“Sebelah sini, Nyonya.” Salah satu dari dua orang pelayan yang sedang mendampingi Eisha, mengarahkannya ketika hendak berbelok di salah satu koridor.
“Terima kasih,” jawab Eisha singkat, membuat pelayan itu tersenyum menanggapi.
Setelah kenyataan bahwa dirinya lupa ingatan tersebar, Eisha tak elak bersyukur Damar menggunakan hal tersebut sebagai alibi. Karena dengan begitu ia bisa sedikit leluasa, tak perlu terlalu kalut lagi memikirkan harus bagaimana bersikap di hadapan setiap orang.
Logikanya, kalau Galuh sedang hilang ingatan, maka wajar jika dia bersikap seperti orang yang baru pertama kali masuk ke rumah ini, tidak mengenal siapa pun, maupun tahu apa pun. Seperti kondisi Eisha saat ini.
Setelah keributan tadi, Alister dan Damar pergi berbicara serius berdua. Sementara itu, dua orang pelayan yang tadi mendandani Eisha diminta untuk menemaninya ke mana pun ia pergi.
Alister sempat mengatakan, “Mereka adalah pelayan pribadi sekaligus orang-orang kepercayaan kamu di rumah ini, kalau kamu lupa.”
Saat itu reaksi Eisha hanya menatap mereka sekilas lalu mengangguk sambil terus menunduk. Walaupun nada bicara Alister sudah melunak, tetap saja suara beratnya masih membuat Eisha merinding.
Entah kenapa pria itu terdengar dingin nan mengintimidasi. Terlebih tatapannya. Terasa menusuk sampai jantung, sampai-sampai Eisha merasa tak kuasa bertatapan dengannya.
Sambil menunggu Alister dan Damar, Eisha memutuskan untuk berkeliling. Sejak kakinya pertama kali menginjak rumah ini, belum sempat ia memerhatikan isinya dengan betul lantaran pikirannya disibukkan oleh rasa gusar serta takut. Sekarang baru ia sadari kalau rumah ini begitu besar dan megah bak kastil bangsawan yang biasa dilihatnya dalam film.
Selama berkeliling, dua pelayan yang mengekori Eisha memberi arahan serta penjelasan akan setiap ruangan yang mereka singgahi. Dari mereka Eisha mengetahui bahwa Galuh dan Alister memiliki ruangan masing-masing walaupun mereka telah menikah. Yang sebelumnya Eisha kunjungi itu, keduanya adalah ruangan pribadi mereka masing-masing. Sementara kamar utama ada di lantai tiga, alias lantai paling atas.
“Kenapa kami punya kamar masing-masing jika sudah ada kamar utama?” Tadinya Eisha ragu mempertanyakan hal tersebut. Tapi, karena terlalu penasaran akhirnya ia menanyakannya saja.
Untungnya kedua pelayan pribadi Galuh merespon tanpa curiga.
“Baik Tuan maupun Nyonya sama-sama membutuhkan ruang privasi. Selain itu, kamar Tuan dan Nyonya masing-masing juga difungsikan sebagai kantor pribadi. Sehingga aktivitas pekerjaan tidak dilakukan di kamar utama,” jelas salah satu pelayan tersebut.
Yang satu lagi ikut menimpali, “Ya, lagi pula kedua kamar itu sudah lebih dulu menjadi kamar Tuan dan Nyonya sebelum kalian menikah. Rasanya sayang jika dikosongkan begitu saja.”
Eisha manggut-manggut. Kini mereka tengah menaiki tangga menuju lantai tiga, untuk melihat-lihat kamar utama yang sedari tadi dibicarakan.
“Berarti aku sudah tinggal di sini dari sebelum menikah, ya?”
Sebelum menjawab pertanyaan itu, kedua pelayan tampak saling tatap. Raut mereka terlihat gusar.
Sampai kemudian salah satunya menjawab, “Eh, itu ... Nyonya baru tinggal di sini setelah peristiwa di tahun 2015 lalu. Saat ....”
Pelayan yang satu lagi menepis rekannya, seolah mengisyaratkannya untuk berhenti bicara.
“Maaf, Nyonya. Saya rasa kami tidak pantas membahas soal itu. Mungkin Nyonya bisa menanyakannya pada Tuan Alister atau Tuan Damar nanti.”
Walau penasaran, Eisha memutuskan untuk tidak mengungkitnya lagi. Ia masih ingat pesan Damar untuk selalu berhati-hati dalam bersikap di hadapan siapa pun. Jangan sampai timbul kecurigaan hanya karena mulutnya terlalu banyak bicara.
Lagi pula, kini perhatiannya telah tersita oleh megahnya kamar utama. Ya, ia baru saja tiba.
Ternyata lantai ini dibangun khusus untuk satu ruangan saja, yaitu untuk kamar utama, alias kamar sang tuan dan nyonya di rumah ini. Barusan Eisha mendapat satu informasi lagi, katanya beberapa tahun lalu kamar ini masih milik orang tua Alister. Tapi, sejak keduanya tiada, juga sejak Alister dan Galuh menikah, kamar ini resmi menjadi milik mereka.
Eisha berjalan masuk ke dalam, matanya sibuk mengagumi desain elegan nan mewah yang ada di dalam sini. Sampai ketika pandangannya menemukan sebuah pajangan di dinding, ia terpaku.
Itu adalah foto pernikahan Alister dan Galuh. Ukurannya sangat besar. Di bagian bawah foto tersebut tertulis sebuah tanggal yang sepertinya merupakan tanggal pernikahan mereka. 18 November 2018.
‘Sudah cukup lama mereka menikah, tetapi aku belum melihat ada sosok anak kecil di rumah ini. Damar juga tidak menyebutkan soal anak mereka. Apa mereka memang belum memiliki anak? Tapi kenapa?’ Eisha bertanya-tanya dalam hati.
Saat fokusnya masih sibuk oleh beberapa pertanyaan soal hubungan Alister dan Galuh yang dirasa sedikit janggal, suara dehaman berat mengejutkan Eisha. Refleks kepalanya menoleh ke sumber suara. Rupanya di sana sudah berdiri sosok Alister yang tengah mengisyaratkan kepada kedua pelayan pribadi Galuh untuk meninggalkan mereka.
“Galuh … aku ingin bicara denganmu.”
Mendengar suara dalam itu lagi, jantung Eisha sontak berpacu. Terlebih setelah dilihat-lihat tidak ada Damar yang diharapkan akan menjadi penengah apabila terjadi keributan lagi seperti tadi.
Apakah sekarang Eisha harus belajar menghadapi pria itu seorang diri? Rasanya ia belum begitu siap.
Perlahan, Alister melangkah mendekati Eisha. Namun, reaksi yang wanita itu berikan adalah mengacuhkannya, memilih untuk kembali fokus menatap bingkai foto besar yang terpampang di hadapannya.
Eisha khawatir reaksi ini akan kembali menyulut emosi Alister. Tapi, alih-alih demikian yang Eisha dapati adalah rasa hangat di sekujur belakang tubuhnya.
Sepasang lengan kekar melingkar di pinggangnya, membuat jantungnya semakin melompat tak tentu arah. Demi Tuhan, ia merasa lemas sekali sekarang. Terlebih ketika tengkuknya merasakan hangat nafas Alister.
“Maaf ....” Pria itu menggumam tepat di telinga Eisha. Suaranya begitu lembut memabukkan, sampai-sampai membuat wanita itu hampir terkulai lemas di posisinya.
“Aku telah menyakitimu, aku sungguh-sungguh minta maaf. Kamu pasti ketakutan,” ucap Alister lagi.
Eisha masih diam. Bukannya ia tidak ingin menjawab, hanya saja suaranya tidak mau keluar lantaran terlalu gugup.
Namun, kegugupan itu sirna setelah mendengar kalimat Alister berikutnya. Berganti menjadi perasaan yang jauh lebih buruk.
“Kamu tahu, sebenarnya aku masih belum begitu memercayaimu meskipun Damar mengatakan bahwa kamu hilang ingatan.”
Deg!
‘Apa ini? Apa aku telah ketahuan? Secepat ini?!’ batin Eisha berdebar.
“Tatapan yang kamu berikan padaku saat kita pertama bertemu tadi, terasa penuh keraguan. Seperti bukan Galuhku.”
Kini, Eisha membeku bagai es. Jantungnya bahkan seperti berhenti berdetak. Ucapan Alister barusan, rasanya seperti sedang menangkap basah dirinya!
**