“Owen,” panggil sang guru kepada pemuda yang tadinya sibuk mengobrol dengan teman-temannya. Owen pun menghampiri wali kelasnya tersebut. “Mari ikut saya,” perintahnya. Owen pun mengangguk dan mengekori gurunya itu.
“Agata,” panggil wali kelasnya. “Ikut saya,” perintahnya yang sama persis seperti wali kelas Owen tadi.
Kakak beradik ini bertemu di lorong yang akan menuju ke ruangan tempat biasa pertemuan dilakukan. Tentu Owen mengernyit ketika melihat keberadaan sang adik di sana.
Kemudian pintu besar di depan sana terlihat terbuka. Keempat orang yang baru datang ini pun segera masuk. Pandangan Owen dan Agata terhenti kepada sosok pria gagah yang tentu tidak akan pernah ia lupakan. Pria yang menjadi alasan mereka masuk ke sekolah ini. Pria yang setiap saat akan selalu mereka ingat.
Dengan wajah dingin dan datarnya, keduanya pun duduk di salah satu kursi yang kosong. Kennard sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari kedua anak-anak itu. Tentu ini akan menjadi tatap muka pertama mereka setelah bertahun-tahun lamanya.
“Karena semuanya sudah berkumpul, jadi mari kita bicarakan kelanjutannya,” ucap orang yang bertanggung jawab dengan sekolah ini. “Kami dewan agung sudah berdiskusi dengan matang. Melihat perkembangan Agata dan Owen yang sudah jauh lebih baik, kami telah memutuskan akan memberikan mereka ijin untuk kembali ke orang tua mereka,” ujar pria itu yang mana membuat Kennard lega.
“Tapi, Owen akan di sini lebih dulu untuk menyelesaikan misinya,” imbuhnya yang langsung mendapat tatapan penuh dari Kennard di sana. “Jadi, Anda akan pulang lebih dulu bersama dengan Agata, Raja,” sambung pria ini lagi.
“Aku ingin pulang dengan kedua anakku,” sela Kennard.
“Maaf, Raja. Itu adalah hasil diskusi kami dengan dewan agung. Owen harus menunaikan tanggung jawabnya. Ini juga masuk ke dalam pembelajaran kita,” jelas orang tersebut.
Owen mengangkat tangannya untuk menyela pembicaraan yang terlalu to the poin ini. Ya meskipun dia pribadi sudah paham maksud kedatangan Kennard ke sini. “Maaf menyela. Tapi, apakah kami berdua tidak diberikan kesempatan untuk bicara?” ujar pemuda ini dengan berani. Agata mengangguk, tampak setuju dengan Owen, sang kakak yang lahir berbeda beberapa menit saja dengannya.
“Baiklah, silakan bicara,” kata petinggi sekolah ini.
Owen mengangguk. “Jika kami pulang, apakah itu artinya kami tidak akan kembali ke sekolah ini lagi?” tanyanya.
“Tentu saja. Mereka yang sudah keluar dan mendapat persetujuan dari dewan agung di anggap sudah paham akan dunia luar. Kamu dan Agata sudah diijinkan untuk kembali, tetapi karena kamu masih memiliki tanggung jawab di sini, maka kamu harus tinggal beberapa hari lagi, Owen.”
“Bagaimana jika kami menolak?” ucap Owen membuat orang dewasa di ruangan itu mengernyit. “Bagaimana jika kami menolak untuk pergi?” terangnya.
Kennard tentu kurang suka dengan pernyataan sang putra. Dia ke sini untuk membawa mereka kembali, dan Owen dengan seenaknya mengatakan tidak ingin pulang? Alice pasti akan mempertanyakan kenapa anak-anak mereka tak mau pulang. Dan Kennard akan terus mendapat tekanan di sana.
“Apa alasanmu untuk tidak pulang?” sahut Kennard. Mungkin ini akan menjadi obrolan pertamanya dengan anak-anak setelah berpuluh tahun.
Owen tersenyum, seperti tidak takut sama sekali dengan sosok yang sedang dia hadapi sekarang, meskipun Kennard adalah ayahnya. “Maafkan saya, Raja. Tetapi, saya menganggap bila kepulangan kami tidak begitu penting bagi kerajaan werewolf,” tutur Owen yang malah membangkitkan amarah di dalam diri Kennard, namun masih mampu dia kendalikan.
“Bisakah kami berbicara bertiga?” pinta Kennard kepada petinggi di sana dan wali kelas dari kedua anaknya itu. Mereka mengangguk dan langsung meninggalkan tempat tersebut menyisakan ayah dan anak ini.
Kennard tak bergeming dari tempat duduknya, begitu juga dengan Owen dan Agata. “Jangan membuat semuanya menjadi rumit, Owen. Aku ke sini untuk menunaikan janjiku pada ibumu,” kata Kennard dengan nada yang ia buat senetral mungkin.
“Janji? Apakah itu artinya jika Anda tidak benar-benar mengharapkan kami kembali ke rumah? Rumah? Sepertinya itu bukan rumah kami,” ujar Owen membuat Kennard harus lebih bersabar. Sedangkan Agata nampak was-was karena dia tahu bila sang kakak tak menyukai ayah mereka. Hal itu pernah Owen katakan kepadanya.
“Pikirkan sekali lagi. Itu akan menjadi kerajaan kalian. Di masa depan nanti kamu akan menempati tahta raja menggantikan ayah. Jadi, jangan terlalu egois dan merasa tinggi untuk sekarang.”
“Tenang saja, Raja. Aku bahkan tak mengharapkan akan menjadi raja.”
“OWEN!” sentak Kennard yang sudah habis kesabaran. Bahkan Owen sama sekali tak menunjukkan rasa hormat kepada ayah sekaligus rajanya itu.
“Ayah, Kak Owen, berhentilah,” lirih Agata yang lelah melihat keributan dua laki-laki ini.
Atensi Kennard pun beralih pada sang putri. “Bagaimana denganmu, Agata. Apakah kamu akan sama keras kepalanya dengan Owen?” tanya Kennard yang sudah tak ingin berbasa-basi lagi.
Terlihat Agata yang murung. Dia bingung harus memihak kepada siapa. Selama bertahun-tahun lamanya hanya Owen yang selalu bersama dirinya di sini sebagai keluarga. Tetapi, dia juga merindukan Alice. Untuk Kennard, dia sebenarnya juga merindukan ayahnya, tetapi perkataan Owen terus terngiang di kepala.
“Aku merindukan ibu,” lirih Agata membuat Owen langsung menoleh kepada sang adik. Ia pikir Agata akan berpihak padanya. Mendengar jawaban Kennard membuat pria ini tampak sedikit lega.
“Agata. Kita sudah bicarakan ini,” seloroh Owen seperti tidak terima dengan keputusan sang adik. Mereka sudah sepakat untuk tidak kembali ke kerajaan karena mereka berpikir jika dulu keduanya telah dibuang oleh kedua orang tua merek sendiri.
Tatapan Agata tertuju pada Owen, terlihat gadis ini nampak memelas di sana. Owen langsung memutuskan tatapan mereka karena dia tak ingin terlihat lemah. Agata memegang satu tangan Owen di sana. “Kak … Kak Owen pasti ingat jika setiap malam Agata selalu memimpikan ibu. Agata benar-benar merindukan ibu, Kak.”
Owen menggeram. “Kau benar-benar egois,” ucap wolf yang ada di dalam diri pemuda itu. Owen yang mendengarnya pun langsung memutuskan komunikasi mereka.
Kennard menenangkan diri karena tak ingin terpancing emosi. “Jika kalian kembali, aku akan mengabulkan satu permintaan masing-masing dari kalian,” putus pria ini. Dan terpaksa Kennard melakukan ini, meskipun terlihat seperti menyogok dengan sebuah janji.
“Janji seorang raja harus ditepati,” sahut Owen. Kennard menatap putranya itu, apakah ini artinya pemuda ini setuju untuk pulang?
Perhatian Owen beralih kepada sang adik. “Baiklah, Agata. Kamu pulanglah dulu bersama Raja. Kakak harus menyelesaikan tanggung jawab di sini dulu dalam beberapa hari ke depan,” kata Owen yang berhasil membuat senyum di wajah Agata pun terpancar. Gadis ini pun langsung memeluk Owen saat itu juga.
Interaksi keduanya dilihat oleh Kennard. Dia tak menyangka hubungan kakak dan adik ini sangat erat sekali.
***
“Wah, apa ini? Semua makanan di sini nampak mengenakkan sekali,” komentar Luc yang sudah berada di meja makan. Frey pun terkekeh melihat mupeng sang mate. Ketika Luc hendak mencomot salah satu makanan di sana, tangannya langsung di pukul oleh Frey saat itu juga.
“Tunggu mereka datang dulu, Luc. Kita akan makan bersama-sama,” ucap Alice.
Luc mengernyit di tempat. “Mereka? Siapa, Kak?” tanya pria ini.
Suara langkah kaki yang mendekat membuat ketiga orang di meja makan itu pun langsung menoleh ke arah pintu. Bola mata Luc pun membulat sempurna ketika melihat sang kakak sudah pulang bersama dengan seorang gadis di sebelahnya yang tak lain dan tak bukan adalah Agata.
Alice yang melihat kedatangan mereka pun langsung bergerak dari tempatnya. Alice langsung menghampiri Agata lebih dulu dan memegang kedua pipinya dengan hangat. Agata yang pada akhirnya bisa bertemu kembali dengan Alice pun terlihat senang hingga mengeluarkan air mata, begitu juga dengan Alice. Alice membawa Agata ke dalam pelukannya, Agata terlihat membalas pelukan yang selalu ia rindukan ini.
“Putriku,” lirih Alice yang berkali-kali mengecup puncak kepala Agata di sana.
“Ibu,” panggil Agata untuk pertama kalinya. Mendengar panggilan itu membuat perasaan Alice berbunga-bunga.
“Ekhem, sebaiknya kita duduk dulu,” sela Kennard yang menjadi orang ketiga bagi ibu dan anak ini. Seakan baru paham dengan keadaan, Alice langsung membawa Agata untuk ke meja makan. Di sana sudah ada Frey dan Luc yang memandang Agata dengan penuh minat. Karena sudah bertahun-tahun lamanya, jadi Agata merasa canggung sendiri di rumahnya ini.
Alice mengambilkan makanan untuk Kennard dan Alice di sana. “Apakah cukup?” tanya Alice dengan lembut. Agat mengangguk di sana.
“Di mana Owen?” tanya Alice yang sama sekali tak melihat putranya.
Agata baru memasukkan satu suapan di ke dalam mulutnya kala itu. “Dia masih memiliki tanggung jawab di sekolah itu. Dia akan pulang dalam beberapa hari kemudian,” terang Kennard. Alice pun mengangguk paham.
Atensi Alice masih tertuju kepada putrinya yang sudah tumbuh dewasa dan semakin cantik. “Biarkan dia menghabiskan makanannya dulu, Alice,” tegur Kennard. Dia tak ingin Agat merasa tak nyaman di rumahnya sendiri. Alice pun mengalah dan ikut menikmati makanan mereka begitu juga dengan Frey serta Luc yang belum mengeluarkan suara mereka sejak tadi.
Setelah menikmati makanan mereka, nampak semua orang berkumpul di ruangan bersantai. Alice nampak tak ingin jauh-jauh dari putrinya. Kennard duduk di kursi tunggal di sana.
“Jadi dia Agata, Kak?” tanya Luc. Kennard langsung mengangguk. “Dia tumbuh dengan baik sepertinya,” komentar Luc di sana. “Hai, Agata. Kamu masih ingat paman, kan?” ucap Luc kepada gadis tersebut.
Agata memperhatikan Luc dengan baik-baik, kemudian dia mengangguk ragu. Sudah bertahun-tahun, jadi dia sedikit lupa karena memang ketika dia dan Owen di bawa ke sekolah itu, keduanya masih kecil.
“Sepertinya dia sedikit lupa,” seloroh Luc di sana. “Tapi tidak apa-apa. Mulai sekarang ingatlah dengan paman tampanmu ini, Agata.”
Frey mencubit kecil pinggang Luc karena berbicara ngawur. “Jangan kamu dengarkan pamanmu yang aneh ini, Agata. Oh iya, perkenalkan namaku Frey. Sepertinya ini adalah kali pertama kita bertemu. Aku adalah istri dari pamanmu ini,” ucap Frey yang memperkenalkan dirinya. Tentu saja mereka belum bertemu karena Frey sudah tertidur lama.
“Sepertinya kita harus membawa Agata ke kamar. Dia butuh istirahat karena perbedaan waktu di sini dengan di sana,” ujar Kennard. “Alice, kamu antar dia ke kamarnya,” perintah Kennard yang langsung dilaksanakan oleh sang istri.
Alice dengan senang hati mengantar putrinya ke kamar yang sudah ia siapkan. Tentu saja segalanya identik dengan perempuan. Ibu dan anak yang sama-sama cantik ini melewati lorong-lorong istana. “Bagaimana, Nak? Apakah kamu senang bisa pulang lagi?” tanya Alice. Agata mengangguk sebagai jawabannya.
Alice dan Agata masuk ke dalam kamar gadis itu. Terlihat Agata yang memperhatikan ruang pribadinya ini. “Ini kamarmu. Ibu sudah mendekornya ulang. Semoga kamu suka. Jika ada hal yang kamu inginkan, katakan saja pada Ibu,” ucap Alice.
“Terima kasih.”
Alice tersenyum. Dia membawa Agata untuk duduk di pinggiran tempat tidur. “Ibu senang bisa melihatmu lagi, Nak. Setiap saat Ibu selalu merindukan kalian. Dan Ibu bersyukur kita bisa berkumpul lagi.”
Agata juga senang bisa bertemu Alice lagi, tetapi yang dia khawatirkan adalah Owen di mana segalanya tak akan baik-baik saja jika Owen dan Kennard bertemu.
---
Btw, aku mau ingeti kalau mungkin ini cerita bakal fokus ke anak-anak mereka. Entah itu anak Kennard-Alice, Frey-Luc, atau Axele-Bella. Tapi, aku masih terusi cerita kehidupan Luc dan Frey pastinya. Jadi, jangan heran ya. Terima kasih untuk yang sudah mampir.