EMPAT TAHUN LALU (flashback David)

1500 Words
David menaiki mobil travel yang akan mengantarkannya ke kota kelahirannya. Baru saja sepuluh menit mobil itu bergerak. Hatinya sudah diliputi rasa gelisah. Bahkan pria itu kini duduk dengan tidak nyaman. "Ada apa? Kenapa kau gelisah seperti ini?' tanya salah seorang yang merasa terganggu. "Maaf. Aku baru saja meninggalkan istriku, hanya untuk hidup lebih baik lagi," jawab David sedikit curhat. Laki-laki itu menghela napas berat. Sepertinya ia juga melakukan hal yang sama dengan David. "Hmm ... berat ya, meninggalkan orang yang kita cintai," ujarnya. David hanya menghela napas panjang. Sepertinya perjalanan kali ini akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Perjalanan butuh waktu tiga hari jika melalui darat dan butuh waktu dua atau tiga jam jika melalui udara. Karena tengah menyamar jadi orang miskin pada istrinya. David memilih pergi ke kota J menggunakan transportasi darat. Ada sedikit penyesalan karena telah membohongi istrinya perihal materi yang ia miliki. David Guetta adalah seorang pewaris satu-satunya EGC ( Eduardo Guetta Company) group. Agak sedikit heran. Sebagai pewaris tunggal perusahaan dengan omset billiyunan itu sekolah di tempat yang jauh dari standar bisnis bahkan peringkatnya berada di dua puluh besar. Jangan harap dengan fasilitas mewah yang selalu dibawa atau menjadi identitas orang kaya nomor satu di negaranya. David hidup seperti pemuda lainnya. Sangat sederhana walau tidak kekurangan. Pria ini lulus dengan predikat terbaik di kampusnya. Dan masuk tiga besar di negaranya. Sampai di sebuah mansion dengan design mewah dan klasik. David turun dan menatap mansion yang ditinggali oleh kedua orangtuanya berikut puluhan assiten rumah tangga. Sosok penjaga rumah nampak berlari. Pria berusia tiga puluhan itu langsung membuka pagar kecil yang terselip di pagar tinggi besar. "Tuan Muda David!" panggilnya sambil tersenyum lebar. David hanya tersenyum tipis. Bukannya ia sombong. Pria tampan dan gagah itu sangat rendah hati dan ramah. Namun perjalanan panjang dan cukup melelahkan, membuat pria itu tak menggubris sapaan penjaga mansion orang tuanya. Penjangga bernama Dion Ramirez ini memaklumi kondisi tuan mudanya. Dion dengan sigap mengambil ransel yang dibawa oleh David. Berjalan mengekori san tuan muda. Pintu besar utama yang bercat putih dengan banyak ukiran di sisinya itu terbuka. Puluhan maid berjajar rapi dengan seragam mereka biru tua dilapisi apron warna putih dengan hiasan renda, menunduk dengan hormat. "Selamat datang Tuan Muda David Javier Guetta!" "Sayang, selamat datang!" sebuah suara lembut menyambutnya di tengah ruang tamu sambil merentangkan tangan. "Mommy!" David berlari kecil dan langsung memeluk wanita yang melahirkan dan telah berkorban banyak untuknya ini. David selalu ingat dengan perkataan sang ibu ketika membelanya di depan keluarga besar Guetta. Walau marga Guetta kini hanya tinggal David, ayah serta moyangnya itu. Tapi, baik keluarga sepupu dari marga Guetta atau turunan Guetta dari pihak perempuan juga banyak. Marga Marvis adalah marga yang cukup kuat dan masih sepupu dari marga Guetta. Laura adalah sosok wanita yang berjuang keras untuk menaikkan posisi David, di karenakan putranya itu adalah satu-satunya pewaris dari darah asli Guetta. "Mommy, aku rindu," ujar David menenggelamkan kepalanya ke ceruk leher ibunya. "Sayang. Kau sudah besar. Kenapa manja sekali, huh?" ujar Laura sambil terkekeh. "Ayo sekarang, kau bersihkan badanmu lalu turun dan makan. Setelah itu baru kau boleh beristirahat," titah Laura sambil mengurai pelukannya. "Mom!" David merengek. "Tidak ada penolakan, Tuan Muda Guetta!" ujar Laura tegas. David menghela napas. Pria itu menuruti perintah ibunya dan melangkahkan kaki menuju kamar diikuti oleh salah satu maid wanita yang kini sudah mengambil tas ransel yang dipegang oleh Dion. "Yang lainnya. Selesaikan tugas kalian dan siapkan makanan untuk Tuan Muda!" titah Laura lagi. Semua maid bubar secara perlahan dengan badan yang masih dibungkukkan. Kemudian mereka mulai mengerjakan tugas masing-masing. "Abela!" panggil Laura. "Saya, Nyonya?" sahut kepala pelayan berusia empat puluh tahun itu. "Kau cek semua bahan persediaan. Kita akan mengadakan pesta penyambutan. Oh ya, buatkan undangan khusus untuk Tuan Besar Eduardo juga Tuan Besar Marvis!" titah Laura lagi. "Baik, Nyonya," ujar Abela lalu berjalan mundur kemudian mengerjakan apa yang diperintahkan majikannya tersebut. Laura tersenyum semringah. Wanita itu mengangkat dagunya. Angkuh. Ia ingin menatap keluarga besar Guetta terlebih-lebih pada moyang Guetta. "Lihatlah, Kakek buyut!" ujarnya bermonolog, "pria yang lahir dari wanita biasa ini, mampu mengalahkan puluhan kandidat yang kau agung-agungkan itu!" "Cis ... dan kau Gabby Douglas Guterez. Kau ingin menyaingi putraku dengan putrimu yang kini gila itu!?" "Jangan mimpi!" Laura tersenyum smrik. Wanita berusia empat puluh tiga tahun itu masih sangat cantik berambut pirang dengan tubuh seksi. Laura masih menjaga tubuh dan kulitnya. "Sedang apa, Mom?" sebuah suara mengejutkannya. Wanita itu mendongak, melihat asal suara. David kini sudah bersih dengan kaos hitam dan celana berbahan kulot berwana coklat. Sederhana, tapi berkesan elegan karena branded yang dikenakan pria itu memang dari designer terkenal. "Tidak apa-apa, sayang. Ayo, makan. Sudah itu kau baru boleh beristirahat," jawab Laura lalu merangkul pinggang David setelah pria itu sudah berada di sisinya. David melabuhkan kecupan singkat di pucuk kepala ibunya. "Mom. Papa pulang jam berapa?" tanya David setelah duduk di kursi makan. "Ah ... maafkan papamu, ia sedikit sibuk hari ini, makanya tidak ikut menyambutmu. Dia akan pulang larut. Jadi nanti kita akan malam lebih dahulu," jawab Laura panjang lebar. "Hmmm ... begitulah? Baiklah, padahal aku sangat merindukannya," jelas David sendu. Laura tersenyum mendengar perkataan putranya itu. "Sudah lah, ini sudah Mommy siapkan makanan kesukaanmu. Makanlah," ujar Laura setelah menaruh makanan di piring David. "Mommy sudah makan?" tanya David. "Sudah, sayang," jawab Laura kemudian ia duduk di kursi sebelah David untuk menemaninya makan. Tidak ada obrolan ketika makan. Itu adalah aturan yang harus diterapkan oleh semua keluarga Guetta ketika berada di meja makan. Usai makan, David ditawari lagi oleh Laura untuk tambah makanan. Tapi, karena sudah kenyang. Pria itu menolak. "Tapi tubuhmu sudah kurus, Sayang," ujar Laura sedikit memohon agar David menambah porsi makannya. "No, Mom. Thanks!" tolak David sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit. "Baiklah. Sekarang minum susumu!" titah Laura. "Mom, aku bukan anak bayi!" tolak David malas. "Tidak ada penolakan David. Minum!" titah Laura tegas. Dengan napas berat dan sedikit kesal. Akhirnya David meminum habis s**u tersebut. "Apa Mommy senang?" tanya David. Laura mencium kening David, lalu tersenyum. "Tentu, Mommy senang, sayang!" "Oke Mom. Aku senang jika Mommy juga senang. Sekarang, apa boleh aku ke kamarku? Aku sangat lelah!" "Tentu, Sayang. Istirahat lah!" David bangkit dari kursinya. Kemudian mencium kening Laura. "Love you, Mom." "Love you more, Hon!" David akhirnya berjalan menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Tak lama. Ponsel Laura berdering. Sebuah nama bertuliskan "My Hubby" memanggil. "Halo, sayang," sapa Laura setelah membulir bulatan hijau pada layar ponselnya. "Halo, sayang. Apa putra kita sudah sampai rumah dengan selamat?" tanya Edward di ujung telepon. "Sudah, sayang. Barusan selesai makan. Dia kini ada di kamarnya. Apakah kau ingin berbicara dengannya?" jawab Laura. "Tidak perlu sayang. Syukurlah jika dia sudah sampai rumah dengan selamat. Maaf, aku baru menghubungimu sekarang. Aku tadi ada di luar jaringan telepon. Sekarang aku ada di sebuah kota kecil," jelas Edward panjang lebar. "Baiklah aku tutup teleponnya. Jangan tunggu aku. Makan malam lah kalian nanti lebih dulu. Kemungkinan aku pulang dini hari," lanjutnya. "Baik sayang. Hati-hati di sana. Love you," ujar Laura. "Love you more," balas Edward. Tak lama kemudian sambungan telepon ditutup oleh Laura. "Nyonya!" panggil Abela. Laura menoleh asal suara. Wanita berkulit hitam berdiri tak jauh darinya. "Ini daftar persediaan makanan di mansion, Nyonya," ujar Abela menyerahkan buku memo kepada majikannya. Laura menerima buku memo itu. Wanita itu membaca secara terperinci. Setiap pesta. Sangat jarang ia menggunakan jasa catering. Laura sudah biasa memasak dalam jumlah besar semenjak ia remaja. "Baiklah. Sekarang, kau pergi berbelanja untuk menambah kesediaan makanan dan pesta. Hubungi bagian dekorasi. Aku ingin pesta ini spesial lain dari pada pesta sebelumnya," ujar Laura penuh dengan kebanggaan. "Baik, Nyonya!" "Oh ya, bawa salah satu atau dua orang maid membantumu. Aku yakin kau tidak akan sanggup membawa semua barang belanjaan itu. Jika perlu, pakai jasa antar agar tidak semua makanan kau masukan ke bagasi mobil!" titah Laura tegas. "Baik, Nyonya. Apa masih ada lagi?'' tanya Abela. "Bagaimana soal undangan?" tanya Laura. "Saya sudah menyerahkannya pada Marcus, Nyonya," jawab Abela. Marcus adalah wakil kepala pelayan. Laura mengangguk. "Baiklah. Sekarang itu dulu. Nanti selanjutnya, aku akan memberitahumu," jelas Laura lagi. "Baik Nyonya, Saya permisi," ujar Abela lalu membungkuk hormat sambil berjalan mundur tiga langka. Setelah kepergian Abela. Laura memanggil Marcus. Pria berkulit coklat berusia dua puluh tahun ini merupakan anak dari Abela sendiri. "Marcus. Bagaimana, apa kau sudah memanggil para dekorasi?" tanya Laura tanpa melihat Marcus. "Sudah, Nyonya. Mereka memberikan saya, fyler gambar beberapa design tema pesta," jawab Marcus kemudian menyerahkan tablet pada Laura. Laura mengambil tablet dari Marcus, melihat file-file foto yang disuguhkan. Tapi, tak satu pun yang membuatnya tertarik. "Bilang pada pendekor. Aku ingin membuat konsep dan designya sendiri," ujar Laura kemudian menyerahkan tablet itu pada Marcus. "Baik, Nyonya," ujar Marcus sambil menerima tablet dari majikannya. "Baik, kerjakan tugasmu yang lain. Setelah aku menggambar konsep dan design untuk pesta, akan aku panggil kau kembali," titah Laura. "Baik, Nyonya. Saya permisi," ujar Marcus sambil menunduk kemudian mundur sebanyak tiga langkah. Setelah kepergian Marcus. Laura menuju ruang kerja suaminya, Edward. Wanita itu mulai menggambar design juga menulis konsepnya. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD