Di pagi hari, Kennard langsung dijemput oleh orang kemarin yang mengantarnya. Dia dibawa kembali menemui si orang yang ada di dalam ruangan kemarin.
“Apakah Anda sudah siap untuk melihat mereka, Raja?” tanya orang tersebut. Kennard hanya mengangguk di sana. Kemudian dia pun dibawa keluar ruangan menyusuri lorong-lorong sekolah. Jika hari di sini sudah pagi, itu artinya di dunia Kennard sendiri sudah malam. Dan Kennard hanya memiliki waktu untuk pagi ini saja.
Kennard terus dibawa melewati beberapa lorong lagi. Sekolah ini benar-benar sangat luas.
“Anak-anak di sini diajarkan banyak hal. Tidak hanya untuk mengendalikan kekuatan mereka. Mereka juga diajarkan bagaimana cara mengendalikan emosi dan perasaan mereka.” Kennard pun mengangguk ketika mendengar penjelasan orang tersebut.
“Sebenarnya kami sudah menunggu sejak lama kapan Anda akan datang ke mari. Kedua anak itu sudah jauh lebih baik. Bahkan Owen menjadi ketua di kelas yang dia masuki.”
Seharusnya Kennard bangga dengan pencapaian anaknya, tetapi tidak ada ekspresi apa pun di wajahnya itu.
Kemudian orang itu berhenti tepat di dekat sebuah ruangan yang ternyata menjadi tempat belajar sekitar 20 orang siswa. Memang setiap kelas hanya diisi oleh sedikit siswa di sana. Kennard mengintip dari jendela di dekatnya. Karena pelajaran masih berlangsung, jadi mereka tidak bisa seenaknya masuk. Menurut peraturan di sana, siswa tidak diperbolehkan keluar kelas selama waktu jam belajar. Dan orang luar tidak diperkenankan masuk ketika jam belajar masih dimulai.
Kennard mengamati satu per satu siswa yang ada di sana. Kemudian tatapannya berhenti kepada satu anak muda dengan rambut putih di sana. Dia pun mengernyit, tentu saja dia mengenali putranya, tetapi kenapa rambutnya menjadi putih?
“Owen mengalami perubahan tepat ketika dia merasakan wolf di dalam dirinya, Raja. Itu sudah berlangsung sejak lama,” jelas orang yang masih menemani Kennard itu.
“Bagaimana dengan Agata?” tanya Kennard yang tanpa mengalihkan pandangannya dari sang putra di mana pemuda itu terlihat fokus dengan guru yang ada di depan sana. Ternyata anaknya benar-benar tumbuh dewasa sekarang.
“Mari saya antar,” kata orang ini yang kembali memimpin perjalanan mereka. Di kelas Owen sendiri seluruhnya di isi oleh laki-laki. Di sekolah ini memang kelas-kelas disesuaikan denan gender mereka.
Tak beberapa lama Kennard dan orang tersebut pun berhenti di dekat lapangan luas di mana ada pembelajaran berlangsung di sana. Sekali lagi Kennard meneliti satu per satu siswa di sana.
“Itu Agata. Di antara teman-temannya, dia lah yang memiliki tubuh mungil,” kata orang itu menunjuk siswa yang satu-satunya terkecil di sana. Kennard mengembuskan napas berat. Memang sejak dulu Agata terlihat kecil, dan dia tak menyangka hal itu akan terjadi hingga dia besar.
“Meskipun dia paling mungil, tetapi dia menjadi teladan bagi teman-temannya. Dia mengikuti beberapa kegiatan di sekolah ini. Dia juga sering membantu teman-temannya ketika mengalami kesulitan.”
Kennard sepertinya benar-benar harus berbangga kepada anak-anaknya. Kemudian atensi Kennard pun beralih pada orang yang selalu bicara sejak tadi. “Aku sudah melihat semuanya. Terima kasih untuk dukungan dan bantuan dari sekolah ini. Sekarang, aku ingin membawa mereka kembali,” ungkap Kennard yang langsung mengutarakan inti kedatangannya ke mari.
“Jangan terburu-buru, Raja. Ada satu hal yang harus Anda lihat lebih dulu,” kata orang ini yang berhasil membuat Kennard bingung. Kennard dibawa kembali berjalan ke lorong lain. Dia dibawa ke tempat menuju hampir ke aula depan. Kemudian keduanya berhenti tepat di depan lemari besar yang ditutup dengan kaca bening. Di dalam sana terdapat banyak tropi yang merupakan penghargaan bagi mereka yang berjasa.
“Itu milik Owen,” ungkap orang tersebut menunjuk tropi yang terukir nama putra dari Kennard itu. Bukan hanya satu, melainkan lima. “Itu adalah tropi kepemimpinan. Lima kali Owen memenangkannya.”
“Lalu?” tanya Kennard.
"Tropi ini di dapat jika dia memenangkan semua misi. Dan tahun ini dia akan ikut berpartisipasi lagi guna mewakili kelasnya. Dan hari itu sudah semakin dekat, Raja. Akan sangat susah untuk mencari penggantinya. Dan jika dia pergi, teman sekelasnya akan berpikiran buruk mengenai Owen dan merasa bila Owen kurang pantas menempati kursi raja di masa depan nanti."
Tentu Kennard tak menyangka bila perihal dirinya yang akan membawa anak-anak pulang harus mendapat halangan lebih dulu.
"Aku tidak memiliki waktu banyak. Aku harus segera membawa mereka pulang," ungkap Kennard.
Orang tersebut menunduk hormat, tentu dia menghormati Kennard sebagai raja. Dan sedikit pun dirinya tak berniat membuat Kennard menunggu. "Maafkan saya, Raja. Saya sarankan Anda untuk menginap beberapa hari lagi di sini. Karena pertandingan itu akan dimulai lusa nanti," usul orang tersebut.
Tentu Kennard tak setuju, terlihat jelas bagaimana geraman kecil dalam diri Kennard mampu membuat orang di depannya merasa terintimidasi. "Apakah kamu pikir aku suka menunggu? Bukankah ini sudah menjadi tugasmu? Beri mereka alasan masuk akal kenapa harus aku membawa Owen dan Agata pulang," ujar Kennard dengan sedikit emosi di sana.
Orang ini pun tampak tak bisa bertindak lebih. "Baiklah, Raja. Tetapi, kami harus berdiskusi dulu. Karena seperti sebuah peraturan, jika seorang anak sudah dimasukkan ke sini, maka peluang untuk keluar akan sulit jika tidak mendapat persetujuan dari seluruh dewan agung."
Oke, ini terlihat sangat menyusahkan bagi Kennard. Tetapi, sekali lagi sekolah ini menujukkan eksistensi yang besar dengan kualitas yang memumpuni.
"Baiklah, terserah padamu. Segera lakukan pertemuan itu saat ini juga. Selagi kalian berdiskusi, aku akan berkeliling sekolah ini," seloroh Kennard.
Orang yang sejak tadi menemaninya pun mengangguk setuju. Dia berpamitan kepada Kennard. Dan Kennard pun membiarkannya. Sekarang fokusnya tertuju kepada Agata, sang putri. Kennard kembali berjalan ke dekat lapangan, di mana gadis itu terlihat begitu fokus mengikuti pembelajaran di luar ruangan ini.
Dari tempatnya Kennard melihat jika guru meminta siswanya melakukan duel satu lawan satu. Pembelajaran utama yang memang harus diajarkan untuk setiap makhluk.
Tak disangka posisi pertama adalah Agata, dengan lawannya yang memiliki tubuh lebih besar darinya. Tatapan Kennard terus fokus, dia ingin melihat seberapa hebat putrinya sekarang.
Duel pun dimulai, tatapan Agata benar-benar menajam dan hanya tertuju pada lawan. Itu memang sudah seharusnya. Lawan melakukan serangan pertama, namun berhasil dihindari oleh Agata.
Kemudian Agata memberanikan diri untuk menyerang, tetapi malah meleset. Kennard berdecak kesal, padahal menurutnya kesempatan Agata sudah bagus.
"Fokus, Agata," peringat sang guru.
Duel pun dilanjutkan lagi. Kennard kembali fokus menatap putrinya di sana. Kali ini sang lawan melakukan serangan dan berhasil membuat Agata mundur dua langkah. Meskipun hanya dua langkah, namun hal ini membuat sang guru terlihat mengembuskan napas lelah, sedangkan Kennard masih berpegang teguh bila putrinya pasti bisa mengalahkan lawan.
Berhasil membuat Agata mundur, sang lawan pun merasa di atas angin. Dia terlalu terburu-buru menyerang lagi, namun Agata yang sudah bisa membaca polanya pun merasa tak kesulitan di sana. Bukannya melawan, Agata malah terus menghindar. Hal tersebut membuat sang guru menjadi frustasi, sedangkan Kennard hanya tersenyum tipis di tempatnya. Dia tau apa yang sedang putrinya buat sekarang.
Pihak lawan terus menyerang, dan Agata terus menghindar. Napas lawannya pun sudah tersenggal-senggal karena banyak mengeluarkan energi. "Apakah sudah?" ujar Agata dengan wajah pongahnya.
Karena ucapannya itu, ia berhasil membuat lawannya marah dan kembali melakukan p*********n pada gadis ini. Namun, Agata bergerak dengan cepat ke belakang tubuh teman sekelasnya itu dan langsung memelintir tanganya ke belakang hingga membuat lawannya menjadi mengaduh kesakitan.
"Cukup," perintah sang guru yang mengakhiri duel tersebut.
Agata membantu temannya bangun dan sedikit melakukan pijitan di lengan temannya itu. "It's oke, Ta. Aku baik-baik saja," ucap gadis tersebut kepada putri dari Kennard ini.
Semua murid pun berkumpul dan fokus kepada sang guru. "Apa pelajaran yang di dapat dari duek kali ini?" tanya sang guru kepada muridnya.
Salah satu orang mengacungkan tangan dan diberi kesempatan menjawab. "Jangan mudah marah dan terpancing emosi ketika menghadapi lawan."
"Selalu gunakan waktu yang tepat untuk menyerang."
"Temanmu adalah musuhmu yang sebenarnya."
Ya sekiranya begitulah jawaban dari teman sekelas Agata ini. "Ya, semua jawaban kalian benar. Agata menerapkan semua prinsip yang sudah kita pelajari sejak lama. Untuk Carrol, belajarlah mengendalikan emosi. Banyak-banyak meditasi," kata sang guru.
Kennard pun sudah tau bila putrinya memang sengaja mengulur waktu hingga membuat lawannya lelah, ditambah lagi dengan pemancingan emosi.
Kemudian sang guru pun meminta muridnya untuk belajar mandiri. Guru tersebut sepertinya merasakan keberadaan Kennard, dan dia langsung menghampiri pria tersebut. Sedangkan Agata nampak fokus belajar bersama teman-temannya di sana.
“Selamat pagi, Raja,” sapa sang guru. Tentu saja semua pasti mengenal raja werewolf ini.
“Pagi,” balas Kennard singkat.
“Saya sudah cukup banyak mendengar tentang Anda. Saya pikir ini waktu yang tepat untuk berbicara, terutama mengenai Agata. Saya adalah wali kelas Agata dan saya cukup tau bagaimana perkembangan dia selama ini.”
Kennard hanya menyimak saja di sini. “Dia tumbuh dan belajar dengan baik. Meskipun pada awalnya guru di sini harus ektra lebih bersabar dalam menghadapinya yang mudah emosi, tetapi sekarang semua tampak terkendali.”
Terlihat Kennard yang mengangguk. Dia tahu bila putrinya jauh lebih baik di bandingkan dulu, di mana gadis itu sudah jauh lebih bisa mengendalikan emosi. “Ya, aku sudah melihatnya. Terima kasih untuk bimbingan Anda selama ini.” Kennard tentu tak lupa untuk mengatakan terima kasih karena dia memang patut melakukan itu.
“Apakah Anda ke sini untuk menjemput anak-anak?” tanya sang guru. Tentang kedatangan para orang tua memiliki maksud tertentu. Kennard langsung mengangguk. “Waktu begitu cepat berjalan. Saya tidak menyangka akan kehilangan murid terbaik saya di kelas ini. Tapi, walau bagimana pun sang putri harus menempati istananya, bukan?”
Kennard adalah seorang raja, jadi Agata menempati tempat putri di kerajaan werewolf. “Ya, Anda benar,” sahut pria ini dengan senyum tipisnya.