Setelah Galih menyelesaikan beberapa list proyeknya sebelum makan siang, akhirnya kami berhasil pergi makan siang. Tanpa wanita yang tidak kuketahui namanya. Iya gak sih, bahkan aku gak tahu nama dia, dan dia berani ngomel gak jelas. "Ngalamun, Mbak?" What?! Apa kata Galih? Aku dipanggil Mbak? "Kenapa malah ngelirik gitu?" tanyanya lagi. "Kenapa juga kamu manggil aku mbak?" "Ngelamun karena itu?" duhhh kok gak peka sih? "Ya gak lah!" ucapku sambil menaikkan nada bicaraku. "Ya gak usah nge-gas." katanya datar. Dihh malah dia yang marah. Kurangkul lengannya lalu tersenyum padanya, "Kamu sayang sama aku gak, Gal?" Dengan segera, alisnya lalu menukik cukup dalam. "Menurutmu? Dan bisakan dibiasain manggil pake embel-embel mas atau apalah, aku lebih tua dari

