“Kak Kennard nggak mau ajak aku sekalian untuk jemput mereka?” tanya Luc. Alice, Luc, dan Frey nampak mengantar kepergian Kennard pagi ini. Sesuai perkataan pria itu, Luc akan tetap tinggal di sana untuk menjaga kerajaan.
“Jika kau ikut, siapa yang akan menjaga kerajaan? Lagi pula hanya boleh satu orang yang ke sana,” sahut Kennard menmberi pengertian.
Luc pun mengangguk paham. Alice mendekati sang suami, wajah kesenangan masih terpancar pada wanita ini. Sudah lama sekali dia menunggu hari ini dan hari di mana bisa menatap anak-anaknya.
“Hati-hati di jalan nanti,” ucap Alice. Kennard mengangguk, dia mengusap pipi istrinya itu pelan. Hal tersebut disaksikan oleh Luc dan Frey yang merasa lega kedua orang ini tak berselisih lagi.
“Itu pasti. Kamu baik-baik di sini.” Alice mengangguk patuh. Kennard memeluk istrinya sebentar sebagai salam perpisahan. Padahal hanya satu hari keduanya berpisah, dan malah terlihat Kennard akan pergi lama. Luc hanya memutar bola matanya malas melihat drama sang kakak. Frey yang menyadari itu pun langsung menegurnya karena hal ini tentu wajar bagi pasangan.
Kennard berjalan ke gerbang kerajaan. Dari sana dia akan berubah wujud menjadi serigala. Alice menatap kepergian sang suami dengan senyum di wajahnya. Besok, gerbang itu akan terbuka dan menampilkan dua sosok yang ia tunggu sejak lama.
Frey menyentuh pundak sang kakak ipar. “Ayo, Kak. Bukankah katanya tadi Kak Alice mau buat kue untuk anak-anak?” ujar Frey. Memang itu adalah rencana Alice. Anggap saja sebagai wujud syukur dan ucapan selamat datang. Alice mengangguk, kedua wanita ini pun bergegas pergi sedangkan Luc tentu saja akan ke ruang kerja Kennard untuk melakukan tugasnya.
Luc langsung dihadapkan oleh laporan mengenai adanya beberapa kelompok yang melakukan pemberontakan di wilayah werewolf ini. Baru juga bekerja, dia sudah dihadapkan oleh masalah seperti ini.
“Berikan apa yang mereka mau, masalah selesai,” kata Luc kepada salah satu orang yang mengirim laporan padanya.
“Maaf, Pangeran. Mereka ingin mendapat jatah pangan lebih banyak karena mereka mendengar jika kerajaan kita bekerja sama dengan kerajaan wizard.”
Luc berdecak kesal. “Apa mereka tidak bisa berpikir? Kerja sama bukan berarti kita mendapat pasokan pangan. Ingat, kita juga harus bersikap mandiri dan melakukan segalanya dengan sendiri. Katakan pada mereka. Jika ingin mendapat pangan lebih banyak, mereka harus bekerja lebih giat lagi. Toh peralatan kita sudah bertambah maju sekarang karena dukungan dari kerajaan wizard.”
Orang itu pun mengangguk patuh dan pamit undur diri. Luc pun kembali meneruskan pekerjaannya di sana untuk mengecek beberapa tanah yang katanya akan dijadikan sebagai tempat pertanian agar warga werewolf bisa melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat selain berburu di hutan.
Luc mengernyit ketika menemukan satu kertas berisi laporan adanya p********n di salah wilayah timur. Geraman keluar dari bibir pria itu. p********n tentu saja dilarang di wilayah mereka, di seluruh negeri immortal lebih tepatnya.
Kennard dan serigalanya terus berlari untuk segera sampai di sekolah anak-anaknya. Karena tidak sembarangan bisa orang masuk, maka sekolah ini hanya diketahui oleh beberapa orang saja dan itu adalah orang-orang penting biasanya salah satunya Kennard sendiri.
Kennard berhenti di pinggiran danau, dia masih harus menyeberang. Kennard telah mengubah wujud serigalanya menjadi dirinya sendiri. Di pinggir danau terdapat seorang bapak tua yang biasa menjaga perahu. Biasanya orang yang menyeberang di danau itu akan menyewa perahu bapak itu. Kennard pun menghampirinya.
“Selamat pagi, Raja.” Dan seperti biasa sosok Kennard pasti dikenal oleh orang di seluruh negeri immortal.
“Selamat pagi. Bisakah aku menyewa perahumu untuk menyeberang?”
“Tentu bisa. Mari saya antar,” kata si bapak dengan ramah. Kennard pun langsung naik ke atas perahu diikuti oleh bapak tua itu juga. Sebenarnya mungkin Kennard bisa saja melalui jalur darat, tetapi dia harus memutari danau ini dan itu mungkin akan memakan waktu.
Sekitar satu jam lamanya barulah Kennard sampai. Danau itu memang terlihat kecil, tetapi meneyebranginya butuh waktu cukup lama ternyata.
Setelah sampai di seberang, Kennard memberikan beberapa koin emas kepada si bapak tua tadi. Dan di seberang juga ada penjaga perahu yang memiliki wajah sama persis dengan bapak itu. Sepertinya mereka kembar.
“Terima kasih,” kata Kennard.
“Sama-sama, Raja.”
Kennard melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki sekarang. Sekarang dia berada di hutan yang ajaib. Kenapa ajaib, karena hutan ini menjadi pintu gerbang menuju ke sekolah anak-anak Kennard. Dan sekolah itu tentu tidak bisa dilihat dengan mata biasa. Butuh kekuatan untuk bisa menembus penghalang tersebut.
Kennard masih ingat jalan menuju ke sekolah tersebut. Sebuah pohon tinggi dengan battang yang begitu besar menjadi tempat di mana Kennard akan mulai masuk.
Pria ini pun memejamkan matanya, mencoba berkonsentrasi agar bisa menembus penghalang. Energi yang digunakan pun tak main-main. Kennard memilih melewati danau agar tenaganya tak terkuras habis nanti.
Dan pada akhirnya Kennard pun berhasil. Sulur-sulur yang membentuk gerbang akhirnya terlihat. Perlahan bangunan tinggi dengan tembok besar di depan sana pun semakin terlihat di pandangan Kennard.
Jika di tempat tadi keadaan masih pagi, di sana malah keadaan malah sebaliknya, menjadi malam hari. Dan di sini bintang-bintang jauh terlihat lebih jelas dan terasa dekat. Benar-benar menakjubkan jika dinikmati pemandangannya. Tetapi kedatangan Kennard ke sini bukan untuk menikmati pemandangan, tetapi untuk menjemput putra putrinya.
Kemudian datanglah seseorang dengan jubah panjang berwarna ungu menghampiri Kennard yang sudah berjalan masuk. Seorang pria itu menunduk hormat kepada Kennard saat itu juga.
“Selamat datang, Raja,” sapanya. Kennard hanya mengangguk. Orang ini memimpin arah ke mana Kennard akan pergi.
Kennard memasuki bangunan setelah melewati jembatan panjang mulai dari gerbang masuk tadi. Di bawah jembatan itu terdapat jurang yang dalam. Siapa saja yang jatuh ke sana, sudah dipastikan akan meregang nyawa.
Memasuki aula depan, dia disuguhkan oleh sebuah patung besar berwujud seorang pria dan wanita. Katanya itu adalah pendiri pertama sekolah ini dan tentu saja mereka telah tiada.
Kemudian Kennard menelusuri lorong-lorong dan berhenti tepat di sebuah pintu dengan ukiran yang menakjubkan. Segala hal di sekolah ini memang tampak menakjubkan di mata Kennard sendiri. Orang yang membuat sekolah ini memang begitu ahli.
Kennard di persilakan untuk masuk. Di dalam ruangan itu terdapat rak-rak buku yang berisi buku tentu saja. Dan meja besar yang menjadi tempat pemilik ruangan itu. Dan hal yang menjadi perhatian adalah sebuah bandul jam yang besar tampak bergerak ke kanan dan ke kiri.
“Selamat datang kembali, Raja.”
Seseorang menyapa Kennard saat itu. Orang sama yang Kennard temui berpuluh-puluh tahun yang lalu.
Kennard duduk di kursi yang tersedia di ruangan itu. Dan orang tadi tentu duduk di tempatnya sendiri. “Saya sungguh terkejut Anda kembali datang ke sini. Sepertinya ada hal penting yang ingin Anda lakukan.”
Kennard mengangguk. “Aku ingin melihat mereka,” ungkap Kennard langsung.
Orang di depannya pun tersenyum. “Tentu saja Anda diperbolehkan untuk melihat mereka, Raja. Tetapi sepertinya mereka masih beristirahat karena hari sudah malam.”
Kennard tahu itu. “Besok saya akan mengantar Anda melihat mereka. Untuk sekarang, biarkan kami menjamu Anda lebih dulu,” kata orang tersebut. Kennard pun mengangguk setuju.
Kennard pun dibawa ke kamar yang akan menjadi tempat ia menginap malam ini. Dari sana dia ditinggal seorang diri. Tidur? Tentu saja itu tidak mungkin karena Kennard juga baru bangun tidur dan dunianya baru pagi hari.
Kennard pun memilih untuk memperhatikan tempat ini jendela kamar. Di malam hari terlihat gelap, tetapi adaa lampu-lampu yang masih menyala di beberapa ruangan yang terlihat dari tempat Kennard berada.
Dia masih memikirkan bagaimana anak-anaknya sekarang. Pasti mereka sudah tumbuh dewasa. Karena tak ingin berpikir terlalu jauh, Kennard pun memutuskan untuk mengisi malamnya di sini dengan membaca buku.
Di dapur kerajaan sendiri tampak Alice dan Frey sedang menghabiskan waktu mereka di sana. Kedua wanita ini baru saja mendapatkan sekitar satu loyan kue yang terlihat enak, tetapi belum mereka hias sama sekali.
“Cobalah,” perintah Alice yang mengambil sedikit potongan kue di sana. Frey pun menelan kue itu. Dia memekik senang karena rasanya manis dan enak.
“Anak-anak pasti sangat suka kue ini, Kak,” yakini Frey.
“Semoga saja. Dulu saat mereka masih di sini, aku sering membuat kue ini.”
Frey pun mengangguk paham. Pantas saja kemarin Alice meminta bantuannya untuk membuat kue tersebut. “Aku tidak sabar untuk bertemu mereka. Mereka pasti sudah sangat besar sekarang ya, Kak.”
“Entahlah, Frey. Mungkin saja. mengingat sudah berpuluh tahun lamanya,” sahut Alice yang masih ada nada kesedihan kerena terpisah lama. Frey mencoba menenangkan kakak iparnya itu.
“Oh iya, apa Kak Alice sudah memilih baju untuk ke pernikahan Axele dan Bella lusa?” tanya Frey mengalihkan pembicaraan sembari dengan tangan yang menghias kue buatan mereka tadi.
“Sudah.”
“Aku belum sama sekali. Apa Kak Alice mau membantuku memilih baju?”
“Tentu saja. Kamu sudah membantuku membuat kue ini, maka aku akan membantumu untuk memilih baju nanti.”
“Terima kasih, Kak Alice.”
Kedua wanita ini sudah seperti adik dan kakak saja. Alice yang dewasa memperlakukan Frey dengan baik seperti adiknya sendiri.
Setelah membuat kue, mereka pun berlanjut mencari baju yang pas untuk Frey kenakan nanti. Alice pun membawa Frey ke kamarnya karena baju-baju di kamar Frey sendiri sudah terlalu lama dan Alice memiliki model-model baru.
“Kamu suka warna apa, Frey?” tanya Alice sembari melihat-lihat baju pilihannya di lemari.
“Apa saja aku suka, Kak. Yang penting pas di tubuhku. Oh iya, Kak. Bajunya jangan terbuka ya soalnya nanti Luc marah padaku.”
Alice terkekeh. “Tentu saja, Frey. Lagi pula semua bajuku tidak terlalu terbuka. Kamu lupa jika Luc dan Kennard adalah kakak dan adik, jadi mereka hampir memiliki sifat yang sama.”
Frey mengangguk sembari tertawa. Apa yang dikatakan Alice adalah benar. Sifat posesif para werewolf memang sudah mendarah daging.
“Oh iya, Kak. Aku ingin bertanya. Siapa nama anak-anak Kak Alice dan Kak Kennard?” ujar Frey. Dia belum sempat menanyakan hal tersebut kepada Luc.
Alice menoleh. “Agata dan Owen.”