Paradise

1454 Words
Rani melambaikan tangan pada sang adik, tadi sebelum keluar ia sudah menelpon adik nya untuk membawa motor pulang karena dia akan bersama Rega. Sekarang ia menuju parkiran mobil, mencari tempat duduk menunggu kedatangan Rega. Lima menit belum muncul juga pria itu, hingga akhirnya Rani memutuskan untuk bermain game di ponsel. Bukan game perang, apalagi tembak-tembakan seperti yang biasa Arifin mainkan. Pou, dia sangat suka dengan game satu ini. Apalagi bagian memberi makan, mandi atau justru mendandani Pou milik nya. Rega berdiri dengan jarak yang cukup jauh dari tempat Rani duduk, lagi-lagi ia suka sekali memperhatikan gadis itu. Dari sini, dia bisa melihat bagaimana rambut panjang Rani yang diikat asal itu terlihat sangat menarik, poni yang tidak rata serta kacamata yang melorot, entah sihir apa yang dia gunakan tapi Rega berdecak kagum dengan pemandangan itu. Fokus matanya yang tertuju pada ponsel, binar bahagia dan senyum merekah itu sangat mendebarkan jantung Rega. Dia sudah disini bahkan lebih dulu dari Rani, tapi mungkin karena perempuan itu tak menyadari nya jadi ia bisa leluasa memandangi dari jauh. Bibir Rega menyunggingkan senyum kala melihat wajah Rani cemberut, ia pikir permainan itu sangat seru hingga ekspresi Rani selalu berubah. Hembusan angin yang menerbangkan ego dan juga keangkuhan Rega telah menyatu dengan rasa kagum. Selama ini dia tidak terlalu memperhatikan bagaimana wujud Rani yang sesungguh nya. Namun dia sadar sekarang kalau Rani memang sangat cantik, bahkan tanpa polesan make up. Sadar ia sudah terlalu lama mengagumi kecantikan Rani, Rega melangkah kearah gadis itu. Tepat dihadapan nya, menghalangi sinar senja yang mengenai wajah wanita itu. Rani mengangkat kepala dan melihat sosok Rega yang tinggi menjulang, terpaan sinar membuat siluet pria itu bagai malaikat tanpa sayap. Mereka saling memandang dalam kediaman yang hangat, menyalurkan rasa yang membelenggu serta menyatukan emosi didalam nya. "Kita makan dulu ya, baru aku antar kamu pulang". Suara berat Rega membuyarkan semua hal yang bersarang dikepala Rani, gadis itu bahkan menundukkan wajah sebentar karena menyadari kebodohan nya yang memandang pria itu secara terang-terangan. Rani lagi-lagi tidak menjawab, hanya mengangguk singkat dan bangkit. Rega membuka kan pintu, cukup manis untuk lelaki yang sudah biasa melakukan nya pada banyak gadis. Hati Rani berdenyut, tapi ia menyembunyikan semua itu. Menikmati apa yang akan berakhir dan mencoba menerima jika semua hal tentang Rega memang harus segera dihapuskan. Pria itu masuk ke mobil, dan menyalakan nya. Saat mereka sudah keluar dari area kantor, Rani melihat ada Betran sedang menunggu diluar gerbang. "Stop! Ada Betran". "Tidak akan!" Rani menoleh ke samping, melihat wajah mengeras milik Rega namun itu hanya sebentar kemudian dia beralih pada Betran yang duduk diatas motor. Seingat Rani dia tidak ada janji dengan pemuda itu, tapi kenapa dia ada disini? Tak mau merasa bersalah, Rani mengirimkan pesan pada lelaki itu agar jangan menunggu nya. Berbeda dengan Rega yang terus melihat kaca spion, merasa kesal dan tiba-tiba saja mood nya memburuk karena kehadiran Betran. Dia tidak akan membuang kesempatan untuk meminta maaf pada Rani, dan sesuai kesepakatan mereka hari ini adalah yang terakhir mereka bicara. Rega sudah memutuskan untuk mengawasi proyek pembangunan kantor baru milik Ari di Palembang, mungkin disana dia bisa menemukan orang lain yang mampu mengalihkan pikiran nya dari sosok Rani. "Mau makan dimana?" Tanya Rega memecahkan keheningan, Rani bingung harus menyuarakan saran karena dia pun kehilangan semua isi kepala nya. Dan itu karena Betran. "Terserah, aku ikut aja". Rega mengangguk, lalu memutar balik arah mereka. Membuat Rani mengernyitkan alisnya. "Loh, kita mau kemana?" "Kata kamu tadi terserah. Kalo gitu ikut aja lah". Rega dengan santai nya menjawab pertanyaan Rani. Melihat arah perjalanan mereka yang sudah sangat jauh dari jalan pulang, Rani tak mau menebak kemana mereka akan pergi. Lagipula Rega pasti tak akan membiarkan dia turun sekarang. Rani menyandarkan tubuh, suasana kembali hening dan itu membuat aura disekeliling mereka semakin akward. "Putar lagu apapun please, gak enak banget kek gini". Rega menghidupkan bluetooth dan menyuruh Rani memilih sendiri lagu yang dia inginkan, hanya saja yang membuat perempuan itu merasa aneh adalah karena Rega menyodorkan ponsel milik nya. "Ambil Rani, aku gak bisa nyetir tangan satu terlalu lama". Desak Rega pada gadis itu agar mengambil ponsel ditangan nya, Rani pun kehilangan kata-kata. Kalau bagi kalian ini hal biasa untuk pasangan yang sedang kasmaran, memegang ponsel pacar atau suami, maka untuk Rani ini bukanlah sesuatu yang biasa melainkan langka, sangat teramat langka karena ini pertama kali dia menyentuh barang pribadi milik pria itu. Ponsel? YA INI PONSEL MILIK REGA! HELOO MIMPI APA YA GUE?! Pekik batin Rani didalam sana, dengan gugup ia menerima uluran Rega. Mereka tidak menjalin hubungan apapun, tapi entahlah. Bingung menjelaskan bagaimana suasana hati Rani sekarang. "Password nya?" "080808". Rani mengenal tanggal ini, tapi berhubung hati nya sedang bahagia jadi dia tak mau mengingat apapun. Kedua mata nya kembali membulat saat melihat wallpaper pria itu. "Gak, gak mungkin!" Bisik nya sangat pelan, Rega tak mendengarnya karena kelewat kecil tapi ia menunggu Rani memutar lagu. Wallpaper Rega foto mereka ketika di Jogja, dia ingat gambar ini diambil sebelum Rega ke Australia. Ini pasti mimpi. "Ketemu gak?" Rega mengejutkan nya lagi. "Spotify or Joox?" "Anything you want". Oke, ini benar-benar mengejutkan sekaligus berpotensi membuat jantung Rani meledak. Apa katanya tadi, anything you want? Hey man! I want you, would you be mine hah?! Oh s**t! Rani pasti sudah tidak waras, hanya dengan hal sepele seperti ini dia ingin membatalkan usaha move on. Rega terlalu manis, sumpah demi Tuhan pria itu sangat manis dan dia pasti akan kesulitan berpindah ke lain hati. Plin plan! Rani berdeham, ia memilih lagu lawas milik coldplay yang berjudul Paradise. Dan suara Chris martin mulai mengalun dengan indah, sesuai dengan perjalanan mereka yang tak tentu arah, lagu ini cukup mengusik ketenangan jiwa Rani dan Rega yang mulai hanyut dalam lirik. When she was just a girl She expected the world But it flew away from her reach And the bullets catch in her teeth Life goes on, it gets so heavy The wheel breaks the butterfly Every tear, a waterfall In the night, the stormy night, she'd close her eyes In the night, the stormy night, away she'd fly Mereka menikmati musik dan lirik, Rani merenungi setiap hentakan lagu. Sedangkan Rega sesekali menoleh kesamping, ia sengaja membesarkan volume dan membuka atap mobil. "Gak mau berdiri?" Rega tidak tahu suasana sore ini bisa berubah drastis hanya dengan sebuah lagu, bukan kah Tuhan itu memang suka dan mampu membolak-balikkan hati hamba nya. Mungkin saat ini Rega sedang difase itu. "Boleh?" Rani sangat antusias sekali, ini terlihat seperti orang kampung yang tidak pernah naik mobil mahal tapi kan Tuan nya sudah mengizinkan jadi Rani bisa dong berdiri dan menikmati kesejukan angin dari sini. "Yes, hati-hati karena aku bakal ngebut". Rani mengangguk, ia dengan sigap membenahi rok lalu berdiri. Tak lupa ia membuka sepatu nya, walau pun sejak tadi sikap Rega sangat tak terduga, bukan berarti dia akan mudah menerima jika Rani menginjak kursi mobil mahal nya ini. Hal pertama yang dia rasakan adalah derasnya angin menerpa wajah, lalu samar-samar dia masih bisa mendengarkan lagu tadi. Dia harus mengakui jika Coldplay tidak pernah mengecewakan dalam membuat lagu, meski tak sebanyak lirik lagu lain tapi hampir semua makna nya sangat menyentuh hati. Rani merentangkan tangan perlahan-lahan, memberanikan diri melawan angin yang menerbangkan semua kegundahan nya. Benar, kita perlu saran dari orang lain disaat kebingungan akan tetapi keputusan masih milik kita sepenuh nya. Ketika perasaan cinta itu tumbuh dalam hati Rani, ia tahu jika cepat atau lambat dia harus menghadapi yang nama nya rasa sakit dan kecewa. Rega tidak salah, karena sebelum Rani memutuskan untuk memberikan hati pada nya, pria itu memang sudah di cap sebagai playboy jadi memang tidak ada yang bersalah disini. Hanya saja Rani kecewa dengan sikap Rega yang selalu saja menghina fisik nya. Ia memejamkan mata, benar-benar menyatukan alam pikiran dan hati agar tahu kemana sebenarnya arah jalan yang harus dia tuju. Dan ketika ia membuka mata, Rani tersenyum melihat ukiran wajah itu dalam pikiran nya. "I LOVE YOU!!" Teriak nya kencang sekali, membuat beberapa orang dipinggir jalan menatap aneh kepada nya. Rani tak peduli, dia kembali meneriakkan tiga kata keramat itu dengan penuh percaya diri. Kali ini, lebih keras lagi. "I LOVE YOU, REGA SETIAWAN!" Rega yang sejak tadi fokus menyetir dibuat tersenyum sendiri. "I Love You too, Rani. More than yours". Rani tak akan pernah mendengar jawaban yang mengejutkan itu dari bibir Rega, tidak akan pernah karena pria itu bahkan enggan mengakui perasaan nya. Dia memang b******k, karena itu gadis sebaik Rani seharus nya tidak mendapatkan pria seperti Rega. Meski dia merasa tak rela jika Rani berpaling, namun Rega tahu. Ya, dia sangat tahu kalau hati mereka berdua sudah lama terikat. Bukan kah sudah pernah ku katakan, ada dua jawaban untuk sebuah ungkapan. Diterima lalu dirangkul, atau di tolak tapi tetap bersama. Kalian berada di sebelah mana?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD