“Abang. Sudah sampe, nih. Belajar yang rajin, ya. Ini uang sakunya.” ujarku pada Haydar. Kukeluarkan selembar uang kertas sepuluh ribuan yang kuserahkan pada Haydar. “Siap, kapten! Terima kasih uang sakunya, Yah. Terima kasih juga sudah anterin Abang. Nanti jangan lupa jemput Abang lagi, ya.” katanya. Ingin mengantarkan Haydar menuju ke pintu gerbang, akupun segera turun dari mobil. Setelah memastikan tidak ada barang Haydar yang tertinggal. Tak lupa, Haydar yang patuh selalu terbiasa mencium punggung tangan kedua orangtuanya. Seperti saat ini, dia mencium punggung tanganku dengan takzim. Aku bahkan hampir melupakan bahwa dia adalah anak yang patuh. “Bye, bye, Ayah…” Haydar melambaikan tangan kearahku setelah memasuk halaman sekolah. Wajahnya berseri-seri. Kentara sekali bahwa dia se

