Pagi telah menjelang. Hari ini Laura datang membawa oleh-oleh untuk ketujuh cucunya.
Klining!
Gemericing bel yang terpasang di pintu berbunyi, bertanda ada orang masuk.
Melinda menoleh. Sebuah senyum manis yang entah kapan wanita berusia dua puluh tiga tahun ini sangat merindukannya.
"Laura!" Panggilnya dengan wajah berbinar.
"Hai, Sayang!" Sapa Laura. Ia juga merindukan Melinda.
"Grany!" Teriak ketujuh bocah sambil berlompatan riang.
"Apa yang kau bawa, Glany?" Tanya Lily antusias melihat paper bag besar di tangan Laura.
"Hei, tanya kabar Grany mu dulu, sayang?" Peringat Melinda.
"Ck ... seperti kau tidak pernah kecil saja," ujar Laura sedikit protes.
"Ah, maaf. Apa kabarmu Glany?" Tanya Lily kini dengan suara menggemaskan.
"Aku baik-baik saja, Sayang. Ayo sekarang berbaris. Grany akan membagikan mainan untuk kalian," ujar Laura.
"Tidak ada makanan?" Kini tanya Chalie menimpali.
"Tentu ada, sayang. Grany sudah membuat pie besar agar semuanya dapat dan kenyang," jawab Laura sambil menciumi pipi-pipi gembul ketujuh anak Melinda.
Mereka langsung berteriak kesenangan. Melompat-lompat. Saling berebut dan meminta diperhatikan lebih dulu.
Beruntung semua bentuk dan warna mainan sama. Jadi tidak ada yang berteriak dan berebut ingin mainan yang berbeda. Kecuali untuk putri kecil, Lily. Laura membelinya boneka beruang warna coklat berukuran kecil.
Laura mengambil piring besar untuk meletakkan kue pie nya. Kemudian memotongnya lalu diletakkan ke dalam piring kue. Laura juga menaruh sendok kecil di sana.
"Ayo berbaris!" Teriak Laura.
Anak-anak berbaris dengan rapi. Laura membagikan piring-piring berisi pie pada anak-anak.
"Makannya harus duduk ya," titah Melinda memperingatkan.
Semuanya pun duduk dan memakan kuenya dengan nikmat.
"Terima kasih, menyayangi anak-anakku, Laura," ungkap Melinda tulus.
"Sama-sama, sayang. Mereka mengingatkan cucu-cucuku," balas Laura sambil mendekap bahu Melinda.
Di lain tempat. Sosok pria tua tengah menatap jendela kaca besar anti peluru. Melihat pemandangan di bawahnya. Sambil sesekali menyesapi kopi hitam yang masih mengepul uap panas.
"Maxwell!" Panggilnya dengan suara parau.
Sosok pria berusia matang dan masih lajang ini mendatangi atasannya. Pria yang sedikit banyak tahu sosok pria tua.
Kisah yang diuraikan dari turun temurun kakeknya. Maxwell muda sangat takut akan sosok Eduardo. Dulu ia sangat membenci tuannya itu. Mungkin sampai sekarang, ia membenci Eduardo. Pria dengan sejuta kelicikan.
Eduardo Gabrielle Guetta. Dulunya seorang imigran. Menemukan sebuah pulau kecil yang nyaris tidak ada penduduknya.
Berkat keuletannya, ia bisa membangun bisnis hingga mampu mengelola sumber daya alam. Siapa sangka pria itu malah menemukan tambang emas dan berlian terbesar. Karena kota itu jauh dari kekuasaan kerajaan terdahulu. Bahkan tidak bergabung dalam kota besar negara mana pun. Pria itu mendirikan sendiri sebuah kota.
Dengan keuletan serta kecerdasannya. Pria itu bisa membangun dermaga, jalan raya dan pasar. Lambat laun pulau kecil itu kini mulai banyak berdatangan imigran untuk meraup keuntungan yang sama. Tentu saja hal itu tidak dibiarkan oleh Eduardo.
Dengan kekayaannya ia menyewa beberapa tukang pukul dari kota lain. Tujuannya mengusir para imigran yang ingin bercokol menguasai tambang miliknya.
Sebanyak seratus imigran tewas tanpa sebab. Mereka dikuburkan secara sembunyi-sembunyi. Tanpa ada yang mengetahuinya.
Eduardo mempelajari tentang cara mengelola sebuah negara. Maka itu, ia menikahi perempuan Eropa yang berdarah bangsawan. Dengan menggunakan uang, pria itu kini memiliki kekuasaan.
Dukes Ratrina Verlioan Ramirez. Seorang putri dari Duke Roberto Ramirez dan Dukes Miyana Gueterez.
Kerena kekayaan Eduardo. Putri seorang Duke dapat ia persunting. Padahal saat itu Dukes Katrina tengah dalam masa perjodohan dengan putra mahkota.
Kaisar monarki yang berkuasa saat itu memberinya gelar kebangsawanan sebagai Viscount.
Sayang. Kerajaan yang dulu berkuasa perlahan menghilang karena habisnya keturunan mereka.
Dari pernikahannya. Eduardo memiliki seorang putra bernama David Edward Guetta dan Paulina Elizabeth Guetta.
David Edward Guetta atau biasa dipanggil Eddiv. Menikah dengan wanita yang masih keturunan bangsawan juga. Bergelar Count Berliana Hernandez.
Ketika berusia enam puluh tahun. Eduardo menderita gagal jantung. Semua orang panik termasuk Eduardo sendiri.
Dokter menyatakan jika Eduardo harus melakukan transplantasi jantung agar bisa hidup lama.
Untuk mendapatkan jantung yang sehat dan cocok. Tentu membutuhkan waktu lama.
Baik Eddiv dan Paulina menjaga ayah mereka secara bergantian. Istrinya Katrina, sudah meninggal di usianya beranjak empat puluh tujuh tahun. Eduardo dan istrinya hanya selang usia lima tahun lebih tua pria itu.
Dalam kekalutan mencari donor jantung. Eduardo hanya bergantung hidup dari oksigen dan obat-obatan.
Paulina yang sudah menginjak usia tiga puluh tahun mulai resah. Karena turunan bangsawan pria sudah tidak ada. Jikalau pun ada. Paulina harus rela menjadi selir atau istri kedua.
Tentu hal itu dilarang keras oleh Eduardo. Pria itu menginginkan gelar bangsawan akan terus melekat pada keluarganya. Dengan menikahkan Paulina dengan salah satu bangsawan, akan makin menaikan derajatnya.
Sebenarnya, Paulina memiliki kelainan s*x. Dia jatuh cinta pada kakak kandungnya sendiri. Bahkan sang kakak juga menyembunyikan penyimpangan itu.
Secara diam-diam. Mereka menjalin hubungan. Bahkan lebih dari sekedar hubungan antar kekasih.
Melalui bantuan entah pendeta dari mana yang mensahkan pernikahan kakak beradik itu. Eddiv dan Paulina sudah menjadi suami istri.
Sayang. Eddiv hanya berani bermain aman tanpa mau menyatukan dirinya dengan Paulina. Pria itu masih sedikit ragu untuk melakukan itu. Walau bagaimana pun dalam pikiran sehatnya. Paulina adalah adik kandung yang tak boleh ia rusak.
Eddiv hanya melakukan ciuman dan mencumbu adiknya. Tidak lebih.
Namun sebaik-baiknya manusia menyimpan kebusukan, pasti tercium juga. Hal ini terjadi.
Eduardo mengetahui perbuatan kedua anaknya. Pria itu murka.
"Apa yang kau lakukan!" Teriaknya dengan napas terengah-engah.
Para dokter sampai menyuntikan obat penenang agar menyetabilkan emosi yang berakibat fatal pada jantungnya.
"Kita harus akhiri ini, Liz!" Ujar Eddiv. Liz, adalah panggilan sayangnya pada adik sekaligus istrinya itu.
"Jangan Kak. Aku tidak mau!" Tolak Liz sambil berlinang air mata.
"Aku mencintaimu, Kak. Aku tidak bisa hidup tanpamu," ungkap Liz sambil memeluk Eddiv erat.
Pria itu juga sama beratnya. Ia juga tidak mau kehilangan adik kandung yang telah dinikahinya itu. Bibir mereka saling menaut.
Paulina ingin menyerahkan diri seutuhnya pada kakaknya. Ia akan menyerahkan kehormatannya pada pria yang ia cintai.
Eddiv yang sudah dirasuki setan itu tidak lagi mengingat siapa yang digaulinya. Hingga ketika pria itu ingin menjamah benda kenyal. Tiba-tiba.
"Hentikan! Apa yang kalian perbuat!" Sebuah teriakan menginterupsi kegiatan keduanya.
Berliana sangat shock dengan kejadian yang dilihatnya. Sepasang kakak beradik tengah memadu kasih. Mereka melanggar norma dan agama yang berlaku.
Berliana menjerit histeris. Wanita itu mengamuk dan mencakar Paulina. Eddiv menahan dan menjadi tameng untuk adiknya.
Sedang di rumah sakit. Eduardo tengah duduk sambil melihat video siaran langsung. Senyum sinis tersungging.
"Gerard!" Panggilnya dengan suara serak.
"Saya, Tuan!" Sosok tinggi besar dan gagah juga tampan datang menghampiri.
Gerard adalah ayah dari Maxwell. Gerard tidak memiliki marga karena Eduardo mengambil ayah Gerard yakni Pelipe dari jual beli manusia.
Pelipe membawa putranya Gerard yang berusia delapan tahun waktu itu. Eduardo membeli mereka dengan harga mahal.
Pelipe meninggal ketika Gerard menikah dengan perempuan biasa dan melahirkan Maxwell.
Kematian Pelipe masih misteri. Laki-laki itu tewas ketika mengantar puluhan imigran gelap ke penampungan. Mobilnya mengalami kecelakaan.
Kini Gerard menggantikan posisi mendiang ayahnya untuk setia pada atasannya. Karena Eduardo telah membeli hidupnya. Dengan sebuah surat perjanjian. Eduardo mengikat Gerard sekuat-kuatnya.
Kini Gerard ditugaskan oleh Eduardo. Dengan berat hati, pria itu harus melakukannya dengan benar dan tidak ada kesalahan sedikit pun.
Paulina kini hanya bisa menangis dan meraung. Eddiv pergi meninggalkannya. Pria itu lebih memilih istri dan putranya.
"Aku bersumpah. Akan menghabisi marga Guetta hingga tidak ada lagi keturunannya!' teriak Paulina.
Sedangkan di sebuah mobil yang tengah melaju. Dua insan tengah cekcok dan saling memaki satu sama lain.
Berliana. Wanita cantik itu tak habis pikir, bagaimana pria yang dinikahinya hingga dua puluh tahun itu memiliki kelainan s*x.
"Aku khilaf!" Ujar pria itu menbela diri.
"Katakan, sejauh mana kalian berhubungan?" Teriak Berliana emosi.
"Aku hanya sekedar mencumbunya," jawab Eddiv lirih.
"Kau gila! Dia adik kandungmu sendiri!" Teriak Berliana kesal.
Wanita itu menangis sejadi-jadinya. Hatinya hancur mengetahui pria yang ia cintai memiliki kelainan. Tapi, sebagaimana pun ia membenci Eddiv. Perempuan itu juga tidak mau ditinggalkan.
Makanya tadi ia membuat pilihan pada pria itu. Tetap bersama dia dan anaknya atau adiknya.
Eddiv memilih Berliana. Pria itu juga tidak gila untuk memilih adiknya sendiri untuk dijadikan istri. Akan sangat memalukan dan bisa menghancurkan nama baik keluarga Guetta.
"Maafkan aku, sayang," Eddiv memberhentikan mobilnya.
Pria itu memeluk istrinya. Berliana berkali-kali menolak dan berontak. Tapi, pelukan Eddiv makin erat. Bahkan menciumi wajah istrinya. Hingga akhirnya wanita itu luruh dalam pelukan sang suami.
Berliana menangis di d**a suaminya. Eddiv membelai rambut pirang sang istri dengan penuh kelembutan.
Tangannya meraih dagu Berliana hingga wajah yang basah dengan air mata itu menatapnya.
Eddiv mencium bibir kenyal istrinya. Mececapnya lebih dalam hingga lidah mereka bertautan. Memberi panas dan gairah pada tubuh mereka berdua. Hingga keduanya melepaskan tautan mereka setelah kehabisan pasokan oksigen.
"Maafkan aku. Aku mencintaimu!" Ungkap Berliana sambil terisak.
"Aku juga minta maaf. Dan aku juga mencintaimu," balas Eddiv.
Tak lama mobil itu kembali melaju. Ketika di jalan besar. Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh truk yang menyalip dan membentur sedikit mobil yang mereka tumpangi.
Eddiv kehilangan kendali. Hingga.
Brakk!
Mobil menabrak pembatas jalan dan keluar jalur lalu berhenti menabrak patung kokoh tengah kota. Patung pendiri kota, Eduardo Gabrielle Guetta.
Bersambung.