Mata Eisha mengerjap perlahan. Rasa pening yang teramat sangat langsung menyerangnya, membuatnya meringis kesakitan. Ingin rasanya tangannya memegang keningnya yang berdenyut bukan main. Namun, ada sesuatu yang menghalangi. Tangannya terikat. Tidak, lebih tepatnya tubuhnya yang terikat dengan dua tangan terkunci di belakang. Samar-samar pandangannya menangkap siluet pohon-pohon besar yang berjajar mengelilinginya.
Menyadari hal tersebut, kesadaran Eisha seketika terkumpul. Pening masih terasa di kepalanya. Tapi, itu menjadi bukan hal besar ketika ia menyadari ada hal genting lain yang tengah menyambutnya. Bukan hanya pepohonan rindang yang mengelilinginya saat ini, tetapi juga orang-orang berseragam serba hitam dengan postur tubuh yang besar-besar. Jumlahnya ada sekitar sepuluh orang.
“Apa-apaan ini ....” Wanita itu meracau tegang.
Tubuhnya mulai mencoba bergerak memberontak, tetapi ikatan yang melilitnya sangat kuat sampai-sampai ia merasa sesak.
Eisha pun berteriak frustasi, “Lepaskan!”
Orang-orang yang tadinya berdiri membelakanginya, kini semua berbalik menghadapnya, lalu mendekatinya. Membuat Eisha semakin meringik ketakutan.
“Si-siapa kalian?!” Dengan suara bergetar, Eisha berusaha mencari tahu apa hal yang sebenarnya tengah menimpanya. “Di mana aku? Kenapa aku bisa ada di sini?!”
Tidak ada satu pun di antara mereka yang menjawab. Bahkan berekspresi pun tidak sedikit pun. Sampai sebuah bayangan menerobos kerumunan. Bayangan itu kian lama kian membentuk siluet seseorang yang wajahnya telah Eisha tanam dalam ingatan. Pria anonim itu, rupanya dia dalang dibalik semua ini. Jadi ini jebakan?
“Kamu! Apa yang kamu lakukan kepadaku?!” Eisha berteriak murka.
Pria itu hanya memasang wajah datar. Kemudian dia menunduk membelai wajah Eisha.
“Eisha Nurmalia, dua puluh lima tahun, putri pertama dari pasangan Suryani Amalia dan almarhum Hendra Rachmansyah. Memiliki tiga orang adik, yang satu masih SD, satu lagi SMP, satu lagi pengangguran dan sedang menjadi buronan polisi lantaran memakai obat-obatan terlarang.”
Eisha terkejut. Dari mana dia tahu semua informasi itu? Selama ini ia bersusah payah membangun identitas baru, menutup rapat latar belakangnya dari dunia yang sedang digelutinya. Bahkan nama aslinya pun hampir tidak ada orang yang tahu.
Pria itu bangkit berdiri kemudian mondar-mandir membelakangi Eisha.
“Ditinggalkan oleh sang ayah yang meninggal bunuh diri akibat terlilit utang modus penipuan sebesar satu miliar rupiah. Dituntut untuk segera melunasi seluruh utang tersebut, atau sang ibu akan dipenjarakan menggantikan sang ayah ....”
Napas Eisha memburu. Diingatkan kembali soal kemalangan yang menimpa keluarganya membuatnya kalut. Tapi, pria di hadapannya terus mengoceh seolah sedang menguji sampai di mana batas kesabarannya.
“... terpaksa menjadi wanita penghibur rendahan dengan tarif tujuh ratus ribu per sekali main, demi mengumpulkan uang untuk melunasi utang-utang.” Kali ini pria itu menatap Eisha dengan pandangan mencemooh. “Malang sekali nasib kamu.”
“Mau apa kamu sebenarnya?!” Gigi Eisha bergemeretak menyerukan kalimat tersebut. Kesabarannya sudah habis terus-menerus diingatkan kembali atas segala kemalangan hidupnya. Namun, batinnya menangis. Bukan maunya menjalani hidup sebagai seorang wanita penghibur rendahan. Melainkan keadaan yang memaksanya terjun ke dunia kotor ini.
“Mau apa?” Pria itu kembali berjongkok di hadapan Eisha. Dibelainya sekali lagi wajah wanita itu yang kini sedikit kotor terkena debu serpihan pohon bercampur keringat. “Aku justru mau membantumu.”
Eisha menyingkirkan wajahnya dari tangan pria itu. “Singkirkan tangan kotor itu dari wajahku!”
Pria itu tertawa. “Eisha ... Eisha. Harusnya kamu menyambut uluran tangan ini. Sudah kubilang, aku hanya ingin membantumu keluar dari dunia gelap yang selama ini kamu geluti. Jujur saja, kamu sebetulnya benci pekerjaan kotor itu bukan? Maka dari itu, aku di sini akan menawarkan sebuah hidup baru untuk kamu. Hidup yang lebih baik, lebih layak, lebih terhormat. Tidakkah kamu menginginkannya?”
Dengan d**a yang masih naik turun, Eisha merenungkan setiap perkataan pria itu. Mendengar kata terhormat, hati kecilnya merasa tergiur. Menjadi wanita terhormat merupakan impian terbesarnya. Ia lelah dicap sebagai jalang. Ia lelah menjadi wanita bayaran yang harus melayani para p****************g. Ia jelas ingin terbebas dari jeratan dunia gelap ini.
Tapi, mengingat pria ini yang datang padanya hanya untuk menjebaknya ke tempat antah-berantah ini, dan mengikatnya bagai tawanan, membuat Eisha berpikir dua kali untuk mempercayainya. Pertama kali ia tergiur dengan imbalan besar, hal itu malah mengantarkannya pada kesialan ini. Ia tidak boleh tergiur lagi.
“Kamu pikir aku sebodoh itu, percaya kepada orang yang menjebakku ke tempat ini? Aku lebih baik mati!”
“Oh! Pilihan bagus. Mati, lalu meninggalkan ibu kamu seorang diri menanggung beban utang. Lari dari masalah jalur instan. Ya, aku suka pemikiran kamu.”
Mendengar itu, air mata Eisha menetes. Mana sanggup ia membiarkan ibunya menanggung beban itu seorang diri. Bagaimana kalau dia tidak sanggup membayar utang lalu dipenjara? Lantas bagaimana pula nasib dua adiknya yang masih sekolah? Mereka bisa jadi akan luntang-lantung dan berakhir putus sekolah. Tidak, Eisha tidak mau hal itu sampai terjadi.
“Kasihan. Kamu pasti sedang menangisi nasib keluarga tercinta kamu bila kamu mati di sini.” Pria itu kembali mengintimidasi Eisha.
“Sebenarnya apa mau kamu? Tolong lepaskan aku ... aku mohon ....”
Kali ini Eisha sudah tidak sanggup lagi membendung air matanya. Ia menangis tersedu-sedu sambil tubuhnya menunduk memohon tepat di hadapan kaki pria anonim itu.
Pria itu menatap Eisha datar. Sejujurnya, masih ada belas kasih dalam lubuk hatinya kala menatap wanita di hadapannya menangis frustasi seperti itu. Tapi, ia harus tegas demi melancarkan rencananya.
“Harus berapa kali aku bilang, aku di sini untuk membantumu. Aku pasti akan melepaskan kamu jika kamu mau menerima bantuan dariku. Tapi, sebagai imbalannya, kamu juga harus membantuku.”
Eisha menggosokkan pipinya ke bahu, menghapus kasar air matanya. “Kalau begitu jelaskan! Kasih tahu aku, apa yang harus aku lakukan untuk kamu? Dan apa sebenarnya bantuan yang kamu tawarkan?!”
Pria itu diam sejenak. Kemudian dia mengisyaratkan sesuatu pada seorang anak buahnya. Tak lama, seseorang datang menggeret sebuah koper besar ke hadapan Eisha. Dia membukanya lebar-lebar.
Mata Eisha membulat seketika. Di hadapannya kini terpampang tumpukan demi tumpukkan uang berwarna merah. Entah berapa jumlahnya, tetapi perkiraan Eisha itu lebih dari seratus dua ratus juta.
“A-apa maksudnya ini?”
“Jumlahnya dua miliar. Uang itu milik kamu jika kamu mau menjalankan sebuah misi dariku.”
Deg! Eisha tertegun bukan main. Uang sebanyak ini untuknya katanya? Jumlahnya bahkan lebih dari cukup untuk membayar utang-utang orang tuanya. Hal apa sebenarnya yang diinginkan pria itu darinya?
“Bagaimana? Apa kamu mau bekerja sama denganku?”
Eisha meneguk salivanya. Bohong jika ia tidak tergiur. Ia sangat membutuhkan uang ini. Tapi, bagaimana dengan segala risikonya? Hal besar nan berat pasti harus dijalaninya jika ia menerima tawaran tersebut. Tapi, jika ia menolak, bisa jadi ia melewatkan kesempatan emas. Sekarang ia harus bagaimana? Ia betul-betul dilema.
“Aku akan memberi waktu beberapa jam untuk kamu berpikir,” ujar pria itu lagi. “Tapi, kamu akan tetap berada dalam kondisi ini sampai kamu menyetujui kesepakatan denganku.”
Pria itu bersiap untuk pergi. Namun ....
“Tunggu!” Entah kenapa Eisha memanggilnya. Pria itu menoleh, tatapan datar nan teduh khasnya sedikit menghipnotis Eisha.
“Boleh aku tahu siapa kamu?” tanya Eisha kemudian. Entah apa yang merasukinya. “Se-setidaknya untuk membangun kepercayaan aku terhadap kamu. Keputusan aku bergantung pada hal itu.”
Pria itu diam sejenak. Beberapa saat kemudian, barulah ia menjawab singkat, “Damar.”
Setelah itu dia benar-benar pergi. Meninggalkan Eisha yang masih terikat di pohon bersama para pria berpakaian serba hitam yang berjaga di sekelilingnya. Dan jangan lupakan soal koper penuh uang dua miliar. Benda itu seolah sengaja ditinggalkan di hadapan Eisha. Membuat pendiriannya kian lama kian meluntur, tergiur oleh tumpukan kertas merah yang sudah seperti dewa dalam hidupnya.
**