Tiga jam aku bersama Galih menyusuri jalan menuju Yogyakarta. Gak setiap momen semobil bareng Galih diisi oleh percakapan kami, lebih tepatnya aku gak mau mengganggu konsentrasi dia. Aku mending nyanyi atau tidur kalau merasa ngantuk. Kurasakan ada yang menyentuh tanganku. Siapa lagi kalau bukan Galih, "Num." nah kan. Cukuplah aku bergumam saja sebagai jawabannya. "Kita kerumah Bunda dulu, ya." ucapnya pelan. Mungkin paham kalau aku benar-benar ngantuk. Dan kali ini aku hanya mengangguk saja. "Berapa lama lagi?" tanyaku dengan suara serak. "25 menit lagi." jawab Galih santai. What?! Buru-buru aku duduk dengan benar. Mengikat rambutku tinggi. Lalu mengambil tas yang aku letakkan di laci dashboard. Mengeluarkan peralatan tempur kaum hawa. Make up. "Mau ngapain?" tanya Galih saat mel

