MENGAMATI

1531 Words
Melinda menatap Laura yang tengah bermain bersama anak-anaknya. Wanita itu mengamati Laura begitu intens. Ia seperti tak asing dengan wanita yang kini menjadi pengasuh ketujuh anaknya itu. Bahkan Lily yang sangat takut dengan orang baru, begitu seperti magnet, tidak mau lepas dari pelukan Laura. Begitu dengan enam saudaranya. Laura benar-benar menjadi pusat keusilan ketujuh bocah itu. Dulu, ketika Matilda yang mengasuh, ketujuh anak itu tidak begitu dekat. Tapi, dengan Laura, kesemuanya sangat manja bahkan wanita itu merelakan dirinya menjadi korban keusilan ketujuh balita lucu tersebut. "Grany, Edric lapar," ujar Edric tiba-tiba menjatuhkan dirinya pura-pura pingsan. Laura pun panik, ia langsung berhambur pada bocah tampan yang jatuh itu. Memeluknya sambil menciumi pipi gembulnya. "Sayang, bangun. Ayo, ini Grany buatkan puding coklat kesukaanmu!" teriak Laura panik. "Mau yang banyak," ujar Edric lemah. "Iya, Grany memang sengaja buat ba ...," Laura menyadari sesuatu. Edric membuka satu matanya melirik wanita yang kini memeluknya, dengan bibir menahan senyum. Laura yang menyadari jika ia dikerjai langsung terdiam. "Hahaha ... Grany lucu sekali!" Edric tertawa senang melihat wajah kesal Laura. "Kau ini," Laura pun langsung menggelitiki Edric, hingga pria kecil itu tertawa terbahak-bahak. "Ampun tidak!" "Ampun Grany! Hahahaha!" Edric menyerah. Laura menghentikan gelitikannya. Cup! Edric mencium pipi sebagai permohonan maaf. Ah, siapa yang tidak meleleh jika diperlakukan manis seperti itu. "Tapi, Edric benar-benar mau puding coklatnya, Grany," ujar Edric memohon. "Puding?" tanya Juan. Edric mengangguk. Para bocah yang mendengar kata yang menyangkut makanan itu langsung berhamburan mengerumuni Laura. "Rico mau!" "Edward juga!" "Lili uga!" "Chalie mau duda!" "Duda?" Laura mengernyit. "Maksudnya juga, Laura," kini Melinda yang membenarkan perkataan Charlie. Laura tertawa. Wanita itu langsung berdiri dan diikuti oleh balita-balita lucu dan menggemaskan itu. Mengambil puding dalam cup kecil di lemari pendingin kemudian membagikannya pada anak-anak. Me4eka makan dengan lahapnya. Sayang, karena ukurannya yang kecil, mereka kurang puas dan meminta lagi. Laura pun mengambilkan mereka masing-masing satu cup puding coklat lagi. Baru lah mereka merasa puas. Walau mereka akan meminta sisanya lagi nanti. Kini Laura yang harus garuk kepala. Wanita itu harus membuatnya lagi, karena puding itu sekarang hanya sisa dua cup. Melinda yang melihat wajah Laura yang sedikit kesal tertawa. "Maafkan anak-anak, Laura. Mereka sedikit rakus jika tentang makanan. Kau lihat kan badan mereka?" "Hahaha ... Aku lupa jika mereka anak-anak masa pertumbuhan, makanya makannya banyak," ujar Laura menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Melinda tersenyum lebar. Ia kembali mengolah bahan-bahan kue. Kini ia memindah peralatan panggannga sedikit jauh dari dapur utama, agar tidak mengganggu Laura memasak kemilan untuk anak-anaknya. Sedangkan di tempat lain tampak sosok pria dengan setelan formal duduk dengan kaki dislangkan. Di kursi sampingnya nampak sosok cantik dengan balutan dress mini hitam ketat yang mencetak lekuk tubuhnya. "Sudah satu minggu, Tuan Edward terbaring koma di rumah sakit. Bagaimana hubungan kalian berdua, Stella?" tanya pria setengah baya yang masih terlihat tampan itu. "David sudah lama tidak menghubungiku lagi, Pa. Setelah menolak dijodohkan denganku," jawab Stella dengan wajah cemberut. "Ck ... dasar kau ini, kenapa tidak berguna sama sekali!" ejek Rafael Marvis. Rafael Marvis adalah pria usia empat puluh tujuh tahun. Seorang pengusaha properti yang cukup besar di kota itu. "Tak bisakah kau gerak sedikit cepat?!" tanyanya kesal, "buat apapun agar David jatuh dalam pelukanmu!" "Aku harus apa Pa?" tanya Stella, "bahkan sekutuku Tante Laura juga tidak ada kabar berita!?" sentak Stella juga kesal. "Apa aku harus melacurkan diriku pada David?!" "Jadilah pelacurnya jika itu perlu! Kau tahu, kalau usaha ayahmu kini dalam masalah!" teriak Rafael lagi. Stella menganga tak percaya. Ayahnya menyuruhnya menjadi p*****r. "Jadilah p*****r, sama seperti Ibumu!" ujar Rafael kemudian pria itu bangkit dan meninggalkan putrinya yang hatinya kini teriris. "Jika kau membenci dia, kenapa kau nikahi p*****r itu!" teriak Stella berang. ******** Malam hari Laura meminta ijin untuk keluar. Ia ingin menginap di rumah saudaranya. "Baiklah, berapa lama kau di sana?" tanya Melinda. "Hanya semalam saja. Aku rindu saudaraku," ujar Laura memberi alasan. "Besok sedikit siang, aku sudah kembali." "Baiklah. Kau boleh pergi. Apa kau sudah membawa bekal?" tanya Melinda yang dijawab anggukan oleh Laura. Setelah mendapatkan ijin dari Melinda. Wanita belum genap lima puluh tahun itu, pergi menaiki taksi ke suatu tempat. Waktu tempuh cukup lama, sekita satu jam. Beruntung ia berangkat malam hari, jadi dia bisa sampai dengan cepat. Laura sampai di sebuah gedung bertingkat. Sepertinya itu bukan perumahan melainkan gedung rumah sakit. Seorang pria menghampirinya dan membungkuk dengan hormat. "Selamat malam Nyonya," sapanya sambil membungkuk hormat. "Malam, Ben!" Kedua orang itu berjalan memasuki gedung. Laura berjalan mengikuti Ben yang ada di depannya. Sepanjang mereka berjalan, tak ada percakapan. Keduanya hening. Hingga sampai sebuah pintu besar berwarna putih. Laura masuk setelah Ben membukanya. Wanita itu melihat pria setengah baya terbaring lemah dengan segala kabel menempel di d**a, infus yang ada di pergelangan tangan kanannya dan alat bantu nafas di hidungnya. Buliran bening menetes di pipinya. Wanita itu berjalan mendekat. Menggenggam tangan yang terkulai. Dingin. Sepasang mata yang tertutup perlahan mengerjap. "Sayang ...," suara lirih memanggil Laura. Laura bergegas menghapus air matanya. Perlahan wanita itu mencium lembut kening Edward, suaminya. "Sayang, Kau datang?" ujar Edward lirih. "Iya, sayang. Aku mohon, sembuhlah," pinta Laura. "Aku akan sembuh, jika kau yang merawatku, Sayang,"ujar Edward. "Sayang ... Kau tau jika aku pergi untuk melindungi keturunan kita," bisik Laura. "Keturunan?" tanya Edward pelan. "Iya, sayang. Lihatlah?" ujar Laura lalu menyodorkan ponsel dengam gambar tujuh balita. Netra Edward berbinar melihat ketujuh balita lucu dan menggemaskan itu. "Ini turunanku?" Laura mengangguk. Lalu dengan segera menyimpan ponsel ke balik bajunya. "Untuk itu. Segeralah sembuh sayang. Kau juga harus melindungi putra kita. Sudah cukup orang tua itu menekanmu," pinta Laura. "Aku akan sembuh, asal ...." Laura menatap netra Edward yang berkabut gairah. Wanita itu membelalaklan mata. "Astaga, Sayang! Kau masih sakit. Bagaimana kita melakukannya dengan semua alat-alat ini!" Laura tak percaya dengan ajakan Edward. "Sayang ... Ayolah ... Aku merindukanmu," pinta Edward merengek. "Tapi ... CCTV?" ujar Laura ragu. Edward menekan sebuah tombol di balik saku celana rumah sakit. Ben masuk. "Ben. Minta IT untuk memblock kamera pengintai di kamar ini!" titah Edward yang ditanggapi anggukan hormat Ben tanda segera melakukan perintah tuannya. Hanya butuh tiga menit. Ben menyatakan jika kamera pengintai sudah diblock. Kemudian pria itu keluar kamar dan menguncinya. "Sayang," panggil Edward dengan suara serak. Laura hanya ternganga melihat apa yang telah dilakukan suaminya. Wanita itu sendiri bingung bagaimana ia melakukannya. Bercinta dengan alat-alat penopang kesehatan suaminya. Tapi, wanita itu akhirnya memulai aktifitasnya. Ben yang menunggu di luar hanya menghela napas panjang. Pria yang jomlo dari lahir itu, kini mulai mengintai situasi dan akan mencegah siapapun yang ingin masuk ruangan. Sedang di tempat lain. Sosok pria berbalut kemeja formal yang mewah dan mahal. Nampak berdiri dibantu dengan tongkat berukiran naga. Pria berusia 110 tahun itu masih nampak gagah. Netra birunya mengedar melihat pemandangan dibalik kaca tebal anti peluru. Pria yang berdiri di gedung lantai dua puluh tujuh itu, tengah mengamati lajur jalan raya yang ada di bawahnya. Nampak mobil kecil-kecil lewat satu-satu. Kelap-kelip lampu di antara gedung. Menambah kesan glamor malam itu. Pria itu bernama Eduardo Gabrielle Guetta. Tengah menarik napas panjang. Di belakangnya berdiri sosok pria berusia enam puluh tahun, tak kalah gagah dan juga tampan. "Apa yang kau dapat?" tanya Eduardo. "Tuan Muda, Edward menderita jantung, tekanan darahnya tinggi, tapi trombositnya rendah, Tuan Besar," lapor pria itu. "Lalu?" "Tuan Muda David telah menguasai 35% saham EGC grup," jelas pria itu lagi. "Sungguh anak itu bergerak cepat. Pastikan Paulina tidak menjual sahamnya pada David. Tapi, jika anak perempuan itu ingin menjualnya. Pastikan Paulina menjual sahamnya padaku!" titah Eduardo. Tidak ada tanggapan dari pria yang ada di belakangnya. Hal itu membuat Eduardo sedikit kesal. "Apa kau sudah mulai membangkangku Maxwell?!" "Maaf Tuan Besar," Maxwell malah meninggalkan Eduardo tanpa menanggapi perintah tuan besarnya. "Haish ... pria itu, tidak bisa diajak kerja sama!" umpatnya kesal. Namun sejurus kemudian, pria tua itu menyunggingkan senyumnya. Netranya sedikit berair. Perlahan ia berjalan ke kursi roda otomatisnya. Dengan bantuan tuas yang ada di lengan kursi. Pria itu menggerakkan kursinya leluasa. Hanya sekali ketukan. Pintu kantor terbuka. Pria itu keluar sedang di sana ternyata Maxwell sudah menunggunya. "Kita pulang Tuan?" tanya pria bersetelan seragam formal coklat tua. "Menurutmu?" tanya Eduardo agak kesal. "Baiklah, kita pulang. Tuan besar harus banyak beristirahat," ujar Maxwell. Eduardo memutar bola matanya malas. Maxwell mendorong kursi roda. Di belakang mereka ada empat bodyguard yang mengikuti. Mereka ikut membantu Maxwell dengan memencet tombol lift terlebih dahulu. Begitu seterusnya. Hingga keluar lobby gedung. Mereka mengelilingi Eduardo dan Maxwell sampai mobil. Mobil Limosin yang dirancang khusus anti peluru itu meluncur diikuti dua mobil di depan mobil utama dan dua lainnya membuntuti di belakang. Kelima mobil mewah itu berjalan dengan kecepatan sedang membelah jala. Ibu kota. Eduardo duduk sambil menatap kaca. Pria itu mengingat kilas kisah masa lalunya, dan mulai menyesali semua perbuatannya. "Maxwell. Apa menurutmu aku harus merobek semua surat perjanjian itu?" Perkataan Eduardo langsung ditanggapi semringah oleh Maxwell. Sedangkan di sebuah taksi. Seorang wanita tengah duduk dengan wajah memerah. Tiga jam lalu ia habiskan bersama suaminya. Teringat ia ketika harus melayani b****i sang suami yang tiba-tiba memuncak. Baru kali ini Laura b******a penuh kehati-hatian agar tidak mengganggu alat-alat yang menempel untuk menunjang kesehatan suaminya. Ia merogoh saku. Di wallpaper ponselnya terdapat gambar tujuh anak kembar Melinda. Laura mengingat masa empat tahun yang lalu. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD