“Tenang, Luna. Kamu aman. Dia tidak akan bisa masuk ke sini," bisik Frans di telinga Luna. Suara Frans yang lembut membuat tubuh Luna sedikit merasa tenang. Dengan gerakan yang sangat lembut, ia menyampirkan tangannya ke bahu Luna yang sedang bergetar hebat. Luna masih berdiri terpaku di depan jendela, jemarinya mencengkeram kain gorden sutra itu hingga buku jarinya memutih. Matanya masih terpaku pada mobil Sean yang berhenti di bawah sana. Luna menggeleng pelan, napasnya tersengal. “Bagaimana jika dia kembali dengan membawa lebih banyak pasukan? Bagaimana jika dia menculikku saat kau tidak ada? Liana sekarat, Frans. Sean tidak akan melepaskanku. Dia pasti akan memburuku karena baginya ... aku hanyalah bank organ yang harus dia ambil isinya!” Frans menangkup wajah pucat wanita itu dengan

