"Jadi sebenarnya, kita ini sudah lama pendekatan tapi gak jadian. Itu karena lo gak memberikan gue lampu hijau, jadi ya stuck disini aja". Pemuda itu terkekeh saat mengatakan nya, ia hanya tidak habis pikir dengan jalan cerita yang sedang mereka buat. Gadis didepan nya itu sangat terbuka pada nya, hanya jenis keterbukaan Rani bukan lah sejenis yang bisa di terjemahkan. Betran bahkan tak tahu bagaimana harus bersikap jika ada masa nya perempuan ini akan menghilang selama berhari-hari, kemudian akan muncul di tempat kerja nya secara tiba-tiba. Seperti sekarang, mereka sedang menghabiskan malam minggu dengan menonton bioskop, lalu makan disalah satu cafe dalam mall, disinilah mereka akhirnya. Duduk berhadapan sambil bercerita, atau lebih jelasnya Betran sedang mencoba menggali perasaan Rani kepada nya.
"Gue juga gak ngerti kenapa sampai saat ini, perasaan gue masih begini aja sama lo. Padahal gue sudah berusaha menerima lo, tapi tetap aja. Bei, lo tuh seru di ajak jalan, temenan bahkan curhat sama kek Arifin. Itu lo cowok gendut yang pernah gue ajak ke tempat lo". Betran tertawa lagi, dia ingat betul sosok itu. Laki-laki yang memberikan nya tips untuk bercinta secara sehat meski belum menikah, Arifin benar-benar m***m. Betran merasa lucu sendiri
"Iya, gue tahu. Gue gak akan tahu kalau dia sudah setua itu dan masih melajang, tapi sangat paham persoalan bercinta. Gak habis pikir sama dia, kalian udah lama kenal?" Rani mengangguk, ia meminum jus semangka nya lalu melirik sekeliling nya.
"Gue sama dia udah lama kenal, sejak masuk kerja disana. Oh iya, gue ke toilet sebentar. Lo gak papa kan nunggu?" Rani bangkit dan meraih tas nya, menanti jawaban Betran.
"Gak papa. Telpon gue aja kalo lo lupa jalan balik kesini". Rani tertawa, lalu ia pergi menuju kamar mandi umum disini.
Betran menghabiskan makanan nya, sambil memainkan game di ponsel. Pikiran nya berkelana dengan semua harapan yang terpampang didepan mata, kemajuan hubungan mereka semakin hari semakin baik. Jadi ia tak mungkin menyerah lagi untuk mendapatkan hati Rani.
Di toilet, tempat Rani melepaskan hajat nya. Gadis itu meraih tas dan mengambil tissu basah, membersihkan diri nya kemudian merapikan diri lalu keluar. Ia membersihkan baju nya yang terkena tumpahan saos, dia sendiri tidak menyadari kapan baju yang dia kenakan itu ternodai.
Karena terlalu fokus membersihkan baju, Rani sampai tak menyadari jika ada orang lain disebelah nya yang baru saja keluar dari toilet dan sedang mencuci tangan.
"Mm, permisi. Maaf sebelum nya, apa kamu punya lipstik? Atau liptint, aku meninggalkan tas ku di mobil". Seorang gadis nan cantik jelita dengan pakaian serba putih serta hijab yang menghias kepala nya itu sangat lah anggun menegur Rani, ia pun melihat kearah sang punya suara.
"Ah ya, aku hanya punya liptint. Nude colour, kamu gak keberatan?" Wanita bak jelmaan malaikat itu tersenyum manis, kemudian mendekati Rani.
"Tidak masalah, dengan kamu memberikan nya secara gratis saja itu sudah membantu ku". Ia menerima uluran liptin itu dari Rani, menghapus lipstik merah di bibir nya menjadi warna nude milik Rani.
Rani memperhatikan wanita itu dengan seksama, ia merasa familiar dengan wajah ini tapi ia tak ingat dimana mereka pernah bertemu, aatau ini hanya seperti kilasan dejavu saja. Rani tersenyum melihat bagaimana manis nya lesung pipi wanita berhijab itu ketika melihat kearahnya.
"Cantik". Puji nya tanpa sadar.
"Terima kasih ya . . "
"Rani, nama ku Rani". Ia memberikan liptin itu dan memegang tangan Rani penuh kehangatan.
"Sekali lagi, terima kasih ya Rani. Aku tidak percaya diri dengan dandanan seperti ini, meski kamu bilang cantik tapi tetap saja itu tidak mengurangi rasa gugup ku saat ini".
Mereka saling melemparkan senyuman.
"Kamu memang sangat cantik, dan aku rasa orang yang akan kamu temui pun setuju dengan hal itu". Gadis itu melepaskan genggaman nya dan tersenyum malu-malu, hatinya sedikit berbunga karena mendapat dukungan seperti ini.
"Baiklah, aku rasa kamu bisa terlambat berkencan jika terus melayaniku. Semoga kencan mu berhasil ya". Rani memberikan dukunga melalui tangan nya yang mengepal di udara, mengundang tawa yang sangat merdu dari wanita itu.
"Aku pasti akan mengingat mu". Balas nya lalu pamit undur diri lebih dulu, menyisakan Rani yang masih tertawa karena tingkah konyol nya.
"Gue pasti lagi ngelawak, dengan mudah nya memberikan semangat pada orang lain untuk berkencan, sedangkan diri gue bahkan patah hati karena si b******k itu". Gumam nya kemudian mencuci tangan lalu keluar dari toilet.
Ia memasang wajah sumringah melihat Betran yang kini terfokus pada game, ia berdeham cukup keras untuk menarik perhatian pemuda itu.
"Eh udah? Abis ini mau kemana lagi? Mumpung belom malam banget, kapan lagi jalan-jalan sama gue yang ganteng gini". Betran menyimpan ponsel nya saat Rani kembali duduk.
"Keliling bentar yuk, nanti abis itu temenin gue ke warung mang jo. Papa minta soto, biasaa". Betran mengangguk lalu menghabiskan sisa minum nya, lalu mereka berdua bangkit meninggalkan meja.
Mereka berjalan beriringan, kadang bersebelahan, melihat situasi keramaian disini. Seorang bocah yang berlari menabrak Rani hingga gadis itu hampir jatuh, membuat Betran reflek menahan bahu nya.
"Hati-hati, banyak anak-anak disini. Mereka udah kek anak kecebong lari sana-sini, orang tua nya pada gak tahu kemana". Bisik pemuda itu yang membuat Rani merona entah karena apa. Hingga mereka tiba dilantai dasar, Betran masih tak melepaskan pegangan nya di pinggang Rani.
Gadis itu pun terlihat tidak keberatan, ia justru merasa dilindungi. Hingga sampai diparkiran, belum sempat Rani memakai helm sebuah terjangan membuat tubuh Betran tersungkur.
"Jangan sentuh dia, sialan!" Rani membulatkan mata nya melihat sosok Rega yang tiba-tiba saja muncul dengan wajah beringas nya, ditambah lagi rasa terkejut atas aksi tak terduga itu membuat Rani harus terdiam beberapa saat.
"Apa-apaan kamu?! Kamu gak waras ya ngehajar orang sembarangan! Dasar sinting!" Sembur Rani ketika sudah sadar dari syok nya, ia membantu Betran berdiri dan ikut membersihkan pakaian lelaki itu yang kotor karena tersungkur.
"Gak waras!" Rega semakin kesal dengan tatapan menusuk milik perempuan itu. Ia bahkan melupakan tujuan nya datang kesini setelah melihat kedua manusia ini berjalan sambil berpelukan, terlihat mesra dan ia kalap. Setan!
"Lo siapa? Datang-datang langsung mukul orang, gak takut kena tuntut apa". Betran menyela lebih dulu sebelum Rega mengatakan sesuatu, wajah terlihat tenang meskipun disebagian tubuh nya sakit akibat serangan mendadak itu.
"Gue bahkan gak peduli dengan tuntutan, lakuin kalo emang bisa! Ikut aku!" Perintahnya pada Rani, yang entah kenapa terasa seperti ancaman bagi Rani.
"Gak mau, kita gak punya urusan apa-apa. Ayo Bei, kita pulang!" Rani melepaskan genggaman Rega di lengan nya, berlalu begitu saja tanpa mempedulikan wajah pria itu sudah memerah karena amarah.
"Berani nya!"
Rega kembali menarik Rani namun terhalang sebuah tangan lainnya.
"Dia bilang gak mau, lo gak dengar barusan? Hei bro, gue gak tahu apa masalah kalian tapi sejak tadi dia jalan sama gue jadi gak akan etis rasanya kalo tiba-tiba dia balik sama lo. So, biarkan kami pulang dengan selamat". Betran memang laki-laki yang sabar dan itu tidak dibuat-buat, ia memang tulus meminta Rega melepaskan cengkraman pada Rani hingga pria itu meremas nya kuat baru melepaskan.
Rani tak mau bersuara, dia bahkan memalingkan muka kearah lain menghindari tatapan milik Rega. Tidak mengerti, tidak paham sekaligus bingung. Mungkin Rega terkena sengatan listrik tegangan tinggi hingga ia lupa kalau beberapa waktu lalu, dia sudah melukai perasaan Rani.
Dengan tinju nya Reha memukul kaca mobil nya, dia pasti sudah gila! Apa yang barusan ia lakukan? Meninju orang lain tanpa sebab, apa itu waras?
Rega mengusap wajah nya.
"Tidak bisa di biarkan!".