Melinda adalah seorang gadis biasa. Hidup sangat sederhana. Ia tinggal sendiri, karena ia memang anak tunggal dari pasangan Huda dan Winda. Orang tuanya adalah seorang pedagang pasar.
Berbekal otak yang cerdas. Melinda kini bisa berkuliah di kampus ternama di kotanya. Selain pintar. Ia juga cantik. Maka tak ayal Melinda menjadi idola para pria. Termasuk David Javier Guetta.
Melinda jatuh cinta pada David, namun hanya mampu memendamnya dalam hati. Tapi, David mengetahuinya. Hingga pada suatu hari, David juga mengutarakan perasaannya pada Melinda.
Melinda yang miskin. Tidak tahu siapa sosok David sebenarnya. David selalu mengatakan jika ia orang miskin.
Walau mereka berpacaran. Tapi, masih banyak pria yang mengagumi Melinda. Bahkan tak jarang berterus-terang menggoda gadis itu di depan kekasihnya.
David yang tidak ingin Melinda jatuh di tangan pria lain, langsung meminangnya. Pria itu membawa kedua orang tua ke hadapan kedua orang tua Melinda.
Melinda tidak tahu jika kedua orang tua yang David bawa, bukanlah orang tua kandung David sebenarnya
Mereka akhirnya menikah. Tidak butuh persiapan lama. Pernikahan David dan Melinda sah di mata hukum dan agama.
Sayang, sebulan mereka menikah. Kedua orang tua Melinda meninggal dunia, akibat kebakaran di kiosnya. Menjadi yatim-piatu secara mendadak membuat Melinda nyaris limbung. Beruntung ia memiliki David yang begitu perhatian.
Pernikahannya sudah menginjak tiga bulan. Entah mengapa, akhir-akhir ini David, suaminya semakin jarang di rumah. Pria itu telah lulus dari kuliah dan mengatakan akan mencari pekerjaan.
Melinda ingin menjadi istri yang baik. Wanita itu selalu mendukung suaminya. Ia percaya penuh pada suaminya.
"Aku agak lama ke kota, untuk mencari pekerjaan. Aku harap kau tidak keberatan," ujarnya dengan mata penuh pengharapan.
Melinda tersenyum. Mengusap wajah tampan sang suami lalu mengecup lembut bibirnya. David membalas ciuman itu lebih lama dan dalam.
Mereka memadu kasih di atas ranjang dengan peluh dan gairah yang membakar. David begitu b*******h memasuki istrinya.
Bukan hanya sekali mereka melakukan itu. Tapi, berkali-kali setiap hari selama satu minggu sebelum David pergi.
Bahkan di pagi hari ketika David pergi juga mereka b******a.
"Aku harus pergi, sungguh ini berat karena aku sangat mencintaimu," ungkap David dengan mata memuja.
"Pergilah sayang. Dan kembalilah jika kau merindukanku!" Ujar Melinda sambil tersenyum.
"Aku mencintaimu," ungkap David.
"Aku juga mencintaimu," balas Melinda.
Sebuah lumatan di bibir menandai perpisahan mereka. Melinda menatap punggung suaminya yang menghilang ketika menaiki mobil travel yang menjemputnya.
Hari berlalu. Satu Minggu sudah David pergi. Melinda merasa aneh pada tubuhnya. Ia bukan wanita bodoh. Ia tahu apa yang terjadi pada dirinya. Untuk lebih yakin. Ia pergi ke apotik untuk membeli alat yang menunjang keingintahuannya.
Setelah membeli alat yang ia inginkan. Melinda kembali ke rumah. Sampai rumah, ia langsung ke kamar mandi. Sengaja ia tidak makan dari tadi malam dan melewatkan sarapan, agar hasilnya maksimal.
Melinda duduk sambil memijat kepala. Tiba-tiba di depan rumahnya berhenti sebuah mobil mewah.
"Tanda tangani ini!" sebuah perintah dari mulut seorang wanita yang berpakaian glamor. Melinda melihat sosok itu. Wanita cantik dengan rambut pirang dan kulit bersih juga tubuh yang seksi terawat.
Sebuah map biru terletak di atas meja. Melinda menatap map itu dengan pandangan kosong. Ia tidak menyangka jika suaminya adalah seorang anak konglomerat.
Pria bernama David Guetta adalah anak dari Tuan besar Edward Guetta. Melinda hanya diam ketika ibu mertuanya mencaci dirinya.
"Aku tahu, kau hanya mengincar harta putraku. Gadis miskin seperti dirimu tidak pantas menjadi pendamping anak kebangganku. Aku tak mau cucuku lahir dari wanita miskin seperti dirimu!" Melinda tertohok mendengar hinaan dan tuduhan dari wanita yang mengaku ibu dari David itu.
"Tapi aku benar-benar tidak tahu," Melinda membela dirinya.
"Cis ... Kau pikir aku percaya!" sergah wanita itu mencibir.
Melinda membaca surat perjanjian namun tidak sampai habis. "Boleh aku menambahkan satu kalimat di sini?"
"Aku tak peduli. Kau tambah saja sebanyak yang kau mau. Aku tidak akan melarangmu!" sergah wanita itu.
Melinda menambah satu kalimat cukup panjang di sana. Setelah itu ia menandatangani surat itu.
"Ini sudah sah di mata hukum. Jadi tidak ada penolakan atau penggugatan di kemudian hari!" ujar pongah Laura.
Melinda hanya diam. Bertumpuk uang diletakkan di sana. Kemudian wanita itu pergi bersama para algojonya.
Tetes demi tetes merambah pipi mulus Melinda. Di tangannya tergenggam satu benda kecil berbentuk pipih.
"Aku hamil, Ma!" teriaknya tertahan.
Sayang. Wanita itu tidak mendengarkan teriakan Melinda yang kini tersedu. Melinda gelap mata. Diraupnya uang di atas meja. Kemudian ia menaruhnya di dalam tas. Lalu pergi meninggalkan rumah peninggalan orang tuanya.
"Apa Nyonya yakin menggugurkan kandungan?" tanya seorang dokter.
Melinda terdiam. Setelah pergulatan batin. Ia menatap wajah dokter yang memandangnya iba.
"Masalahnya bukan satu yang harus dikeluarkan. Tapi ...," dokter menggantung jawabannya.
Melinda terbelalak ketika dokter menyerahkan foto USG 3D.
"Ap-apa K-kau yakin?" tanya Melinda tak percaya.
Dokter menganggukkan kepalanya. Melinda menunduk, meraba perutnya yang masih rata. Kebingungan melanda hatinya.
Sanggupkah ia merawatnya? Pertanyaan timbul di hatinya. Menatap kembali dokter yang hanya diam. Melinda akhirnya memutuskan.
"Baik, Dok. Terima kasih!"
Melinda pergi meninggalkan klinik. Ia memutuskan untuk tetap merawat kehamilannya.
Waktunya berlalu. Melinda yang masih berstatus mahasiswi ini, tetap menjalankan masa kuliahnya hingga selesai.
Wanita itu telah menon-aktifkan nomor ponsel yang diketahui David. Bahkan selama kehamilannya. David juga tidak pernah berkirim kabar, bahkan via surat sekali pun.
Perut Melinda makin membesar. Banyak teman-teman sekampus menatap perutnya dengan ngeri.
"Mel, apa itu tidak akan pecah tiba-tiba?" tanya Aurora, salah satu temannya khawatir.
Melinda menggeleng, walau ia harus menahan perutnya dengan selendang. Bahkan para dosen pun memberinya kemudahan.
"Aku hanya tidak bisa melihat ujung kakiku saja!" ujar Melinda sambil tertawa.
Banyak orang yang menyayanginya. Hingga ia bisa melewati kehamilannya dengan mudah.
"Berapa isinya ini?' tanya salah satu tetangganya.
Melinda menunjukan angka pada jarinya. Tetangganya terperangah hingga menutup mulut dengan kedua tangannya, tak percaya.
Melinda meyakinkan dengan anggukan kepala.
"Anakku ada sembilan, Nyonya," kata Melinda.
"Oh ... sayang, kau harus berhati-hati. Jangan terlalu banyak bergerak. Aku takut perutmu sobek jika kau kebanyakan gerak," ujar tetangganya memperingati dengan nada khawatir.
"Tentu, Nyonya Guterez. Terima kasih atas perhatianmu," ujar Melinda kemudian tersenyum.
Setiap ia melakukan pengecekan. Para suster langsung menghampirinya dan membawakan kursi roda untuknya.
"Sini-sini, Nyonya. Aduh, jangan berjalan cepat-cepat!'
Melinda sangat bahagia dengan orang-orang baik disekitarnya. Hingga ia tidak terlalu sedih tanpa kehadiran David sebagai suaminya.
Ujian akhir telah usai. Melinda mengusap peluhnya yang menetes di dahi. Tiba-tiba perutnya berada kram.
Melinda mulai mengernyit dan mengaduh. Seluruh teman kuliah yang melihat mengerubungi untuk membantu.
"Ada apa. Apa sakit?"
"Ah ... apa kau kontraksi?"
"Cepat panggilkan ambulan!"
Semua mengiringi Melinda pergi ke rumah sakit. Para suster pun langsung menghampirinya ketika ia telah sampai.
Semua teman menunggunya. Ruang operasi telah disiapkan. Para dokter bekerja dengan sigap dan cepat.
Dua jam operasi berlangsung. Belum ada tanda-tanda para dokter keluar ruangan atau tangisan bayi yang terdengar.
Hingga. Terdengar satu persatu tangisan dan jeritan dari mulut-mulut mungil. Para mahasiswa dan dosen yang mengantar langsung bernafas lega.
Mereka saling berpelukan, bahkan ada yang menangis haru. Dokter keluar.
"Bagaimana, Dok?" tanya salah satu mahasiswi.
"Semuanya lahir dengan selamat. Ibunya juga dalam keadaan sehat. Hanya saja ada dua bayi memiliki kesehatan sedikit buruk," jelas dokter.
"Berapa laki-laki dan perempuan, Dok?" tanya salah satu dosen.
"Tujuh laki-laki dan dua perempuan," jawab dokter.
Semuanya tersenyum mendengarnya. Walau ada berita tidak begitu baik. Tapi, mereka berdoa agar semuanya baik-baik saja.
Namun. Mereka benar-benar mendapatkan berita buruk. Dua anak yang memang kesehatannya kurang baik. Akhirnya meninggal dunia, dua jam setelah dilahirkan.
Ketika Melinda keluar dari ruang perawatan. Para suster membawa bayi-bayi dalam inkubator. Hanya, dua anak yang digendong dalam keadaan terbungkus.
Semuanya hening ketika dua jenazah bayi dibawa keluar untuk dimandikan dan didandani.
Melinda masih terisak melihat dua bayinya yang meninggal. Diciumibya berkali-kali sebelum dibawa kepumalasaran.
Teman-teman Melinda sudah pulang. Mereka berjanji untuk datang kembali esok hari untuk mengantar jenazah ke pemakaman.
Pagi hari langit mendung. Bertanda akan turun hujan. Seakan mengiringi kepergian dua bayi yang tidak berdosa.
Melinda meratap ketika tanah mulai menutup dua peti yang berada di dalam tanah. Semua teman dan para dosen ikut mengusap air mata mereka.
Melinda menatap nisan dengan dua nama anaknya. "Davina dan Daniel" itu yang tertulis di nisan.
"Selamat tinggal sayang," ujar Melinda sambil terisak.
Hujan pun turun rintik-rintik. Melinda sudah berada di dalam mobil ambulans, untuk membawanya ke rumah sakit.
Melinda menatap kaca mobil yang basah akan air hujan. Ia sudah tidak begitu bersedih lagi. Ia merelakan semuanya.
"Anda tidak apa-apa, Nyonya?" tanya salah satu perawat.
"Aku tidak apa-apa. Terima kasih ya, Sus," jawab Melinda.
Tubuh Melinda dipegang erat-erat ketika ada guncangan, karena jalan yang memang belum teraspal.
Hari berlalu. Kesehatannya mulai membaik paska operasi. Bahkan ketujuh anaknya juga berkembang dengan baik juga sehat. Para dokter dan perawat sangat menyukai kehadiran ketujuh bayi yang mirip semua itu.
"Baru kali ini,, ada kembar sembilan identik, hanya dua yang berbeda kelamin, walau kita kehilangan sepasang bayi lainnya. Tapi, sisa keseluruhan bayi sangat sehat dan tidak ada gangguan sedikit pun," jelas dokter dengan wajah gembira.
Melinda hanya tersenyum. Ketika pulang, banyak perawat yang sedih akan kepergian bayi-bayi lucu itu. Banyak yang menawarkan diri untuk menjadi perawat membantu Melinda.
Namun, melihat keuangannya tidak mencukupi. Ia menolak menyewa salah satu perawat. Walau kecewa, tapi, mereka akhirnya merelakan bayi-bayi lucu dan menggemaskan itu pulang.
Awalnya memang sulit. Tapi, Melinda akhirnya bisa menyesuaikan diri tanpa bantuan siapa pun. Banyak para tetangga menyayangi juga ikut menjaga Melinda untuk bayi-bayi itu secara sukarela.
Selama satu tahun setengah Melinda mampu bertahan. Tapi, ia sudah tidak bisa lagi, keadaan ekonomi membuatnya sedikit sulit. Untuk terus-menerus minta tolong para tetangga sudah tidak mungkin.
Melinda tidak bisa melakukan apapun di desa itu. Keputusan sulit ia ambil. Menjual rumah dan tinggal di kota J. Kota besar yang menjanjikan.
Butuh setengah tahun untuk ia menjual rumah itu dengan harga yang cukup tinggi. Uang sisa pemberian dari wanita yang mengaku ibunda David juga masih ada.
Setelah rumah terjual. Melinda menyewa mobil untuk membawanya ke kota. Banyak tetangga sedih akan kepergiannya. Tapi, mereka tidak bisa melarang Melinda untuk mewujudkan semua impiannya.
Melinda menyewa di sebuah rumah sederhana, ia sudah membayar selama dua tahun. Dengan sedikit keahlian membuat kue. Ia memulai usaha.
Siapa sangka. Kue buatannya banyak yang menyukainya. Bahkan ia bisa menabung dari keuntungan itu.
Tak terasa, ia mampu membeli rumah yang memiliki toko kecil di depannya. Melinda berhasil membangun usaha kecilnya. Walau kerepotan mengurus tujuh bayinya.