Mbak Syila Rumah lagi kosong, Dek Num. Aku sama Mas Ilham lagi Kerumah ibunya Mas Ilham. Bapak sama Mama ketempat Budhe. Pulang besok aja. Begitulah pesan dari Mbak Syila tadi pagi. Untungnya aku belum pesan tiket kereta. Dan sekarang sudah hari ke tujuh aku di Jogja. Galih bilang akan mengajakku pergi jalan. Tapi belum ada pesanku yang dibalasnya barang satupun. "Permisi Mbak, mau pesan apa?" ini adalah pelayan kedua yang mendatangiku. Aku sudah check out hotel karena itu aku menunggu Galih di cafe depan hotel. "Es capcin, Mas." jawabku lalu dibalas senyuman olehnya. Dering teleponku membuatku merasa harus melihatnya. Kuhembuskan napas lega setelah tahu kalau Galih yang meneleponku. "Assalamualaikum." ucapku saat mengangkat panggilan dari benda pipih itu. "Waalaikumsala

