Pecah Satu Tumbuh Tujuh

1024 Words
    "Ya Allah! Astaghfirullah hal adzim. Ini kenapa? Apa yang terjadi dengan wajahku?" ucapku saat mendapati wajah bangun tidurku dihinggapi satu, dua, tiga... Tujuh benjolan kecil berwarna merah. Apalagi kalau bukan si sahabat dekat. jerawat. Kulangkahkan kakiku ke kamar Mbak Syila, berniat menggedornya namun suara Bapak lebih dulu menginterupsi, "Mbakmu lagi ketempat ibunya Mas Ilham."     "Bapak, lihat deh, masa jerawat Numa nambah. Kemarin cuma satu, terus Numa pecahin, ehh sekarang manak jadi tujuh." aduku pada Bapak sambil menunjuk-nunjuk dimana saja jerawatku berada. "Lah Nduk, Bapakmu ini gak ahli masalah beginian. Coba bilang ke Mama. Tuh di dapur." Kuteliti pakaian Bapak. Rapi banget buat dijadiin pakaian hari minggu.     "Bapak mau kemana?"     "Jalan-jalan."     "Ikut Pak, Numa bosen dirumah. Numa juga butuh ref---"     "EHEM! Itu yang baru bangun tolong kamarnya diberesin dulu. Cuci muka, mandi sekalian kalau bisa. Anak gadis jam segini baru bangun, masih ileran pula, ada beleknya lagi. Udah berani minta ikut jalan sama Bapak. Malu sama jerawatmu yang udah eksis tuh, Nduk." Telak. Sindiran Mama memutus permohonanku pada Bapak.     "Pak," ucapku memelas pada Bapak.     "Bapak mau ngurusin orang yang lagi pengen jual tanah. Mau ikut? Nanti bosen lho kamu, Nduk." kemudian berdehem sekali sambil melirikku, "kamu juga belum mandi, tho?"     "Udah sana mandi, ganti sprei sama bantalnya juga." perintah sang Kanjeng Ratu Mama.                                                                                              * * * * *     "Jadi menurut Mama, masalahnya ada disarung bantal Numa?" tanyaku saat Mama menyimpulkan bahwa masalah jerawatku kali ini adalah dari sarung bantal yang belum kuganti. "Duhh adek, kamu itu kaya masih remaja aja sih, Nak. Masa hal remeh gini aja nggak tahu, bantal yang nggak diganti itu juga bisa jadi penyebab jerawatan." ucap Mama sambil menghela napas.     Ya mana kutahu, dulu kan Mama sama Mbak Syila yang sering ganti sprei dan sarung bantalku, aku kan seringnya ikut Bapak ke kebun atau ketemu sama rekanannya Bapak. Terus juga waktu SMA dulu males aja ngurusin wajah.     "Mama." panggilku mencoba mengalihkan fokus bicara Mama. "Apalagi?" tanya Mama sambil memasang wajah waleh, mungkin karena pagi ini sudah sekian kali aku memanggil Mama. "Coba cicipin, Ma. Kurang apa?" kataku sambil menyerahkan oseng kangkung pada piring kecil pada Mama. "Udah enak sih, Dek. Pas. Tumben bisa pas? Ini ayamnya mau digoreng?"     "Bisa dong. Iya Ma, digoreng aja. Galih gak suka yang dikuahin." jelasku pada Mama. Hari ini aku sedang memasak untuk Galih. Sebenarnya Galih gak minta buat dimasakin. Dia kemarin cuma bilang kalau ada proyek di Semarang. Lumayan lama sekitar semingguan. Karena itu aku jadi terpikir untuk memasak buat dia.                                                                                         * * * * * Numa Beb Bebek Galih Wek     Mau ketawa tapi sungkan sama Mamas driver taksiku. Tumben mau diajak bercandaan si Galih ini. Numa Udah makan? Galih Belum. Kenapa? Numa 10 menit lagi aku sampai ditempat proyek kamu. Galih Ada apa? Numa Pokoknya sepuluh menit lagi aku sampai. Galih Oke, hati-hati.     "Makasih, Pak." kataku saat driver taksiku berhasil mengantarkanku dengan selamat ketempat proyek Galih. Baru juga sepuluh langkah memasuki tempat proyek ini, sudah dihadang oleh Bapak Putra. "Mau apa kesini, Num?" belum sempat kujawab dia sudah berkata lagi, "Wuidih bawa makan siang, banyak tuh. Bagilah,"     "Enggak! Ini buat Galih.”     "Alah dikit aja." ucapnya melas. Ck! Kuambilkan sekotak sari kacang hijau instan dari dalam plastik. Kalau saja dia bukan orang yang ngasih aku gaji tiap bulan, gak rela minuman itu kukasih padanya. "Trims. Arsitekmu lagi neduh dibawah tenda itu." kata Putra sambil menunjuk tenda berwarna putih gading disamping pagar.     Kulangkahkan kakiku kesana. Ternyata Galih gak sendiri coy! Sama cewek dia. Cantik pula. "Gal." ucapku memanggil nama Galih. Lalu dia menengok kearahku, dan tersenyum. Ck! Pake tersenyum segala, kan aku ikutan senyum juga. "Udah dari tadi?" tanyanya saat sampai didepanku. Kuangguki saja pertanyaannya. Kualihkan pandanganku kearah wanita didekat Galih tadi, kutatap geli pada netra Galih sambil aku bertanya, "Hemm siapa tuh? Waw kulitnya eksotis, Gal. Cantik pula. Siapa tuh?" tentunya tidak dengan gaya khas cewek cemburu. Malah aku cengengesan.     "Temen." katanya santai, masih dengan menatap mataku. "Bawa apa?" ditunjuknya sebuah paperbag yang kubawa. "Oseng kangkung, ayam, melon, sama air kelapa muda." jawabku yakin. Percaya diri gituloh, hasil karya sendiri soalnya. Menganggukkan kepala, lantas Galih bertanya, "Mau makan dimana?"     "Disini?" lalu dia menggeleng.     "Banyak cowok disini. Makan diluar aja."     “Bilang aja cemburu.” Kataku sambil mengangkat kedua alisku. Dan tanggapan dari Galih adalah usapan dikepalaku. "Emang udah jam makan siang?" tanyaku lagi.     "Belum. Duduk disitu, ya. Aku mau kesana dulu." katanya menunjuk tempat tadi yang didudukinya.                                                                                             * * * * *     Kurasa keputusan untuk duduk disini adalah hal buruk. Bukan karena hawa panas tempat proyek. Namun lebih pada wanita disampingku, yang sibuk menyemprotkan face spray pada wajahnya. Rambutnya yang tidak dikuncir juga berterbangan kearahku. Duh, tahan emosi Num, masa kaya gini aja mau emosi sih, Num. Kubuka aplikasi game di gawaiku. Dan memainkannya. Baru mulai main sekitar 5 menit, si cewek disampingku mulai mengajakku berbicara. Em, kurasa.     "Pacarnya Galih?" kutolehkan wajahku. Bahkan dia gak lihat ke mukaku. Ck!     "Iya." lalu aku mulai bermain game lagi.     "Saya dulu sempet deket sama dia. Cuma gak jadi pacaran. Waktu itu dia cupu banget. Gaya anak berprestasi lah." Inginku berkata 'Aku gak tanya' namun apa daya itu gak sopan. Jadi kuputuskan untuk diam saja. Kali ini dia sepenuhnya menghadap kearahku, "Seriusan Mbak pacarnya Galih?" tanyanya lagi seolah jika aku pacarnya Galih adalah hal yang tidak mungkin.     "Iya, Mbak." Jawabku sambil menahan rasa kesalku.     "Kok si Galih mau ya." katanya sambil memandang bintil merah diwajahku.     Asem. Dia kira wajahnya asli? Make up setebel itu, apa gak kasihan sama kulitnya. Lagi pula ini kan panas banget, banyak debu lagi. Mbak Syila dulu pernah bilang, 'Gak usah tebel-tebel kalau dandan. Natural aja.' dan Mas Ilham sepakat dengan Mbak Syila. Belum juga kulontarkan balasan atas perkataannya, didepanku tiba-tiba ada sebuah masker dan tangan. Kutelusuri tangan itu, dan ternyata punya Galih.     "Nih pake." dia cuma bilang begitu, lalu pergi membawa tas berisi rancangannya.     Segera saja kupakai. Biar si cewek disebelahku gak tahu kalau aku lagi pasang seringai. “Makasih.” Kataku mesra pada Galih, lalu kulirik perempuan tadi sambil seolah berkata ‘Udah gak perlu dijelasin kan, Mbak?’ Daripada sibuk memikirkan perempuan itu, kubuka kembali permainan yang kutinggalkan tadi, dan tak berapa lama ada pemberitahuan      You have been slain an enemy.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD