Hari ini Adhista tidak ada kelas alias free, jadi dirinya bebas di rumah untuk melakukan hal apapun yang ia mau sepuasnya.
Adhista terkadang merasa kesepian, namun belakangan ini ia selalu menyibukkan diri agar tidak terus mengingat Arjuna, mantan kekasihnya.
Adhista sedang berkutat dengan ponselnya mencari tahu tentang seseorang yang beberapa hari ini terus mengganggu pikirannya, Diratama.
Adhista tak tahu betul nama instagramnya apa, namun dirinya terus berusaha mencari sampai ia menemukan nya.
"Nicolau Diratama," gumam Adhista sambil mengetikkannya di ponselnya.
"Siapa ya, kok ngga ketemu-ketemu," gumam Adhista bingung.
"Nicolau Sarwapalaka," ucap Adhista lagi sambil terus mengetikkan di ponselnya.
Adhista terus menggulirkan aplikasi i********: nya demi menemukan sosial media laki-laki itu. Sampai Adhista menemukan nya.
"Alhamdulillah ngga di private," gumam Adhista lalu mencari tahu tentangnya lebih dalam.
"Bener-bener introvert, followernya delapan puluh doang ya ampun idaman. Fotonya cuma satu burem lagi," gumam Adhista lalu membuka highlight instagramnya.
"Stay kind. It makes you beautiful, Najwa Zebian," gumam Adhista membaca quote di highlight Diratama.
"Suka quotes juga tah dia?" tanya Adhista kepada dirinya sendiri karena melihat Diratama mengikuti hastag Quotes di i********: nya.
Lalu Adhista terus menggulir orang-orang yang diikuti oleh Diratama. Rata-rata yang dia ikuti hanya teman-temannya, beberapa saudaranya, dan orang luar(?) pikir Adhista.
"Eliana De Costa," gumam Adhista melihat username yang sedikit asing menurut Adhista.
Adhista lalu membuka akun tersebut, menggulir terus kebawah melihat-lihat feed i********: milik Eliana De Costa tadi sampai ia menemukan seseorang disana.
"What? Diratama ngapain disini?" tanya Adhista terheran-heran karena ada beberapa foto Diratama disana bersama keluarganya.
Lalu Adhista membuka salah satu foto Diratama yang sedang duduk di kursi pantai berlatar belakang perosotan anak-anak. Yang bertuliskan...
"Happy burth day! hastag hbd. Di upload tanggal tiga belas Januari dua ribu sembilan belas," gumam Adhista membaca caption di foto tersebut.
Matanya hampir melompat keluar dari tempatnya, Adhista kaget bukan main. Pasalnya Diratama berulang tahun sehari setelah dirinya berulang tahun.
"Wow, semesta keren banget," gumam Adhista takjub dan tak percaya.
Adhista lalu menggulir lagi foto-foto diakun Eliana De Costa itu. Adhista membuka satu foto keluarga disana, yang terlihat sangat bahagia.
Disana terdapat empat anak kecil yang wajahnya benar-benar tidak lokal alias wajahnya terlalu bule menurut Adhista. Dengan lima orang wanita yang salah satunya adalah Ibunda dari Diratama. Dan empat orang laki-laki termasuk Diratama.
"Ini orang kayaknya turunan atau emang bukan orang Indo?" tanya Adhista kepada dirinya sendiri sambil terus memperhatikan foto Diratama dan keluarganya.
"Tapi kalo dilihat-lihat Diratama lumayan ya kalo lagi kaya senyum sumringah kaya gini," gumam Adhista dengan senyum simpul dibibirnya.
Lalu Adhista menggulir lagi foto diakun Eliana tadi dan dirinya menemukan foto Diratama sewaktu kecil bersama tiga orang yang entah siapa.
"Lucu," gumam Adhista.
"Astaghfirullah Adhista ya," ujarnya lalu kembali ke feed i********: Eliana De Costa tadi.
Adhista kembali ke atas lalu dirinya menemukan foto yang sepertinya ibunda dari Diratama. Ia lalu membuka foto tersebut.
"Cantik, pantas anak-anaknya cakep, cantik banget," gumam Adhista yang terkagum-kagum dengan seorang perempuan difoto itu.
Adhista lalu keluar dari aplikasi i********: dan meletakkan ponselnya.
Adhista lalu kembali membuka aplikasi i********: nya dan mengetikkan nama Diratama di pencariannya.
Adhista membuka foto satu-satunya diakun itu, memperbesar foto itu sampai dirinya tak sengaja menyukai foto Diratama.
"MAMPUS GUE!" seru Adhista saat mengetahui dirinya tak sengaja menyukai foto Diratama.
"Haduh ini mah ketauan ini pasti, gimana ya," gumam Adhista seperti orang kebakaran jenggot.
"Oke cara satu-satunya hapus akun i********: sementara, kalo sampe gue ketahuan ngestalk mampus aja," seru Adhista lalu membuka google di ponselnya.
"Cara menghapus akun i********: sementara," gumam Adhista sambil mengetikkan kata-kata tersebut di handphonenya dengan terburu-buru.
Adhista lalu membuka salah satu link yang tertera dan membaca interupsi yang disediakan.
"Masukkan username dan kata sandi,"
Lalu Adhista dengan cepat memasukkan username dan kata sandi miliknya. Lalu memilih 'Hapus akun sementara'
"Akun kamu berhasil di hapus sementara," ucap Adhista membaca tulisan yang tertera di ponselnya.
"Huft, untung aja gercep kalo ngga udah ketahuan tuh gue," gumam Adhista senang.
Zim zalabim zim zim zalabim...
Ponsel Adhista berbunyi yang menandakan ada telepon masuk dan nama Zaki tertera disana, Adhista dengan cepat langsung mengangkatnya
"Dhis, dimana?" tanya Zaki dari ponselnya.
"Di kost, kenapa?"
"Oh ya ngga papa sih, main?"
"Bayarin ya? Hehe,"
"Oke, gue jemput ya, mandi awas aja masih bau iler!" ejek Zaki.
"Oke siap, kalo di traktir mah cepet gue Zak,"
"Nyenyenye, gue otw,"
"Oke," ucap Adhista lalu ia mematikan teleponnya dan bergegas untuk mandi.
Setelah hampir setengah jam Adhista bersiap-siap kemudian ia membuka pintunya.
"Eh lo ngapain disini?" tanya Adhista yang kaget karena Zaki sudah berada didepan kamar kost nya.
"Ya nunggu lo lah, mandi lama banget udah kayak putri Solo!" jawab Zaki.
"Gue kunci pintu dulu, udah lama emang?" tanya Adhista sambil mengunci pintu kostnya.
"Ya lo pikir aja Dhis, kost gue cuman berapa meter aja dari kost lo," jawab Zaki kemudian berjalan menuruni anak tangga dan bersiap menyalakan motornya.
"Hehehe sorry deh Zak, gue luluran dulu tadi sambil nyiapin baju," jawab Adhista kemudian naik keatas motor Zaki.
"Iye Dhis, mau kemana nih emang?" tanya Zaki lalu menjalankan motornya.
"Gue kok pengen ke Candi ya, atau Malioboro gitu," jawab Adhista.
"Gila lo! Jangan aneh-aneh mau kemana?"
"Malioboro aja deh,"
"Dhis, serius,"
"Yaudah ngikut aja dah gue," jawab Adhista yang kesal dengan Zaki.
"Oke, makan aja pinggir jalan,"
"Iye,"
Kemudian mereka berdua berhenti dipinggir jalan dengan banyak warung makanan yang tersedia disana.
"Mau apa? Pancong? Gue traktir, yang murah aja ya hehe," seru Zaki kemudian mengajak Adhista untuk duduk di salah satu meja yang tersedia disana.
"Yaudah samain aja sama kayak lo, pesen dulu sana Zak," ujar Adhista kemudian Zaki berjalan untuk memesan makanan mereka berdua.
Setelah selesai memesan makanan, Zaki kembali dengan dua gelas es teh manis yang kelihatannya segar.
"Makasih Zak, eh lo kenal dia?" tanya Adhista berbisik kepada Zaki sambil menunjuk sepasang laki-laki dan perempuan.
"Oh, kenal,"
"Cewek itu pacarnya?" tanya Adhista.
"Ngga sih, mereka temenan udah lama emang, dan gue denger Vanya suka sama Tama," jawab Zaki sambil meminum es teh nya.
"Oh, eh iya makasih Pak," jawab Adhista sambil menerima kue pancong yang dipesankan Zaki tadi.
"Kenapa? lo demen?" tanya Zaki kemudian memotong kue pancong tersebut dan memakannya.
"Dih, kaga. Ngga tau dah, aneh dah pokoknya Zak, lo ngga bakal ngerti haha," jawab Adhista.
"Alah bahasa lo cil, cerita aja jangan sungkan,"
"Iya Zak, makan dulu lah," seru Adhista kemudian mereka kembali fokus memakan kue pancong nya.
"TAM!" seru Zaki sambil memanggil Diratana yang tak jauh darinya.
Lelaki yang dipanggil Zaki barusan menengok, dan tersenyum kepadanya.
"Oi Zak, sama siapa lo?" jawab Diratama lalu mereka berdua berjalan mendekati Zaki dan Adhista.
"Sama Adhista, makan sini bareng," ujar Zaki kemudian menyuruh Diratama dan Vanya duduk satu meja dengannya.
"Ngga papa emang?" tanya Vanya sedikit canggung.
"Sok atuh," jawab Zaki dan Adhista hanya memperhatikan kedua mahluk hidup tersebut.
"Tam, itu loh rambut kamu berantakan," ujar Vanya lalu merapihkan rambut Diratama yang padahal masih tertata rapih.
Adhista yang melihat adegan barusan langsung mengalihkan pandangannya kemanapun.
'Zaki bener-bener minta gue santet!' seru Adhista dari dalam hatinya dengan tangan yang sudah ia kepalkan yang siap untuk meninju sahabat laki-lakinya tersebut.