Setelah hampir dua jam mereka berkendara, akhirnya sampai juga di sebuah daerah perbukitan. Disana ada tempat makan sederhana yang tidak hanya menyajikan makanan lezat tapi juga pemandangan kota yang begitu indah, malam hari adalah waktu yang pas untuk melihat bagaimana wujud Jakarta dari atas bukit.
Rega mengajak Rani duduk di pinggir sekali, tepatnya diatas tebing. Lantai kayu yang berbunyi membuat debar jantung gadis itu.
"Are you sure ini aman untuk kita dudukin? Kita masih bisa kok liat pemandangan dari dalam". Katakan lah dia penakut, karena ketinggian tempat ini benar-benar memacu adrenalin Rani. Dia bukan phobia ketinggian, hanya saja tebing yang curam dan tak terlihat dibawah sana membuat aliran darah Rani seakan terpompa habis.
"Aman, kamu gak percaya sama aku?" Rani menggeleng pelan, ia menguatkan genggaman tangan mereka. Dia tidak sadar siapa yang duluan menyatukan tangan ini.
"Aku lebih percaya sama Tuhan dari pada sama kamu". Jawaban yang membuat Rega tertawa, cukup keras sampai beberapa pengunjung menoleh kearah mereka.
"Kalo itu, kamu harus percaya."
Rega mengusap punggung tangan Rani dengan lembut, ia tahu gadis itu gelisah sejak tadi karena tempat duduk mereka terlalu mengerikan bagi yang takut ketinggian tapi dia suka. Suka dengan aroma pepohonan dibawah sana, serta aroma vanila yang berasal dari gadis didepan nya, mereka menyatu di hidung Rega dan itu sangat menggoda iman.
Mereka memesan makanan, dan sekarang hidangan itu sudah berada didepan mata. Nasi hangat dengan asap yang mengepul, ikan asin bakar yang terlihat menggiurkan, serta sambal terasi dan lalapan segar. Tak lupa juga kuah pindang khas dari Palembang yang sangat digemari oleh Rega.
Susi membuatnya jatuh cinta pada masakan kota pempek tersebut, dengan gaya makan yang terlihat cukup biasa bagi orang-orang disana, namun sedikit aneh untuk Rega. Setelah mencoba nya, dia pun ikut menikmati hal itu.
"Kamu suka ikan asin? Really? Gak nyangka bapak Rega ternyata selera nya ikan asin peda". Rega hanya tersenyum menanggapi sindiran Rani, ia terlalu lapar untuk meladeni gadis itu.
"Pertama, kita makan dulu baru setelah nya ngobrol. Oke?" Rani memutar mata nya, tapi menyetujui perkataan Rega karena dia sendiri pun lapar.
Ketika mereka sama-sama sudah mencuci tangan, Rega mengangkat kedua tangan nya kemudian berdoa sebentar. Bersamaan dengan Rani yang menyatukan kedua tangan nya lalu ikut berdoa, mereka sama-sama memejamkan mata. Tak menyadari perbedaan yang begitu besar, cinta itu buta dan ya, itu benar adanya.
Setelah beberapa saat berdoa, mereka lagi-lagi bersamaan membuka mata. Dan perbedaan itu tak lagi terlihat, yang ada hanya Rega dan Rani, duduk berhadapan sambil mengulas senyum diwajah masing-masing.
"Selamat makan."
"Selamat makan."
Mereka bukan hanya lapar, tapi kelaparan. Perjalanan yang cukup memakan waktu membuat kedua nya sangat lahap menyantap hidangan, apalagi Rani yang tidak berhenti menyendokkan kuah ke mulut nya. Asin, asam dan gurih itu menyatu dengan sempurna dilidah. Kuah ini sangat nikmat, tak berbeda jauh dengan masakan Susi. Dia kenal makanan ini karena beberapa kali Susi pernah masak dan membawa nya ke kantor untuk dimakan bersama, mereka sedekat itu ya. Bahkan jauh sebelum Ari menikahi Susi, mereka sudah banyak berbagi hal menyenangkan.
Ngomong-ngomong soal Susi, ia jadi merinduka wanita itu.
Setengah jam berlalu, dan kini mereka berdua sudah mendapatkan tenaga kembali. Bahkan Rega sudah sendawa beberapa kali karena kenyang, porsi makan nya cukup banyak tapi tubuh pria itu tidak terdapat lemak sedikit pun. Nge-gym lah beb!
"Makanan nya super sekali, aku suka. Dari mana kamu tahu tempat ini?" Rani membuka suara untuk menanyakan hal yang menjadi sebuah pertanyaan dalam kepala.
"Udah lama tahu tempat ini. Sering kesini juga kalo lagi capek kerja".
"Sendirian?" Rani memang mengutuk dirinya yang lancang mengeluarkan pertanyaan laknat itu, banyak makna yang tersirat disana. Bego nya gak tertolong!
"Hmm, sendirian. Ini tempat yang akan selalu jadi favorit aku untuk menghilangkan jenuh, kamu yang pertama." Rega mengalihkan pandangan nya jauh kesana, melihat betapa kecil nya Jakarta dari atas sini. Indah, sangat indah dan memanjakan mata.
Rani, dia tidak tahu harus senang atau sedih mendengar itu. Andai saja Rega tak mempermainkan perasaan nya, mungkin dia akan percaya dengan mudah tapi sekarang sulit untuk dia terima. Bahkan meskipun ia melihat sendiri kejujuran itu didalam mata Rega. Gadis itu tak lagi menyahut, ia ikut menikmati angin sepoi-sepoi yang dingin. Udara disini masih sangat alami, sangat jarang kendaraan lewat, hanya beberapa mobil truk pengangkut barang saja.
Langit yang bertabur bintang, bulan sabit yang terang membuat suasana menjadi sedikit sendu. Rani hanyut dalam lamunan, tanpa ia sadari Rega sudah memandangi nya sejak beberapa menit lalu. Pria itu selalu suka melihat kedua mata Rani, meskipun sipit tapi ia sangat suka. Gadis itu, entah apa yang sudah ia miliki sampai Rega sendiri tak mampu berkata-kata untuk waktu yang lama.
"Jakarta memang indah, banget malah. Dari sini gedung-gedung disana keliatan kecil, apalagi jalan yang berliku kek ular cahaya". Rani masih fokus menatap pemandangan didepan sana.
"Ya, kamu benar. Pemandangan didepan sana sangat indah". Rega tidak melihat apa yang gadis itu lihat, dia hanya menujukan pandanga nya pada Rani. Dan objek itu jauh lebih indah dari Jakarta dimalam hari.
Rani yang tersenyum, pesona nya semakin bertambah berlipat ganda. Rega terusik dengan dengan hembusan angin yang menutupi mata gadis itu, membuat nya tak sadar dengan apa yang dia lakukan. Ia memajukan tubuh dan menyingkirkan helaian rambut milik Rani kebelakang telinga, membuat Rani terdiam.
Setiap sentuhan yang mereka lakukan, entah itu sengaja atau tidak, semua terasa begitu berbeda. Seperti ada jutaan volt listrik yang menyengat, dan sekarang ia merasa ada kupu-kupu yang tengah mengelilingi mereka. Ini pasti ilusi.
"Jangan pernah lepas kacamata nya ya, aku suka lihat kamu kek gini". Rega menyandarkan lagi tubuh nya, apa yang barusan dia lakukan itu sangat mengganggi Rani namun ia sendiri tidak sadar.
"Aku selalu lepas kalo mau tidur". Jawab Rani jujur.
"Ya, hanya lepas saat tidur. Selebih nya kamu harus selalu pakai, aku gak mau kecantikan kamu dilihat orang lain." Oh man! Mulut mu memang berbisa dan pandai merayu, sialan sekali karena Rani merona hanya dengan sebaris kalimat yang diucapkan Rega.
"Sama mandi juga aku pasti lepas". Rega terkekeh, Rani pun ikut tersenyum kikuk. Ia menjadi gadis penurut sekarang, tidak tahu sejak kapan. Permintaan konyol yang membuat gadis itu tersipu. Playboy biskuit!
Merasa kalau mereka sudah terlalu lama disana, Rega memanggil pelayan dan membayar. Saat kedua nya sudah keluar dari rumah makan itu, beberapa kali ia melihat Rani mengusap lengan. Disini udara memang sedikit menusuk, dan gadis itu hanya memakai kemeja tipis yang pasti akan terasa sangat dingin. Rega melepas jas dan memakaikan nya kepada Rani.
"Eh apa nih? Gak usah ini, nanti kamu kedinginan juga". Rani hendak melepaskan jas pria itu dari tubuh nya namun terhalang oleh tangan Rega.
"Pakai Rani, jangan buat aku ninggalin kamu disini cuma karena debat gak guna gini". Rani membisu, ia tahu kalau Rega itu adalah boss nya.
"Oke. Thanks ya".
"Hmm. ."
Mereka masuk ke mobil, Rega menurunkan suhu pendingin agar tidak terlalu sejuk. Rani pun sudah nyaman dengan pelukan hangat dari jas Rega, wangi coklat yang berpadu dengan wood itu menguar membuat nya begitu terlena.
Perut kenyang, hati senang, pikiran pun tenang. Dua jam, mungkin Rani bisa melelapkan diri ke alam mimpi sebentar. Rega membiarkan Rani membelakangi nya, gadis itu tertidur. Ia tersenyum dan membenarkan letak jas.
"Hope you will be happy, Queen".