Bab 5 - Menemui Alister

1086 Words
“Nyonya!?" "Tidak mungkin! Apa benar itu Nyonya?" “Ya! Itu benar-benar Nyonya!” “Syukurlah Nyonya telah pulang ....” Bisikan-bisikan para pelayan yang sedang berbaris berhasil membuat bising suasana pagi hari ini. Padahal matahari belum genap menampakkan cahayanya. Eisha sungguh tidak menyangka kedatangannya akan disambut seantusias ini. Ah, ia lupa. Saat ini ia adalah Galuh Naditya Susilo, sang nyonya besar yang kepulangannya tengah dinanti-nanti semua orang. Sebetulnya ini masih sulit dipercaya. Hanya kurang dari satu malam status Eisha berubah seratus delapan puluh derajat. Dari yang tadinya bagaikan tikus got di bawah tanah, kini telah bertransformasi menjadi burung merpati di atas langit. Bukankah itu mustahil? Tapi, hal itu nyata terjadi padanya. Eisha pun berusaha fokus pada peran barunya sebagai Galuh. Ia sudah sampai sejauh ini, tidak bisa mundur lagi. Maka mau tidak mau ia harus menjalankan peran secara maksimal. Di hadapan para pelayan dan penjaga berseragam hitam-hitam yang jumlahnya mungkin lebih dari dua puluh orang, sebetulnya Eisha ingin menunduk. Tapi, ia mempertahankan kepalanya untuk tetap tegak, serta tatapannya yang tidak ragu. Damar memperingatkan hal tersebut sebelum turun dari mobil tadi. Diliriknya pria itu yang kini berdiri di sebelahnya. Untuk sepersekian detik Damar seperti menatap Eisha setengah mengancam, seolah mengisyaratkan padanya untuk hati-hati dalam bersikap. Eisha pun memutuskan untuk tetap diam sampai pria itu beraksi lebih dulu. “Dengar, semuanya ...,” Damar mulai berbicara pada para pelayan serta penjaga yang berbaris rapih dan tertunduk hormat di hadapan mereka. “... Nyonya Galuh telah pulang. Harap untuk tidak membuat keributan. Saya tidak mau sampai Tuan Alister mendengar kabar ini sebelum saya berbicara langsung dengannya. Apa kalian paham?” Dengan tetap menunduk takzim, semua menjawab serempak, “Paham, Tuan Damar.” “Bagus.” Kemudian Damar menunjuk pada dua orang pelayan yang perawakannya masih kelihatan muda—mungkin usia mereka sekitar dua puluhan. Yang ditunjuk pun langsung menghampiri pria itu. “Kalian antar Nyonya ke kamarnya, buat penampilannya seperti biasa.” Dia kembali memberi perintah. “Satu lagi, untuk sementara kalian jangan banyak bicara dulu dengan Nyonya. Kondisinya sedang tidak stabil. Cukup lakukan saja apa yang saya perintahkan.” ‘Tidak stabil? Dia berencana membuatku kelihatan gila atau apa?’ batin Eisha sedikit tidak terima dengan alibi yang Damar lontarkan barusan. Kedua pelayan itu mengangguk, kemudian segera menuntun Eisha masuk ke dalam rumah besar ini. Sementara itu, samar-samar Eisha masih dapat mendengar Damar yang menanyakan keberadaan Alister kepada beberapa pelayan. Yang ditanya menjawab bahwa tuannya masih terlelap setelah semalaman mabuk dan membanting setiap botol minuman yang habis ditenggaknya. Membuat seisi rumah berserakan serpihan kaca. Mendengar itu, Eisha bergidik. Ternyata memang semengerikan itu sosok Alister. Hal itu pun membuat Eisha lagi-lagi dihantui rasa takut. Bagaimana jika pria itu malah menyakitinya ketika mereka bertemu nanti? Belum apa-apa situasi sudah mendebarkan begini. Membuat Eisha jadi meragukan dirinya, apakah ia mampu menjalankan tugas ini dengan baik? ** Sesuai perintah Damar, kedua pelayan muda yang ditunjuknya tadi mendandani Eisha dalam diam. Tidak ada di antara mereka yang berani membuka suara, bahkan untuk sekedar menanyakan hal-hal kecil. Eisha bersyukur. Saat ini ia masih belum mengetahui seperti apa komunikasi yang biasa Galuh bangun ketika bersama para pelayan. Ia tidak boleh sembarang bertindak, atau pekerjaannya bisa kacau sebelum resmi dimulai. Selagi menunggu dirinya selesai didandani, Eisha memilih untuk fokus memikirkan bagaimana baiknya bersikap di hadapan sosok Alister nanti. Namun, belum sempat Eisha memikirkan strategi lebih jauh, tahu-tahu ia sudah siap saja. Dipandangnya keseluruhan penampilannya di cermin, hampir saja ia melongo. Entah sejak kapan dirinya disulap menjadi wanita anggun seperti ini. Gaun putih gading sebawah lutut dengan lengan brokat telah melekat pas mengikuti bentuk tubuhnya. Rambutnya dibuat sedikit bergelombang. Riasan di wajahnya juga dibuat lebih tipis dan natural, tidak menor seperti sebelumnya. Sehingga memberi kesan wanita dewasa yang elegan. Dandanan ini membuatnya benar-benar mirip sempurna seperti Galuh yang Eisha lihat di foto. Di tengah kesibukannya mengagumi keanggunan penampilannya, tiba-tiba pintu kamar terbuka, menampakkan sosok Damar di baliknya. Sejenak pria itu mematung, pandangannya begitu dalam menatap Eisha. Tapi tidak lama, ia segera mengerjap. “Sudah waktunya menemui Tuan Alister,” ujarnya. Eisha mengangguk. Ia pun bangkit dari kursi rias, lantas berjalan keluar kamar mengekori Damar serta salah seorang pelayan yang sudah kelihatan berumur. Ketiganya melangkah menuju salah satu sudut lain rumah ini, yaitu kamar Alister. Ketika langkah sang pelayan terhenti di depan sebuah pintu, jantung Eisha berdebar. Terlebih ketika untuk ke sekian kalinya Damar berbisik kepadanya, “Bersiaplah.” Seolah menegaskan bahwa Eisha tidak boleh menganggap remeh situasi ini. Pintu pun diketuk oleh sang pelayan. Di balik punggung Damar, Eisha terus berdoa semoga ia bisa menjalankan pekerjaan ini dengan baik. “Permisi, Tuan, Tuan Damar ingin bertemu,” ujar sang pelayan berusaha sesopan mungkin. Tidak ada jawaban dari dalam. Sampai tiba-tiba pintu dibuka dengan kasar. Sesosok pria muncul dan langsung menyingkirkan sang pelayan yang menghalangi. Tujuannya hanya satu, yaitu Damar. Dicengkeramnya kerah kemeja pria itu penuh emosi. Dia bahkan tidak memedulikan kehadiran Eisha. Belum, dia belum menyadari keberadaannya. Sementara Eisha sendiri, ia langsung bersembunyi di balik dinding begitu sosok Alister keluar dengan penuh emosi. Ia takut, tentu saja. Ia bahkan belum sempat memerhatikan perawakan pria itu. “Untuk apa kamu terus menggangguku kalau kamu masih belum juga membawa Galuh pulang?” Pria itu menggeram di hadapan Damar. Damar menanggapinya dengan tenang. Ditepuknya lengan kekar Alister dua kali. “Saya sudah membawanya pulang,” ungkapnya tanpa basa-basi. Seketika cengkeraman Alister mengendur. Damar pun melepaskan diri, merapikan sedikit pakaiannya yang berantakkan akibat ulah tuannya. Kemudian, dipandangnya Eisha yang tengah berdiri mematung di sisi pintu kamar. Dengan isyarat sebuah anggukkan, Eisha langsung paham bahwa ini saat baginya untuk unjuk diri. Perlahan Eisha melangkah ke hadapan Alister. Awalnya ia hanya terus menunduk. Sampai ketika pandangannya diarahkan kepada sosok pria yang sebelumnya hanya dilihatnya di foto, ia dibuat mematung. Kini mata keduanya telah bertemu. Eisha merasa seperti terhipnotis. Bagaimana tidak, rupanya Alister sangat tampan jika dilihat langsung. Tubuhnya tinggi gagah, hidungnya mancung, kulitnya sedikit coklat namun cerah, janggut tipis-tipis yang menghiasi rahang tegasnya bahkan kelihatan menggoda. Aroma maskulin yang cukup kental merebak ke sekitar indra penciuman Eisha. Membuatnya kian terbuai akan pesona pria itu. Tapi, di antara semua itu, yang paling membuat Eisha tidak berkedip adalah sorot matanya. Iris hitamnya tampak tajam mengintimidasi, tetapi entah kenapa terasa teduh nan menenangkan. Perlahan, Alister melangkah mendekati Eisha. Tangan kekarnya terjulur untuk membelai wajah yang begitu dirindukannya. “Kamu masih ingat jalan pulang rupanya,” ujarnya lembut. Baru saja Eisha ingin bernapas lega karena Alister menyambutnya hangat. Namun, sesaat berikutnya air muka pria itu berubah drastis. “Tapi ... KENAPA KAMU BARU PULANG SEKARANG!?” **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD