Bab 1 - Awal Mula
"Aku mencintaimu Galuh. Sangat mencintaimu," ungkap seorang pria kepada seorang wanita dalam rengkuhannya, yang tubuhnya kini hanya berbalut selimut. Ranjang dan dinding kamar menjadi saksi bisu atas pengakuannya tersebut.
Sang wanita memberikan senyum lembut, beriringan dengan tangannya yang terangkat membelai wajah pria itu.
"Aku tahu. Kamu sudah sering mengatakannya," jawabnya. "Aku juga mencintaimu, Alister. Kamu suamiku."
Namun, pria yang dipanggil Alister itu menampik halus tangan sang wanita. Membawanya kembali bersandar pada d**a bidangnya. Sampai ketika dia mulai memperjelas perkataannya sebelumnya, membuat jantung wanita itu mencelos melambung tinggi ke atas langit.
"Kamu tidak mengerti, kali ini berbeda." Alister menatap dalam wanita di hadapannya. "Rasa ini mulai tumbuh sejak kamu kembali dari menghilang. Aku jatuh cinta padamu ... Galuhku yang baru. Sungguh-sungguh cinta, bukan lagi sebuah obsesi."
Mendengar pengakuan tersebut, wanita yang sedari tadi dipanggil Galuh itu seketika terpaku. Jantungnya berpacu cepat, serta desirannya yang hebat sanggup membuatnya seolah terbang. Menciptakan suatu candu tersendiri yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Tapi kemudian, ia segera tersadar.
'Tidak ... ini salah. Tidak seharusnya Alister mengatakan itu. Tidak sepantasnya juga aku merasa begini. Aku bukan Galuh.'
Wanita itu pun perlahan menyingkirkan diri dari dekapan Alister. Ia bangkit seraya memegangi selimut yang menjadi satu-satunya benda yang menutupi tubuh polosnya. Ia mulai memunguti pakaiannya yang tergeletak sembarang di lantai, lantas mengenakannya. Membuat Alister memandangnya penuh tanya.
Wanita itu sudah bersiap angkat kaki dari hadapan Alister. Tapi, tatapan mereka yang bertemu kembali membuat langkahnya enggan bergerak. Sekali lagi ia dibuat terpaku oleh pria yang menganggapnya adalah Galuh, istrinya.
'Harusnya aku tidak bertindak sejauh ini. Membuat Alister mengungkapkan cinta pada Galuh yang baru, padaku. Dan harusnya aku tidak terbuai. Karena aku tidak dibayar untuk jatuh cinta padanya. Percuma saja, di matanya, Galuh adalah satu-satunya wanita yang dicintainya, bukan aku.'
Ketika air matanya sudah hampir jatuh, wanita itu segera berlari pergi keluar dari kamar, sebelum Alister sempat menyaksikannya. Ia menghindar sejauh mungkin dari gapain pria itu.
Wanita itu kemudian masuk ke dalam sebuah kamar dan jatuh terduduk di balik pintu. Ia menangis.
"Kenapa rasanya jadi semenyakitkan ini?" gumamnya sembari memegangi dadanya yang entah sejak kapan mulai terasa nyeri. "Salahku sendiri, begitu terlena dalam bermain sandiwara ini. Sampai-sampai aku lupa, bahwa aku bukanlah Galuh."
Wanita itu berusaha menghapus air mata yang terus mengalir membasahi pipi mulusnya. Kemudian, ia merenung dalam. Mengingat kembali bagaimana kisah ini bermula.
Mungkin harusnya sedari awal ia tidak tergiur dengan uang dua miliar itu. Harusnya ia tetap bertahan bekerja keras menjadi wanita penghibur sampai utang keluarganya lunas. Sehingga ia tidak perlu menghadapi situasi dilema ini, di mana sebuah harapan besar ia gantungkan tinggi-tinggi. Bahwa Alister sungguh-sungguh mencintainya, bahwa mereka bisa saling mencintai tanpa adanya bayang-bayang Galuh.
**
Tiga bulan sebelumnya ....
“Ahhh ....”
Pria paruh baya dengan berewok gagah di wajahnya melenguh lemas. Matanya terpejam menikmati sensasi berdenyut di bagian bawah perutnya. Sementara wanita bernama Eisha Nurmalia, masih memainkan pinggulnya dengan irama pelan nan syahdu.
Perlahan, Eisha melepaskan diri dari tubuh pria itu. ‘Tiga menit,’ batinnya seraya tersenyum miring. ‘Andai setiap hari begini, melayani sepuluh orang pun aku sanggup.’
Dengan tubuh yang masih polos, Eisha duduk di samping pria itu. Dilepaskannya karet pelindung yang membungkus area privasi sang pria. Ada cukup banyak cairan di dalamnya. Setelah membuangnya ke tempat sampah yang terletak tidak jauh dari ranjang, Eisha menggoda pria itu sekali lagi dengan mengecup pucuk kepunyaannya. Membuat tubuh pria itu sedikit tersentak lantaran geli.
“Nakal ya kamu,” ujar pria itu seraya memainkan rambut Eisha. Wanita itu hanya menjawabnya dengan mengedipkan sebelah mata, lantas beranjak berdiri mengenakan handuk.
“Aku mau mandi dulu ya, Om. Kalau mau keluar, di depan pintu ada teman aku yang nanti antar Om ke bawah.”
Pria itu memberikan jempolnya di hadapan Eisha, kemudian bergegas berpakaian dan langsung pergi meninggalkan kamar. Setelah keluar dari kamar mandi, Eisha melihat di atas ranjangnya ada dua lembar uang seratus ribu. Wanita itu tersenyum, “Lumayan,” gumamnya.
Pukul sepuluh malam. Eisha duduk di lobi bersama seorang kenalan yang biasa mendatangkan tamu untuknya—bisa dibilang joki. Seperti biasa, ada janji temu dengan seorang klien. Memang seperti ini rutinitas di setiap malamnya.
Namun, saat sedang menunggu, ponsel Eisha tiba-tiba berbunyi. Bunyi khas notifikasi pesan masuk dari sebuah aplikasi yang berjasa besar dalam membantu Eisha serta jokinya dalam mencari tamu.
Eisha membuka pesan tersebut. Tampak username-nya tercantum sebagai Anonim. Tidak heran, cukup banyak klien-kliennya yang tidak mau memberikan identitas asli mereka saat ingin memesan jasanya. Eisha pun lanjut membaca isi pesan.
[Layani aku satu malam ini. Uang muka sebesar 30 juta akan langsung aku transfer ke rekening kamu. Kirimkan saja nomor rekeningnya].
Seketika Eisha berdiri dari duduknya. Ia terkejut bukan main membaca nominal dari penawaran sang Anonim.
“Ti-tiga puluh juta hanya untuk uang muka?!” pekiknya tak percaya.
Selama ini, belum pernah ada p****************g yang menawari sebesar itu. Mungkin hal yang biasa jika Eisha bekerja di bawah naungan agensi besar yang menargetkan pejabat, artis atau orang-orang kalangan atas lainnya. Tapi, Eisha hanyalah wanita penghibur kelas bawah, tidak ikut agensi mana pun. Ia bahkan hanya memasang tarif tujuh ratus ribu untuk satu kali main. Sekarang ada yang menawar akan memberi uang muka sebesar tiga puluh juta, bagaimana ia tidak terkejut? Entah berapa lagi yang akan ia dapat setelah melayaninya.
“Kamu harus ambil job ini, Eisha. Gila!!! Ini sih jackpot namanya.” Sang joki turut bersemangat setelah mengecek pesan di ponsel Eisha. “Lumayan, jumlahnya cukup banyak untuk menambah tabungan pelunasan utang keluarga kamu.”
Sejujurnya Eisha masih belum percaya sepenuhnya. Ia berpikir, bisa saja ini hanya orang iseng. Sebaiknya ia jangan terlalu terlena dulu.
“Coba aku balas dulu.”
Eisha pun mulai mengetikkan sesuatu di layar ponselnya.
[Maaf sebelumnya, tolong jangan main-main. Aku sibuk, banyak yang antri malam ini].
Beberapa saat berlalu. Eisha beserta jokinya menunggu balasan dengan jantung berdebar. Sampai beberapa detik kemudian, sebuah notifikasi kembali muncul.
[Aku tidak main-main. Aku betul-betul ingin bersama kamu malam ini. Kalau kamu tidak percaya, kirimkan saja nomor rekeningnya. Aku jamin uang mukanya akan langsung masuk ke rekening kamu. Sisanya akan kutambah lagi jika kamu berhasil memuaskanku].
Eisha gigit jari. Kelihatannya orang ini serius. Mungkin tidak ada salahnya mempercayainya. Ia pun segera membalas dengan mengirimkan nomor rekeningnya.
Satu menit, dua menit, Eisha menunggu dengan sabar. Apakah benar uang sebesar tiga puluh juta akan masuk ke rekeningnya? Dan setelah lima menit berlalu, jantung Eisha seolah dibuat berhenti sesaat berkat sebuah notifikasi yang berasal dari aplikasi bank miliknya. Benar ternyata. Uang tiga puluh juta itu benar-benar sudah nangkring di rekeningnya.
“Wah, bukan main! Dia serius loh! Rejeki nomplok buat kamu, Eisha!” seru sang joki antusias. Pasalnya, ia juga pasti akan kecipratan barang tiga puluh persen. Itu sudah menjadi perjanjian kerja mereka sejak mereka memulai bisnis kotor ini.
Belum sempat Eisha menanggapi, sebuah telepon masuk kembali mengejutkannya. Ternyata panggilan dari si Anonim.
“Angkat, Sha, buruan!”
Eisha mengangguk.
“Ha-halo.” Suara Eisha sedikit bergetar.
“Apa uangnya sudah masuk?” tanya si Anonim langsung. Suaranya terdengar maskulin tetapi terkesan lembut.
“Ya. Kamu serius rupanya,” sahut Eisha.
“Tentu aku serius. Kamu begitu menarik, asal kamu tahu.”
Eisha kebingungan bagaimana merespon orang ini supaya tidak terdengar membosankan. Berulang kali ia sibuk sendiri berbisik-bisik dengan sang joki untuk meminta pendapatnya harus bicara apa. Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk membiarkan percakapan ini mengalir apa adanya.
“Eum, lalu selanjutnya bagaimana? Kalau kita ketemu dua jam lagi apa kamu tidak keberatan? Soalnya sekarang aku sudah terlanjur ada janji sama yang lain.”
“Jelas aku keberatan,” jawabnya tegas. “Aku ingin bertemu kamu secepatnya. Dan aku mau kamu yang datang ke apartemenku. Tower M lantai 36. Asisten aku akan jemput kamu di lobi.”
Eisha gelagapan. “Duh, bagaimana ya. Aku harus menepati janjiku dengan—”
Perkataan Eisha terputus akibat jokinya tiba-tiba heboh berbisik-bisik tidak jelas. Eisha pun menjauhkan ponselnya dari telinga untuk sejenak.
“Kenapa sih?!” Ia berbisik mengomel.
“Turuti saja kemauannya. Takut nanti dia marah dan malah minta uangnya balik, kan sayang banget,” saran sang joki.
Eisha mengernyit bingung. “Terus gimana dengan tamu yang lagi jalan ke sini?”
“Biar saja, itu aku yang urus. Sekarang kamu fokus saja sama si Anonim ini.”
“Yakin aman?” Eisha memastikan.
Sang joki mengangguk. “Yakin. Ya sudah kamu lanjutkan sendiri sama yang ini ya. Aku mau telepon tamu yang tadi.”
Eisha pun menurut saja. Ya, ia juga berpikir ini rezeki nomplok. Walau harus sedikit membagi hasil pada jokinya, tetapi sisanya masih cukup besar untuknya. Lagi pula kata si Anonim, nanti ia akan dapat lagi jika ia bisa memuaskannya. Itu sih perkara gampang bagi Eisha.
“Ehm! Halo?” Eisha kembali berbicara di telepon.
“Ya, aku masih di sini. Menunggu keputusan kamu.”
“Eum ... karena kamu bayar aku cukup mahal, maka mulai dari sekarang kamu adalah prioritas aku. Jadi, apa pun yang kamu mau, akan aku lakukan,” ujar Eisha.
“Baik. Kalau begitu aku tunggu kedatangan kamu.”
“Oke. Aku ke sana sekarang.”
**