EMPAT TAHUN LALU(flashback David) 2

1485 Words
Pesta penyambutan David cukup ramai. Bahkan mansion besar itu menjadi padat karena banyaknya orang yang datang. Padahal Laura hanya mengundang beberapa petinggi perusahaan dan keluarga besar Guetta. Ternyata sang suamilah penyebab tamu datang sebanyak itu. Pria itu juga mengundang beberapa kolega pentingnya. Karena hari ini ia akan menyerahkan jabatannya sebagai CEO kepada putranya. Tidak ada yang bisa menolak pergantian jabatan itu. Karena seluruh kandidat yang dipersiapkan gugur dan tidak masuk kualifikasi. Putra dari Tuan Berhand Guetta Ramirez, tidak lulus tepat waktu bahkan dua kali DO. Putra dari Gerardo Martinez, kini berada di pusat rehabilitasi n*****a. Putri dari Gabby Douglas Guterez kini gila karena otaknya tidak mampu untuk menampuk mata kuliah, karena gadis itu hanya bisa melukis. Sedangkan turunan asli Guetta hanyalah David Javier Guetta. Lulus dengan predikat terbaik, bahkan masuk tiga besar nasional. Maka tak ada satu pun yang bisa menjegal atau meremehkan pemuda itu. Sosok yang paling dibenci oleh Laura adalah Eduardo Gabrielle Guetta, moyang dari Guetta itu sangat sulit untuk diluluhkan. Entah apa yang akan direncanakan oleh pria tua yang usianya sudah lebih dari satu abad itu. Bukan hanya Eduardo yang menjadi sosok paling dibenci oleh Laura. Ada satu wanita yang menjadi momok paling menakutkan di keluarga Guetta. Dia adalah Paulina Elizabeth Guetta. Perawan berusia lima puluh delapan tahun itu. Adalah sosok paling kuat, baik secara suara atau kekuasaan, dibawah kepemimpinan ayahnya Eduardo Guetta. Paulina datang dengan gaun rancangan designer ternama. Dengan taburan Swarovski di bagian d**a dan pinggang. Gaun berwarna hitam itu nampak indah membalut tubuh yang masih terjaga bentuknya itu. Walau kulit Paulina sedikit keriput. Tapi, wajahnya masih segar dan sangat cantik, terlebih make up artis yang ia kenakan menyamarkan keriput di wajahnya. Sedangkan Eduardo datang mengenakan baju taxido lengkap warna biru muda. Kontras dengan tongkat kayu ukiran kepala naga. Sedangkan Maxwell asistennya memakai jas formal berwarna hitam. Laura sendiri mengenakan gaun warna shock pink sepanjang mata kaki berbentuk kemben. Kulitnya yang putih sangat kontras. Tanpa mengenakan aksesoris berlebihan. Hanya mengenakan kalung dengan liontin berlian berwarna biru gelap. Di padu dengan anting berlian kecil warna senada dengan liontinnya. Rambutnya ia sanggul asal, hingga riapan rambutnya tergerai dan terkesan seksi. Tak ada perhiasan lain selain cincin kawin bermata blue safir langka dari benua Afrika. Sedangkan Edward mengenakan taxido warna biru tua, selaras dengan putranya. Ketampanan David dan Edward menjadi sorotan para gadis. Kolega yang diundang oleh Edward ternyata juga membawa istri juga anak mereka. Kebanyakan yang dibawa adalah anak perempuan. Tentu dengan bertujuan agar David tertarik salah satu dari mereka. Sayang, sepanjang pesta. Wajah David datar dan dingin. Pria itu seakan membangun dinding kokoh untuk para gadis. "Nah, sekarang adalah acara utama. Penyerahan tapuk pimpinan kepada David Javier Guetta!" "Tunggu!" suara berat dan serak menginterupsi acara. Laura sangat kesal dan benci dengan suara itu. Ya, suara itu adalah milik dari Eduardo Gabrielle Guetta. Kakek buyut David. "Mana sampangenya?" tanya pria tua itu, "mana ada penobatan CEO tapi kita tidak mendulang sampange!" "Kenapa mesti sampange? Aku sudah menyiapkan wine khusus untuk penobatan ini," ujar Laura menimpali Eduardo sinis. 'Ah ... wanita itu masih membenciku,' gumam Eduardo dalam hati. "Abela!" panggil Laura. Abela mendorog troli berisi sepuluh botol wine bertuliskan Taste of Diamond (2013). Anggur ini dibuat oleh Alexander Amosu bahan yang terkandung dalam minuman ini berupa Pinot Noir, Pinot Meunier, dan Grand Cru Chardonnay. Minuman ini menjadi mahal bukan karena kandungannya tetapi karena botolnya yang terbuat dari emas 18 karat dan berlian putih 19 karat. Harga botolnya sendiri sekitar USD 200 atau setara Rp 2,8 juta (1 USD = Rp 14.223) Harga keseluruhan alias botol dengan isinya mencapai USD 1,8 juta atau Rp 25,6 miliar. Melihat anggur yang dibawa oleh Abela banyak yang menelan saliva kasar. Tak sedikit membelalakkan mata. Eduardo yang melihat betapa fantastisnya minuman itu akhirnya tertawa senang. "Ah ... Aku akan mati dalam kedamaian, karena sudah pernah meminum anggur ini," kekehnya. Laura hanya tersenyum sinis. Edward begitu bangga akan istrinya. Dengan mengeluarkan satu botol Taste of diamond saja, wanita itu sudah menaikan saham perusahaan miliknya. Edward mengetahui itu dari berita bisnis yang diikutinya dan berita itu ada di layar ponsel Ben yang memperlihatkannya. "Baiklah. Karena anggur ini hanya sedikit, yang masih muda dan anak gadis dilarang minum ini. Biar para pria-pria matang saja yang meminumnya," ujar Laura yang dibarengi keluhan panjang dari para pebisnis muda yang ikut hadir di pesta. Bahkan David juga ikut kecewa. Para pebisnis muda dituangkan sampange oleh Marcus. Sedangkan Tetua Eduardo dituang wine. "Bersulang untuk kesehatan dan kejayaan Guetta!" Teriak Edward mengangkat gelas skoci. "Bersulang!'' masing-masing semuanya mengangkat gelas mereka dan meneguk minuman. "Aah!" mereka semua mengernyit merasakan sensasi manis di lidah dan terbakar di tenggorokan mereka. "Ah ... wine ini benar-benar sempurna. Harga memang tidak bisa menurunkan kwalitas," puji salah satu kolega Edward. "Tentu saja. Ada kwalitas tentu ada harganya. Walau kadang sekarang orang banyak hanya memandang harga tinggi tapi menipu!" Ejek Laura sakras sambil melirik sinis Eduardo. Eduardo tidak merasa tersindir sama sekali. Sosoknya di sini hanya dituakan. Tapi, semua keputusan sudah dirembuk oleh keluarga besar. Sedangkan Paulina yang mendengar ejekan Laura, tak mampu berkutik apa-apa. Semua kandidat yang ia usung bertumbangan sebelum perang dimulai. "Gabby, bagaimana keadaan putrimu? Aku dengar ia sudah lebih baik?" tanya Paulina mengalihkan pembicaraan. "Kemarin psikiater bilang, keadaannya mulai membaik ketika Karina diberi alat-alat lukis. Mereka mengatakan ia menemukan dunianya sendiri," jawab Gabby dengan suara lemah. Tidak ada kesombongan di sana. Laura hanya tersenyum miring. "Dulu sebelum kalian paksa gadis cantik itu belajar bisnis. Karina adalah sosok ceria dan sangat lembut. Kalian berdua lah yang membuatnya seperti sekarang ini," sindir Laura sakras. "Sama halnya Martinez, Gueterez dan Alfonso. Mereka memiliki kelebihan masing-masing. Sebelumnya mereka juga memiliki usaha yang bisa dibilang bukan usaha kecil-kecilan. Tapi, kalian malah merusak bahkan mengubur bakat mereka sedalam-dalamnya!" lanjutnya. Laura menatap nyalang pria tua yang kini duduk di kursi kebesarannya. Mendapat tatapan tajam itu membuat Eduardo salah tingkah. "Kenapa kau melihatku? Aku hanya menuruti apa yang mereka mau. Untuk dampaknya, itu menjadi konsekuensi mereka sendiri," jelas Eduardo tidak mau disalahkan. "Tapi setidaknya kau bisa memberi saranmu, Pak tua?" gumam Laura kesal. Andai gumaman itu bisa didengar. Mungkin semua orang yang hadir akan mencaci Laura tidak sopan. Sayang ia hanya bisa bergumam kesal dalam hati. Eduardo sangat tahu betapa kesal wanita yang sudah menjadi cucu menantunya selama dua puluh empat tahun itu. Bagaimana wanita itu berjuang untuk suami dan putranya agar bisa menduduki jabatan tertinggi di perusahaan turun temurun. "Sudahlah. Ayo kita lanjutkan acara. Aku sudah lapar," ujar Edward mendinginkan suana. Pesta yang di d******i warna emas dan perak juga sedikit sentuhan pita hitam ini adalah design dari Laura sendiri. Kesan mewah, glamor dan elegan juga kuat menjadi satu. Terlebih dengan makanan ringan juga aneka kue yang tersaji sangat menggugah selera. "Apa kalian tahu, kue buatan siapa yang dimakan itu?" Semua menggeleng. "Ini dari mall kue milik Gueterez yang ada di pusat kota," jawab Laura. Jawaban Laura mengejutkan semua orang. Sedangkan orang yang dibicarakan hanya bisa tertunduk. "Angkat kepalamu Gueterez! Ini bukan hal yang memalukan. Kau bukan pencuri!" tekan Laura pada pria yang sedari tadi diam itu. "Abela. Siapkan makan siang!" titahnya. "Baik, Nyonya!" Abela langsung menyiapkan semuanya. Para tamu disajikan hidangan laut, seperti tiram, lobster dan udang. Belum lagi steak dari daging pilihan. Mereka memilih dengan bebas apa yang mereka inginkan. Laura juga menyiapkan meja dan kursi agar mereka makan dengan nyaman. Ketika semua menikmati makanan yang mereka makan. Semuanya berdecak keenakan. "Ini lezat sekali!" puji salah satu pebisnis muda. "Tentu saja. Itu masih milik Gueterez dan dia yang memasak dengan tangannya sendiri," jawab Laura lagi. "Wah, jika begini. Besok ketika ada acara apapun, aku mau Gueterez yang memasak semuanya," ujar Hudson Frigth pebisnis baja yang terkenal. Mendengar itu. Semua pebisnis meminta kartu nama Gueterez. Betapa pemuda itu sangat senang atas antusias para pebisnis. Pria itu mendekati Laura dan memeluk wanita itu, erat. "Terima kasih, Bi. Kau benar-benar membantuku," ucapnya tulus. "Sama-sama, sayang," balas Laura sambil membalas pelukan Gueterez. Eduardo melihat itu sedikit terharu. Pandangan modern Laura, membuat semua mata terbuka. Terlebih pria tua nan kolot seperti dirinya. "Maxwell!" "Saya, Tuan Besar." "Apa jaman sudah berubah total?" tanyanya. "Bukan lagi, Tuan. Jaman makin maju dan sangat berkembang. Jika kita tak bisa bersaing. Kita akan tertinggal jauh," jawab Maxwell lancar. Eduardo hanya mengangguk pelan. Pria itu kini menikmati tiram hitam yang sangat lezat. Tapi sayang, Maxwell sudah melarangnya untuk menambah satu porsi lagi. "Ingat kesehatan,Tuan!' ujar Maxwell mengingatkan. " Ah ... Kau nggak asik, Maxwell!" gerutu Eduardo. Maxwell hanya mengangguk. Pria berusia lima puluh tiga tahun itu masih melajang dan tetap setia di samping tuannya. "Makanlah, Max. Kau butuh asupan agar kuat mengurusi buyut ku," ujar Laura memberinya satu porsi makanan. Wanita itu menarik tangan Maxwell dengan paksa kemudian menyuruhnya duduk. "Terima kasih, Nyonya," ujar Maxwell tulus. Laura mengusap pundak Maxwell. Sejurus kemudian pria yang masih tampan itu memakan hidangkan yang diberikan padanya. Eduardo hanya menatap Laura berbinar. Perlakuan Laura tidak luput dari perhatian Paulina. Gadis tua yang masih perawan itu, hanya memasang wajah datar. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD