Eisha sedang asik memandangi megahnya desain interior lobi apartemen kondominium kediaman si Anonim, ketika seorang pria berpakaian serba hitam datang menghampirinya. Tubuhnya tinggi besar, kepalanya plontos, kacamata hitam bertengger di wajahnya yang tak berekspresi.
“Mari ikut saya,” katanya singkat.
Eisha mengerti. Orang ini pasti orang yang dikirim oleh si Anonim untuk menjemputnya. Maka dari itu Eisha mengangguk, lantas mengikuti arah kaki pria itu melangkah.
Tidak seberapa lama, tahu-tahu Eisha sudah mendarat di lantai 36. Tepatnya di depan pintu unit bertuliskan M 36 AB. Sampai di sini pria yang mengantarnya hanya mengisyaratkan untuk langsung masuk. Sementara dia memasang posisi berjaga di depan pintu.
Eisha meneguk saliva. Ia sedikit gugup. Ini pertama kalinya ia mendatangi tamunya langsung. Biasanya, selalu mereka yang mendatangi Eisha. Itu artinya, ini juga kali pertama baginya bermain di tempat asing, bukan di unit apartemennya.
Namun, berkat bayang-bayang uang jutaan rupiah yang nantinya akan mendarat di rekeningnya setelah melancarkan panggilan ini, Eisha terdorong untuk segera melunturkan kegugupannya. Dibukanya pintu kayu di hadapannya, sambil tak lupa memasang senyum cerah yang biasanya cukup ampuh dalam memabukkan setiap lawan jenis yang akan berhadapan dengannya.
Di depan sana, di ruangan yang cukup luas dengan nuansa hitam putih yang terkonsep apik, seorang pria tinggi dengan setelan jas rapih tengah berdiri membelakangi Eisha. Di tangannya tampak segelas wine menangkring anggun.
“Hai!” Eisha berusaha menyapa. Namun, suaranya terdengar sedikit serak.
Pria itu berbalik, dan Eisha langsung dibuat melongo. Wajahnya tampan, dia masih kelihatan muda. Mungkin usia mereka sebaya, atau terpaut setahun dua tahun. Senyum tipis yang terukir di bibirnya benar-benar membuat Eisha terhipnotis. Terlebih tatapannya. Begitu dalam nan sendu, seolah penuh rindu. Eisha jadi kembali gugup.
“Selamat datang,” sapanya setelah sekian detik. “Silakan duduk.”
Eisha melangkah menuju sofa dengan langkah canggung. Tidak tahu mengapa, kali ini ia sulit sekali menguasai diri. Padahal biasanya ia sangat ahli dalam bermain sandiwara membuat para pria tergoda. Mungkin karena pembawaan pria satu ini terlalu formal. Eisha jadi merasa rendah diri sehingga membuatnya kurang nyaman.
Eisha memerhatikan baik-baik, pria itu kembali memunggunginya untuk mengambil sebotol wine dari rak koleksi wine yang menjadi salah satu hiasan penambah kesan estetika ruangan ini. Kemudian, dituangnya wine yang barusan dia buka ke dalam gelas baru. Dia menyodorkannya pada Eisha seraya ikut duduk di sofa, berseberangan dengan wanita itu.
Aneh, pikir Eisha. Biasanya para pria akan mengambil tempat duduk tepat di sebelahnya supaya bisa mencolak-colek tubuhnya yang menggiurkan. Tapi, pria ini berbeda. Alih-alih demikian, dia hanya terus menjajah Eisha dengan tatapannya yang dalam, dan terus semakin dalam seiring waktu berlalu.
“Aku akan sangat senang jika kamu mau bersulang dulu sebelum kita melangkah ke tahap yang lebih intim.” Dia mengangkat gelas wine miliknya di hadapan Eisha. Wanita itu balas mengangkat gelasnya, mereka bersulang, sesuai yang diinginkan pria itu.
Perlahan, Eisha menyesap gelas wine-nya. Rasanya terasa cocok di lidahnya. Perpaduan manis dan pahit yang sempurna.
Pria itu tersenyum. Sangat tipis, sampai Eisha tidak menyadarinya. Tatapannya pun diam-diam menyiratkan sesuatu yang misterius.
“Bagaimana rasanya? Itu salah satu koleksi terbaikku.”
“Oh! Ini enak,” jawab Eisha jujur. “Tapi, apa ini tidak berlebihan? Kalau kamu bilang ini koleksi terbaik kamu, pasti harganya sangat mahal.”
Pria itu tertawa getir. “Harga bukan masalah, yang penting kualitas.”
“Hehe ... iya.”
Jika boleh jujur, Eisha merasa kikuk. Ia tidak tahu bagaimana menghadapi orang semacam ini. Ia bukan dari kalangan orang berkelas, ia tidak tahu topik apa yang biasa mereka bahas pada momen seperti ini. Alhasil karena gugup, Eisha malah semakin mempermalukan diri dengan menenggak habis isi gelasnya.
“Biar saya tambah lagi.” Pria itu kembali menuang wine ke dalam gelas milik Eisha. Sebenarnya wanita itu ingin menolak, tetapi tidak enak hati.
“Bersulang?” Pria itu kembali mengangkat gelasnya. Eisha mau tidak mau meladeninya. Duh, habis sudah ia malam ini. Ia pasti akan mabuk berat. Ia tidak terlalu kompromi alkohol.
Dan benar saja, setelah menyesap wine sekali lagi, kepala Eisha mulai terasa pening. Pandangannya berkunang-kunang. Ini tidak wajar, sebenarnya seberapa tinggi kandungan alkohol dalam wine ini?
“Kamu baik-baik saja?”
Eisha bahkan sudah tidak sanggup menatap ekspresi lawan bicaranya. Pandangannya semakin berputar-putar, tubuhnya lemas. Sampai akhirnya ... ia tumbang.
Pria di hadapannya bergegas mengecek kondisinya. Ditepuk-tepuknya pipi Eisha, tetapi wanita itu tak kunjung bangun. Ia menghela napas pelan. Pandangannya seolah penuh sesal, terlebih ketika tanpa sadar tangan kekarnya membelai wajah wanita itu, menyingkirkan anak rambut yang menghalangi keelokan rupanya.
“Wajah ini ... kenapa harus w***********g ini yang memilikinya?” gumamnya sendu.
Namun, sesaat berikutnya ia segera tersadar. Ia tidak boleh luluh. Bagaimanapun, ini bukan wajah yang dirindukannya.
Pria itu pun segera mengambil telepon genggamnya dan menghubungi seseorang.
“Masuk dan bawa wanita ini ke mobil. Lakukan tanpa jejak.”
Tidak lama setelah ia menutup panggilan, suara pintu dibuka memecah keheningan. Yang masuk adalah pria yang tadi berjaga di luar, alias pria yang memandu Eisha ke tempat ini. Kini dia menggendong tubuh wanita itu di punggungnya. Membawanya pergi entah kemana, dikawal oleh tiga orang pria lagi yang perawakannya tak jauh berbeda dengannya.
**