Menanti Kabar

1245 Words

Pagi hari, terdengar suara berisik di dapur. Suara azan subuh baru terdengar. Padahal Mbak Sum belum waktunya datang. Hanya menggunakan daster sebatas lutut bertali satu membuat cuaca dingin menembus kulitku. Sedikit menggeliatkan tubuh, perlahan menurunkan kaki ke lantai. Berangsur menegakkan tubuh dalam posisi duduk di tepi ranjang. Tak kulihat Mas Dandi di pembaringan. Biasanya dia masih ngorok jam segini hingga waktu subuh berakhir. Sayup-sayup kudengar suara Haydar sedang berbicara. Mungkinkah dia yang dari tadi berada di dapur? Benar dugaanku. Mas Dandi sedang berbicara dengan Haydar di dapur. Sambil memegang spatula, Mas Dandi sesekali membalik sesuatu diatas penggorengan. “Sudah bangun, Yang? Aku buatkan nasi goreng untuk sarapan. Abang nanti bekalnya beli aja di warung depan.”

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD