Marah

1450 Words
"DIMANA LO SEKARANG REGA SETIAWAN?!" Suara penuh amarah dan kesal itu terdengar begitu kuat diseberang sana, membuat sang empunya ponsel harus menjauhkan benda itu dari telinga. "Sialan! Lo bisa bikin telinga gue sakit bang, kenapa nanya? Tumben perhatian". Rega menggeliatkan tubuh, meregangkan otot tubuh nya yang terasa kaku. Nyeri dikepala nya belum hilang dan sekarang dia harus menjawab pertanyaan Ari. "b******k! Lo melewatkan rapat sama klien pagi ini, kalau lo memang gak berniat kerja, setidak nya jangan buat perusahaan gue bangkrut!" Ari menghempaskan map keatas meja, menahan diri untuk dia mencari keberadaan adik sepupu nya itu lalu menghajar wajah tampan Rega dengan suka rela. Pria itu menyingkirkan selimut dari tubuh nya, tanpa rasa malu dia bahkan langsung berdiri mengabaikan fakta jika saat ini dia tidak memakai sehelai benang pun sebagai penutup badan. "Gue urus pekerjaan nya nanti, kepala gue sakit banget bang. Gue ke kantor setelah makan siang, jangan marah-marah nanti lo cepat tua dan Susi gak mau lagi. Kalo dia gak mau lagi sama lo, gue akan maju paling depan merebut nya". Rega sudah tahu kalau Ari akan semakin murka dan meneriaki nya maka dari itu ia menjatuhkan ponsel ke kasur, meninggalkan nya begitu saja. "Dasar sialan! b******n!" Tut! Sambungan terputus, tangan lentik itu menjauhkan benda itu dari nya lalu kembali melanjutkan tidur. Benar-benar sangat mengganggu! Tak lama kemudian Rega keluar dari kamar mandi, dengan keadaan yang masih sama namun ia membawa handuk kecil ditangan nya untuk mengeringkan wajah dan rambut. Ia melirik sosok tubuh yang masih saja tertidur diatas ranjang, tak mau berlama-lama ia langsung mengenakan kembali pakaian nya, membawa ponsel serta memeriksa apakah ada barang lain yang tertinggal dan pergi dari apartement itu. Melihat jam tangan yang sudah menunjukkan waktu makan siang, ia tak memiliki waktu lagi untuk berganti baju jadilah ia langsung menuju kantor. Tidak peduli kalau setiba nya disana, Ari mungkin sudah menyiapkan rencana untuk membunuh Rega. Pria itu tiba tepat pukul satu siang, beberapa orang menyambut dengan senyuman ramah, ada juga yang menyapa penuh minat. Setelah Ari taken, sekarang Rega adalah incaran para karyawan baru wanita di perusahaan. Ia melangkah ke arah lift, namun harus terhenti ketika orang yang paling dia hindari sedang berdiri didepan nya dengan tatapan datar yang lagi-lagi membuat Rega merasa seperti sesuatu yang tidak berguna. Sial! "Mau masuk gak pak?" Winda mengejutkan Rega dengan pertanyaan nya, pria itu merasa kikuk sendiri dengan tingkah aneh nya. Ia menghembuskan nafas berat karena ya, harus memaksakan diri berada didalam satu ruangan sempit bersama Rani. Tidak ada yang bersuara, hanya ada helaan nafas serta bisik-bisik dari kedua karyawan didepan mereka saja yang terdengar. Rega mengumpat karena lift terasa sangat lambat berjalan, hingga ke lantai sepuluh dia langsung melewati Rani dan yang lain nya keluar secepat mungkin. Ia tidak mau menolehkan kepala nya kebelakang meski sebagian diri nya memaki ingin sekali Rani menegur nya, memang ini yang kau inginkan jadi jangan bermimpi jika gadis itu akan kembali menatap mu! Rega mempercepat langkah menuju ruangan Ari, lalu tanpa mengetuk terlebih dulu ia langsung membuka pintu yang mana pemandangan menakjubkan sedang terjadi didalam sini. "KENAPA TIDAK MENGETUK PINTU NYA b******k! INI BUKAN RUMAH BAPAK LO, REGA SIALAN!" Pemuda itu meringis, dengan cepat ia membalik badan menghindari tatapan tajam dari sang kakak. Kesialan nya menjadi dua kali lipat lebih mengenaskan. "Seharus nya kalian mengunci pintu jika ingin bercinta di kantor, apa lo lupa ruangan ini bahkan tidak kedap suara". "b******n!" Umpat Ari semakin kesal, ia ikut membantu Susi merapikan pakaian nya. Lalu menyuruh istrinya itu keluar dulu, ia tidak mau perempuan itu jadi saksi atas rencana pembunuhan nya pada Rega. Susi berjalan melewati Rega dengan tatapan kesal, namun ia tak mau bersuara. Sudah cukup dia merasa malu karena tertangkap basah, pria ini benar-benar menyebalkan. Satu pukulan melayang kewajah Rega, tanpa aba-aba dan peringatan. Ia jatuh terduduk dilantai, namun tak urung juga tertawa melihat kemarahan kakak nya. "Ini sakit, lo benar-benar berencana membunuh gue ya". Ucap nya disela-sela rasa nyeri yang mendera rahang nya. "Itu untuk lo karena sudah lancang masuk ruangan gue tanpa ketuk pintu, dan melihat aset berharga milik gue." Satu tendangan mengenai perut Rega, yang semakin membuat pria itu menjerit sakit. "Sialan! Ini beneran sakit lah bang". Protes nya, berusaha menahan injakan sepatu Ari pada d**a nya. "Itu karena lo sudah mabuk, dan nidurin anak gadis orang sebelum nikah. Selain bodoh, ternyata lo juga b******k!" Ari memindahkan kaki nya dari tubuh Rega, duduk di sofa dengan wajah sangar nya. Membiarkan Rega menetralkan rasa sakit dan juga unjuk rasa yang akan ia tujukan pada lelaki itu. "Gue gak minta, tapi mereka sendiri yang mau tidur sama gue. Kucing mana yang nolak dikasih daging segar bang". Ia membela diri dengan dalih klise yang memualkan. "Berarti lo adalah kucing, gak heran buang s****a dimana-mana. Kucing emang gak punya malu kan?" Jawab Ari sarkas yang membuat Rega berdecak. "Terserah, gue kesini mau ngasih berkas kerja sama dengan pak Denny." Rega mengeluarkan map dari dalam jas nya, hampir remuk akibat ulah Ari. "Bukannya mereka membatalkan kerja sama? Lo bahkan gak rapat sama mereka." Rega ikut duduk di sebelah Ari, ia tersenyum menyebalkan yang membuat pria disebelahnya memutar mata malas. "Gue gak berniat bikin perusahaan lo bangkrut, malah gue semangat ikut membantu lo disini bang. Ya, asalkan gaji gue bisa naik lagi". Ari melemparkan koran kearah Rega namun meleset karena dia menghindar. "Gue dikelilingi orang-orang yang terobsesi dengan gaji tinggi, Susi juga ngomong begini". Rega tertawa, dia sudah melakukan pekerjaan nya jauh sebelum Ari mengetahui proyek ini jadi ya dia memang wajib menyombongkan diri kalau dia mampu menjadi wakil direktur dengan baik. "Mau kemana lo?" Ari spontan bertanya melihat Regaa hendak keluar lagi. "Pulang lah, gak ada kerjaan lain lagi kan? Gue masih ngantuk bang". Ujarnya, untuk yang ini dia tidak berbohong. Semalam dia mabuk, dan bercinta dengan panas bersama salah satu teman kencan nya yang berprofessi sebagai selebgram, rasa nya kepala Rega mau pecah karena pengaruh alkohol yang belum sepenuh nya hilang. Ari tak menjawab lagi, ia membiarkan anak itu pergi. "Dia benar-benar b******n!" Gumam Ari pada diri sendiri. ***** Rega baru saja membuka mobil nya saat melihat Rani sedang tertawa bersama seorang lelaki. Mereka sangat akrab, dan suara tawa gadis itu seakan menarik perhatian Rega untuk melihat nya lebih fokus. "Makasih ya makanan nya, nanti kapan-kapan gue bales deh." Rani menerima rantang makanan, lalu mengulas senyuman tulus penuh ucapan terima kasih. "Gak usah sungkan, lagian kalo siang gini gue juga gak banyak kerjaan. Nanti sore gue kerumah ya, lo gak lembur kan?" Pria itu membalas senyuman Rani tak kalah tulus, terpancar rasa tertarik yang begitu besar kepada Rani. Membuat Rega tanpa sadar mendecih tak suka. "Murahan!" Bisik nya. Tak mau lebih lama lagi menyaksikan drama picisan itu ia segera membuka pintu mobil dan membanting nya sangat keras sampai Rani dan teman nya itu ikut menoleh. Gadis itu memicingkan mata nya melihat wajah Rega dari spion, pria itu sengaja membuka kaca mobil nya. "Apa kalian bisa menyingkir? Aku tidak mau bertanggung jawab jika nanti ada salah satu dari kalian yang terluka". Sombong dan angkuh! Kenapa Rani tidak pernah melihat ini semua sebelum nya, Rega benar-benar memuakkan dengan sikap nya yang merendahkan nya. Dia tahu betul lelaki itu sengaja melakukan hal ini. "Oh ya, maafkan saya pak. Kalau gitu, gue pamit dulu ya Ran. Ntar gue telpon kalo udah sampe". Rani hanya mengangguk dan melambaikan tangan nya melepas kepergian lelaki itu, lalu berpaling hendak kembali ke kantor namun langkah nya harus tertahan saat tangan Rega dengan lancang meraih lengan nya. "Siapa dia?" "Apa urusan mu?" Rega menaikkan sebelah alisnya, kesal karena wajah Rani menunjukkan ketidak sukaan yang terasa sangat asing. "Aku bertanya pada mu baik-baik, siapa lelaki itu?" Rani malas menanggapi pria ini, setelah perkataan yang menyakitkan Rega pada nya waktu itu, ia benar-benar berusaha keras melupakan perasaan nya. "Kekasihku." Rega merasa telinga berdesing mendengar kalimat itu, ia bahkan menatap tajam wajah Rani dengan emosi yang tiba-tiba saja tersulut. "Jangan bermain-main dengan ku, Rani." Rani muak, sungguh! Ada apa dengan lelaki ini? "Aku bahkan sangat serius mengatakan nya, jadi tolong jauhkan tangan mu dari ku. Aku tidak mau membuat dia cemburu". "Sialan kau.. " Rani menghentakkan lengan nya hingga cengkraman Rega pun terlepas. "Jika aku sialan, maka jangan lagi bertemu dengan ku. Enyah lah". Gadis itu mendesis penuh penekanan, wajah nya bahkan langsung muram dan kecewa karena lagi-lagi Rega mengatainya sial. Tidak ada yang bisa menolong Rani dari rasa sakit itu kalau bukan dia sendiri, ia berjalan menjauh dari Rega dan berlari menuju lobby. Rega memegang erat setir mobil hingga buku jarinya memutih, menahan emosi yang bisa meledak detik ini juga. "Kekasih? Yang benar saja. Kamu pikir aku bodoh, kalian bahkan tidak terlihat seperti pasangan". Ia menampilkan wajah sinis nya. Gadis itu tidak akan bisa melupakan nya dengan mudah, Rega yakin itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD