Beberapa jam berikutnya, Eisha susah mendarat di dalam sebuah mobil mewah yang tengah melaju entah kemana. Duduk di kursi belakang bersama dengan Damar di sisinya.
Ya, pada akhirnya demi uang dua miliar Eisha memilih untuk menerima tawaran Damar. Pikirnya, ini adalah kesempatan emas baginya untuk melunasi segala utang yang ditinggalkan ayahnya. Lalu sisa uangnya bisa digunakan untuk memperbaiki kelangsungan hidup keluarganya. Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Maka apa pun risikonya, Eisha bersedia menanggungnya.
Lagi pula, ia memang tidak bisa menolak. Karena jika begitu, maka ia akan selamanya duduk terikat di bawah pohon sampai tubuhnya terkikis oleh waktu hingga bersisa tulang-belulangnya saja.
‘Tapi … misi apa sebenarnya yang harus aku jalankan?’ batin Eisha penuh tanya. Pasalnya Damar belum juga bicara apa pun soal misi itu.
Dua miliar adalah jumlah yang besar. Eisha menebak, apa pun yang akan dihadapinya nanti pasti bukan sembarangan.
‘Apa aku akan mempertaruhkan nyawa?’ Eisha mulai membayangkan kemungkinan terburuk.
Di tengah lamunan liarnya itu, tiba-tiba Damar memberinya sebuah dokumen. Eisha menatapnya bingung. Pria itu hanya memberi isyarat padanya untuk membuka dokumen tersebut.
Terkejut, itulah ekspresi yang spontan terlukis di wajah Eisha begitu melihat isi dari halaman pertama. Bagaimana tidak, fotonya terpampang di sana!
Tunggu dulu ... ada yang salah! Dari wajah, ini memang wajahnya. Tapi, rambut wanita di foto ini sedikit lebih pendek, serta gaun dan aksesoris yang dikenakannya tampak mahal nan mewah. Eisha jelas tidak merasa punya barang-barang tersebut. Ini bukan dirinya, Eisha yakin.
“Siapa dia?” tanyanya kemudian.
Mata Damar mengarah ke dokumen. “Halaman sebaliknya,” titahnya.
Eisha membalik halaman, terpampang biodata lengkap wanita dalam foto tersebut. Eisha langsung menatap Damar. “Ini—”
Damar menganggukkan kepala. “Ya, inilah misi kamu. Mulai sekarang kamu akan berperan sebagai Galuh Naditya Susilo, istri dari Alister Saddam Ravendra, cucu dari salah satu pendiri perusahaan hiburan terkemuka di Indonesia, Tri Raven Company.”
“Apa ....” Eisha tercekat. Sungguh fakta mengejutkan baginya bahwa ia akan menghadapi hal sebesar ini.
Tri Raven Company bukan hal yang asing di telinga Eisha. Itu adalah perusahaan hiburan besar yang menaungi banyak klub serta bar mewah di seluruh Indonesia. Bahkan kabarnya mereka juga diam-diam menjalankan bisnis kasino ilegal. Beberapa kali Eisha mendengar berita tidak menyenangkan mengenai intrik bisnis Tri Raven Company. Kini Eisha mulai takut, jangan-jangan benar firasatnya soal bisa jadi ia akan mempertaruhkan nyawa.
Seolah tidak peduli dengan keterkejutan Eisha, Damar langsung bergerak cepat menunjuk halaman selanjutnya pada dokumen dalam genggaman wanita itu. Isinya adalah biodata seorang pria berusia tiga puluh dua tahun. Terpampang nama lengkapnya, Alister Saddam Ravendra. Rupanya dia orang yang disebut-sebut Damar barusan.
“Dia adalah orang nomor satu yang harus kamu perhatikan!” tegasnya. “Karena untuk dialah kamu berani kubayar mahal.”
Eisha agak kurang fokus. Pikirannya masih mengawang berusaha mencerna segala hal yang menimpa dirinya saat ini. Jika boleh jujur, ia lumayan syok mendapati bahwa dirinya memiliki wajah yang begitu mirip dengan wanita bernama Galuh itu. Maksudnya, kebetulan macam apa ini?
Ada begitu banyak wanita di luar sana yang martabatnya setara Galuh, atau sedikit dibawahnya tetapi tak serendah Eisha. Suatu keajaiban Eisha bisa memiliki wajah yang sama dengan Galuh. Padahal jelas-jelas mereka bagai langit dan bumi.
Yang satu wanita terhormat, istri dari pengusaha muda kaya raya. Sementara satu lagi wanita penghibur p****************g. Apakah Galuh tidak akan keberatan jika orang seperti Eisha berperan menjadi dirinya?
Beberapa kali petikan jari membuyarkan lamunan Eisha. Ia menatap Damar, pria itu tampak kesal.
“Bisakah kamu fokus? Kita tidak punya banyak waktu! Kamu perlu memahami inti dari misi yang kuberikan! Maka dari itu tolong perhatikan!”
Eisha mengusap wajah, berusaha kembali fokus walau pikirannya terus dihantui rasa cemas, terkejut, serta bingung. Ia pun kembali memusatkan perhatiannya pada biodata Alister yang tengah dibicarakan Damar.
“Tuan Alister adalah seseorang yang obsesif dan ambisius,” jelasnya. “Apa pun yang diinginkannya harus terwujud, meskipun itu nyawa orang sekalipun. Dia tidak akan segan menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang dia mau.”
Eisha bergidik mendengar itu. Apa nantinya ia akan sering berhadapan dengan sosok mengerikan itu? Bagaimana kalau suatu hari pria bernama Alister itu mengetahui segala kebohongan Eisha selama menyamar sebagai Galuh? Bukan tidak mungkin pria itu akan membunuhnya.
Sial. Rupanya inilah alasan mengapa Eisha diberi harga mahal. Kini ia mulai menyesali keputusannya yang telah menerima tawaran Damar.
Namun, sudah kepalang tanggung. Mau bagaimana lagi? Uang dua miliar itu terlampau menggiurkan, terlebih di tengah kondisi Eisha yang hampir frustasi mencari uang untuk melunasi utang keluarganya.
“Di mata banyak orang, terutama para bawahannya, Tuan Alister begitu menakutkan.” Damar melanjutkan. “Sikapnya dingin pada siapa pun, bicaranya ketus, tatapannya bahkan hampir selalu dipenuhi amarah. Maka jangan kaget apabila sewaktu-waktu kamu mendapati perlakuannya yang … mungkin akan sedikit membuat traumatis.”
‘Pria ini,’ rutuk Eisha dalam hati, ‘apa dia hanya akan terus menakut-nakuti seperti itu?’
“Tapi kamu tenang saja, Tuan Alister tidak seperti itu jika di hadapan Galuh. Karena kamu akan menyamar menjadi Galuh, maka harusnya kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut.”
Fuh …. Sekarang Eisha bisa bernapas lega, sedikit.
Tapi, ada satu hal yang masih mengganjal baginya.
“Kenapa aku harus menyamar menjadi Galuh? Memangnya apa yang terjadi padanya?”
Untuk sesaat, Damar terdiam. Pandangannya menatap kosong pada hamparan jalan yang mereka lalui.
“Dua bulan lalu, Galuh menghilang.”
Damar mulai menjelaskan bagaimana istri dari Alister itu menghilang tanpa sebab. Puluhan orang sudah dikerahkan untuk mencari keberadaan Galuh, tetapi sampai detik ini belum ada jejaknya sama sekali.
“Sejak hilangnya Galuh, Tuan Alister menjadi seperti orang gila. Yang dilakukannya setiap hari hanya mengamuk dan membanting barang. Bahkan, beberapa orang yang tidak bersalah bisa menjadi sasaran amuknya. Dia betul-betul seperti sudah hilang akal,” jelas Damar sebelum wajahnya berubah agak gelap.
“Masalahnya, seorang Alister tidak boleh sampai hilang akal. Karena posisinya saat ini yang tertinggi di perusahaan, banyak orang-orang jahat yang bisa jadi akan melengserkannya dengan cara kotor. Apalagi di tengah kondisinya yang tidak stabil, tentunya ini adalah kesempatan emas bagi mereka untuk menyerang.”
‘Cara kotor? Spesifiknya seperti apa?’
Tidak sempat mempertanyakan maksud dari bagian itu, Damar sudah lebih dulu menatap Eisha tegas dan serius.
“Maka dari itu, Galuh harus pulang. Sekalipun itu Galuh palsu. Yang penting, Tuan Alister bisa segera menetralkan diri supaya kondisi perusahaan kembali stabil tanpa ancaman.”
Eisha mengembuskan napas berat. Kini ia mulai memahami situasinya.
Sepertinya Galuh memiliki pengaruh yang cukup besar bagi emosional Alister. Sementara Alister sendiri adalah seseorang yang cukup penting, maka ketenangannya harus tetap terjaga. Intinya, Galuh adalah kunci bagi kewarasan Alister supaya pria itu bisa tetap fokus mempertahankan jabatannya yang berpengaruh besar bagi kedamaian perusahaan.
Namun, karena Galuh menghilang secara misterius dan tak kunjung ditemukan, akhirnya Damar mencari seseorang yang bisa menggantikan posisi Galuh untuk sementara waktu. Dan kebetulan orang itu adalah Eisha.
Sekali lagi, Eisha menarik napas lalu mengembuskannya. Entah kenapa ia punya firasat buruk mengenai misinya ini. Sepertinya ini tidak akan mudah.
Diamnya Eisha membuat Damar sedikit prihatin. Ia pun berusaha menenangkan, “Jangan khawatir, pekerjaan kamu akan selesai setelah Galuh yang asli ditemukan. Sampai saat itu, kamu hanya perlu terus berpura-pura menjadi Galuh, sambil sesekali membantuku mencari petunjuk mengenai beberapa peristiwa misterius yang sering kali terjadi pada orang-orang yang akan mencalonkan diri menjadi presdir perusahaan.”
Mendengar itu, mata Eisha membulat tak terima. “Apa?! Kenapa begitu?! Bukankah perjanjiannya aku hanya perlu berpura-pura menjadi Galuh? Dan lagi, aku bukan orang yang paham soal perusahaan. Bagaimana kalau nanti aku malah mengacau?”
Damar terlihat mengembuskan napas lelah. Tapi, ia tetap menjawab, “Tenang, aku akan memastikan dulu kamu sudah cukup memahami situasinya sebelum melangkah ke arah sana. Untuk sekarang, kamu cukup fokus soal menjaga sikap di hadapan Tuan Alister. Aku sudah menyiapkan beberapa alibi, kamu hanya tinggal mengikuti alur.”
Tepat setelah mengatakan itu, pandangan Damar segera beralih menatap serius ke depan. Tepatnya ke sebuah rumah megah yang dipagari tembok tinggi mengelilinginya.
“Kita sudah sampai.”
**