Pagi-pagi buta, Adhista sudah terbangun karena lagi-lagi dirinya memimpikan kakak tingkatnya itu lagi, yang padahal Adhista belum mengenalnya. Adhista tak mengerti mengapa dirinya terus memimpikannya.
Sejujurnya Adhista sangat risih, sering bertemu dengannya, dekat dengannya, memimpikan nya. Semuanya tak masuk diakal, padahal Adhista saja tak begitu mengenalnya.
"Mending mandi, beres-beres rumah daripada mikirin Tama ngga penting," gumam Adhista lalu bergegas mandi, padahal sekarang baru jam lima lewat empat belas menit.
***
"Adhista, punten," seru Calla dan Agatha di depan kost Adhista.
"Iya iya, mau ngapain lo pagi-pagi kesini? kalo kangen kan bisa telpon," jawab Adhista sambil membukakan pintu kostnya.
"Yakali kita kangen sama lo Dhis. Presentasi kita belom selesai nih, ayo kerjain lagi," ucap Agatha lalu membuka laptopnya.
"Kalian berdua kerjain aja, yang bagian ngedit gue. Backgroundnya putih aja, nanti pokoknya gue yang rapihin," gumam Adhista yang notabenenya sangat suka mengedit.
"Anak kedokteran kok males, cik cik," seru Calla lalu membantu Agatha.
"Heh nanti gue juga kerja ya, ya ampun netizen julid banget," seru Adhista sambil mengelus dadanya.
kemudian keadaan menjadi hening. Dan tiba-tiba Adhista membuka pembicaraan.
"Kalian ngerasa aneh ngga si sama yang ketemu di cafetaria itu?" tanya Adhista memecahkan keheningan.
"Yang mana, yang ketemu di cafetaria banyak Dhis," gumam Agatha berpikir.
"Ih itu loh yang beli nasi goreng, yang dibilang Calla," jelas Adhista.
"Yang beli nasi goreng juga banyak, siapa sih?"
"Tau lah gelap,"
"Sedikit sih, tapi kayaknya dia kayak gitu karena suka sama lo Dhis," jawab Calla, akhirnya.
"Gue bilang begitu ada alasannya loh Dhis, dari tingkah laku dia aja udah beda. Dia sering merhatiin lo, ya pokoknya aneh aja kalo deket lo," jelas Calla sambil mengingat-ingat.
"OOH YANG ITU! gue juga nangkapnya gitu masa Dhis," seru Agatha membela Calla yang masih serius didepan laptopnya.
"Yang itu yang itu aja lo, btw masa iya sih. Doi diatas rata-rata gitu, masa suka sama gue, impossible sih," jawab Adhista membandingkan dirinya dan Diratama.
"Ngga ada yang ngga mungkin Dhis," jawab Calla dan Agatha hanya mengangguk kan kepalanya saja, setuju.
***
Keesokan harinya Adhista ada kelas siang, jadi dirinya bisa berleha-leha dulu sebentar sebelum berangkat ke kampus.
Tiba-tiba saja lagu dari Red Velvet yang berjudul Zimzalabim berbunyi dari handphone Adhista. Lalu Adhista langsung mengangkat telepon yang masuk ke ponselnya.
"Dhis lo liburan kapan? Ini gue sama Mama sama Ayah mau main ke Jogja," seru Chandra dari jauh.
"Kapan ya libur, paling mah gue libur tahun baru Kak. Lo kan tau gue baru masuk Bambang! udah bilangin Mama sama Ayah, biar gue aja yang ke Jakarta," jawab Adhista panjang lebar.
"Oke dah, jaga diri ye lo. Udah jelek makin jelek nanti kalo kaga jaga diri bhahahaha," ejek Chandra lalu mematikan teleponnya.
"Punya kakak kok bikin emosi terus ya Allah," gumam Adhista walaupun Chandra tak mendengarnya.
Adhista segera beres-beres kamar kostnya agar tidak telat nantinya. Sambil mendengarkan lagu-lagu dari Idol K-POP kesukaannya. Mulai dari Red Velvet, NCT, EXO, Gfriend sampai SNSD.
"It's the love shot
Na nanana nananana," seru Adhista sambil mengikuti tariannya.
Adhista kembali menyapu, karena saat dibagian bahasa Korea ia tidak bisa menyanyikannya. Adhista hanya komat-kamit, karena jujur Adhista tidak terlalu menyukai Kpop, dirinya hanya menyukai lagu dan beberapa artis dari SM entertainment.
Dua puluh lima menit kemudian...
"Huft akhirnya selesai, kalo ngga nyanyi ini mah udah selesai dari tadi," gumam Adhista menyesali perbuatannya.
"Ah udahlah, udah terlanjur. Mending mandi terus rapih-rapih deh berangkat ke kampus, siapa tau ketemu Tama," gumam Adhista tak menyadari perkataannya.
"Eh ya Allah typo, maksudnya ketemu temen-temen astaghfirullah Adhis," ucap Adhista memukul bibirnya pelan lalu berlari ke kamar mandi.
Setelah lima belas menit berada didalam kamar mandi, Akhirnya Adhista keluar dengan menggunakan pakaian santai ala rumahan.
"Panas-panas gini enaknya tiduran, tapi kalo tidur gue kan kebo, pasti telat," gumam Adhista menyadari kebiasaan buruknya itu.
"Masih ada satu setengah jam lagi, mending rapih-rapih terus kerumahnya Calla numpang tidur biar ada yang bangunin," gumam Adhista dengan pikiran yang sudah diluar kendali kalau soal tidur.
Adhista : Calla, 15 menit lagi gue
sampai ke rumah lo, nanti
gue PC.
Adhista lalu segera berganti baju dan merapikan buku-bukunya serta laptop dan barang-barang lainnya yang akan ia bawa.
Adhista hanya memakai pakaian simpel, yaitu kaos lengan pendek dengan ditambah celana kulot berwarna hitam dan sneaker berwarna putih perpaduan pink dengan Tote bag hitam yang menggantung di lengannya.
Lalu Adhista bergegas berangkat ke rumah Calla yang jaraknya tidak jauh dari tempat kost Adhista.
Sepuluh menit kemudian...
"Calla, gue udah sampe nih. Assalamualaikum Calla," seru Adhista sambil memencet bel rumahnya.
"Berisik! sini cepet masuk, gue mau lanjut tidur juga!" jawab Calla sambil membukakan pagar rumahnya dan Adhista segera memarkirkan motornya.
"Lah kalau lo tidur, nanti yang bangunin kita siapa?" tanya Adhista sambil berjalan masuk bersama Calla kedalam
"Ada Bi Eti, nanti dia yang bangunin kita. udah yuk ah, nanti keburu abis waktu berharga gue buat tidur," ucap Calla emosi lalu berlari agar cepat sampai ke dalam kamarnya dan merebahkan badannya di kasur empuknya itu.
"Nikmat," gumam Calla lalu terlelap dalam tidurnya.
Adhista segera menaruh Tote bag nya di tempat gantungan tas yang tersedia, lalu ikut merebahkan badannya disamping Calla kemudian mereka berdua terlelap dalam tidur nyenyak nya.
Satu jam kemudian...
"Dhis WOI kita telatttt!" seru Calla dengan rambut acak-acakan baru bangun tidur.
"HAH? SERIUS LO?!" jawab Adhista yang baru saja bangun dari tidurnya.
"SEKARANG JAM SATU WOI, TELAT SATU JAM. MAMA JANGAN OMELIN CALLA!!" seru Calla dramatis kemudian Adhista segera merapikan pakaian dan rambutnya.
"Daripada teriak-teriak ngga jelas mending cepet ganti baju kita berangkat. Udah lo ngga usah mandi Cal," ujar Adhista.
"Ketek gue Dhissss," rengek Calla sambil mencium kedua ketiaknya.
Kemudian Adhista segera menarik tangan Calla dan tak lupa membawa tas temannya tersebut.
Adhista kemudian menyalakan motornya dan dengan secepat kilat ia mengendarai motornya. Dan tak sampai sepuluh menit mereka berdua sudah sampai didepan kelasnya dengan napas yang terengah-engah.
"Dhis bentar, rasanya kek mo mati. Kenapa ngga bolos aja sih?" tanya Calla dan langsung mendapatkan tatapan mematikan dari Adhista.
"Lo mau jadi dokter ngga? Udah ayo masuk," seru Adhista kemudian ia memasuki ruang kelasnya.
Adhista dan Calla diam, kelasnya kosong melompong tak ada seorang pun disana. "Loh udah pada balik apa?" tanya Adhista kepada Calla.
Calla menggeleng kemudian membuka ponselnya. "Dhis," panggil Calla lirih.
"Apa?"
"Dosen kita izin, kelas libur diundur minggu depan sekalian," jawab Calla lirih kemudian ia langsung tiduran dilantai kelasnya.
"Pantes feeling gue udah ngga enak, bener-bener emang Agatha," gumam Calla sambil menatap langit-langit kelasnya.
Adhista ikut tiduran di lantai. "Loh kok Agatha?"
"Iya bener-bener emang dia. Bener-bener kurang ajar ngga mau kasih tahu kita," jawab Calla dengan napas yang masih terengah-engah.
Drrtt drrtt drrtt
Calla kemudian melihat siapa yang menelepon kala itu. "Agatha nelpon,"
"Halo kenapa?" tanya Calla dengan nada jutek.
"Kelas libur, diundur mingdep,"
"Sumpah lo pengen gue bunuh tahu ngga?! Gue sama Adhista hampir meninggal gara-gara kita takut telat,"
"Maaf, gue juga baru inget. Udah dulu ya, ada urusan," jawab Agatha kemudian mematikan ponselnya dengan sepihak.
"Udah yuk pulang, mau ngapain lagi disini?" tanya Adhista kemudian mereka berdua bergegas menuju parkiran dan kembali ke rumah Calla.