tadi Luc tak mengeluarkan sepatah kata pun kepada ibu dan anak tadi, begitu juga dengan kemarin.
“Anjingnya sudah pergi,” ucap Frey dengan raut wajah sedihnya.
“Pemiliknya sudah menjemput dia. Bukankah begitu kesepakatan kita kemarin?” sahut Luc. Dia menarik Frey untuk berjalan, mereka tentu saja akan melanjutkan liburan ini. Wanita ini pun berjalan dengan kurang bersemangat. “Nanti kita beli saja anjing baru,” putus Luc agar tak mematahkan senyum sang mate.
Frey menoleh seketika. “Benarkah?” tanyanya.
Luc terdiam.
Kenapa kau memberinya anjing? Apakah tidak cukup adanya diriku dan dirimu di sisinya? Cepat bujuk dia. Idemu memang konyol, Luc.
Ben tampak memarahi Luc di dalam sana. Terlihat Luc yang mengembuskan napas berat, apakah dia mengambil langkah salah? Pandangannya tertuju pada Frey sekarang, namun keduanya tetap melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. “Tidak. Maafkan aku, tetapi Ben tidak setuju,” jawabnya yang mematahkan kebahagiaan Frey saat itu juga.
“Sudahlah lupakan. Lagi pula tidak mungkin kita membawa anjing ke dalam kerajaan werewolf. Sungguh itu tidak mungkin terjadi,” kata Frey yang disetujui oleh Luc.
***
"Ke mana Bella, Ibu?" tanya Axele yang memasuki kamar miliknya namun tak menemukan sang mate. Di sana hanya ada Felis yang duduk di atas ranjang sembari melihat-lihat desain gaun pernikahan.
"Dia sedang mencoba gaunnya," jawab Felis tanpa mengalihkan pandangannya.
Tepat setelah Felis menjawab, pintu yang menjadi tempat Bella berganti baju pun terbuka. Kedua orang itu langsung menoleh. Axele tertegun di tempatnya. Untuk pertama kalinya ia melihat Bella dengan baju pengantin. Bella yang baru tahu jika ada Axele terlihat malu dan hanya bisa menunduk.
"Oh lihatlah dirimu, Nak. Sangat cantik," puji Felis yang langsung menghampiri menantunya itu. Bella hanya tersenyum kecil. "Tutup mulutmu itu, Axele sebelum ada lalat yang masuk," tegur Felis yang mana langsung membuat sang putra salah tingkah. Bella dan Felis malah cekikikan di tempatnya. Tak ingin menanggung malu, Axele pun langsung pergi dari sana.
Bella yang melihat tingkah pria itu nampak bingung. "Pasti dia malu karena kepergok memperhatikanmu tanpa berkedip. Ngomong-ngomong, kamu benar-benar cantik, Bella. Pasti tadi Axele terpesona. Ini saja kamu belum dandan, bagaimana jika nantinya sudah dandan? Pasti Axele pingsan," canda Felis yang mampu membuat Bella ikut tertawa.
"Baju ini bagus, Bu. Dan tidak begitu berat juga, beda dengan yang tadi," kata Bella.
Felis mengangguk. Wanita ini memperhatikan bagian depan, belakang dan samping, semuanya nampak pas di tubuh Bella. Tidak salah ia memilih gaun itu. "Kamu ingin memakai gaun ini?" tanyanya. Bella mengangguk langsung. "Sepertinya Axele juga menyukainya. Baiklah, kita ambil yang ini," putus Felis yang diacungi jempol oleh Bella. Gadis itu kembali bergantian pakaian.
Setelah mempersipkan gaun, Felis mengajak Bella untuk berdiskusi dengan bagian juru masak istana. Mereka akan membicarakan makanan apa saja yang akan disajikan dalam pernikahan nanti. Segala persiapan pernikahan ini meskipun menyita waktu yang banyak, tetapi tetap Bella jalani dengan senang.
"Karena tamu berasal dari seluruh negeri dan berbagai kalangan di dunia immortal, aku ingin kita menyiapkan makanan dengan kualitas yang baik. Tentu saja makanan itu harus bisa dimakan oleh semua golongan mulai dari vampir, werewolf, dan wizard. Jangan ada diskriminasi dalam acara pernikahan ini," kata Felis.
Sang juru masak pun mengangguk paham. Bella juga setuju dengan pemikiran sang ibu. "Untuk minuman juga sama, sajikan dengan yang terbaik. Aku ingin semuanya nampak sempurna."
"Ratu, saya dan maid akan mengerjakan dengan sempurna. Kami tidak akan mengecewakan Anda," kata si juru masak.
"Bagus. Jika semuanya lancar, aku akan memberikanmu dan para maid hadiah kecil. Pegang janjiku ini."
"Terima kasih, Ratu."
Sang juru masak pun pamit untuk membicarakan persiapan untuk hidangan di hari pernikahan nanti. "Bella, apakah kamu tidak ingin menemui orang tuamu lebih dulu?" tanya Felis.
Pada awalnya kedua orang tua gadis ini setuju untuk ikut dan tinggal di Kerajaan Vampir, tetapi mereka seperti sulit untuk beradaptasi. Maka, Axele mengijinkan keduanya untuk kembali ke wilayah wizard, namun Axele sudah menyiapkan rumah yang layak untuk mertuanya itu.
"Aku lupa, Ibu. Setelah ini aku akan minta ijin kepada Axel untuk ke tempat ayah dan ibu."
"Biar Ibu menemanimu, Bella. Mungkin jika Ibu ikut maka Axele tak begitu khawatir."
"Baiklah, Ibu."
Bella beruntung memiliki mertua baik hati seperti Felis dan sebaik Baz juga. Meskipun intensitas Bella berbicara dengan Baz minim, tetapi dia tahu jika pria paruh baya itu sangat menyayangi sang putra.
Bella langsung mencari keberadaan Axele selagi Felis sibuk dengan undangan yang akan disebarkan nanti. Gadis itu menemukan Axele di depan makam Celesse. Dia sudah memberitahukan jika makam Celesse tumbuh bunga. Sekarang bunganya semakin banyak dan tumbuh indah.
"Dia cantik, bukan?" celetuk Bella.
"Ya."
"Andai kita bisa bertemu, maka aku akan mengatakan kepadanya betapa beruntungnya dia memiliki mate sepertimu," lanjut Bella.
"Sekarang dia sudah tenang dan bahagia di sana, tetapi perasaanku untuknya tetaplah sama hingga sekarang," ucap Axele.
Terjadi keheningan di antara keduanya. Bella memberikan Axele kesempatan lebih dulu bicara dengan Celesse. Setelah selesai, pria itu menatap Bella yang baru ia sadari jika gadis ini tidak sedang bersama sang ibu.
"Axel, aku mau ijin pergi."
"Ke mana?"
"Ke rumah ayah dan ibu. Aku harus mengunjungi mereka sebelum pernikahan dilakukan," jelas Bella.
"Kamu tenanglah. Aku sudah mengirim kereta untuk menjemput mereka. Mungkin sebentar lagi mereka akan datang."
Bella terkejut ketika Axele bergerak lebih cepat darinya. "Tidak perlu terkejut seperti itu. Aku tau kamu sibuk dengan Ibu, makanya aku inisiatif melakukan ini sendiri," jelas pria ini.
"Terima kasih." Entah kata apa yang Bella pantas katakan kepada mate nya itu.
"Kamu sudah selesai dengan Ibu?" tanya Axele balik. Bella mengangguk.
"Ibu sibuk dengan undangan. Awalnya dia akan menemaniku untuk menemui ayah dan ibu, tapi sepertinya aku harus memberitahunya bahwa perjalanan dibatalkan."
"Oh iya, Axel. Bagaimana dengan Frey dan Luc? Apakah kamu mendapat kabar mereka?" tanya Bella. Setelah ritual itu Bella banyak bicara kepada Frey. Menurutnya Frey benar-benar sangat pas untuknya. Wanita itu tahu banyak dan Bella senang mengatahui fakta itu. Frey juga cantik, tak jarang wanita ini memberikan Bella tips kecil.
"Mereka sedang berlibur. Luc ingin membuat pikiran Frey segar lagi mengingat ketika pulang setelah ritualnya Frey menanyakan perihal kandungannya. Tentu dia sedih karena kehilangan anak yang belum lahir itu. Luc juga sama sedihnya. Untuk itulah ia mencoba mengalihkan perhatian Frey agar tak larut dalam kesedihan."
Bella tahu mengenai itu karena Luc pernah menceritakan kepadanya. Tepatnya sehari sebelum ritual dilakukan. Luc mengatakan akibat dari serangan Axele bukan hanya membuat dia kehilangan Frey, tetapi juga kehilangan anak mereka. Untuk itulah Bella ikut merasakan kesedihan pasangan itu.
"Aku ikut sedih mendengar kehilangan itu, Axel. Semoga mereka cepat mendapatkan anak lagi."
"Kita doakan yang terbaik untuk mereka. Tetapi, kamu juga harus memikirkan tentang keluarga kita. Kamu sendiri bagaimana? Berapa anak yang kamu inginkan setelah menikah nanti?" tanya Axele. Pria ini berbalik, diikuti oleh Bella juga. Keduanya berjalan kembali masuk ke istana tentunya dengan keadaan yang mengobrol.
"Satu atau dua saja sudah cukup, Axel. Kalau bisa laki-laki dan perempuan," jawab Bella yang memiliki alasan khusus mengenai ini.
"Kenapa?" tanya Axele.
"Jika keduanya adalah laki-laki, aku takut di masa depan nanti mereka akan memperebutkan tahtamu. Aku memilih satu atau dua anak karena mengurus anak-anak juga cukup sulit dan menyita waktu ditambah lagi aku juga harus mengurusmu."
"Aku setuju denganmu. Aku malah berpikir satu anak lebih baik karena nantinya aku tidak perlu bingung kepada siapa tahta ini aku berikan jika nantinya memiliki dua anak laki-laki," balas Axele. Sepertinya pemikiran keduanya sama.
"Satu atau dua, laki-laki atau perempuan kita terima saja. Lagi pula kita tidak bisa memilih bukan? Aku akan tetap menyayangi anak-anakku bagaimanapun keadaannya," ucap Bella yang disetujui juga oleh Axele.