Menjelang petang, kami baru kembali kerumah. Percakapan dengan Mbak Luluk kali ini lebih menguras emosi daripada tenaga. Bagaimana tidak. Mbak Luluk lebih banyak membahas tentang keributan yang disebabkan oleh Mas Dandi saat di ruko. Belum lagi ada fakta yang juga baru kuketahui mengenai Pak Farid. Ada perasaan terharu dan iba terhadap sosok Rafa, putranya semata wayang. Baru akhirnya kusadari tatapan matanya saat pertama kali bertemu pagi tadi. Pastinya dia merindukan sosok ibunya yang telah pergi. Beberapa pertanyaan juga mengisi pikiranku. Mengapa Pak Farid tidak segera mencari pengganti istrinya. Padahal secara fisik, Pak Farid masih terlihat gagah dan menarik. Belum lagi, harta dan jabatan yang dimilikinya saat ini tentu merupakan nilai tambah baginya. Entahlah, mungkin Pak Farid m

