Satu

1994 Words
"Selamat ya, Cyiiinnn, kamu naik jadi Manager." Desti memelukku, memberikan ucapan selamat. Setelah pengumuman dari Departemen Head kami mengenai kenaikan posisiku sebagai Manager GA. Aku tersenyum, berterima kasih pada semua teman - teman yang memberikan ucapan selamat. Akhirnya, ada juga satu hal yang bisa kubanggakan di depan keluarga besarku. Setelah dua puluh delapan tahun hidupku yang dianggap stagnan, tidak ada kemajuan, hari ini aku membuktikan bahwa semua yang mereka pikirkan, salah besar. Aku bisa mengharumkan nama papa dan keluarga besar kami. Terlebih, aku bekerja di Perusahaan calon besan kedua orangtuaku, dimana Perusahaan papa dan Perusahaan tempatku bekerja telah sepakat melakukan merger setelah pernikahan kakak perempuanku, Alya dan putra ketiga dari pemilik Perusahaan tempatku bernaung, Elang. Di antara semua karyawan GG Cargo, hanya Desti lah yang tahu tentang berita itu. Karena hanya Desti lah yang tahu bahwa aku anak dari Pemilik Perusahaan Logistik dan Kargo lintas Internasional, Latief Hasan Kusumadewo. Karena akan menjadi pertanyaan besar jika anak seorang pemilik Perusahaan Kargo bekerja di Perusahaan milik orang lain. Yang mereka tidak tahu bahwa pernikahan bisnis akan terjadi di antara kedua Perusahaan beda kelas ini. Tapi bukan pernikahanku. Siapalah aku dalam keluargaku? Hanya anak nakal yang sulit diatur dan hobi membuat jengkel semua orang. Aku yang berbeda dari kakak dan adikku, mengundang banyak cibiran orang asing. Bahkan keluarga besarku sendiri. Tak jarang para sepupu, om dan tanteku mengejek bahwa aku berbeda dari saudaraku yang lain. Aku tidak secerdas dan secantik Alya, juga tidak se-aktif Arka yang populer di kalangan gadis - gadis. Bahkan hanya namaku yang berawalan huruf H. Wajahku, cetakan Papa. Plek ketiplek kalau Bowo --sahabatku-- bilang. Hitam, bulat dan pesek. Sementara kakakku Alya dan adikku, Arka sangat mirip dengan Mama. Kulit putih, wajah menawan dan otak yang cerdas. Entah mengapa, Eyang Ti dan Eyang Kung dari mama juga tidak menyukaiku dan selalu membanding - bandingkan diriku dengan Alya dan Arka. Secara intelektual, secara fisik dan pergaulan. Ya, aku kuper sekali. Temanku hanya dua yang sering kubawa ke rumah, Bowo dan Desti. Pacar? Hah, siapa yang mau dengan cewek jelek dan agak gemuk seperti aku? Aku tidak tahu bagaimana awalnya, rencana merger Dua Perusahaan Kargo yang lumayan besar menjadi konsentrasi Papa. Konon, kedua orangtua dari kedua belah pihak sudah merencanakan hal ini sejak jauh - jauh hari. Mengingat Alya dan Elang memang sudah menjalin hubungan asmara sejak dulu. Saat mereka masih sama - sama Kuliah, so, perjodohan bukan masalah. Atau memang itu taktik para orangtua untuk mendekatkan mereka? Bisa jadi. Aku tidak peduli. Selama bukan aku yang diatur - atur oleh Papa dan Mama. Lagipula, seingatku, selama ini Papa dan Mama juga hampir tidak peduli dengan apa yang kulakukan. Entah lelah atau karena memang tidak mau ambil pusing karena ulahku. Hanya Alya dan Arka yang mendapatkan perhatian lebih dari kedua orangtuaku. Di satu sisi, aku senang karena bebas. Di sisi lain, aku juga ingin merasakan dilarang pergi nonton konser atau sekedar nongkrong dengan Bowo dan Desti. Tapi, yasudahlah, memang kehilangan aku tidak seberat kehilangan kedua saudaraku. Mungkin. Aku keluar kantor dengan sumringah, setelah tadi mentraktir teman - teman satu divisi dengan empat loyang Pizza, aku pun bersiap pulang ke rumah. Mobil Jazz Putih yang kuberi nama Jazzy bahkan sore ini terlihat cantik menggoda. Meskipun aku belum mencucinya sejak sebulan lalu. Dan debu - debu mulai menempel mesra pada body-nya, hatiku yang bahagia hanya melihat kecantikan pada kendaraan kesayanganku ini. "Kita pulang, Jazzy. Kita kasih tahu orang rumah kalau aku naik jabatan, hihihihi. Biarin amat walaupun cuma Manager, yang penting bukan karena nepotisme. Ya enggak, Jazz? Kok diem aja sih, kayak lagi sakit gigi." Seperti orang bodoh, kukecup stir Jazzy dan mulai menginjak gas. Meninggalkan halaman Parkir gedung kantorku. Kami tinggal di sebuah kompleks Perumahan Elit di kawasan Bintaro. Macetnya jalanan di jam bubaran kantor menghambat perjalananku pulang. Perutku memang karung, meski tadi sudah dinafkahi pizza, cacing - cacing di perutku masih saja demo meminta makan lagi. Aku pun membeli martabak telur dua porsi, sekalian untuk orang rumah saat aku mengumumkan berita bagus ini. Pintu pagar tinggi berwarna putih terbuka lebar, kulirik jam di radio mobil, menunjukkan tujuh malam. Dan kulihat ada beberapa mobil terparkir sembarangan di pintu depan, menghalangi jalanku yang ingin menuju garasi. "Kak, parkir sini aja dulu. Banyak tamu Bapak." Pak Abdu, penjaga rumah kami, memberitahuku. "Siapa sih, Pak? Eenggak bener banget parkirnya." "Ada Eyang itu lho. Ganti mobil sepertinya. Sudah, nanti Pak Abdu saja yang bawa ke Garasi." Aku pun menyerahkan kunci pada Pak Abdu. "Yaudah, aku masuk ya, Pak." Pak Abdu mengangguk Membawa dua kotak martabak telur dengan kondisi satu kotak kumakan setengah, aku melenggang masuk ke dalam rumah. Baru juga hendak mengucapkan salam, kudengar suara teriakan Eyang Kung pada papa. Mertua yang semena - mena memang Eyang Kung itu pada papaku sayang. Begitu aku memasuki ruang tamu, kulihat Eyang Kung menunjuk - nunjuk papa dengan tongkatnya. Di sekitar mereka, ada beberapa pria yang tidak kukenal, lalu ada Elang dan Raja, Kakaknya, yang tengah menunduk lesu. Dan kulihat Mama menangis dalam pelukan Arka. Ada apa ini? Aku langsung menghampiri mama dan Arka, bertanya lewat tatapan mata pada adik tampanku. Arka menggeleng lemah, memintaku menunggu suasana penuh emosi ini mereda. "Sekarang kamu cari solusi, gimana caranya Gagah Gumilar tidak membatalkan kerjasama ini. Dia partnerku, Tif. Aku tidak mau dia kecewa." Eyang Kung memberi ultimatum pada papa. "Bapak kok yang dipikirkan hanya kerjasama dan Perusahaan saja? Alya di mana sekarang, Pak?! Itu yang aku mau tahu!" Jerit mama pada Eyang Kung. Tunggu, Alya? Di mana? Bukannya di kamar, biasanya? "Kalian berdua terlalu percaya diri dengan mendekatkan Alya dan Elang. Lihat sekarang anak itu? Malah kabur tidak bertanggung jawab begitu acara pertunangan diumumkan. Maunya apa?!" Tunggu, Alya kabur? Impossibruuu, Alya kan cinta banget sama Elang. Kulihat wajah Elang semakin pucat dan pias. Ia menunduk dalam - dalam. Apa yang dia lakukan pada kakakku sehingga kakakku melarikan diri? Apakah Elang selingkuh? Dan Alya muak padanya lalu memilih membatalkan hubungan mereka? "Saya akan cari solusi, Pak. Jika memang bisa tanpa pernikahan--" "Kamu mau menyatukan Perusahaan itu tanpa ikatan keluarga?" Potong Eyang Kung lagi. Walaupun sudah tua, stamina Eyang Kung luar biasa. Bahkan bicara saja masih tegas dan power full. Seperti yang barusan dilakukannya. "Kalau memang harus--" "Tidak bisa! Cerdas dong, Latief! Berapa umur Perusahaan yang merger dan dikuasai salah satu pihak karena berat sebelah? Karena tidak ada ikatan hukum, tidak ada ikatan kekeluargaan! Aku tarik sahamku kalau kamu semena - mena menyatukan AHA Express dengan GG Cargo." Ancam Eyang Kung lagi. Dan beliau adalah pemegang saham yang lumayan besar, belum lagi jatah Eyang Ti, ya istilahnya cuma numpang nama tapi kan kekuasaan penuh di Eyang Kung. Meskipun dirinya enggan memegang Perusahaan. Papa menghembuskan napas berat, Eyang Kung melirikku seolah aku adalah lalat yang berputar di sekitarnya lalu dalam sekejap mengacuhkanku lagi. Aku memutar mata. Sudah biasa. "Biarkan saya berbicara dengan Andita dulu, Pak. Baru saya kabari Bapak besok, Alya masih bisa dicari." "Mau cari kemana? Ujung Kulon?! Kalau dia mau akan pulang sendiri, enggak perlu dicari. Dia jelas tidak bertanggung jawab. Labil!" Cerca Eyang Kung. Aku mendengus tidak suka, mengundang tatapan jengkel Arka karena aku merusak suasana serius. Papa melirikku, "Elang bisa menikah dengannya." Bisik Papa pelan, namun cukup terdengar olehku, Eyang Kung dan Elang yang terlonjak kaget. Aku? Gusti! Aku belum mau nikah. Ngurus ikan saja mati, apalagi ngurus Rumah Tangga? Haduh! "Memang Elang mau sama anak ndablek begitu?" Tanya Eyang dengan pandangan meremehkan padaku. Astagfirullah, sudah bau tanah lho Eyang ini ngomong masih enggak difilter. Aku cemberut. "Pak, biar saya bicarakan ini dengan yang lain. Bapak istirahat saja dulu--" "Kamu ngusir?" Eyang Kung menaikkan kedua alisnya yang sudah memutih. "Maksud saya--" "Pak, Latief benar. Bapak istirahat dulu saja, aku akan berusaha mencari Alya jika memang Alya menolak menikah dengan Elang. Mungkin adiknya bisa menggantikan." Helloooooooo, Mama kira main bola apah! Pake pemain cadangan. Ini nikah lhoooo. Tapi semua jeritanku hanya tertelan dalam hati. Kurasakan wajahku dingin, pastilah aku sepucat mayat. Sementara kupandangi Elang di seberang sana memandangiku dengan ekspresi ngeri. Mukaku jelek banget apa ya? Sampai Elang tidak rela begitu diusulkan menikah denganku. Hiks. Jasmine jadi sedih. Ketika semua orang akan pulang, Papa entah berbicara apa pada Elang sebelum pria itu keluar pintu. Elang melirikku sekilas dan kudapatkan tatapan horor dari matanya. Duh, jangan lo kira gue mau deh nikah sama lo! Lalu Papa mengajakku bicara di ruang kerjanya, kuletakkan martabak yang sudah dingin di atas meja dan mengikuti Papa ke ruang kerja. "Duduk, Kak." Aku duduk, Papa meneguk minumnya sebentar kemudian memasang wajah serius. "Mbak Alya pergi, Kak." Terus, aku harus bilang WOW? "Kakak tahu kan, kalau pertunangan Alya dan Elang itu diadakan dua minggu lagi." "Masih bisa dicari, Pa." Usulku. "Masalahnya, Kak, Alya menolak menikah dengan Elang." "Kenapa?" Tanyaku, kepo. "Papa juga ndak tahu. Yang jelas, Alya mengancam kalau dipaksa menikah dengan Elang, dia akan bunuh diri." "Lho? Setelah semua ini? Maksudku, mbak kan pacaran dengan mas Elang itu lamaaaa."Jawabku dengan berlebihan. Papa melepas kacamata dan memijat pangkal hidungnya dengan perlahan. "Ndak ada yang tahu tentang itu, Kak. Kami semua ndak tahu. Kami kira mbak Alya dan Elang cukup bahagia dengan hubungan mereka." "Apa Elang pernah memukul mbak Alya?" Aku berspekulasi. "Papa sudah tanya, Elang bersumpah, dia tidak pernah memukul atau berkata kasar pada Alya." Aku manggut - manggut. "Kamu, mau kan gantikan Alya. Menikah dengan Elang?" Ini serius? "Pa, aku enggak bisa. Maaf, Pa. Pernikahan bukan hal yang bisa digantiin seperti itu." "Papa tahu, Kak. Kamu dengar sendiri apa kata Eyang tadi kan? Beliau akan menarik semua sahamnya di AHA." Aku berdecak kesal. "Tolong Papa, Kak." Bagaimana bisa aku mengabaikan permintaan Papa? Satu - satunya orang yang menyayangiku di dalam sini. Setidaknya, Papa tidak sepemilih Mama dalam mencurahkan kasih sayangnya. Papa bahkan sering memelukku saat sedang nonton tv atau saat akan bepergian jauh. Tapi ini pernikahan. "Elang cinta banget sama Alya, Pa. Dia enggak akan mau." Aku masih berkelit. "Dia sudah pasrah, Kak. Posisinya juga sulit." Oh em ji. "Selama ini Papa dan mama cuek aja deh dengan keputusanku. Dengan semua kegiatanku, kenapa hal yang paling sakral ini, aku harus menuruti Papa?" "Karena ini salah satu ibadah, Kak. Umur kamu juga sudah cukup." "Bukan! Tapi karena hanya aku satu - satunya harapan kalian. Aku si pemain cadangan. Jangan - jangan, Papa dan Mama rencana melahirkanku karena untuk mem-back up Alya?" Tuduhku. "Bukan begitu, Kak. Toh baru kali ini Papa minta tolong sama kamu." Tanpa kehilangan kontrol, Papa mengelus bahuku. "Tapi apa Papa pernah pikirin, apa aku bahagia dengan pernikahan dipaksakan seperti ini?" "Lihat Papa dan mama, kami bahagia. Kami juga menikah karena perjodohan. Andita terlalu cantik untuk Papa." Bisiknya pelan. "Tapi aku bukan Papa atau mama." "Tolong, Kak. Jika ada solusi lain, Papa tidak akan mengorbankan kamu." Dadaku sesak, mataku memanas. Aku si anak yang tidak pernah terlihat, kini ditodongkan senjata untuk memilih. Hidup atau mati. "Tolongin Papa, Kak. Setidaknya, biar kita berdua diterima dengan baik oleh Eyang Kung." Aku memicingkan mata ke arah papa. Maksudnya apa. "Apa eyang ada rencana menendang kita berdua kalau menolak? Dan Papa tidak dapat menemukan solusi untuk ini? Iya?" Cecarku. Papa memejamkan mata, "Papa banyak membuat kesalahan, Kak. Tolong bantu ringankan kesalahan Papa. Papa ndak minta apa - apa lagi." Kulihat mata Papa yang berkaca - kaca. Bagaimana mungkin aku tega melihat cinta pertamaku menitikkan airmata? Apakah Eyang sejahat itu pada papa, sehingga papa harus memohon padaku? "Hari ini aku naik jabatan, menjadi Manager GA. Aku mau nyampein itu tadi." Kataku dan bergegas meninggalkan papa sendirian di ruang kerjanya. Berjalan menuju kamarku, kulihat Mama sedang mengelus - ngelus foto Alya dan menangisinya. Mbak, lo itu bener - bener nyusahin. Enggak cukup apa lo merebut perhatian Mama selama ini dan sekarang lo menimpakan beban berat ini ke pundak gue? Benci banget gue sama lo, Mbak. Menutup pintu kamar, aku mengulang kata - kata papa tadi. "Setidaknya, biar kita berdua diterima dengan baik oleh Eyang Kung." Aku berdecih. Kalau aku menerimanya, apakah Eyang Kung akan berhenti membenciku? Dan melihatku seperti Alya? Atau setidaknya, seperti seorang cucu bukan musuh. My name is Happy. But I'm not Happy at all.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD