Mas Dandi pergi membawa ibu serta. Tatapan sinis ibu membuatku mengelus d**a. Aku tidak kuasa menolak, melarang agar ibu tetap tinggal dirumah. Namun apalah dayaku. Sudah tidak ada artinya lagi aku bagi mereka. “Ibu, ayah sama nenek mau kemana? Tadi Abang bertanya sama ayah, tapi ayah cuma diam saja. Mengapa ayah tidak mau Abang cium tangannya ya, Bu?” aku terenyuh mendengar perkataan Haydar. Tentu terluka hatinya saat mendapatkan penolakan dari ayahnya. Bukahkah hanya masalah sepele. Mengapa anak-anak diikutsertakan dalam perselisihan kami. “Ayah mau bawa nenek ketempat kerabat nenek. Mungkin ayah tidak mendengar waktu Abang minta cium tangan. Jangan dipikirkan ya. Ayah mungkin banyak pikiran. Yang penting sekarang Abang sama ibu. Abang istirahat dirumah sampai Abang sembuh. Nanti ibu

