“Ini membosankan,” ujar Frey dengan tatapan lelahnya.
Luc tersenyum kecil ketika sekali lagi sang mate mengeluh dengan aktivitas mereka. Ini hari kelima mereka berlibur dan berada di dunia manusia. Luc memutuskan untuk pergi memancing di danau yang berada di dekat sana dan masih berada di dalam hutan. Sejujurnya Luc sendiri belum pernah pergi memancing, tetapi dia ingin mencoba hal baru ini bersama dengan Frey. Dan wanita itu tampak setuju saja, tetapi entah mengapa dia sekarang malah lebih banyak mengeluh.
“Memancing melatih kita untuk bersabar. Cobalah bersabar sedikit. Lagi pula lumayan ikannya nanti bisa kamu masak untuk makan malam,” kata Luc.
Frey menggerutu. Dia berdiri dari tempat duduknya. “Aku akan berkeliling bersama Grace sebentar,” putus wanita ini.
“Jangan. Berbahaya, Frey,” tolak Luc. Dia tentu tak membiarkan sang mate dalam keadaan bahaya.
“Ayolah, Luc. Ini dunia manusia. Aku dan Grace bisa menjaga diri,” ucap Frey.
“Baiklah, aku mengijinkanmu pergi. Tetapi, jangan berubah wujud dengan Grace. Ingat, kita di dunia manusia. Serigala bagi mereka adalah ancaman.”
“Baiklah. Aku hanya akan berjalan-jalan di sekitar sebentar selagi kamu memancing ikan. Nanti aku akan kembali ke sini lagi,” ucap Frey yang disetujui oleh Luc. Frey pun pergi saat itu juga, sedangkan Luc nampak fokus memancing ikan di sana.
Frey berjalan dengan santai, menikmati pemandangan hutan di sini. Pohon di sini sama lebatnya di dunia mereka, dan udaranya juga sejuk. Terlihat burung-burung nampak hinggap dari satu dahan ke dahan lainnya.
“Benar-benar menenangkan,” ucap Frey. Selama lima hari ini dia merasa betah dan nyaman tinggal di dunia manusia ini. Meskipun dulu dia ke sini bersama dengan teman-temannya, tetapi sekarang suasananya sedikit berbeda karena Luc memilih tempat yang pas untuk mereka.
Atensi Frey beralih kepada sesuatu yang bergerak di balik ilalang di depan sana. Dengan mengendap-endap dia pun mendekati ilalang itu. Diintipnya ada apa gerangan di sana, dia menganga dan ekspresi wajahnya berubah menjadi gemas. “Ah, lucunya,” pekik wanita ini.
Seekor anak kelinci tampak sedang bermain sendiri di sana. Frey pun langsung mengambil kelinci itu dan dia bawa ke gendongannya. “Uh, lucunya. Kenapa kamu berada di sini sendirian? Ah, nasib kita sama. Aku juga sedang sendirian. Bagaimana jika kamu menemaniku jalan-jalan di sekitar sini?”
Wanita yang aneh, padahal kelinci hanyalah hewan biasa yang tak bisa berbicara. Tetapi, Frey memperlakukannya seolah mereka adalah teman. Dengan kelinci di gendongannya, Frey pun kembali melanjutkan jalannya. Tentu saja tidak begitu jauh dari danau tempat Luc memancing.
“Pasti sangat menyenangkan tinggal di hutan ini, bukan?” ucapnya kepada sang kelinci yang tentu saja tak akan ada jawaban di sana.
Luc melihat keranjang miliknya sudah banyak ikan hasil memancing. Sudah setengah jam lamanya, tetapi Frey tak kunjung kembali. Luc pun memilih untuk menyudahi memancingnya kali ini dan segera kembali pulang. Tetapi sebelum itu dia harus menemukan Frey lebih dulu.
“Frey.” Luc memanggil sang mate lewat pikiran mereka. Frey yang mendengar suara Luc pun langsung bergegas menghampiri mate nya itu.
Kita cari saja mereka. Aku takut terjadi hal buruk.
Usul Ben yang selalu bersikap berlebihan jika menyangkut mate mereka. “Tenanglah, Ben. Mereka pasti kembali,” balas Luc. Tepat setelah itu Frey pun muncul dengan membawa kelinci tadi yang ia temukan.
“Kamu sudah selesai memancingnya?” tany Frey karena dia melihat Luc yang sudah selesai berkemas. Luc pun mengangguk. “Ya sudah ayo kita pulang,” ajak Frey.
“Kelincinya?”
“Aku akan meletakkannya di dalam hutan nanti,” jawab Frey. Luc pun mengangguk setuju. Keduanya berjalan bersisian untuk kembali ke rumah mereka.
Setelah berjalan beberapa meter, Frey pun mengembalikan anak kelinci yang ia temukan itu di tempat asal tadi. Dan setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang. “Hutannya bagus, Luc. Dan aku tidak menemukan binatang buas di sini,” kata Frey.
“Itu bagus. Tapi, dalam dua hari kita harus segera kembali ke dunia immortal. Jangan sampai Kak Kennard bertanya-tanya kenapa kita tak kunjung pulang. Dan pernikahan Axele serta Bella juga semakin dekat,” seloroh Luc yang mengingatkan bila liburan mereka hampir habis.
“Ah iya. Pada akhirnya mereka berdua akan menikah. Axele tak akan bersedih lagi.”
“Ya. Kamu benar.”
“Tapi, Luc. Bagaimana dengan Celesse? Apakah dia akan baik-baik saja melihat mate nya menikah dengan wanita lain?”
Luc terdiam sejenak. “Takdir yang ada harus diterima oleh semua makhluk. Lagi pula kita harus meyakini jika Celesse pasti juga akan bahagia di sana. Semua orang harus bahagia di hidup mereka bukan?”
Frey mengangguk setuju. Seperti mereka saat ini, pada akhirnya kebahagiaan akan segera menghampiri dua orang ini.
***
“Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Kennard kepada sang mate. Terlihat Alice sibuk mengamati lemari pakaian miliknya.
“Memilih baju yang pas untuk ke pernikahan Axele dan Bella,” jawab wanita tersebut. Kennard pun hanya mengangguk. Pria ini memilih untuk duduk di ranjang sembari menyandarkan punggunngnya.
“Kamu sudah selesai bekerja?” tanya Alice tanpa perlu menoleh.
Kennard berdeham, pria ini menutup matanya sejenak. Alice melirik sang mate, terlihat Kennard yang tampak lelah. Meskipun masih mode marah, tetapi Alice tentu tidak tega melihat Kennard seperti ini. Toh tanggung jawab sebagai seorang raja memanglah besar. Alice pun berjalan mendekat suaminya. Merasakan ada pergerakan, Kennard pun membuka kedua matanya.
“Kamu lelah?” tanya Alice.
“Sedikit,” jawab Kennard.
“Biar aku pijit sebentar,” usul Alice. Kennard mengangguk. Dia mengubah posisi duduknya agar memudahkan sang istri memijit kepalanya yang sedikit pusing memang karena terlalu banyak pekerjaan yang harus ia urus. Tidak adanya Luc membuat dia harus lebih ekstra bekerja selama hampir seminggu ini.
“Besok mereka sudah pulang, kamu tidak perlu bekerja terlalu keras. Biarkan Luc membantumu,” nasihat Alice.
“Tentu saja aku akan membiarkan dia mengerjakan tugasnya. Seminggu adalah waktu yang lama untuk aku memberinya libur. Padahal aku pun tidak pernah liburan,” sahut Kennard.
Terjadi keheningan di antara mereka di mana Alice fokus memijat kepala suaminya sedangkan Kennard nampak menikmati pijatan sang istri itu.
“Ayah dan Ibu sudah pulang?” tanya Kennard yang masih memejamkan mata untuk menikmati pijatan tersebut.
“Ya. Mereka tidak berpamitan karena kamu terlihat sangat sibuk sekali.”
“Baiklah.” Kemudian Kennard teringat dengan obrolannya dengan sang ayah beberapa waktu lalu. “Aku dan Ayah sempat berbicara beberapa waktu lalu.” Alice tak menanggapi, dia menunggu kelanjutan ucapan sang suami. “Apakah kamu benar-benar ingin bertemu dengan anak-anak kita?”
Gerakan memijat yang Alice lakukan pun berhenti. Tentu saja dia ingin melihat anak-anaknya. “Ya.” Hanya itu jawaban yang bisa wanita ini lakukan.
“Kamu tau bukan kalau aku selalu mengatakan jika keputusanku adalah mutlak?”
Alice mengartikan perkataan Kennard ini bahwa pria itu tak akan membiarkan anak-anaknya kembali ke sini sebelum mereka bisa mengendalikan kekuatan masing-masing.
“Mereka pasti sudah jauh lebih baik, Ken. Apakah kamu sedikit pun tidak merindukan anak-anak kita?” tanya Frey.
Kennard terdiam. Dia seorang ayah. Tentu saja dia merindukan anak-anaknya. Namun, ego dan gengsi dalam diri seorang ayah memang tinggi. Terkadang mereka tidak bisa mengungkap rasa sayang itu secara langsung. Dan memilih untuk mengungkapkannya dengan cara lain.
“Apakah aku terlihat seperti ayah dan suami yang jahat, Alice?” tanya Kennard langsung. Alice tentu tak langsung menjawab karena dia tak ingin melukai hati suaminya. “Aku artikan kediamanmu ini sebagai jawabannya,” lanjut Kennard.
“Baiklah. Mungkin kamu benar jika mereka sudah jauh lebih baik sekarang. Aku akan ke sekolah itu untuk menjemput mereka,” putus Kennard yang mana membuat Alice terlihat tak percaya.
“Ken? Apa yang kamu ucapkan ini benar? Kamu tidak berbohong kan?” desak Alice. Tentu saja kalimat ini sudah ia tunggu selama puluhan tahun lamanya.
Kennard mengangguk, senyum di wajah Alice pun memancar. “tapi, aku harus memastikan dulu jika mereka sudah membaik. Kalau keadaan belum membaik, terpaksa aku tidak akan membawa mereka ke sini,” sambungnya.
Meskipun Alice seperti kurang setuju, tetapi mau tidak mau dia harus mengikuti peraturan yang Kennard buat. Kennard mau membawa anaknya kembali saja itu sudah menjadi salah satu hal yang membahagiakan bagi Alice sendiri.
Seminggu berlalu. Waktu liburan Luc dan Frey pun telah selesai. Keduanya pagi ini akan pulang ke kerajaan werewolf. Luc kembali membantu Frey berkemas dan membawakan tas mereka.
“Luc. Bagaimana dengan rumah ini?” tanya Alice. Tentu saja dia mengkhawatirkan apa jadinya jika rumah tersebut ditinggal.
“Temanku yang akan mengurusnya.”
Lagi dan lagi Luc menyebut temannya di mana Alice pun tidak tahu siapa teman dari mate nya itu.
“Aku belum melihat temanmu. Dia manusia atau—”
“Tentu saja dia penghuni dunia immortal juga. Kebetulan dia tinggal di dunia manusia, dan aku sedikit meminta bantuannya untuk liburan kita ini,” serobot Luc yang diangguki oleh Frey. Kedua orang ini pun bergegas keluar rumah di mana tujuan mereka adalah hutan. Di sana Luc akan kembali membuka portal untuk bisa masuk ke dunia immortal.
Di kerajaan sendiri terlihat Alice menunggu kedatangan adik-adiknya itu. Luc juga sudah memberitahu Kennard bila dia akan pulang hari ini. Kennard sendiri masih sibuk dengan pekerjaan, jadi hanya Alice yang akan menyambut mereka.
Suasana hati Alice akhir-akhir ini juga sudah berangsur membaik. Itu semua karena keputusan Kennard untuk membawa anak-anak mereka kembali. Dan Alice terus berdoa semoga anak-anaknya benar-benar kembali dan tak dimasukkan ke sekolah itu lagi.
Dari jauh Alice melihat dua sosok yang ia tunggu-tunggu telah tiba. Wanita ini pun tersenyum hangat. “Sepertinya Kak Alice menunggu kedatangan kita,” bisik Frey yang melihat keberadaan kakaknya itu.
“Ya. Dia selalu memperlakukan semua orang dengan baik,” jawab Luc.
Tidak berapa lama keduanya sudah sampai di hadapan Alice. Wanita ini pun langsung memeluk mereka satu per satu. “Aku merindukan kalian. Kalian pergi terlalu lama kali ini,” ucap Alice dengan nada sedikit merajuk dan berhali membuat kedua adiknya terkekeh. Alice langsung membawa mereka masuk ke istana.
“Aku juga merindukan Kak Alice,” tutur Frey.
“Benarkah, Frey? Bukankah ketika kalian bersama, semua tampak milik berdua ya?” sahut Alice bermaksud menggoda mereka. Frey pun tertawa, begitu juga dengan Luc di sana.
“Di mana Kak Kennard?” tanya Luc yang tak melihat sang kakak menyambut kadatangannya.
“Di ruangannya. Karena kamu tidak ada, jadi pekerjaan dia menjadi banyak. Dia benar-benar sibuk akhir-akhir ini,” jawab Alice.
Luc mengangguk paham. “Frey,” panggil Luc yang membuat atensi sang mate tertuju padanya. “Kamu ke kamarlah dulu bersama Kak Alice. Aku akan menemui Kak Kennard dulu,” perintahnya. Frey mengangguk. Wanita ini pun berjalan bersama Alice menuju ke kamarnya sedangkan Luc menuju ke ruangan sang kakak.
Ruangan Kennard di depan di jaga oleh dua penjaga. Pintu langsung dibuka lebar oleh mereka. Kennard mendogak dan menemukan Luc sudah kembali. “Huft. Akhirnya kau kembali juga.” Kalimat pertama yang Kennard ucapkan saat itu.
Luc terkekeh, dia tau bila sang kakak pasti kewalahan di sini. “Maafkan aku, Kak. Apa yang bisa aku bantu sekarang?” tanya Luc. Dia sedang mode baik hari ini.
Kennard terdiam, dia teringat sesuatu. “Besok, bisakah kau menggantikanku selama sehari?”
Luc mengernyit. “Kak Kennard ingin liburan juga?” tanya Luc.
Kennard menggeleng. “Aku akan ke sekolah anak-anak,” ungkap pria ini yang langsung mengundang pelototan di mata Luc.
“Untuk?” tanya Luc lebih lanjut.
“Menjemput mereka.”
“Tunggu dulu. Apa yang terjadi? Kak Kennard berubah pikiran sekarang?” tanya Luc. Tentu saja dia tidak percaya jika kakaknya pada akhirnya mau mendengar usulnya saat itu.
Kennard menatap Luc jengah. “Tidak perlu banyak bertanya, Luc. Tugasmu hanya menjaga kerajaan besok selama aku pergi,” ucap pria ini dengan dingin. Luc pun langsung menutup mulutnya dan berhenti bertanya.