Curhat

1300 Words
"APA?!" Sahut mereka bertiga kompak, mulut yang penuh dengan makanan hampir saja tersembur ke wajah Rani dan kalau memang itu terjadi maka Arifin akan mendapat tendangan maut dari nya. "Lo ngomong gak usah pakek kuah juga kali Ar, abisin dulu tuh makanan. Kampret bener bau jigong!" Rani mengambil tissu dan mengelap wajah nya, lelaki itu bersikap biasa saja. Ia justru menambah suapan nasi ke dalam mulut, sedangkan Winda dan Susi memandang wajah Rani dengan tatapan yang sulit di mengerti. "Masa sih, Rega sampai segitu nya beb? Selama ini dia biasa aja kalo lo kasih perhatian, terus sekarang pas lo ketauan jalan sama cowok lain eh dia malah ribet, nendang anak orang pula! Gak waras!" Winda menggeleng tak percaya dengan cerita yang Rani katakan, namun ia juga tak memahami situasi apa yang sedang terjadi di antara kedua nya. Yang pasti, Winda dan yang lainnya tahu kalau Rega memang tidak pernah menyatakan cinta terang-terangan. Susi yang sejak tadi hanya memperhatikan pun dibuat kesal sendiri dengan adik Ari satu itu. Memang sih Rega adalah anak yang baik dalam keluarga Setiawan, ia tahu jika pria itu tak pernah membuat masalah serius kecuali keliaran nya dimalam hari, atau gonta-ganti pasangan setiap ada kesempatan, tapi menurut Susi itu hal biasa untuk seorang lelaki. Tidak ada yang membenarkan sikap bebas Rega, namun ya kita juga tidak bisa melarang seseorang untuk melakukan sesuatu yang menurut mereka sudah biasa. Apalagi lelaki itu bertahun-bertahun tinggal diluar negeri yang tentu adat-budaya berbeda dengan disini. Jadi Susi mencoba untuk jadi netral, meski dia menyayangkan sikap Rega yang merendahkan gadis didepan nya itu. "Menurut gue, Rega tuh kesal karena lo mulai menunjukkan sikap acuh dan malah mencari orang lain sebagai pengganti. Gue juga gak ngerti sih, hubungan kalian tuh gimana tapi ya, semakin kesini kita bisa lihat kalau sebenarnya Rega tuh gak mau kehilangan perhatian dari lo, Ran". Susi memandang wajah ketiga sahabat nya bergantian, melihat respon mereka. Winda menjetikkan jari nya. "Nah tuh, eh beb gini ya. Mau se dinging apapun cowok itu, atau sebanyak apa dia deket sama perempuan lain, kalo dikasih perhatian terus sama lo yang begitu tulus, gak mungkin si Rega tuh bisa ngelewatin lo gitu aja. Bukti nya, kalian ciuman di ancol? Itu tuh menjadi tanda kalau sebenar nya, Rega juga suka sama lo tapi karena keseringan gonta-ganti pasangan dia jadi gak memahami perasaan dia sendiri". Rani mendengarkan secara seksama ucapan Winda, dia mau saja setuju dengan anggapan itu tapi perkataan Rega yang membahas soal fisik sungguh melukai keepercayaan diri nya. Kalau saja pria itu hanya marah tanpa mengatakan apapun, mungkin Rani akan tetap berusaha mendekati nya tapi sekarang, dia harus benar-benar berhenti mengejar. Kejadian semalam membuat ia berpikir jika selama ini telah salah ber-urusan dengan pria seperti Rega. Arifin menyelesaikan makan, membuang bekas nasi itu ketempat sampah dan mencuci tangan. Rani yang melihat nya pun langsung bersuara. "Menurut lo gimana Ar, gue harus apa? Gue tuh ya masih cinta banget sama dia, tapi cinta gue ini lebih ke untuk nyuruh gue jadi bego. Capek tau". Rani memijit pelipis nya, membenahi kacamata. Lagi-lagi dia diserang segala macam pikiran yang sama sekali tidak membantu nya dalam hal ini. "Tetap move on, lo harus sadar kalau gak selama yang kita kejar itu bisa kita dapatkan." "Jangan hati seseorang, kita tanam pohon buah aja kadang gak sesuai apa yang kita harapkan. Lo pernah gak nemu pohon mangga yang tinggi menjulang, lebat daun nya tapi tidak berbuah satu pun. Dari luar memang terlihat sangat menarik, tapi jika tidak menguntungkan kita untuk apa dipertahankan. Rega mungkin suka sama lo, tapi membuat dia sadar dengan perasaan itu hanya akan menyakiti diri lo sendiri." Arifin kembali ke mendekati meja, lalu mengusap kepala Rani yang kini menatap nya dengan tatapan sedih. "Lo harus move on, biarkan waktu yang membuat Rega sadar. Sekeras apapun lo menginginkan dia, kalau kata Tuhan bukan sekarang ya gak bisa dipaksa. Mungkin nanti, sepuluh tahun yang akan datang, Rega bakal jadi milik lo, bahkan tanpa lo minta dia akan datang sendiri". Susi dan Winda hanya mampu terdiam, mereka benar-benar kagum dengan sosok Arifin yang kadang bisa menjadi sangat bijak. Sayang sekali sikap bijak ini tak selalu ada disetiap keadaan, sungguh sesuatu yang langka terjadi. Rani harus berterima kasih dengan lelaki gendut ini, karena dibalik kemesuman yang ada dalam dirinya tersimpan begitu banyak kebaikan, ia harus akui kenapa Winda bisa dengan mudah jatuh cinta pada lelaki ini. Meski pun begitu, ia berharap kalau Arifin juga mulai sadar kalau sahabat nya itu juga mengharapkan hal yang sama dengan nya, yaitu balasan. Meskipun Winda tak begitu menampakkan perasaan nya dihadapan ia dan Susi, tapi Rani memahami betul posisi itu. "Thanks ya Ar, gue berhutang nasehat sama lo." "Lo gak perlu balas gue dengan sesuatu yang mahal, cukup kuota dan pulsa karena paket bulanan gue sudah habis. Game gue udah tiga hari gak dijamah, lagian cewek-cewek online gue juga pada nungguin kabar dari abang Ifin". Susi melemparkan kentang goreng kewajah Arifin, Rani memutar kedua matanya gemas, sedangkan Winda menahan diri agar tidak menghujat. "Abang Ifin?? JIJIK FIN, JIJIK SUMPAH!" Winda mengejek panggilan itu dengan mimik wajah yang menyebalkan tapi Arifin hanya memandang nya sekilas. Mereka berdua memang tidak pernah berbaikan, tidak jelas juga mau dibawa kemana hubungan yang selama ini terjalin. Kasus nya hampir sama tapi Arifin dan Winda itu sejenis, berbeda dengan Rani. "Sewot lu janda! Urusin aja noh pacar pengangguran lo itu, cewek t***l emang susah". "Bangke lo ya Fin, gue bego terus lo apa? Baby ngepet lo emang". Susi menutup telinga nya mulai terganggu dengan perdebatan yang pasti akan panjang ini. "Gue gak bego, cuma realistis aja kalo cari pasangan gak mau yang bego kek lo Win. Lagian udah tau cowok itu cuma numpang idup, masih aja mau dibebani. Lo aja beban orang tua, pakek nanggung orang lain. Bego juga ada batas nya kali, nanti diselingkuhin ngadu sama gue. Apa gak bego?" Winda menggeram kesal dengan pernyataan Arifin yang memang fakta, tapi dia lebih kesal karena tidak bisa membalas perkataan Arifin. "Lo tuh emang mulut setan ya Fin, benci gue!" "Alah lo benci-benci, gue perkosa juga nih". "STOOPP! LO BERDUA BISA DIEM GAK?!" Susi menutup telinga nya pusing karena pertengkaran tak berbobot kedua sahabat nya itu. "Gue kawinin juga lo berdua, heran gak bisa banget ya ngomong santai jangan pakek urat". Rani terkekeh melihat wajah masam Winda dan Arifin, namun masih saja mereka saling mengatai dan menyumpah lewat tendangan kaki dibawah meja. Persis seperti anak kecil. "Lo berdua kalo disatuin, gak ngerti lagi gue gimana anak-anak nya. Emak bapak modelan kek gini, anak nya pasti masya allah". Rani terkikik geli membayangkan hal itu, dia sangat terhibur sekali, melupakan masalah nya sendiri. "Udah, Ran. Kita tinggalin mereka, bisa budek gue lama-lama disini". Susi mengajak Rani kembali ke bilik, menyisakan dua orang yang masih saling menatap satu sama lain dengan tatapan permusuhan. "Apa lo liat-liat?" Winda memicingkan matanya melihat wajah Arifin, dibalas hal yang sama dengan pria itu. "Apa?! Gue punya mata, ya bisa liat lah". "Gak usah liat gue, liat dinding sana!" Perintah nya namun diabaikan oleh Arifin, ia semakin memandang Winda penuh cemooh dari atas kebawah. "Heh, cewek bego gini nih. Si t***l". "ARIFIN BANGKE! STOP NGATAIN GUE BEGO". Winda memukul bahu lelaki itu kesal, ia tak terima dikatai seperti itu. "Nyenyenye. Si t***l, pakek banget". Winda semakin meraja lela memukul lenga Arifin bahkan mencubit nya dengan kuku saking sebalnya dengan pria itu, namun bukan Arifin kalau tak bisa semakin membuat Winda berteriak. Lelaki itu mengacak rambut indah Winda yang semakin membuat nya histeris. "RAMBUT GUE!!!! ARIFIN SIALAN JANGAN DIRUSAK RAMBUT GUE AHHH HUWAHH". Dan begitulah pemirsah, banyak hal yang tidak bisa kita tentukan akhirnya. Namun satu hal yang pasti adalah, jadilah bijak ketika ada orang lain yang membutuhkan hal itu untuk menenangkan hati nya. Dan jadilah setan jika mungkin hal itu bisa menjadikan suasana semakin riuh, itu saja sekian dan terima kasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD