“Mau ngomong dari hati ke hati? Rasanya ibu sudah ga punya hati untuk kamu lagi. Kamu sekarang banyak berubah. Kamu sudah bukan Hanum yang dulu ibu kenal.” Ibu berbicara sambil berdiri. Tangannya di lipat didepan d**a. Tanpa menatap mataku. Kudengarkan apa yang ingin disampaikannya. Bukankah aku yang seharusnya berapi-api meluapkan amarah? Mengapa malah sebaliknya? “Bu.” “Sudahlah. Tidak ada gunanya ngomong sama kamu. Lebih baik Dandi saja yang ibu omongi.” Ibu menyela ucapanku. Kemudian dia berlalu dari hadapanku. Dongkol rasa hatiku. “Apakah ibu yakin akan tetap mempercayai Mas Dandi. Bila suatu hari rahasia yang selama ini disimpannya kemudian terkuak? Aku tidak bisa menjamin ibu akan berlaku sama seperti saat ini.” Aku berdiri, akan berlalu dari tempatku duduk saat Ibu berhenti

