Azza merebahkan dirinya di kasur. Ia hanya mengenakan kaus oblong dan celana longgar sebatas lutut. Saat-saat seperti ini adalah saat di mana ia bisa bebas bersantai. Soal pembicaraannya tadi siang, sebisa mungkin Azza tak terlalu memikirkannya. Meski pada akhirnya mungkin Satria akan mengatakannya juga padanya, segalanya tak akan berubah. Yah, mungkin mereka akan canggung, tapi Azza sepenuhnya yakin bahwa ia bisa mengendalikan diri. Di sini yang mempunyai perasaan suka adalah Satria, dan Azza sama sekali tidak. Tok… tok… Azza bangkit, membuka pintu kamarnya. Papanya tersenyum menatapnya, yang seketika membuat Azza mengernyit karena bingung. Jam makan malam mereka sudah usai setengah jam yang lalu. Lantas, ada keperluan apa? “Pemuda manis

