Mas Dandi berlalu meninggalkan aku yang berdiri terpaku mendengar semua yang dia katakan. Perkataannya sungguh melukaiku. Dengan begitu mudahnya dia menimpakan semua kesalahan kepadaku. Apakah semua pengorbananku selama ini tiada arti baginya? Apakah aku kurang introspeksi diri? Apa yang membuat Mas Dandi seolah begitu membenciku. Tidakkah dia berusaha mendengarkan sekali saja curahan hatiku. Aku yang selama ini telah berusaha menjadi istri yang patuh, taat dan mencintai suamiku hanya karena ingin mencari surga. Apakah surga itu masih untukku? Apakah aku masih layak menjadi penghuni surga? Apa salah dan dosaku? Aku mengekori langkah mas Dandi. “Mas, setidaknya Mas mau mendengarkan penjelasanku.” “Apalagi yang mau kamu katakan? Sudah cukup bagiku bahwa kamu sudah tidak layak disebut

