Betran sedang menunggu Rani untuk dijemput pulang, mereka sudah janjian pulang bersama karena searah. Berhubung hari ini ia tidak memiliki pekerjaan tambahan, jadi ia langsung meluncur ketika Rani minta ditemani belanja. Ia tersenyum membaca pesan dari gadis itu, semakin kesini Betran sadar kalau sosok Rani bukan lah perempuan yang mudah membahas soal hati terlebih lagi walau pun cara nya bergaul bisa membuat orang lain salah sangka, bagi Betran dengan dekat seperti ini dan mendapat dukungan dari ayah Rani itu sudah lebih dari cukup.
Sudah sejauh itu dia mengenal keluarga Rani, jawaban nya iya. Karena memang keduanya sudah lama saling kenal, bahkan jauh sebelum Rani bertemu lagi dengan Rega. Tapi sampai detik ini hubungan mereka tidak lebih dari sekedar teman biasa.
Saat ia sibuk melihat semua postingan Rani di i********:, disitulah dia mulai mendengar suara orang yang sedang berdebat. Betran mengangkat kepala nya mencari sumber suara hingga dia melihat laki-laki yang menendang nya sedang memaksa Rani untuk melihat kearah nya. Betran menaikkan alis nya karena merasa kalau sikap Rega sudah keterlaluan. Ia pun menyimpan ponsel dan mendekat kepada dua orang itu.
"Hai. Ada apa nih? Dari tadi gue lihat kalian kek gak akur gitu". Betran hanya menatap wajah Rani, bukan karena dia tak tahu ada sosok lain disana tapi ya berhadapan dengan orang seperti Rega ini memang harus tenang.
"Kamu udah lama nunggu? Ayo bei, kita pulang. Tinggalin dia". Rani meraih tangan Betran, menggenggam nya erat, demi mengurangi rasa cemas ia bahkan tak sadar sudah terlalu kuat memegang tangan pria itu.
"Berhenti disana! Aku belom selesai ngomong". Rega kembali menarik lengan gadis itu, dan Betran pun tak tinggal diam.
"Lo mending diam, ini urusan gue sama dia!" Rega memasang wajah datarnya namun itu tak berpengaruh pada Betran, ia bahkan mengulas senyum manis nya.
"Dia gak mau ngomong sama lo, apa segitu aja gak bisa lo pahami bro?" Betran melerai tangan Rega yang masih mau meraih Rani, namun terhalang.
"Please, aku udah gak mau lagi bicarain omong kosong sama kamu. Kita sudah selesai!" Rani memohon sekali pada Rega agar melepaskan mereka berdua, tapi yang ia lihat justru senyuman licik dari pria itu. Betran tak mengerti kemana arah pembicaraan mereka namun ia juga bukan orang bodoh yang tak memahami situasi.
"Selesai? Kita bahkan gak pernah memulai apapun, Rani." Dengan senang nya Rega mempermalukan gadis itu, ia bahkan sengaja membuat nya kesal.
Sejak insiden malam minggu waktu itu, ia tak berhenti memikirkan bagaimana cara agar Rani kembali melihat nya, bahkan dengan cara memaksa pun sudah ia lakukan tapi perempuan itu masih enggan meladeni nya. Karma bosskuh!
"Ran, lo mau gue tetap disini atau nunggu disana. Mungkin kalian butuh waktu untuk ngobrol, gue gak papa nunggu". Betran mencoba untuk memberi ruang, meski ia juga menyadari kebodohan nya karena sudah mendatangi mereka tadi. Tapi sekarang ia tahu, jika masalah Rani dan pemuda ini mungkin sedikit rumit. Lagi pula ia tak memiliki masalah apapun pada Rega jadi rasanya, ia akan membiarkan Rani menyelesaikan masalah yang ada.
"Enggak!"
"Ya! Lo bisa pergi dulu dan kasih gue waktu buat ngomong sama dia". Rani menatap tak suka wajah Rega, tapi pria itu bersikap angkuh tak peduli jika sekarang dia benar-benar terlihat seperti seorang mantan yang mengharapkan bisa balikan.
Betran melepaskan pegangan Rani pada tangan nya, meski ia tahu ini beresiko juga pada hubungan mereka namun bukan hal yang buruk untuk mempercayai sebuah keputusan. Lagi pula, Betran cukup tahu diri kalau Rani belum menerima dirinya sepenuh hati. Dan sekarang dia menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang selama ini memenuhi otak nya, laki-laki yang sedang berdiri didepan nya dengan gaya angkuh dan juga sinis itu mungkin penyebab dari sikap Rani yang selalu menghindar jika membahas soal hati.
"Gue kesana dulu, lo bisa ngomong sama dia." Pria baik hati itu kembali berjalan kearah motor nya, memberi waktu pada Rani dan Rega. Meski dia tak bisa melepaskan pandangan nya dari kedua manusia itu tapi tetap saja ada yang berbunyi didalam sana, tak terlihat tapi begitu terasa denyutan nya.
"Maaf..." Setelah Betran menjauh, Rega langsung mengucapkan kata itu. Terdengar sangat tulus, tapi Rani sudah tak mengharapkan nya lagi. Ia sendiri tidak tahu kenapa menerima permintaan maaf Rega sangat sulit padahal ia masih sangat mencintai nya.
"Aku udah maafin kamu. Jauh sebelum kamu meminta nya, jadi bisa gak kita bersikap biasa aja. Aku udah gak ganggu kamu lagi". Rani menegakkan tubuh nya, melihat ekspresi apa yang tergambar diwajah Rega.
"Justru itu, Rani. Aku.. mau kamu mengganggu ku lagi, aku mau kamu memperhatikan ku. Aku tahu semua perkataan ku waktu itu sangat menyakitkan, tapi aku sangat merasa kehilangan kamu. Aku seperti pria b******k setelah melihat kamu bersama orang lain". Rega mengatakan sebuah kebenaran, tapi terdengar lucu di telinga Rani hingga ia terkekeh miris.
"Kamu menginginkan perhatian ku, bahkan setelah menyakiti hati ku. Kamu pikir aku ini apa, Rega? Dan ya, kamu memang laki-laki b******k yang sudah menghancurkan hatiku."
"Tapi aku menyesal, sungguh! Aku beneran menyesal sudah menyakiti kamu, but. . Please, comeback to me, queen." Rega menyumpahi diri nya sendiri karena mengatakan kalimat menjijikan barusan, sialan! Dari mana kata-kata itu datang, ini bahkan tidak seperti yang dia rencanakan sebelum nya. Dia hanya ingin merayu agar Rani kembali melihat kearah nya tapi kalimat itu jutru membuat diri seolah-olah sangat mengharapkan Rani dalam hidupnya, memag b******n sialan!
Rani tertegun mendengar semua itu, jujur saja hati nya merasa tercubit karena ungkapan Rega yang sangat manis ini. Dia belum pernah melihat Rega begitu memohon, Rani bisa meledak detik ini juga kalau terus ditatap hangat seperti sekarang. Ia bahkan harus menahan kedutan diwajah nya agar tidak tersenyum.
"Enggak! Aku udah memutuskan untuk move on dari kamu, lagi pula kamu gak mendapatkan apa-apa dari aku. Masih banyak gadis lain yang mau menerima kamu. Aku mau pulang!" Rani benar-benar sudah gila karena begitu jujur ingin move on tapi ia memang sudah bertekad bulat, dukungan dari para sahabat nya pun tak mau dia sia-sia kan. Berbeda dengan Rega yang berubah jadi kesal sendiri karena ditolak, ayolah dia belum pernah memohon seperti ini pada siapapun. Bahkan ia akan suka rela melepaskan gadis-gadis yang hendak meninggalkan nya jika mereka menuntut sebuah kepastian. Dan sekarang Rani menolak permohonan itu, gadis ini pasti tidak sadar siapa yang ia tolak! Pemikiran Rega benar-benar kacau, kepercayaan diri selangit membuat nya lupa pada benih yang telah ia tanam sebelum nya.
"Kamu menolakku? Benarkah? Pikirkan sekali lagi sebelum kamu melakukan nya, Rani. Kamu bahkan tidak sadar siapa yang saat ini sedang bicara". Rega tak mau ego nya tergores, dasar playboy cap biskuit! Dia pikir kaca yang sudah hancur bisa disatukan kembali, tidak lah bodoh!
Rani mulai lagi merasakan ketidak tulusan pria itu dalam tutur katanya, sikap menyebalkan Rega yang lagi-lagi membuat Rani sadar kalau Rega tetaplah si b******n playboy yang selama ini sudah mempermainkan perasaan nya.
"Aku sadar, seratus persen sadar dengan siapa aku ngomong. Maka dari itu, aku gak mau lagi ber-urusan sama orang kek kamu. Cukup disini aja udah, aku juga mau bahagia sama hidup ku tanpa orang kek kamu".
Rani berbalik meninggalkan Rega yang tercengang, otak nya kembali berpikir untuk membuat Rani menarik kata-kata nya.
"KAMU YAKIN BISA? Ayolah, kita bahkan sangat menikmati ciuman waktu itu. Dan aku yakin, itu akan menjadi kenangan terindah buat kamu". Rega sengaja mengeraskan suara nya, langkah Rani terhenti yang kini sudah berjarak beberapa meter dari pria itu, Betran hanya bisa terdiam. Dia cukup terkejut, tapi berusaha menyembunyikan nya.
"Kamu benar-benar b******n!" Umpat Rani kesal, ia malu dengan pernyataan itu. Wajah sialan nya ikut merona mengenang kejadian di ancol, ya Tuhan! Selamatkan Rani dari situasi memalukan ini.
"Hei! Lo tahu, dia bahkan membalas ciuman gue dengan penuh gairah. Dia gak sepolos itu tahu". Rega menyerukan hal itu kepada Betran, yang membuat pemuda itu hanya memandang aneh kearah nya. Lelaki sinting!
Rani yang merasa jika saat ini Rega sedang mempermalukan nya pun kembali berjalan menuju kearah nya, yang menarik adalah gadis itu bahkan menendang tulang kering Rega dan membuat pria itu berteriak kesal.
"b*****t! Kaki gue sakit sialan". Bahasa tidak baik itu terucap begitu saja dari mulut nya, belum puas hanya dengan satu tendangan Rani juga menginjak kaki Rega menggunakan highheel nya yang lancip.
"Makan tuh ciuman!" Sembur Rani lalu menjauh dari Rega yang sedang melompat kesakitan karena ulahnya, siapa suruh membuat malu gadis itu. Begini-begini Rani sudah berguru dengan Arifin jadi ia pasti menemukan solusi untuk hal seperti sekarang.
Betran tertawa melihat nya, tapi ia juga tak bisa membantu. Karena yang sebenarnya terjadi adalah, mungkin Rega adalah rival dimasa mendatang. Tidak sekarang, tapi nanti.
Rani segera menaiki motor Betran dan menyuruh pemuda itu segera tancap gas meninggalkan Rega yang masih kesakitan.
"Gadis sipit sialan!"