Tawaran terakhir

1409 Words
Rega sudah membuat Ari menyetujui permintaan nya agar dirinya bekerja dikantor untuk beberapa waktu kedepan, bukan karena dia tidak mau pergi kelapangan tapi ada hal penting yang harus dia lakukan. Pria itu merasa sangat buruk belakangan, kehilangan fokus nya dan juga sering marah-marah tidak jelas, kalau pun orang tidak melakukan kesalahan maka ia sendiri yang akan membuat masalah dan menyalahkan orang lain. Rega berubah menjadi sosok yang sangat menyebalkan selama beberapa hari ini. Pagi ini dia sengaja datang lebih awal, untuk menunggu kedatangan seseorang. Siapa lagi kalau bukan Rani, alasan kenapa ia ingin berada dikantor juga karena gadis itu. Jam delapan, semua karyawan sudah datang dan mulai aktivitas mereka. Ada yang langsung masuk kedalam bilik, memfoto-copy, ada juga yang memulai dengan membuat secangkir kopi di dapur, yang terakhir ini hanya dilakukan oleh istri boss dan ketiga dayang nya. Selagi hal itu tak menjadi kendala, Ari mengizinkan Susi untuk melakukan apapun yang dia inginkan. Rega melangkahkan kaki menuju dapur, ternyata Susi dan Arifin sudah lebih kembali ketempat mereka masing-masing. Hanya tersisa orang yang dia tunggu sejak tadi bersama Winda. "Eh beb, si Betran udah akrab kan ya sama bokap lo. Kalian pasti di dukung penuh sama orang tua". Winda memulai percakapan, Rega hanya berdiri diambang pintu bersandar sambil memperhatikan dua gadis tersebut yang tak menyadari kehadiran nya. "Hmm, Betran baik dan bisa ngambil hati bokap gue. Jadi dia setuju banget gue sama tuh anak". Rani mengaduk minuman nya acak, namun raut tak tenang dan juga gelisah itu begitu kentara terlihat oleh Rega. "Terus sekarang udah jadian?" Rani menghentikan gerakan nya mengaduk minuman, lalu memandang wajah sahabat nya. "Menurut lo? Gue harus terima dia gak. Win, lo kan tahu gak semudah itu". Ujarnya penuh rasa keberatan, sudah dibilang kalau Rani masih mencintai Rega tapi karena sikap pria itu yang merendahkan nya dan juga mempermainkan Rani, maka dia hanya bisa berhenti. "Jadi kalian belom jadian, it's oke lah beb. Kalian bisa pelan-pelan jalan bareng, nanti juga terbiasa. Kalo modelan kek Betran, gue pasti bisa move on cepat deh". Winda menghabiskan coklat nya lalu memasukkan gelas kedalam wastafel. Mereka masih tak menyadari Rega disana, menguntungkan lelaki itu untuk semakin banyak mendengar obrolan yang membahas pria bernama Betran. "Gue cuma gak mau ngasih harapan terlalu banyak buat dia. Lagi pula lo tahu kan gue tuh gak mudah, temenan sama dia aja gue kek ngerasa udah berkhianat sama diri sendiri". Winda menggeleng tak setuju, dia tidak mau Rani menghukum diri sendiri hanya demi seorang seperti Rega. "Lo gak bersalah pada apapun beb, yang penting lo gak nyerah aja buat terus maju." Akhirnya sarapan mereka selesai, kini tinggal Rani yang membereskan tempat makan mereka. Namun tubuhnya membeku saat melihat sosok itu sedang menatap nya raut yang tak terbaca. "Rega. . Kamu sejak kapan disana?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja, Winda yang tidak sadar pun ikut menoleh dan menatap horor lelaki itu. "Sejak kapan lo disana?! Lo nguping ya". Winda bangkit dengan wajah sangar nya, mendengar semua cerita Rani membuat gadis itu juga ikut kesal pada Rega. Walau pun dia tidak bisa menilai hanya dengan satu sisi, tapi dia akan lebih percaya Rani. Rega berdecak, berjalan menuju mereka berdua tanpa memutuskan pandangan nya kepada Rani. Berdiri tepat dihadapan gadis itu dengan wajah yang menyebalkan bagi siapapun, songong! "Sejak tadi, dan yah hampir semua pembicaraan kalian aku dengar. Terutama makna dan tujuan dari setiap perkataan itu, yang menyiratkan kalau kamu gak bisa menerima orang lain. Susah move on, hmm?" Rani mengepalkan kedua tangannya, Winda pun ikut berdecih dengan perkataan Rega. Ia mendorong tubuh lelaki itu agar sedikit menjauh dari sahabat nya. "Susah move on bukan berarti gak bisa move on!" Semburnya semakin galak. Rega menaikkan sebelah alisnya. "Gue gak ngomong sama lo deh, mending diem. Kecil-kecil cerewet banget!" Kata Rega sambil memandang Winda seperti sesuatu yang sangat aneh. Sial! Winda bukan kecil tapi mungil, hello! Bedakan antara mungil imut dan kecil, teriak nya dalam hati. "Win, lo balik duluan ke bilik dulu deh. Nanti gue nyusul." Rani menengahi, Winda itu bar-bar jadi kemungkinan Rega akan mendapat cubitan maut pasti tak ter-elakan jadi mending dia selamatkan dulu. "Gak mau! Gue mau disini, nungguin lo. Ngapain sih ngomong sama dia lagi?" Dia tidak akan membiarkan Rani tergoda lagi sama rayuan pemuda sombong satu ini. "Gak papa, lo duluan ya. Gak lama kok". Rani menyentuh lengan Winda, mengusapnya memberi tatapan memohon. Melihat sahabatnya seperti itu, akhirnya mau tak mau Winda pun menurut. Ia sengaja menabrakkan bahu nya ke lengan Rega, membuat pria itu hanya memjulingkan mata. "Dasar kecebong!" "APA LO BILANG?! SIAPA YANG KECEBONG HAH?!" Teriak kesal Winda, sepertinya dia lupa kalau selain playboy yang sudah menyakiti hati Rani, lelaki itu juga wakil direktur disini. Winda mungkin amnesia soal yang satu ini, dia melupakan sopan santun dan tata krama. Nekad! "Beb, udah ya. Gak enak nanti didengar orang". Rani masih memohon agar gadis itu pergi, ia menghentakkan kaki nya ke lantai sambil mengumpat. "Temen kamu sakit, dia kekurangan gizi apa gimana? Udah tua masih aja segitu badan nya". Rega mengatakan hal itu setelah kepergian Winda, karena kalau tidak perempuan itu pasti akan semakin mengamuk. "Dia gak sakit, tapi kamu yang gak sehat. Bisa gak jangan body shaming? Kamu tuh keterlaluan!" Rani membalik badan membelakangi Rega yang tidak mengerti. Ia melanjutkan mencuci gelas bekas mereka tadi. Selain playboy, ternyata Rega juga berpikiran sempit, mungkin otak kecil Rega kekurangan asupan gizi maka nya tidak pernah berpikir dengan baik, atau menahan lidah nya sebelum mengucapkan kata-kata yang mengandung unsur penghinaan. b******k! "Aku gak body shaming ke teman kamu, lagi pula itu memang kenyataan kan?" "Iya, emang kenyataan tapi gak perlu kamu perjelas dengan omongan, apalagi muka songong kek gitu. Kamu tuh menyakiti dia tahu gak?!" Rega semakin bingung, sedangkan Rani hanya bisa menggeleng gemas. Bisa-bisa nya Rega tak sadar dengan sikap seperti ini bisa membuat orang lain terluka. Termasuk Rani sendiri. "Terserah, aku cuma mau dia pergi. Pulang nanti sama aku ya? Mau kan." Tawaran Rega terdengar sangat menggoda, tapi itu dulu karena sekarang Rani tidak mau lagi berurusan sama pria ini. "Aku gak punya alasan untuk terima tawaran kamu, jadi stop ya ngerecok hidup aku. Aku sudah menyerah sama kamu". Rani mengelap tangan nya dan menghadap Rega, menatap wajah lelaki itu. Debaran nya masih sama, ia selalu terpesona pada Rega. Dikeadaan apapun, lelaki satu ini selalu terlihat panas dan tampan. Mungkin ini gila tapi dengan rambut yang berantakan, kancing kemeja dibagian atas terbuka serta bibir penuh nan tebal itu benar-benar tampak lezat dan hal ini sangat tidak pantas dilewatkan begitu saja. Stop! Rani menghentikan otak nya berpikir soal sajian lezat didepan mata, beralih fokus pada apa yang sebenarnya mereka coba jelaskan. "Kali ini aja, kita pulang bareng". "Setelah itu aku gak akan ganggu kamu, anggap ini sebagai ucapan terima kasih aku karena kamu sudah mau mencintaiku selama itu. Mau ya?" Rani melihat kejujuran dimata Rega, dia tersihir hanya dengan sebuah permintaan itu. Bimbang sekaligus ragu mulai menggoyahkan tujuan nya untuk move on, memang nya siapa yang bisa menolak pesona pria seperti Rega setiawan. Cukup lama mereka dilingkupi keheningan, akhirnya Rani menganggukkan kepala setuju. Ya, ini akan menjadi terakhir kali mereka melakukan pembicaraan yang sangat mengganggu. Rani sendiri yang menjamin kalau besok dia akan serius melupakan perasaan nya pada Rega. "Baiklah, setelah hari ini tolong jangan ganggu aku lagi. Karena aku pun gak bakal ganggu hidup kamu, no more pain." Rega tersenyum, ia bertepuk tangan lega karena akhirnya gadis itu mau pulang bersama nya. Setelah berperang dengan pikiran dan akal sehatnya sendiri, Rega setuju untuk mengakhiri ini semua. Memberikan Rani harapan, itu sama sekali bukan cara yang bagus untuk menaklukan hati perempuan. Entahlah, bersama dengan gadis itu membuat Rega kehilangan banyak cara untuk merayu. Mungkin karena Rani terlalu mencintai nya jadi Rega tak perlu merayu apalagi menggoda dengan cara yang ekstrim, ia yakin Rani akan menyerahkan diri suka rela. Satu hal yang dia tak mau perbuat adalah, menerima penyerahan diri gadis itu disaat ia sendiri masih bingung dengan hati dan tujuan nya. Rega mengacak rambut perempuan itu seperti biasa yang dia lakukan jika Rani mau menuruti nya, tak disangka hal itu akan membuat rona merah di pipi gadis itu. Ditambah lagi jantung nya yang terasa akan melompat, ini justru jauh lebih menyenangkan dari pada menerima tips bulanan dari boss Ari. "Tunggu aku nanti sore diparkiran, jangan kemana-mana sebelum aku datang. Oke?" Rani mendadak kehilangan suara nya jadi hanya mengangguk. Kalian tahu rasa nya jatuh cinta untuk sekian kali pada orang yang sama? Ya, mungkin seperti itulah kondisi hati Rani saat ini. Sangat-sangat tidak tertolong.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD